Menanggapi tulisan R. William Liddle, tentang SBY yang seharusnya kecewa dan prihatin 
dengan menurunnya dukungan rakyat Indonesia terhadapnya, menimbulkan banyak pertanyaan 
bagi penulis. Dari semua hipotesa yang beliau kemukakan, hipotesa pertama tentang 
tidak setianya rakyat  Indonesia pada pemimpin politiknya semakin menambah kebingungan 
penulis.

Benarkah rakyat Indonesia bukan tipe yang setia? Bukannya selama ini para pemimpin-lah 
 yang tak pernah setia pada rakyatnya? Jika perlu pembuktian, pertimbangkan bagaimana 
sejarah selama ini menempatkan rakyat Indonesia sebagai obyek penderita. Sukarno, 
sudah berusaha memihak rakyatnya ketika PKI menjadi partai terbesar dan menguasai 
parlemen. Ketika sebagian rakyat lainnya tidak menginginkan PKI, Sukarno 
mengabaikannya, dan berakibat fatal pada kekuasannya. Soeharto, yang 'mengemban' 
amanat untuk menyingkirkan PKI, kemudian juga lupa pada siapa pengabdiannya harus 
dialamatkan. Bahkan lebih buruk lagi, Soeharto dengan 'tangan dingin' menyelesaikan 
perkara PKI tanpa belas kasihan dan rasa kemanusiaan. Dan seterusnya.

Hingga saat ini, rasanya belum satupun pemimpin besar yang patut mendapat kepercayaan 
rakyat sedemikian besarnya, sehingga perlu dibela dengan darah atau air mata. Meskipun 
demikian, bisa dilihat bahwa rakyat Indonesia tetap cinta bangsanya. Yang mereka 
inginkan adalah keberpihakan, cara pandang yang meletakkan kepentingan rakyat banyak 
sebagai dasar dari segala pengambilan kebijakan.

* * *

Tak ada satupun yang bisa membuktikan bagaimana keterlibatan kepentingan AS yang 
dituduhkan baru-baru ini  dalam pelaksanaan Pemilu Presiden/Wakil Presiden 2004. 
Berbagai tanggapan sudah dikemukakan, tak kurang Ketua KPU sendiri menyatakan, 
meskipun bantuan terbesar datang dari negeri Paman Sam itu, tapi mereka menolak setiap 
'titipan' yang tidak sesuai dengan peraturan atau perundang-undangan yang berlaku di 
tanah air.  Demikian pula tuduhan yang kemudian berbelok kepada para LSM, yang nota 
bene bergantung dari bantuan donatur luar negeri untuk melangsungkan kegiatannya. 
Todung Mulya Lubis sendiri menyatakan, perdebatan mengenai konspirasi-konspirasi 
semacam ini sudah basi, dan tak perlu lagi panjang-panjang diperdebatkan. 

Terlepas dari benar tidaknya tuduhan konspirasi semacam itu, kenyataan di lapangan 
menunjukkan adanya banyak kejanggalan dalam wacana pertarungan calon presiden dalam 
pemilu kali ini. Beberapa kasus mencuat, dan menjadi wacana hingga sekarang. Mulai 
dari ketidakpercayaan publik terhadap penggunan teknologi IT dalam penghitungan suara 
di KPU, kasus tinta berkualitas rendah, kasus coblos tembus yang tidak diantisipasi 
jauh hari sebelum pelaksanaan pencoblosan, kasus Pesantren Zaytun, dan masih banyak 
kasus lain yang mungkin tidak terekspos di media massa.

Dari semua kasus yang terjadi, semuanya bukan berasal dari kesalahan rakyat, tetapi 
justru dari kesalahan pemimpin-pemimpinnya yang tidak jeli pada kondisi lapangan. Jika 
kemudian tuduhannya adalah ketidaksetiaan rakyat pada pemimpin, mungkin pemilu kemarin 
tidak akan menghasilkan apa-apa. Bayangkan saja bagaimana repotnya para petugas KPPS 
di lapangan yang harus menjadi 'bemper' ketidakjelian orang-orang KPU. Mereka tidak 
dibayar sebanyak orang-orang KPU, tetapi dedikasi mereka bisa dikatakan tidak lebih 
rendah dari apa yang ditunjukkan KPU selama ini.

Bukan berarti pembelaan yang membabi buta, jika penulis menuduh bahwa pernyataan yang 
ditulis Liddle itu tidak pada tempatnya. Kalau Liddle menyatakan bahwa SBY layaknya 
kecewa pada kesetiaan rakyat padanya, maka penulis akan menyatakan betapa kecewanya 
rakyat selama ini karena dipimpin oleh orang-orang yang mementingkan dirinya dan 
kelompoknya saja.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa lobby-lobby antar partai selama ini tak lebih dari 
sekedar politik dagang sapi. Percaturan politik tingkat tinggi sungguh sulit 
dimengerti oleh rakyat jelata. Bagaimana Gus Dur yang pernah mengeluarkan dekrit 
'basi' tentang pembubaran Golkar, kini terang-terangan mendukung Wiranto, capres 
pilihan Golkar. Sungguh di luar pemikiran awam, ketika Amien Rais mendorong-dorong Gus 
Dur menjadi presiden, lalu tidak berbuat apa-apa ketika Gus Dur dijatuhkan begitu saja.

* * *

Melihat perolehan Golkar di masa pemilu 1999, menunjukkan betapa sebagian besar rakyat 
sangat setia pada pilihannya, terlepas dari rasional atau tidak pilihan itu. Apalagi 
dengan kemenangan Golkar di Pemilu legislatif 2004 yang lalu, penulis kira itulah 
bukti nyata kesetiaan rakyat pada pilihannya. Kemenangan sesaat PDIP ternyata tidak 
berbuah kepercayaan dan kesetiaan rakyat, karena mungkin PDIP tidak mampu membuktikan 
keberpihakannya pada rakyat. Meskipun tidak sepenuhnya berpaling, tetapi PDIP harus 
siap mengoreksi diri, apakah selama ini sudah menjawab kepercayaan yang diberikan 
rakyat kepadanya.

Kekalahan Wiranto pada perolehan suara sementara ini, menunjukkan bahwa ia tidak 
sepenuhnya merepresentasikan aspirasi simpatisan Golkar. Partai Golkar tidak sama 
dengan Wiranto. Kesetiaan pada Golkar adalah kesetiaan pada masa lalu, dan Wiranto 
tampaknya tidak termasuk pada frame masa lalu itu. Di masa lalu Wiranto adalah TNI, 
dan meskipun TNI punya kedekatan dengan Golkar, menurut rakyat tampaknya Wiranto tidak 
berkaitan langsung dengan Golkar.

Fluktuasi dukungan terhadap SBY berdasarkan hasil survey, yang nota bene dilakukan 
sebagian besar di perkotaan, menunjukkan bahwa sebenarnya rakyat Indonesia membutuhkan 
tokoh baru yang berpihak pada mereka, memiliki cara pandang baru, dan yang agaknya 
penting adalah orang yang 'senasib dan sepenanggungan' dengan mereka. Fenomena 
'tertindas' yang melekat pada tokoh-tokoh dukungan rakyat bisa menjelaskan hal ini. 
Meskipun, pada kasus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), hal ini tidak berlaku.

Ketika kemudian dukungan kepada SBY kecenderungannya semakin menurun dalam survey, 
menurut penulis ini adalah bentuk keraguan rakyat setelah melihat secara langsung 
penampilan SBY. Keraguan ini muncul dimungkinkan karena kepopuleran SBY tidak 
berbanding lurus dengan kenyataan di lapangan. Rakyat semakin pintar mencermati 
pilihannya, meskipun tidak sedikit yang semakin bingung. Perolehan suara SBY saat ini, 
yang diduga beberapa pengamat mencerminkan kepopulerannya, pada putaran kedua nanti 
akan semakin berat, karena Mega dengan posisinya sekarang sebagai presiden bisa lebih 
mudah mendongkrak kepopulerannya.

Yang agak mengejutkan adalah, kenapa Liddle masih 'terkejut' dengan kondisi menurunnya 
dukungan rakyat terhadap SBY? Selama SBY tidak menunjukkan keberpihakannya pada rakyat 
secara nyata, maka kepopulerannya selama ini akan memberinya harapan semu. Rakyat 
semakin cerdas, tidak bisa dibohongi lagi dengan iklan-iklan, atau janji-janji semata.

 

Rahadian P. Paramita

Bdg, Juli 2004



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke