WILLIAM LIDDLE DAN NASIONALISME KITA
Oleh Tangkisan Letug
Hingar bingar pipres masih berlangsung. Yang tampak
akan maju ke putaran kedua adalah SBY dan Megawati.
Hingar bingar pilpres kali ini ternyata diwarnai pula
oleh persoalan tentang nasionalisme kita sebagai
sebuah bangsa.
Bermula dari keterlibatan orang-orang asing dalam
penyelenggaraan pemilihan umum ini, para pecinta tanah
air seperti tersadar dari kantuknya oleh buaian pujian
dan lancarnya proses pemilu. Tak perlu diingkari,
bantuan asing mengalir ke negeri ini seperti derasnya
aliran sungai Progo. Ketika musim hujan tiba, airnya
meluap. Di musim kemarau, airnya tak lebih dari semata
kaki. Dari luapan air di musim penghujan,
tertinggallah pada kita aliran pasir yang
bergunung-gunung hingga membentuk pulau-pulau pasir di
sepanjang aliran Sungai Progo. Begitukah gambaran
"bantuan" luar negeri bagi Indonesia. Ada saatnya,
bantuan itu datang sebagai hibah berlimpah. Ada
saatnya pula, tinggal semata kaki. Hanya meninggalkan
sampah pasir yang menggunung.
Di sini, bukan persoalan bantuan itu yang ingin
penulis refleksikan. Tulisan ini mau mengambil
pelajaran dari fenomen kehadiran sosok intelektual
William Liddle dalam proses pemilihan pemimpin
nasional kita.
Fenomen William Liddle
Dalam pemilu kali ini, keterlibatan asing menjadi
istimewa karena fenomen SBY, yang sejak semula ada
seorang ahli seperti William Liddle yang setia
memberikan dukungannya. Memang tidak ada undang-undang
yang mengatur dukungan asing itu. Tetapi, menonjolnya
peran seorang ahli asing dalam pemilu kali ini seperti
menohok kesadaran kebangsaan kita. Tohokan ini bagi
penulis mengena pada beberapa pokok:
Pertama, fenomen Liddle menyadarkan kita bahwa pada
kenyataannya tidak ada seorang intelektual arsitek
politik kita yang lahir dari rahim bangsa Indonesia.
Ini sebuah kenyataan pahit. Ternyata "penentu" dan
pemikir yang menentukan proses demokrasi dan politik
Indonesia adalah seorang asing. Dan para intelektual
dan pemikir Indonesia sendiri tampak puas sekedar
menjadi murid-murid yang manis, baik hati, dan selalu
merujuk pandangan gurunya, tapi belum pernah berani
berdiri menjadi pemberi pendasaran pemikiran
otentiknya. Inilah yang penulis rasa sebagai "KRISIS
INTELEKTUAL INDONESIA"!
Kedua, fenomen Liddle yang tentunya dibarengi oleh
aliran bantuan dollar, menyadarkan pula akan kenyataan
bahwa pada dasarnya kita masih belum memiliki
orientasi keindonesiaan yang nyata. Kita seperti terus
terkungkung ke dalam lingkaran admirasi
asing/bara/amerika. Segala yang berasal dari Eropa,
Amerika, seakan lebih menarik. Kita lihat saja
bagaimana pasar menjajakan segala merek dagangannya;
bagaimana iklan-iklan memamerkan kehebatan yang serba
asing. Sementara itu, mentalitas para pemegang
kekuasaan sudah sedemikian terjerat ke dalam kuasa
uang. Uang telah membeli keindonesian kita!
Ketiga, fenomen Liddle bagi penulis merupakan
peringatan akan bahayanya memilih seorang pemimpin
yang terombang-ambingkan oleh kekuatan di
sekelilingnya. Seorang pemimpin yang tidak memiliki
wawasan yang kuat terhadap bangsa dan keindonesiaan
kita, akan cenderung terseret oleh kekuasaan uang dan
senjata. Bila ia menjadi seorang kuat, dasar
kekuasaannya tidak akan sungguh diletakkan pada
kepentingan Indonesia, tetapi hanya pada uang dan
senjata.
Indonesia Raya dan Rayuan Pulau Kelapa
Lalu, keindonesiaan macam apakah yang dapat membantu
kita untuk menyongsong kepemimpinan Indonesia masa
depan?
Untuk menjawab ini, penulis mau mengusulkan untuk
menyerapi lagi Indonesia Raya yang tidak lepas dari
Rayuan Pulau Kelapa. Kepemimpinan Indonesia yang hanya
sekedar dijiwai Indonesia Raya (yang berjiwa
perjuangan fisik dan revolusioner dalam semangat
ksatria), perlu dilengkapi dengan jiwa kepemimpinan
yang terserap dari semangat Rayuan Pulau Kelapa
(sebuah jiwa cinta tanah air, yakni kerinduan
menegakkan masyarakat sipil). Melulu mengambil
Indonesia Raya saja bisa menyeret kita pada bentuk
sebuah kepemimpinan yan militeristik. Maka, perlu jiwa
sipil yang melatarbelakanginya. Bagi penulis,
melagukan Indonesia Raya saja sekarang ini masih
terasa ada sesuatu yang kurang. Oleh karena, itu
Rayuan Pulau Kelapa (himne sipil patriotis) bisa
melengkapinya.
Akhir Kata
Sebagai akhir tulisan ini, kita tentunya pantas
berterimakasih atas keterlibatan William Liddle dalam
menggugah rasa kebangsaan kita. Ternyata masih panjang
perjalanan untuk membangun keindonesiaan kita. Semoga
akan lahir para arsitek intelektual bagi keindonesiaan
kita.
14 Juli 2004
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/