Bill Liddle dan Sikap Peneliti Asing 

Oleh Haidar Bagir
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0407/14/opini/1148251.htm

SAYA tak berkeberatan para peneliti asing meneliti tentang Indonesia. 
Sama seperti saya tak berkeberatan seorang peneliti non-Muslim 
berbicara tentang Islam. Kadang kita perlu tahu perspektif orang luar 
tentang kita. Apalagi jika peneliti asing itu seseorang yang benar-
benar memiliki pengetahuan dan wawasan memadai. Saya percaya, 
peneliti "luar"-pun punya kesempatan untuk memahami dengan baik obyek 
penelitiannya, apakah itu tentang bangsa atau agama lain.

Namun, saya akan amat berkeberatan jika peneliti asing itu kurang 
memiliki kesadaran fenomenologis atau-dinyatakan secara terus terang-
merasa sok tahu terhadap anggota masyarakat yang ditelitinya. Inilah 
yang saya khawatirkan terjadi dengan sementara peneliti asing tentang 
Indonesia, yang menyebabkan sebagian masyarakat kita berkeberatan 
dengan kiprah mereka. Dalam membincangkan persoalan ini, artikel saya 
akan mengambil kritik Kwik Kian Gie atas sikap William (Bill) 
Liddle, "Indonesianis" terkemuka yang penampilannya dalam pemilu lalu 
amat menonjol dan berbagai komentarnya menyodok ke sana-sini, sebagai 
titik tolak.

SAYA mulai dengan pengalaman pribadi-yang sebenarnya tak banyak-
dengan Pak Bill. Suatu kali beliau berkunjung ke kantor koran tempat 
saya saat itu bekerja, kira-kira tujuh tahun lalu.

Entah karena "nasionalisme" saya yang tinggi atau karena kekesalan 
saya terhadap sikap umum peradaban "Barat" yang terkesan kurang 
menghargai bangsa-bangsa di dunia ketiga, saya mengejutkan beberapa 
kolega saya yang hadir dengan menanggapi secara emosional lontaran-
lontaran pandangan Pak Bill tentang politik Indonesia saat itu. 
Namun, saya ingat benar, sikap saya muncul dari kesan yang saya 
tangkap bahwa Bill Liddle saat itu berbicara tentang Indonesia, di 
depan orang-orang Indonesia yang terpelajar, dengan gaya menggurui. 
Mungkin saya saja yang kurang berpengalaman bergaul dengan mereka 
yang biasa dipanggil sebagai "Indonesianis" sehingga kaget melihat 
cara berbicaranya. Atau, bisa jadi Bill Liddle sudah merasa diterima 
masyarakat dan media massa Indonesia sehingga tak kikuk bergaya 
demikian.

Beberapa waktu kemudian saya menjadi moderator sebuah diskusi yang 
menghadirkan Prof John L Esposito, ahli dunia Islam dari John Hopkins 
University. Saat itu saya melihat Bill Liddle hadir di sana. Maka, 
demi menghormati beliau, saya memberi kesempatan kepadanya untuk 
memberi tanggapan pertama. Namun, apa yang terjadi setelah diskusi 
usai?

Ketika saya menyalaminya, dia menyatakan, "Anda mau mengadu saya 
dengan Esposito?" Dia mungkin mengira saya menjadikan Esposito yang-
seperti biasa-berbicara secara empatik dan simpatik tentang 
masyarakat Islam, termasuk di Indonesia, sebagai "jago" saya untuk 
menghadapinya. Di benak saya berkata, "Orang-orang seperti ini 
mungkin sulit berpikir bahwa orang Indonesia-orang "Timur" atau dunia 
ketiga-bisa berdemokrasi. Bahwa, bisa saja kita berbeda pendapat 
dengan seseorang tanpa mesti kehilangan apresiasi kepadanya."

Maka, kesan saya tentang sikap (maaf!) sok pintar Bill Liddle, apa 
boleh buat, menjadi kian kuat. (Belakangan, lewat Saiful Mujani, 
salah seorang muridnya, yang kebetulan juga tersenggol kritik karena 
sering tampil di sebuah media TV, antara lain bersama sang guru, 
Liddle menyatakan, komentarnya itu sebenarnya cuma bercanda. Mudah-
mudahan).

Setelah kejadian itu, saya masih mendapati Liddle tak 
meninggalkan "gaya khas"-nya dalam berbagai kesempatan berbicara 
tentang Indonesia. Namun, sebelum mengungkap lebih jauh, ada baiknya 
saya ungkap serba sedikit pandangan-yang sudah menjadi mainstream 
dalam penelitian ilmu sosial sekarang-tentang bagaimana seorang 
peneliti asing seharusnya bersikap sehubungan dengan obyek yang 
ditelitinya.

Kita sudah mafhum tentang kritik keras dan terkenal yang diungkap 
Edward Said terhadap orientalisme. Kita tahu, dalam berbagai 
karyanya, Said berbicara tentang sikap "Barat" terhadap bangsa-
bangsa "Timur" yang amat kental diwarnai semangat kolonialisme. Kita 
ingat betapa Said mengungkap kekagumannya kepada Syed Husin al-Attas 
yang dianggap mampu mengungkap kecenderungan model begini terhadap 
bangsa Melayu, dalam buku The Myth of Lazy Natives (Mitos Melayu 
Malas).

DI sisi lain, sudah lama berlalu sejak para peneliti ilmu sosial 
mempromosikan keniscayaan bukan hanya sikap empatik, tetapi keharusan 
menjadikan pendapat obyek penelitian sebagai tolok ukur kebenaran.

Tersebutlah Wilfred Cantwell Smith, seorang pengkritik orientalisme 
dan kolonialisme intelektual, sebelum Said. Ahli kajian agama, yang 
juga memberi perhatian khusus kepada Asia Tenggara, ini berpendapat, 
tak ada satu pun studi tentang orang lain bisa dikatakan benar 
kecuali jika orang itu mengatakan "ya (itu benar)" atasnya.

Sayang, tidak demikianlah sikap yang banyak ditunjukkan oleh 
sementara peneliti asing. Sebagian di antara mereka malah mengesankan 
sikap tinggi hati dan cenderung meremehkan bangsa-bangsa yang menjadi 
obyek penelitiannya, meski mungkin sikap itu tertanam di pikiran 
bawah sadar mereka.

Melanjutkan contoh tentang Liddle, saya ingat benar, dalam salah satu 
tulisannya di harian ini, ia pernah menyatakan-disebutnya sebagai 
bersumber dari Clifford Geertz, "gurunya"-orang Indonesia "suka 
mengkritik pemimpinnya". Karena itu, katanya dalam tulisan yang sama, 
ia tak lagi mau ikut-ikutan (orang Indonesia) mengkritik Gus Dur yang 
saat itu menjadi pemimpin negeri ini. Betapa stereotipikalnya dan 
(saya terpaksa berkata) betapa downgrading-nya!

Contoh terakhir, diskusinya dalam Suara Anda (salah satu talk show 
sebagai bagian program Election Channel di Metro TV) yang banyak 
menampilkan para pengamat yang tak lain murid Liddle di Ohio 
University dan kabarnya memang dikoordinatori murid Liddle.

BERBICARA tentang Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bersama salah 
seorang fungsionaris partai itu, Zulkiflimansyah, Liddle begitu 
liberal melontarkan komentarnya tanpa merasa perlu mengecek kepada 
partisipan PKS yang ada di depannya. Di antara salah satu 
komentarnya, yang segera dibantah habis-habisan oleh Zulkiflimansyah, 
adalah keterkejutannya, PKS akhirnya memutuskan mendukung pasangan 
Amien-Siswono. Padahal, katanya, PKS sudah lama bekerja sama dengan 
Amien sehingga mestinya tahu persis bahwa "Amien tak akan bisa 
menjadi presiden yang baik". Dan itu sama sekali bukan satu-satunya 
pendapat Liddle yang dibantah Zulkiflimansyah pada acara tersebut.

Boleh jadi, kesan kita tentang Bill Liddle haruslah berhenti sebatas 
kesan. Seorang teman penulis, yang kebetulan teman Liddle, pernah 
mencoba menjelaskan hal ini dengan mengatakan, temperamen Bill Liddle 
adalah temperamen orang "Medan" yang ceplas-ceplos. Mudah-mudahan 
demikian. Meski, kalau benar, hal tersebut tak lantas menjadikan 
diskusi kita tentang peneliti yang satu ini, dan peneliti asing 
umumnya, menjadi tidak lagi memiliki poin.

Sebagai peneliti asing, sebagai "tamu", sudah sepatutnya jika Liddle 
berusaha menjadi-melanjutkan tamsil di atas-lebih berhati-hati agar 
sikap "sok tahu" dan "sok pintar" yang kemudian menonjol. Apalagi, 
tidakkah seharusnya seorang peneliti, apalagi yang sudah dianggap 
sekaliber Bill Liddle, bersikap lebih berhati-hati dan tidak ceroboh 
dalam mengeluarkan aneka pernyataan tentang "tuan rumah"-nya? Sebagai 
gantinya, dia harus lebih banyak menggali pandangan kelompok yang 
ditelitinya dengan semangat penuh empati dan apresiasi.

Meski berfokuskan Bill Liddle, yang kebetulan ada di tengah spot 
light wacana kritik terhadap peneliti asing belakangan ini, artikel 
ini bukan hanya tentang beliau. Bukan hanya bagi peneliti asing yang 
lain, kiranya semua ini bisa menjadi pelajaran bagi siapa saja, 
termasuk kita, agar terus memelihara sikap empatik dan rendah hati 
kapan saja kita meneliti dan memberikan pendapat tentang kelompok 
lain. Tabik, Pak Bill!


Haidar Bagir Ketua Yayasan Lazuardi Hayati




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke