Catatan Seorang Klayaban: MASYARAKAT INDONESIA TIDAK SETIA?
Dalam artikelnya yang berjudul "Kejutan Buat SBY" [Harian Kompas, Jakarta,14 Juli 2004],R. William Liddle Profesor Ilmu Politik The Ohio State University, Columbus, Ohio, Amerika Serikat, mengajukan beberapa hipotesa tentang munculnya SBY sebagai pemeroleh suara terbanyak di putaran pertama pemilihan langsung capres 5 Juli lalu. Liddle juga membahas tentang naik-turunnya popularitas SBY berdasarkan pengumpulan pendapat umum yang dilakukan oleh IFES (International Foundation for Election Systems) dan LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial), pada Nopember 2003, Mei dan Juni 2004 menjelang pemilu. Di hadapan gejala yang disebutkannya sebagai sebuah "teka-teki" ini, Liddle mengajukan lima hipotesa. Melihat hasil survey demikian Liddle mengatakan bahwa "andaikata saya SBY, hasil putaran pertama akan membuat saya kecewa dan prihatin sebab menurut berbagai jajak pendapat ilmiah yang saya ikuti sejak tahun lalu, dukungan masyarakat pada SBY belakangan menurun tajam". Simpati Liddle pada SBY lebih nampak pada kalimat: "Pertanyaan ini penting bagi SBY yang ingin membalikkannya dan Megawati yang mau meneruskannya". Didorong oleh simpati dan kekhawatirannya akan hasil pada putaran kedua nanti maka Liddle menganjurkan kepada SBY dan Tim Suksesnya tentu saja agar segera menyimpulkan pengalaman serta mengambil langkah-langkah semestinya jika ingin berhasil. Keterus-terangan Liddle nampak kian jelas di kalimat akhir artikelnya: "Tulisan ini dimaksudkan bukan untuk memilih salah satu hipotesis, melainkan untuk mengusulkan sejumlah pertanyaan. Semoga berguna bagi para pengamat dan pemain di lapangan". Untuk keperluan inilah maka Liddle mengetengahkan lima hipostesa. "Teka-teki ini tentu tidak mudah dipecahkan. Terus terang, saya belum mengerti mengapa dukungan SBY melejit begitu tinggi sejak tahun lalu; ditambah lagi mengapa dukungan itu menurun belakangan ini. Namun, ada beberapa hipotesis yang mungkin bisa membantu kita menjelaskan fenomena ini, atau setidaknya bermanfaat sebagai kerangka analitis. Saya sebutkan saja sebagai hipotesis cinta monyet, hipotesis kampanye, hipotesis mesin politik, dan terakhir hipotesis aliran", tulis Liddle dalam artikel di atas. Saya menghormati keterus-terangan Liddle dalam menyampaikan simpatinya kepada SBY dan hal demikian adalah haknya. Walau pun secara tidak langsung dengan cara ini ia menyampaikan harapan agar rakyat Indonesia memilih siapa pada putaran kedua nanti. Apakah harapannya didengar dan dituruti, rakyat Indonesia sendirilah yang menentukan. Ketika menjelaskan hipotesa "cinta monyetnya" kemudian Liddle menulis: "MENURUT hipotesis cinta monyet atau mungkin lebih tepat cinta sesaat, yang saya dengar di mana-mana, masyarakat Indonesia punya kecenderungan tidak setia kepada seorang pemimpin politik. Sebaliknya, emosi mereka seperti gelembung, cepat mengembang dan mengempis.Sebagai contoh, Megawati menjadi populer di mata masyarakat ketika ia dihajar pada akhir masa pemerintahan Soeharto". [Dengan menggunakan istilah "dihajar" saja nampak bahwa Liddle tidak bersimpati kepada Megawati dan lebih berpihak kepada yang menghajar. Istilah yang mengingatkan saya kepada istilah yang digunakan oleh Soeharto ketika ditanyai oleh para wartawan sepulang dari kunjungan ke Vietnam: "gebuk". Sebagai profesor ilmu politik, tentunya penggunaan kata akan dipilih dengan cermat, karena kata mencerminkan pikiran dan perasaan pengucapnya]. Hipotesa "cinta monyet" bahwa "masyarakat Indonesia punya kecenderungan tidak setia kepada pemimpin politik" yang dilemparkan oleh Liddle, saya kira merupakan bagian dari pernyataan kecemasan Liddle melihat " dukungan masyarakat pada SBY belakangan menurun tajam" yang membuatnya juga "kecewa". Diliputi oleh perasaan demikian maka Liddle melemparkan kesalahan kepada masyarakat Indonesia sebagai "punya kecenderungan tidak setia kepada seorang pemimpin politik", "emosi mereka seperti gelembung mengembang dan mengempis". Terhadap hipotesa ini, saya ingin mengingatkan Liddle kepada slogan "Merdeka Atau Mati" yang dituliskan oleh para gerilyawan pejuang kemerdekaan pada tahun 1945 di tembok-tembok kota, bantuan orang-orang di pedesaan yang luyas di berbagai pulau yang sekarang menjadi wilayah Republik Indonesia [RI] terhadap para gerilyawan, kesanggupan mereka menderita siksaan serdadu kolonialis Belanda demi melindungi para gerilyawan penjuang kemerdekaan, pekikan "Merdeka" dijadikan salam saban berjumpa, dengan bambu runcing menyerang lawan kemerdekaan, dan masih banyak lagi... Apakah hal ini dianggap oleh Liddle bahwa masyarakat Indonesia "punya kecenderungan tidak setia" dan "emosi mereka seperti gelembung mengembang dan mengempis"? Saya tanyakan pada Liddle: Mungkinkah kemerdekaan RI dicapai tanpa sokongan dan kesetiaan rakyat Indonesia dan hanya bersandar pada segelintir pemimpin? Liddle tentu tahu benar bahwa TNI pun pernah menggunakan nama Tentara Rakjat Indonesia [TRI]. Apakah bagi Liddle nama ini tidak berarti apa-apa? Ketika dalam Perang Kemerdekaan rakyat memperlihatkan kesanggupan mereka berkorban, membantu secara logistik dan rupa-rupa bantuan kepada pejuang-pejuang kemerdekaan, rakyat Indonesia memang menyatakan ketidaksetiaannya kepada kolonialisme Belanda, untuk memberikan kesetiaan itu kepada kemerdekaan. Kesetiaan mempunyai tautan dengan kepentingan. Rakyat Indonesia tidak menyetiai kepentingan kolonialisme dan imperialisme, akan membelakangi "pemimpin-pemimpin" yang mengkhianati mereka. Salah dan jahatkah sikap ini? Tergantung kepada siapa dan bagaimana melihatnya. Agaknya Liddle kurang membaca teliti sejarah rakyat Indonesia sehingga berani menyalah-nyalahkan rakyat Indonesia semata karena kecemasan dan kekhawatirannya akan nasib SBY di putaran kedua pemilihan presiden mendatang? Patut ditanyakan mengapa Liddle begitu ngotot membela SBY, kepentingan apa dibalik pembelaan,kecemasan dan kekecewaan Liddle. Dalam konteks ini, saya juga ingin bertanya kepada Liddle: Paling tidak sejak Orde Baru Soeharto sampai sekarang apakah rakyat Indonesia mengkhianati para pemimpinnya atau yang mengaku, menyebut diri pemimpin atau tidakkah yang terjadi adalah sebaliknya: rakyat Indonesia yang dituding oleh Liddle yang dikhianati? Liddle sendiri mengajukan "Sebagai contoh, Megawati menjadi populer di mata masyarakat ketika ia dihajar pada akhir masa pemerintahan Soeharto". Contoh Liddle sangat menggelikan karena dengan contoh ini Liddle seperti menginginkan rakyat Indonesia menyetiai pemerintahan Soeharto [tapi barangkali dengan kalimat ini Liddle juga menyesalkan jatuhnya Soeharto, paling tidak itulah yang tersirat]. Jika demikian, kian jelas, Liddle atas nama pakar politik dan Indonesianis, sesungguhnya tidak berangkat dari kepentingan rakyat Indonesia, tidak juga dari keadilan dan kemanusiaan tapi dari kepentingan yang disandangnya [entah apa persisnya hanya Liddle yang tahu]. Menuding rakyat dan membela pembunuh seperti Soeharto dan teman-temannya, apakah bisa dikatakan pro rakyat dan kemanusiaan? Kalau Liddle mengatakan "MENURUT hipotesis cinta monyet atau mungkin lebih tepat cinta sesaat, yang saya dengar di mana-mana, masyarakat Indonesia punya kecenderungan tidak setia kepada seorang pemimpin politik. Sebaliknya, emosi mereka seperti gelembung, cepat mengembang dan mengempis", sebagai profesor ilmu politik, Liddle lebih bersifat mencerca rakyat dan tidak sanggup [tidak mau] memahami bahwa rakyat Indonesia dengan sikap demikian karena tidak mempercayai siapa pun dari para calon karena merasa dikhianati. Kalau untuk menguatkan alasannya Liddle menggunakan argumen "saya dengar di mana-mana" dengan argumen ini Liddle sesungguhnya telah menunjukkan diri sebagai tidak mengenal lapangan, pikiran dan perasaan mayoritas penduduk negeri yang distudinya. Apakah "saya mendengar" bisa dijadikan argumen kuat yang dipakai oleh seorang profesor ilmu politik? Mendengar itu bisa di mana-mana, dan siapa yang dia dengar? Kalau "dengar-dengaran" dijadikan dasar yang disebut ilmu, maka ilmu apa gerangan namanya? Agaknya jumlah golput yang mencapai 40 juta tidak berarti apa-apa bagi Liddle? Kepentingan memang sering merabunkan pandang dan obyektivitas tapi secara akal-akalan kemudian dipasang etiket ilmu. Ilmu politik. Melalui artikel ini Liddle telah memperlihatkan dengan setengah naif, apa-siapa dirinya dan kepada siapa ia berpihak. Dengan menuding rakyat Indonesia, yang jelas, keberpihakan Liddle tidak kepada mayoritas penduduk negeri ini yang oleh Nixon ketika mendengar jatuhnya pemerintahan Soekarno disebut sebagai "hadiah tahun baru terbaik". Keadaan sekarang dan artikel Liddle kembali mengingatkan saya akan baris-baris Rendra: "Aku mendengar suara jerit hewan yang terluka Ada orang memanah rembulan Ada anak burung terjatuh dari sarangnya Orang-orang harus dibangunkan Kesaksian harus diberikan Agar kehidupan bisa terjaga" Juga Rendra yang menulis: "Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing Tapi jiwaku mencoba menulis sajak Sebagai seorang manusia". [Dari :Rendra, "Potret Pembangunan Dalam Puisi"] Rakyat negeri ini sedang berjuang jatuh-bangun menjadikan diri "sebagai seorang manusia", sekalipun Goenawan Mohamad menyebut pemilihan presiden sekarang sebagai "pemilihan raja". Barangkali satu tahap "pemilihan raja" ini merupakan satu periode yang harus dilalui untuk menjadikan diri "sebagai seorang manusia". Paris, Juli 2004. ---------------- JJ.KUSNI [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

