Surat Kembang Kemuning:

KATEB YACINE DI FESTIVAL AVIGNON KE- 58 [3]


KESADARAN SEJARAH DAN POLITIK BAGI SASTRAWAN:


Dari  karya-karya teaternya kelihatan bahwa Yacine mencari akar budaya dan dan jati 
diri dan bangsanya dengan mengusut ulang alur sejarah. Sikap ini mengingatkan saya 
akan sikap sejarah para sejarawan dari Annelles School Paris yang melihat bahwa "masa 
lalu, hari ini dan masa depan bukanlah pulau-pulau terpencil tanpa sambungan".  
Berbekalkan sikap demikian maka Yacine  mengangkat kembali tokoh-tokoh, terutama 
tokoh-tokoh perempuan heroik di dalam karya-karyanya dengan cara mana Yacine secara 
tidak langsung ingin berdialog dengan penontonnya dan secara lembut menghimbau tentang 
jalan ke depan yang patut ditempuh.  Selain cermat memperhatikan sejarah Aljazair, 
terutama sejarah Berber,  Yacine juga mempelajari sejarah bangsa-bangsa lain, misalnya 
Perancis dengan harapan belajar dari pengalaman mereka. Dalam hal inipun Yacine lebih 
memberi tekanan pada tokoh-tokoh perempuan. Misalnya nampak dari karya teaternya 
tentang tokoh perempuan Komune Paris, "Louis Michel, la Vierge Rouge" [Louis Michel, 
Perawan Merah] yang oleh pemerintah Perancis pimpinan Thiers pada waktu itu dibuang ke 
Kaledonia Baru setelah kekalahan Komune Paris. Tapi di Kaledonia Baru , pulalah si 
"Perawan Merah" kaum Komunard kembali bangkit memimpin pemberontakan. 

Memberontak, melawan ketidak adilan! Memang tokoh-tokoh perempuan demikianlah yang 
selalu diangkat dan diperlihatkan oleh Yacine. Melalui tokoh-tokoh perempuan 
pemberontak demi harkat dan martabat kemanusiaan, Yacine seakan-akan melihat sari jiwa 
bangsa dan kemanusiaan tertuang. Sari jiwa ini tidak hanya terdapat di kalangan 
perempuan-perempuan Berber seperti pada tokoh Kahina, atau Saout Ennissa  tetapi juga 
terdapat pada Louis Michel dari Perancis. Jika diluaskan terdapat pada Ontosoroh dari 
Indonesia, Ibunda di Moskow, Ibu dari India dan atau Asmaralda Victor Hugo. Barangkali 
perhatian terhadap sejarah bangsa-bangsa lain ini merupakan usaha Yacine untuk 
memahami hukum umum yang menjadi jelujur benar merah sejarah kegiatan menjunjung dan 
membela harkat kemanusiaan dengan menggunakan metode perbandingan. dengan menggunakan 
metode perbandingan begini, agaknya Yacine sampai pada kesimpulan bahwa seperti yang 
dikatakan oleh Paul Ricoeur , salah seorang filosof terkemuka Perancis kekinian, bahwa 
"kebudayaan itu bhinneka tapi kemanusiaan itu ika". Kemungkinan bahwa kesimpulan 
begini dimiliki juga oleh Yacine, diperlihatkan oleh ciri-ciri pokok tokoh Kahina atau 
Dihya,  Saout Ennissa atau pun Louis Michel puteri Komunard pada karya-karya Yacine. 
Kesimpulan terselubung Yacine yang demikian, sesungguhnya juga kritik terhadap 
kecupetan pandang fanatisme , apapun namanya, yang tidak memberikan ruang kebenaran 
dan dialog bagi pihak lain.Tokoh-tokoh Yacine adalah tokoh pemersatu dan toleran demi 
membela dan menjunjung kembangkan harkat dan martabat kemanusiaan. Tanpa toleransi 
bagaimana mungkin mempersatukan keragaman? Tokoh-tokoh Yacine yang memegang teguh 
prinsip-prinsip  ini sanggup menentang ajal tanpa bekerdip sehingga ketika mereka 
roboh di medan laga, alam pun merunduk menghormati mereka, mencatatnya di ruang-ruang 
waktu dan tak siapapun bisa menyetipnya. Yacine berbiicara tentang Berber 
kampung-halamannya, tapi oleh studi dan lingkup pengamatannya ia sekaligus ia 
berbicara tentang  dunia dan kemanusiaan. Apakah prinsip-prinsip yang kemukakan 
merupakan kekecualian bagi Indonesia? Jika sekarang tokoh-tokoh Yacine langkah di 
Indonesia, ini tidak berarti prinsip umum yang Yacine kemukakan menjadi kadaluwarsa. 
Penyangkalan prinsip universal Yacine, jika ini terjadi di Indonesia hanya menunjukkan 
tingkat kebobrokan negeri dan bangsa.

Di pihak lain melalui tokoh-tokoh perempuan ini jugalah Yacine menyampaikan kritik 
masyarakatnya. Sebagai contoh: Dalam karya teaternya "Kahina", melukiskan bagaimana 
masyarakat Berber/Maghrebien dalam perlawanan terhadap para penyerbu telah dipimpin 
oleh seorang perempuan. Padahal perempuan dalam masyarakat Magrebien diperlakukan 
tidak lebih dari barang dagangan. Para lelaki yang memperdagangkan perempuan-perempuan 
mereka memasang jilbab di kepala para perempuan mereka dengan maksud agar bisa lebih 
laris. Bagi lelalki Maghrebien , makin cantik seorang perempuan maka makin gampang ia 
diperdagangkan. Sebagai barang dagangan, para perempuan dilarang bicara, tidak boleh 
dilihat terlalu dekat dan jelas karena itu mereka dibalut dengan bungkusan wajah 
berupa jilbab. Karena sikap ini maka "saya sering dituduh setan" oleh sementara lelaki 
Maghrebien ujar Yacine. "Pour eux, je suis diable" [Untuk mereka saya tidak lain dari 
setan"]. Yacine memang "setan" ketika ia menjungkirkan-balikkan kejamakan norma, di 
mana perempuan jadi budak dan barang dagangan tapi justru budak dan barang dagangan 
ini yang tampil memimpin nasion melakukan perlawanan terhadap kaum penyerbu. Alasan 
untuk melakukan penjungkirbalikan ini, Yacine dapatkan dalam sejarah bangsa itu 
sendiri dan bukan dia ada-adakan. Yang menyebut Yacine sebagai "setan" , justru mereka 
yang pandak ingatan dan lupa sejarah serta kehilangan akar. 

Mengenal sejarah merupakan masalah hakiki untuk memahami kunci kontradiksi masyarakat 
dan sumber alias akar.  Tapi justru dalam mengenal akar dan sumber ini, mau atau tidak 
mengenal akar dan sumber diri, memahami sejarah seperti dikatakan oleh Bruno Frappat, 
editorialis Harian La Croix, "dalam sejarah peradaban selalu berlangsung perjuangan 
sengit" [Lihat: Harian La  Croix , Paris, 6 Juli 2004]. Jika dalam "perjuangan sengit" 
ini, sesuatu yang sesungguhnya benar,  kemudian ternyata kalah, kekalahannya tidak 
berarti bahwa ia salah tapi lebih terletak pada syarat imbangan kekuatan pada ketika 
itu. Misalnya kekalahan Galileo, Socrates yang harus mereka tebus dengan nyawa, tidak 
berarti mereka salah.Dalam perjalanan waktu, kemudian ternyata  apa yang mereka angkat 
terbukti benar, tapi bayarannya memang sangat mahal: ditebus dengan nyawa. Agaknya 
Yacine sebagai sastrawan dengan segala konsekwensi telah memilih jalan Galileo dan 
Socrates demi cintanya kepada kemanusiaan dan kehidupan. Bartangkali Lu Sin, pengarang 
Tiongkok tahun 30-an, benar ketika menulis pesan wasiatnya kepada puteranya: 
"janganlah menjadi sastrawan jika tidak berani gila". Gila karena menenantang arus. 
Dari teladan Galileo dan Socrates serta pesan Lu Sin nampak bahwa sastrawan-seniman 
pada galibnya adalah manusia sadar dan berprinsip. Sebutan sastrawan bagi mereka 
bukanlah hal yang  utama yang diperjuangkan dibandingkan dengan prinsip dan 
nilai-nilai yang mereka ingin tegakkan. Coba kita bandingkan sikap berprinsip ini 
dengan sikap anak negeri dan bangsa yang menyebut diri sastrawan. Dengan mereka  yang 
mengeluh karena tidak digubris kritikus dan dengan 1001 cara menarik perhatian agar 
diakui sebagai sastrawan atau penyair ketika mereka sudah berusia 38 atau 46 tahun dan 
masih menyebut diri remaja dan pemuda. 

Kesadaran sejarah agaknya bertautan dengan kesadaran politik. Kesadaran politik 
merupakan lanjutan dari adanya kesadaran sejarah, tapi bisa juga dikatakan bahwa 
kesadaran politik melahirkan kesadaran sejarah. Yacine mencermati sejarah Berber dan 
Ajazair setelah memiliki kesadaran politik tertentu. Kesadaran politik mengajaknya 
menelusuri sejarah Berber, Aljazair dan negeri-negeri Arab serta sejarah dunia. Apakah 
sastrawan Indonesia kita punya kesadaran begini? Ataukah hanya ingin sebatas ingin 
disebut sastrawan, penyair atau pujangga  setelah menulis satu dua karya? O, terlalu 
gampang mendapat predikat agung ini jika demikian, ataukah saya yang terlalu dungu dan 
bermimpi!


Paris, Juli 2004.
---------------
JJ.KUSNI


[Bersambung....]

Catatan: 

Foto terlampir  melukiskan seorang ibu Amerika yang tidak memperdulikan segala 
marabahaya pergi ke medan perang Irak untuk mencari puteranya yang dikirimkan ke 
negeri ini untuk bertempur melawan rakyat Irak. "Saya ingin mengajaknya pulang 
daripada bertempur tanpa tujuan yang jelas", ujar sang ibu. Sikap ibu Amerika ini 
kembali menunjukkkan keperkasaan perempuan yang sadar [Sumber: Dokumen Jelitheng]. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke