KEPADA TUAN-TUAN YANG TERHORMAT,
JIMMY CARTER DAN WILLIAM LIDDLE
Tuan-tuan yang terhormat,
perkenankanlah hamba, tak berguna ini menyampaikan
ungkapan rasa hati.
Pertama-tama, terimalah ucapan terimakasih hamba ini,
atas peran tuang-tuan dalam membantu urusan pemilihan
pemimpin kami. Kehadiran tuan-tuan tampak sungguh
menambah warna hajatan tahun ini. Sementara banyak
para pemimpin kami tidak bisa lagi mengerti tentang
demokrasi, tuan-tuan datang membawa pencerahan. Itulah
yang memang menjadi kebutuhan kami. Dicerahkan dengan
kehadiran tuan-tuan, untuk menyalakan kesadaran bahwa
demokrasi bagi kami memang masih asing.
Pada senyatanya, demokrasi di negeri ini sering masih
dipahami sebagai rebutan kursi. Dan untuk itu, yang
selalu terjadi, rakyat-rakyat miskin hanya menjadi
obyek provokasi atau pijakan meraih kursi. Tuan-tuan
telah menunjukkan kepada kami, bahwa demokrasi kami
memang masih butuh guru-guru atau masih patut diawasi,
juga oleh tuan-tuan yang kami hormati.
Memang sudah menjadi wataknya, tugas wakil-wakil kami
tak pernah sungguh melaksanakan pengawasan. Oleh
karena itu, demokrasi di negeri ini masih selalu butuh
tuan-tuan awasi. Untuk semua kebaikan budi tuan-tuan,
hamba tak berguna ini menghaturkan seribu terimakasih.
Apakah yang sepantasnya bisa kami berikan kembali
untuk membalas budi baik tuan-tuan yang kami hormati?
Tuan-tuan yang baik budi, sungguh berbahagialah
seandainya tuan-tuan sudi pula terus mendampingi kami,
bahkan ikut pula mengawasi dengan lebih jeli lagi,
bagaimana uang-uang negara kami telah dihamburkan
menjadi rebutan para petinggi negeri. Sebab, apalah
artinya demokrasi bila korupsi dibiarkan merajalela
begini. Itulah barangkali yang jauh lebih membutuhkan
pengawasan tuan-tuan. Jangan-jangan, bantuan dollar
dari negeri tuan-tuan, juga disambut dengan pesta-pora
korupsi di negeri ini.
Sahaya, hamba seorang diri ini, tahu apalah tuan-tuan.
Sahaya, warga negeri ini, hanya mampu melihat apa yang
tampak di depan mata, apa yang terdengar di depan
telinga. Sorak-sorai demokrasi negeri ini memang
terdengar meriahnya. Milyaran rupiah hanya sekedar
habis di kerumunan massa mendengar pidato para
kandidat pemimpinnya. Setelah itu, orang kembali
kepada kemiskinannnya.
Di tengah kepolosan banyak warga negeri ini, juga
ketulusan menyambut tuan-tuan sebagai tamu-tamu
istimewa, bermilyar-milyar uang rupiah ludes entah
untuk apa saja. Padahal, ribuan pengungsi negeri ini
banyak menangis di tenda-tenda. Padahal, para petani
gula masih tak mampu meningkatkan pendapatannya.
Padahal, rakyat biasa di luar Jawa masih banyak
membutuhkan beaya pendidikan untuk anak-anaknya.
Bermilyar-milyar rupiah dan berjuta-juta dollar yang
mengalir sudah, seakan hanyalah awan lewat di angkasa
tanpa mendatangkan hujan berkah bagi mereka. Tetapi
hingar-bingar pemilu demi demokrasi yang tuan-tuan
ajarkan kepada kami, seakan telah melupakan nasib
mereka. Terimakasih untuk kehadiran tuan-tuan, seakan
semakin menjelaskan kontras kenyataan itu. Kehadiran
tuan-tuan di negeri ini, telah memberikan kejelasan
apa artinya demokrasi yang tuan ajarkan bagi kami.
Tuan Jimmy Carter dan William Liddle yang baik hati,
peran tuan-tuan dalam mencoba mendorong demokrasi di
negeri ini tampak istimewa, khususnya di hari-hari
pencoblosan yang masih akan berlangsung ini. Bolehkah
sahaya hamba yang tak berguna ini mengusulkan, agar
tuan-tuan diangkat menjadi warga kehormatan negeri
ini? Bahkan tidak hanya berhenti di situ, sahaya,
warga biasa negeri ini, mengusulkan untuk mengangkat
tuan-tuan menjadi Bapak-bapak Demokrasi atau
Bapak-bapak Pemilu 2004 bagi negeri ini. Sebagaimana
dulu Bapak kita Soeharto diangkat sebagai Bapak
Pembangunan karena beliau telah memberikan sumbangan
besarnya dalam membangun negeri ini, hingga kita
sampai menikmati keadaan sekarang ini, begitu pulalah
tampaknya tuan-tuan pantas untuk menjadi Bapak-Bapak
Pemilu 2004 untuk Indonesia ini. Itulah sekedar usulan
hamba tak berguna ini, warga negara biasa yang tidak
tahu tentang demokrasi yang sebenarnya.
Tuan-tuan yang terhormat,
itulah ungkapan perasaan sahaya, diri tak berharga dan
tak tahu adat, yang telah berani menuliskan surat ke
publik ini. Maafkanlah bila ada kata-kata dan ungkapan
di sini yang tidak berkenan. Berlonggarlah hati untuk
menerima surat ini.
Sekali lagi, tuan-tuan yang sahaya hormati,
terimakasih atas jerih payah dan upaya membandu negeri
kami.
Salam dari sahaya tak berguna ini,
10 Juli 2004
Tangkisan Letug
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/