INDONESIA PASAR BUDAK?
Oleh Tangkisan Letug
Memang, perbudakan sudah tiada,
tapi bentuk barunya masih ada,
para pemimpin, elit politik,
bahkan kaum intelektual
bisa dibeli dengan uang dollar
untuk mengikuti kehendak tuan besar.
Benarkah bila orang mengatakan ini:
Indonesia rame menjadi pasar budak
para pedagangnya pengaku pecinta bangsa
sponsornya kaum siluman tanpa nama,
budak-budaknya beragam namanya
ada yang bernama budak intelektual,
ada yang bernama budak kultural,
ada yang bernama budak politikal,
ada yang bernama budak presidensial,
ada yang bernama budak komersial,
ada yang bernama budak jendral,
dan masih banyak lagi?
Masih lebih mulia
para TKI kita yang menjual tenaga
bukan menjual negarinya!
Apakah artinya bila demokrasi
hanyalah sekedar pasar global
yang memperbudak bangsa sendiri?
11 Juli 2004
POLITIKA
Bukan Pasar Malam
(Kompas, Sabtu 10 Juli 2004)
Budiarto Shambazy
BERITA utama harian ini berjudul Pihak Asing Campuri
Pemilihan Presiden. Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie menyebutkan
tiga nama yang memengaruhi proses pemilihan presiden,
yakni National Democratic Institute for International
Affairs atau NDI, mantan Presiden Amerika Serikat
Jimmy Carter, dan peneliti Ohio State University
William Liddle.
Menurut Kwik, mereka mengendalikan proses penghitungan
suara dengan menyampaikan survei dan quick count
(penghitungan cepat) yang luar biasa akurat, yang
digiring untuk membentuk opini publik yang
menguntungkan calon tertentu. Liddle memang pernah
bilang menghendaki calon tertentu untuk menjadi
presiden.
Proses penghitungan suara memang sangat menarik
perhatian setiap orang karena menjadi pasar malam yang
riuh rendah, lengkap dengan berbagai atraksi seperti
masuk ke rumah hantu atau main komidi putar. Semua
orang bebas jungkir balik, boleh teriak keras, bahkan
bisa mengadu nasib.
Makanya banyak pakar atau lembaga swadaya masyarakat
lokal maupun internasional yang berkeliaran. Ini zaman
franchising internasional. Kalau dalam bisnis makanan
ada ayam Kentucky Fried Chicken atau es krim
Haagen-Dazs, dalam bisnis demokrasi ada survei, quick
count, focus group, atau ilmu pemasaran.
Transaksi bisnis demokrasi tak kalah dengan bisnis
makanan karena sama-sama memakai mata uang dollar AS
atau euro. Jangan salah juga, ilmu "pengibulan" dalam
bisnis demokrasi tidak kalah canggih dibandingkan
dengan bisnis makanan.
Oleh sebab itu, jangan menyalahkan Liddle karena
franchising democracy tak mengenal batas-batas negara.
Bukan cuma Liddle, Carter, atau NDI yang "ikut
campur", pakar dari Singapura Bilveer Singh juga masuk
pasar malam.
Ia mengatakan, pemilihan presiden di Indonesia
diwarnai politik uang dan manipulasi. "Tindakan ilegal
dan inkonstitusional ini telah menodai semangat untuk
melakukan pemilihan dengan cara yang bebas dan adil,"
kata profesor Australian National University ini.
Ia juga menyayangkan beberapa orang yang memiliki
kekuasaan dan beberapa dari mereka yang merupakan
"simbol" reformasi telah menggunakan fasilitas negara
untuk kepentingan tersebut. Kecurangan- kecurangan
itu, katanya, dapat menjadi ancaman terhadap hasil
akhir pemilu karena bisa dianggap tidak sah.
Liddle mungkin malas berkomentar tentang pemilihan
presiden di negerinya sendiri karena tidak seperti
pasar malam. Singh menjadi Indonesianis karena pasti
tak mungkin mengkritik mengapa anak Lee Kuan Yew, BG
Lee, yang harus akan menjadi perdana menteri.
Apakah media Amerika mau memuat pernyataan pakar dari
Indonesia, yang isinya mengatakan bahwa Presiden AS
George Bush amat pandir? Begitu juga, Straits Times di
Singapura berani memuat pernyataan ahli Indonesia
bahwa demokrasi negara pulau itu semu?
Lain dengan di "pasar malam" di sini, semua serba
boleh dalam bisnis demokrasi. Serba boleh artinya
semua negara yang berkepentingan pasti boleh mempunyai
kuda tunggang di sini.
Pemerintahan Bush kecewa berat kepada Megawati
Soekarnoputri karena ternyata tak mudah didikte. Orang
bodoh pun tahu bahwa Bush sudah sejak dulu kebelet mau
menciduk Abu Bakar Ba�asyir dan menjebloskan dia ke
Guantanamo.
Megawati juga membeli persenjataan dari negara-negara
lain tanpa restu Bush. Sudah lama sekali Washington
memberlakukan embargo tidak akan menjual peralatan
militer atau memberikan pelatihan militer untuk TNI
kita.
Secara otomatis, Megawati mencoba mencari dari negara-
negara lain, seperti Polandia atau Rusia. Itu rupanya
menyinggung perasaan Washington yang menghendaki
monopoli agar TNI tetap "keamerika-amerikaan".
Terakhir, soal Selat Malaka. AS ingin militernya
berpatroli di selat penting itu, gagasan yang langsung
didukung Singapura. Kita bilang, biarkan kami mengurus
sendiri. Maka, mereka pun bilang jangan pilih Megawati
lagi.
Oleh kedua negara itu, Indonesia dianggap sebagai
negara strategis yang barangkali dianggap agak polos
karena gampang diperdayai dan terbukti bisa diatur
napasnya selama 30 tahun di masa lalu. Wajar mereka
ogah lagi mendukung Megawati dan lalu mencari kuda
tunggang baru.
Sesuai dengan doktrin pemberantasan terorisme,
kepentingan utama Bush adalah pemerintah baru
Indonesia yang dengan keras menumpas jaringan teror di
dalam negeri. Memang ada persamaan strategis untuk
menjelaskan soal kuda tunggang dulu dan sekarang.
Dulu komunisme menjadi musuh utama Amerika. Sekarang,
terorisme. Dulu membendung komunis dengan mendukung
rezim boneka tanpa memedulikan demokrasi, sekarang
memberantas terorisme juga tanpa perlu memedulikan
demokrasi.
Dulu mengorbankan rakyat Vietnam dan Kamboja, sekarang
giliran rakyat Irak dan Afganistan. Dulu melancarkan
propaganda antikomunisme, sekarang menyebarkan
kebohongan soal senjata pemusnah massal.
Kepentingan strategis lainnya adalah mengamankan Selat
Malaka-juga perairan kita yang lainnya. Tujuannya agar
tidak menghambat jalur perdagangan internasional dan
juga lalu lintas global militer mereka.
Begitu demokrasi berubah menjadi pasar malam, siapa
pun gampang ikut campur, dan tak perlu marah atau
menyesali. Soalnya kita yang salah sendiri, belum siap
hidup dalam demokrasi, semua orang terbiasa bermain
curang, dan urusan penghitungan suara oleh Komisi
Pemilihan Umum tidak pernah beres.
Seorang pejabat tinggi intelijen pernah mengatakan, di
negara kita sudah tak ada rahasia lagi. Semua sudah
terbiasa dengan yang serba Amerika.
Televisinya senang menyiarkan American Idol. Kuisnya
banyak yang berbahasa Inggris, siaran musik yang
terfavorit pasti dari MTV, bahkan pakar- pakar kita
selama pemilu sering menyebut, "kalau di Amerika
begitu atau begini."
Kalau ada kesempatan, saya pasti senang pergi ke
Amerika. Sayang sekali saya orang yang penggeli dan
pasti tidak akan tahan kalau badan saya diraba-raba
oleh para petugas imigrasi.
Kalau mampu, saya menyekolahkan anak ke Ohio State
University. Siapa tahu dia jadi ahli survei atau quick
count untuk Pemilu 2014, yang mudah- mudahan bukan
seperti pasar malam lagi. (e-mail: [EMAIL PROTECTED])
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/