--- 
Sinar Harapan, 13 Juli 2004
Lunturnya Pesona Kecendekiawanan Indonesia
Oleh Thomas Koten

ADA getar-getar keprihatinan dan kesenduan yang terungkap dari 
pernyataan 
dua orang cendekiawan Indonesia, Prof. Dr. Achmad Syafii, Ketua Dewan 
Pimpinan Pusat Muhammadyah, dan Prof. Dr. Azyumardi Azra, Rektor 
Universitas Islam Negeri Jakarta Syarif Hidayatullah. Dalam beberapa 
seminar seputar Pemilihan Presiden pada masa-masa kampanye di Jakarta 
belum lama ini, kedua cendekiawan itu mengatakan semacam 
elegi kritis atas menyimpangnya peran intelektual kecendekiawan 
Indonesia.
Dengan pengambilan sikap politik praktis dalam dukung-mendukung 
capres dan 
cawapres tertentu, baik secara terselubung maupun terbuka, para 
cendekiawan kita sudah keluar dari rel kecendekiawanan sebagai orang-
orang 
bijaksana penjaga moral (moral circle), sekaligus menjadi penyambung 
lidah 
rakyat untuk menyampaikan prinsip-prinsip moral. Dengan demikian, 
apakah 
seorang cendekiawan telah berkhianat ketika dia menjadi mesin politik 
dalam perebutan kekuasaan? 
Julian Benda, novelis dan pemikir kelahiran Prancis (1867-1956) 
menulis 
tentang "Pengkhianatan kaum cendekiawan" (The Treason of 
Intelectuals, 
1928), mengatakan bahwa para cendekiawan pada hakikatnya memiliki dan 
mempertahankan nilai-nilai abadi, universal dan yang tetap berlaku 
pada 
setiap zaman dan tempat. Nilai-nilai itu adalah kebenaran, keadilan 
dan 
rasio. Karena itu, seorang cendekiawan tidak mengabdikan diri kepada 
kepentingan politik melulu dengan penuh perhitungan tersembunyi demi 
keuntungan diri. Mereka dari kodratnya menjadi pembela nilai-nilai 
kemanusiaan tanpa pandang bulu. 

Cendekiawan dalam Sejarah
Eksistensi kaum cendekiawan dalam interpretasi Benda, sejalan dengan 
gambaran kita selama ini tentang cendekiawan sebagai resi atau 
begawan 
yang secara sadar mengambil jarak terhadap peristiwa-peristiwa sosial 
politik. Suara kaum cendekiawan sangat dibutuhkan dalam rangka 
meluruskan 
gerak sejarah kemanusiaan yang kerap terancam oleh berbagai distorsi 
yang 
menyembul dari tarik-menarik kepentingan politik yang selalu melekat 
pada 
kekuasaan yang diperebutkan. 
Kaum cendekiawan menurut Benda, hakikatnya ibarat para musafir yang 
selalu 
mencari dan memberi arti kepada segala sesuatu yang dijumpai. Mereka 
tidak 
silau oleh apa yang tampak dan bergejolak meski oportunistis 
sekalipun 
sifatnya. Mereka tidak mudah jatuh oleh tawaran-tawaran keuntungan 
sesaat 
sifatnya. 
Kaum cendekiawan selalu mencoba -melalui beningnya peristiwa - 
merenungkan 
hal yang tersembunyi di belakang berbagai fenomena politik dan lain-
lain 
yang dicerapkan dengan pancaindera.
Dalam hal ini, kaum cendekiawan, menurut Arnold Toynbee, adalah 
minoritas 
kreatif (creative minority) yang memiliki pandangan-pandangan 
mendalam dan 
jauh ke depan, melampaui masyarakatnya. Karena jika tidak ada 
cendekiawan 
sebagai pengomando-pemberi arah jalan tengah yang mencerahkan bagi 
masyarakat seluruhnya, maka fenomena sosial politik yang muncul tidak 
lain 
adalah ibarat menara kepentingan yang terus tumbuh meruncing dalam 
perebutan kekuasaan politik, yang ujungnya menimbulkan keterbelahan 
masyarakat. 

Memulai Kiprah
Julian Benda mungkin tidak rela kaum cendekiawan berkecimpung terlalu 
jauh 
dalam persoalan-persoalan politik. Tetapi, sebagaimana menyitir 
Syamsul 
Hadi (1993), merupakan pengingkaran sejarah bila kita tidak mengakui 
bahwa 
dalam lapangan inilah sesungguhnya kaum cendekiawan kita memulai 
kiprahnya 
dalam rangka pencerahan masif menuju kesadaran kebangsaan yang 
menjadi 
pilar ideologis bagi penciptaan Indonesia sebagai sebuah nation. 
Lihat, 
kaum terpelajar (baca: cendekiawan) Indonesia, baik pada era 
Kebangkitan 
Nasional 1908 maupun pada Sumpah Pemuda 1928 memainkan peran yang 
sangat 
strategis. Mereka adalah peletak dasar, pengembus napas bagi 
menggeliatnya 
"bayi" Indonesia.
Pada tahun 1908, kaum cendekiawan pra-Indonesia menggalang rasa cinta 
ibu 
pertiwi dan merentang visi kebangsaan, tidak secara serta-merta. 
Tidak 
sekaligus Sabang-Merauke, tetapi bermula pada basis kohesi ekonomi, 
sosial, politik, dan kultural yang sangat majemuk. Sosok nasionalisme 
1928 
pun tidak jauh berbeda. Memang berhasil dikumandangkan janji-suci: 
satu 
tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Namun, kebangunan jiwa satu 
nation 
Indonesia tereksplisitasi berkat gerakan-gerakan kelompok kedaerahan. 
Aglomerasi "nasionalisme lokal" -meminjam Anton Hagul- Jong Java, 
Jong 
Sumatera, Jong Celebes, dan lain-lain. 
Cendekiawan Digugat
Pernik-pernik warisan sejarah kebangsaan yang menggoreskan kiprah 
kaum 
cendekiawan kita itu, tentu masih bisa ditelaah untuk dirujuk kaum 
intelektual atau cendekiawan kita masa kini agar tidak terlalu 
tergoda 
oleh pertarungan politik untuk merebutkan kekuasaan yang sebenarnya 
hanya 
nikmat sesaat dan kering makna. Meskipun sejarah kita menawarkan 
pilihan-pilihan yang terbuka, bagi seorang cendekiawan untuk memilih 
posisi dan peran dalam masyarakat, tetapi harus diingat bahwa 
masyarakat 
kita senantiasa membutuhkan peran cendekiawan-cendekiawan sesuai 
dengan 
prioritas tugasnya sendiri sepadan dengan masalah-masalah yang 
dihadapi. 
Tugas cendekiawan menurut Edward Shills, pertama-tama adalah merintis 
pengajaran ide-ide kebangsaan dalam mana mereka berfungsi sebagai 
penganjur, pemimpin dan pelaksana. Kalangan cendekiawan Indonesia 
belakangan ini kembali digugat justru, karena tampak bahwa peran 
mereka 
semakin tumpul dan menyempit, sudah terlalu banyak yang terpusat pada 
politik praktis dan terlibat dalam usaha perebutan kekuasaan. Hal ini 
sudah menjadi komitmen kaum cendekiawan kita dalam jumlahnya yang 
semakin 
banyak. Ter-lihat kecenderungan di mana kebanyakan kaum cendekiawan 
kita 
yang telah berubah sosoknya menjadi pelaksana-pelaksana kepentingan 
tertentu dari sebuah mesin politik yang besar.
Jika kaum cendekiawan kita telah menjadi satuan entitas yang homogen 
dan 
terkotak-kotak dalam berbagai lembaga atau partai politik tertentu 
dengan 
absolutisme sendiri-sendiri, maka yang paling dirugikan adalah 
masyarakat 
kebanyakan. Padahal, secara tidak tertulis, masyarakat kebanyakan 
sejak 
dulu, kini dan akan datang sebenarnya selalu menggantungkan nasibnya 
kepada kaum cendekiawan yang merupakan pemberi arah moral dan nilai-
nilai 
hakiki kemanusiaan; seperti kebenaran, keadilan dan rasio.
Sungguh hebat sifat-sifat yang dimiliki seorang cendekiawan karena 
yang 
diperjuangkan adalah nilai-nilai luhur inti kemanusiaan manusia. 
Tetapi, 
inilah tugas yang sangat berat bagi seorang yang menyebut dirinya 
cendekiawan. Sebab, sekali mulai berhasrat membara memetik 
keberuntungan, 
pamrih, sekali itu pula berawallah lunturnya pesona kecendekiaan 
seorang 
cendekiawan.
Penulis adalah  direktur The Justice Advocates Indonesia.
--- End forwarded message ---




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke