Kejutan buat SBY http://www.kompas.com/kompas-cetak/0407/14/opini/1142669.htm
Oleh R William Liddle BAGI orang awam, hasil pemilu presiden putaran pertama seharusnya melegakan hati Susilo Bambang Yudhoyono. Soalnya SBY, begitu sapaan akrabnya, sudah menduduki peringkat nomor wahid, sekitar enam persen di atas pemenang kedua, Megawati Soekarnoputri. Setidaknya begitulah kesimpulan penghitungan cepat LP3ES/NDI yang untuk sementara kita pegang sebagai penghitungan paling akurat. Meski demikian, andaikata saya SBY, hasil putaran pertama akan membuat saya kecewa dan prihatin sebab menurut berbagai jajak pendapat ilmiah yang saya ikuti sejak tahun lalu, dukungan masyarakat pada SBY belakangan menurun tajam. Misalnya, Lembaga Survei Indonesia melaporkan, dukungan untuk SBY, pada November 2003 masih di bawah 10 persen, meningkat terus. Puncaknya tercapai pada Mei 2004 saat 49,8 persen dari responden survei menyatakan, seandainya pemilu dilakukan pada hari itu, mereka akan memilih SBY. Survei berikut, yang diadakan sebulan kemudian, mengisyaratkan suatu kemunduran. Hanya 43,5 persen dari responden survei bulan Juni ada di kubu jenderal pensiunan berbadan kekar dan berwajah tenang itu. Jajak pendapat lain, misalnya yang dilakukan IFES (International Foundation for Election Systems) dan LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial), menunjukkan tren yang sama. Gejala apa ini? Pertanyaan ini penting bagi SBY yang ingin membalikkannya dan Megawati yang mau meneruskannya. Namun, seluruh rakyat Indonesia perlu memperoleh gambar sejelas mungkin tentang faktor-faktor yang memengaruhi pilihan kolektifnya. Setidaknya, sebagai masyarakat demokratis yang ingin secara sadar menentukan masa depannya. Teka-teki ini tentu tidak mudah dipecahkan. Terus terang, saya belum mengerti mengapa dukungan SBY melejit begitu tinggi sejak tahun lalu; ditambah lagi mengapa dukungan itu menurun belakangan ini. Namun, ada beberapa hipotesis yang mungkin bisa membantu kita menjelaskan fenomena ini, atau setidaknya bermanfaat sebagai kerangka analitis. Saya sebutkan saja sebagai hipotesis cinta monyet, hipotesis kampanye, hipotesis mesin politik, dan terakhir hipotesis aliran. MENURUT hipotesis cinta monyet atau mungkin lebih tepat cinta sesaat, yang saya dengar di mana-mana, masyarakat Indonesia punya kecenderungan tidak setia kepada seorang pemimpin politik. Sebaliknya, emosi mereka seperti gelembung, cepat mengembang dan mengempis. Sebagai contoh, Megawati menjadi populer di mata masyarakat ketika ia dihajar pada akhir masa pemerintahan Soeharto. Tahun ini, SBY menuai manfaat sindrom itu saat dipecat Mega dan dicaci Taufik Kiemas, yang menyebutnya kekanak- kanakan di depan umum. Dampaknya masih saya rasakan pada pemilu legislatif, April lalu, saat saya mengunjungi beberapa daerah di luar Jakarta. Namun, cinta seperti ini, khususnya yang dipicu oleh hal kecil, tidak akan bertahan lama. Perhatian masyarakat gampang pindah ke obyek baru. Menurut hipotesis kampanye, citra SBY dirugikan oleh kampanyenya yang buruk atau tidak sebaik calon lain. Sebelum masa kampanye, reputasinya cemerlang selaku pejabat yang berwibawa, priayi yang sabar tetapi tegas. Reputasi itu berkembang setelah ia diangkat menjadi Menko Polkam. Masyarakat mengenalnya sebagai pemimpin yang bersedia mengambil keputusan untuk bertindak kapan dan di mana perlu. Sebaliknya, Presiden Megawati dinilai kurang tegas, setidaknya pendiam, yang tidak mau tampil ke depan publik untuk menjelaskan kebijaksanaannya. Pada masa kampanye, SBY harus bersaing bukan hanya dengan Megawati, tetapi dengan tiga calon lain. Iklan TV Amien, Wiranto, dan Mega dinilai banyak orang lebih berhasil menarik pemilih ketimbang iklan SBY, yang memberi kesan kaku dan birokratis. Menjelang hari H, kinerja SBY pada debat nasional yang disiarkan ke seluruh Tanah Air juga tidak mencolok. Faktor SMS dan pamflet gelap, yang sebagian mencap SBY Islam radikal dan sebagian lain pro-Kristen, mungkin juga berpengaruh. Masuk akal bila kita mengandaikan, cukup banyak pemilih yang dulu pro-SBY akhirnya memilih calon lain. Hipotesis ketiga, peran mesin politik, mungkin merupakan hipotesis favorit kebanyakan pengamat. Pada Pemilu 1999, partai-partai yang berhasil meraih suara paling tinggi adalah PDI-P, Golkar, PKB, dan PPP. PDI-P, Golkar, dan PPP sudah berakar di masyarakat puluhan tahun sebagai peserta pemilu, dengan cabang-cabang di tingkat kabupaten dan kota madya yang mudah menjangkau masyarakat di bawah. PKB adalah wajah politik Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam yang didirikan tahun 1926 dan kini memiliki puluhan juta anggota dan pengikut. Menurut hipotesis ini, banyak pemilih masih setia pada partai masing- masing. Lagi pula, mereka sempat dimobilisasi oleh pemimpin lokal partai beberapa hari sebelum pencoblosan. Hal ini tak berlaku bagi SBY sebab Partai Demokrat yang baru saja didirikan belum memiliki jaringan organisasi yang kuat dan luas. Dampaknya, pada 5 Juli persentase suara Megawati, Wiranto, dan Amien didongkrak, dan suara SBY ditekan, dibandingkan dengan hasil jajak-jajak pendapat terakhir yang diadakan pertengahan Juni. Hipotesis keempat menyangkut peran aliran dalam politik Indonesia. Menurut hipotesis ini, suara SBY turun sebab afiliasi alirannya samar- samar. Yang dimaksud dengan aliran adalah kelompok sosio-budaya yang menjelma sebagai organisasi politik. Pada tahun 1950-an Clifford Geertz menemukan empat aliran besar dalam masyarakat Jawa: PNI, PKI, Masyumi, dan NU, yang masing-masing mewakili golongan priayi, abangan, santri modernis, dan santri tradisionalis. Pola aliran juga tercermin dalam politik elektoral Orde Baru saat Soeharto memaksakan semua partai santri bergabung dalam satu partai, yang dinamakan Partai Persatuan Pembangunan, dan semua partai priayi, abangan, dan non-Islam difusi dalam Partai Demokrasi Indonesia. Sejauh mana aliran masih memainkan peran dalam politik elektoral Indonesia? Buku baru Dwight King, ilmuwan politik kawakan dari Northern Illinois University, menyimpulkan, pengaruh aliran masih tampak dalam Pemilu 1999. Lagi pula, akar partai-partai masa kini dirunutnya kepada partai-partai 1950-an. Bila analisis King benar, partai dan calon yang ingin sukses perlu beridentifikasi dengan salah satu aliran. Identifikasi SBY dan Partai Demokrat, yang mengaku partai nasionalis sekaligus religius, justru kabur. Menurut hipotesis aliran, kekaburan itu mendorong banyak pemilih kembali ke kandang masing-masing: PDI-P buat kaum abangan, PKB buat santri tradisionalis, PAN dan PKS buat santri modernis, dan seterusnya. Hipotesis mana yang paling tepat-cinta monyet, kampanye, mesin politik, atau aliran-untuk menjelaskan anjloknya dukungan SBY pada bulan terakhir sebelum pemilu presiden? Belum ada jawaban yang tuntas sebab survei sosiologis dan studi kasus antropologis belum sempat dilakukan para ilmuwan. Tulisan ini dimaksudkan bukan untuk memilih salah satu hipotesis, melainkan untuk mengusulkan sejumlah pertanyaan. Semoga berguna bagi para pengamat dan pemain di lapangan. R William Liddle Profesor Ilmu Politik The Ohio State University, Columbus, Ohio, Amerika Serikat ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

