Catatan Seorang Klayaban: KENANGAN DI BALIK SEBUAH ALINEA AMARZAN
Amarzan Loebis, redaksi senior Majalah Tempo, Jakarta dalam tulisannya tentang Subandrio, mantan Wakil Perdana Menteri I, Menteri Luar Negeri, dan Kepala Biro Pusat Intelijen dan juga Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi Retooling Aparatur Revolusi serta Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi Operasi Ekonomi, yang baru-baru ini telah meninggal dunia, secara singkat menguraikan riwayat Subandrio, yang biasa dipanggil dengan Mas Band. Dari tulisan Amarzan yang yang berjudul:Obituari Subandrio, Setiawan yang Berakhir Sepi [lihat: Majalah Tempo, Jakarta 5-11 Juli 2004], yang antara lain sangat menarik perhatian saya adalah alinea berikut : "Suasana pemakamannya berlangsung sepi. Tapi di antara pelayat tampak Farid Fakih Prawiranegara,putra tokoh PRRI Syafrudin Prawiranegara, yang berseberangan politik dengan Bung Karno-dan otomatis dengan Mas Ban. "Meski berseberangan dengan ayah saya secara ideologis, Pak Subandrio memiliki hubungan khusus dengan kami," kata Farid kepada Ali Anwar dari TEMPO. Farid bercerita, ketika ayahnya ditahan, Mas Ban sering memberikan bantuan, termasuk mengembalikan rumah keluarga mereka yang sempat diambil pemerintah". Alinea ini melukiskan kematangan sikap politik Subandrio, dan generasi pada saat itu. Berseberangan secara ideologis tidak mengganggu hubungan pribadi dan merusak hubungan manusiawi.Masihkah terdapat sikap dan kematangan berpolitik begini hari ini di negeri kita? Sikap begini juga saya kira memungkinkan tumbuh berkembangnya kemajemukan di dalam masyarakat yang selalu majemuk. Dan tidakkah juga justru pada sikap begini terdapat kebesaran Soebandrio sebagai anak manusia dan politisi. Ia bisa menghargai lawan politiknya serta jasa-jasa mereka. Dengan kemampuan ini Soebandrio mampu melihat sesuatu soal tidak secara hitam putih dan simplistis. Lukisan Amarzan inipun mengingatkan saya kepada kehidupan remaja Jogjaku bersama-sama sastrawan-seniman seperti Rendra, Motinggo Boesye, Soenarto Pr., Ajib Hamzah, Nizar, Jajak MD, Arbi Sjamah,Arifin C.Noer, dan lain-lain. Sekalipun kami berada dalam grup-grup kesenian yang berbeda dan bahkan berseberangan secara pemikiran, tapi kami senantiasa saling mengundang untuk hadir di kegiatan masing-masing grup dan kemudian usai kegiatan lalu berkumpul di warung gudeg Bringharjo jalan Malioboro, mendiskusikan kegiatan yang baru berlangsung sampai pagi. Perbedaan pandangan justru menghangatkan diskusi di dingin subuh. Mengenang Bringharjo, dalam hati saya ingin selalu menyebutnya sebagai "Republik Bringharjo" di samping adanya "Republik Gampingan" di mana terpusat pelukis-pelukis ASRI [Akademi Seni Rupa Indonesia].Ngasem merupakan pusat kegiatan seni drama dan musik. Perbedaan tidak membuat persahabatan kami retak. Sikap inipun ditunjukkan oleh Rendra yang saban ke Eropa selalu mencoba menghubungi saya, demikian pula Arifin C. Noer almarhum, ketika berkunjung ke Paris, secara sengaja mencari saya. Almarhum Sanento Yuliman yang pada masa remajanya bergabung dengan Sanggar Bambu pimpinan Mas Narto Pr. di tikungan jalan Sukun [sekarang bernama Jln. Mangunsarkoro] pun demikian. Begitu mengetahui saya berada di Paris, Sanento segera menghubungi saya dan mengajak melakukan sesuatu. Dari pertemuan inilah maka lahir majalah ilmiah populer "KANCAH" yang bertahan selama 18 tahun. Melalui diskusi dan debat sebulan lebih di warung-warung begini jugalah maka kemudian Sanggar Bumi Tarung pimpinan Amrus Natalsja dilahirkan. Di sanggar Bumi Tarung Gampingan, yang hadap-hadapan dengan rumah Amri Yahya, pelukis seperti Djoko Pekik, Gumelar, Kuslan Budiman, Sabri Jamal, Isa Hasanda, Misbach Thamrin dan lain-lain bernaung dan bergiat. Warung-warung Jogja dan warung gudeg Bringharjo tak obah seperti sebuah ruang-ruang kelas untuk belajar dewasa dan bagaimana berkesenian.Suasana beginilah yang kemudian ketika kami meninggalkaan Jogja, kota gudeg ini selalu saja meninggalkan kesan dan kenangan tersendiri yang tak pernah pupus serta seperti suara seorang ibu memanggil pulang anaknya yang jauh di rantau. Sedangkan Deddy Soetomo yang berkesenian di kota Klaten, setelah meninggalkan Jogja, saban mengetahui kehadiran saya dan grup saya di Klaten, ia selalu mengundang kami hadir di kegiatannya. Di kalangan kami terasa ada suatu solidaritas dan kesatuan walaupun kami sadar ada perbedaan. Dan perbedaan inipun tidak kami tutup-tutupi. Perbedaan pandangan justru memacu kami berlomba memberikan yang terbaik melalui karya dan kegiatan untuk disumbangkan kepada tanahair, bangsa dan kemanusiaan. Barangkali di sinilah titiktemu yang membuat kami bisa berkumpul di "Republik Bringharjo". Kritik-mengkritik terbuka di berbagai media cetak dilakukan secara sehat dalam pengertian mengatakan sesuatu seadanya tanpa sumpah-serapah. Yang lebih dahulu mulai berkesenian mengasuh yang baru mulai dan yang muda-muda, sedangkan yang muda-muda dengan rendah hati belajar dari mereka yang lebih dahulu berkarya dan berkesenian. Sikap begini diperlihatkan oleh Pater Dick [Dick Hartoko], Mansur Samin, Kirdjomulyo, alm. Subagio Sastrawardojo, Rendra, Hersri Setiawan, dan lain-lain. Gedung-gedung IAIN, Taman Siswa, atau ruang-ruang fakultas sastra Gama yang waktu itu dipimpin oleh Mbak Baroroch, selalu terbuka bagi kegiatan budaya. Yang melekat di kepala saya sampai sekarang adalah pesan Mbak Baroroch dalam diskusi pribadi kami: "Kalau adik mengkritik sesuatu, adik perlu memberikan jalan keluar atau alternatif. Jangan mengkritik asal kritik tanpa alternatif". Saya tidak tahu, apakah Mbak Baroroch masih ingat akan nasehatnya ini, tapi ia melekat di ingatan saya, seperti saya selalu ingat akan wajah lembut sederhananya di bawah jilbab putihn, nasehat yang selalu saya pegang. Melalui kesempatan ini saya juga ingin ungkapkan terimakasih kepada beliau, seperti juga terimakasih kepada Pater Dick, Kirdjo, Mansur, Rendra, Prof. Jaspan, Soendoro dari Lembaga Pers, dan lain-lain yang telah mengasuh saya dan teman-teman seangkatan wqalaupun beberapa di antara mereka sudah tidak ada. Saya juga ingin menundukkan kepala memberi hormat kepada semua teman seperti Sanento, Arifin C. Noer, Soenarti Soewandi, dan lain-lain yang telah "pergi lebih dahulu" tapi setia sampai akhir pada tradisi "republik Bringharjo". Alinea Amarzan di atas mengandung lukisan sejarah, gambaran sikap dari suatu angkatan ketika mereka hidup dan jalan sepi yang mereka alami ketika mereka mati. Sastrawan-seniman, demikian juga para pemimpi memang menempuh jalan sepi. Tapi sepi bukan berarti kegagalan atau kekalahan apalagi kesalahan. Waktu mempunyai tapisannya sendiri dari mana kemudian sejarah menunjukkan apa dan siapa yang sampah atau bukan. Siapa yang "Durno" dan "Anjing" [maaf akan kutipan ini], waktu dan sejarah akan mengucapkannya dengan tapisan sejatinya. Farid Fakih Prawiranegara,putra tokoh PRRI Syafrudin Prawiranegara, yang berseberangan politik dengan Bung Karno-dan otomatis dengan Mas Ban ketika melayat memberikan penghormatan kepada Subandrio memperlihatkan ingatannya pada tradisi toleran dan kemanusiaan yang di negeri ini nampak terancam. Barangkali kehadiran dan layatan Farid inipun, lepas dari jumlahnya, menunjukkan bahwa di negeri kita masih ada manusia serta Soebandrio alm. mampu menghargai jasa dan mengucapkan terimakasih kepada orang lain sekalipun secara politik berseberangan. Soebandrio dan Faried dengan sikap mereka seperti dituturkan oleh alinea Amarzan menolak simplisisme hitam-putih. Alinea Amarzan di atas mengingatkan saya kepada baris-baris Chairil Anwar dalam sanjaknya "Catetan 1946": "Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat. Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu; Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir sempat" Arti apakah yang kita buru dengan simplisisme? Paris,Juli 2004. --------------- JJ. KUSNI [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

