Menanggapi tulisan R. William Liddle di Harian Kompas (14 juli 2004), 
tentang SBY yang seharusnya kecewa dan prihatin dengan menurunnya 
dukungan rakyat Indonesia terhadapnya, menimbulkan banyak pertanyaan 
bagi penulis. Dari semua hipotesa yang beliau kemukakan, hipotesa 
pertama tentang tidak setianya rakyat Indonesia pada pemimpin 
politiknya semakin menambah kebingungan penulis.

Benarkah rakyat Indonesia bukan tipe yang setia? Bukannya selama ini 
para pemimpin-lah yang tak pernah setia pada rakyatnya? Jika perlu 
pembuktian, pertimbangkan bagaimana sejarah selama ini menempatkan 
rakyat Indonesia sebagai obyek penderita. Sukarno, sudah berusaha 
memihak rakyatnya ketika PKI menjadi partai terbesar dan menguasai 
parlemen. Ketika sebagian rakyat lainnya tidak menginginkan PKI, 
Sukarno mengabaikannya, dan berakibat fatal pada kekuasannya. 
Soeharto, yang `mengemban' amanat untuk menyingkirkan PKI, kemudian 
juga lupa pada siapa pengabdiannya harus dialamatkan. Bahkan lebih 
buruk lagi, Soeharto dengan `tangan dingin' menyelesaikan perkara PKI 
tanpa belas kasihan dan rasa kemanusiaan. Dan seterusnya.

Hingga saat ini, rasanya belum satupun pemimpin besar yang patut 
mendapat kepercayaan rakyat sedemikian besarnya, sehingga perlu 
dibela dengan darah atau air mata. Meskipun demikian, bisa dilihat 
bahwa rakyat Indonesia tetap cinta bangsanya. Yang mereka inginkan 
adalah keberpihakan, cara pandang yang meletakkan kepentingan rakyat 
banyak sebagai dasar dari segala pengambilan kebijakan.

* * *

Tak ada satupun yang bisa membuktikan bagaimana keterlibatan 
kepentingan AS yang dituduhkan baru-baru ini dalam pelaksanaan Pemilu 
Presiden/Wakil Presiden 2004. Berbagai tanggapan sudah dikemukakan, 
tak kurang Ketua KPU sendiri menyatakan, meskipun bantuan terbesar 
datang dari negeri Paman Sam itu, tapi mereka menolak 
setiap `titipan' yang tidak sesuai dengan peraturan atau perundang-
undangan yang berlaku di tanah air. Demikian pula tuduhan yang 
kemudian berbelok kepada para LSM, yang nota bene bergantung dari 
bantuan donatur luar negeri untuk melangsungkan kegiatannya. Todung 
Mulya Lubis sendiri menyatakan, perdebatan mengenai konspirasi-
konspirasi semacam ini sudah basi, dan tak perlu lagi panjang-panjang 
diperdebatkan. 

Terlepas dari benar tidaknya tuduhan konspirasi semacam itu, 
kenyataan di lapangan menunjukkan adanya banyak kejanggalan dalam 
wacana pertarungan calon presiden dalam pemilu kali ini. Beberapa 
kasus mencuat, dan menjadi wacana hingga sekarang. Mulai dari 
ketidakpercayaan publik terhadap penggunan teknologi IT dalam 
penghitungan suara di KPU, kasus tinta berkualitas rendah, kasus 
coblos tembus yang tidak diantisipasi jauh hari sebelum pelaksanaan 
pencoblosan, kasus Pesantren Zaytun, dan masih banyak kasus lain yang 
mungkin tidak terekspos di media massa.

Dari semua kasus yang terjadi, semuanya bukan berasal dari kesalahan 
rakyat, tetapi justru dari kesalahan pemimpin-pemimpinnya yang tidak 
jeli pada kondisi lapangan. Jika kemudian tuduhannya adalah 
ketidaksetiaan rakyat pada pemimpin, mungkin pemilu kemarin tidak 
akan menghasilkan apa-apa. Bayangkan saja bagaimana repotnya para 
petugas KPPS di lapangan yang harus menjadi `bemper' ketidakjelian 
orang-orang KPU. Mereka tidak dibayar sebanyak orang-orang KPU, 
tetapi dedikasi mereka bisa dikatakan tidak lebih rendah dari apa 
yang ditunjukkan KPU selama ini.

Bukan berarti pembelaan yang membabi buta, jika penulis menuduh bahwa 
pernyataan yang ditulis Liddle itu tidak pada tempatnya. Kalau Liddle 
menyatakan bahwa SBY layaknya kecewa pada kesetiaan rakyat padanya, 
maka penulis akan menyatakan betapa kecewanya rakyat selama ini 
karena dipimpin oleh orang-orang yang mementingkan dirinya dan 
kelompoknya saja.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa lobby-lobby antar partai selama ini 
tak lebih dari sekedar politik dagang sapi. Percaturan politik 
tingkat tinggi sungguh sulit dimengerti oleh rakyat jelata. Bagaimana 
Gus Dur yang pernah mengeluarkan dekrit `basi' tentang pembubaran 
Golkar, kini terang-terangan mendukung Wiranto, capres pilihan 
Golkar. Sungguh di luar pemikiran awam, ketika Amien Rais mendorong-
dorong Gus Dur menjadi presiden, lalu tidak berbuat apa-apa ketika 
Gus Dur dijatuhkan begitu saja.

* * *

Melihat perolehan Golkar di masa pemilu 1999, menunjukkan betapa 
sebagian besar rakyat sangat setia pada pilihannya, terlepas dari 
rasional atau tidak pilihan itu. Apalagi dengan kemenangan Golkar di 
Pemilu legislatif 2004 yang lalu, penulis kira itulah bukti nyata 
kesetiaan rakyat pada pilihannya. Kemenangan sesaat PDIP ternyata 
tidak berbuah kepercayaan dan kesetiaan rakyat, karena mungkin PDIP 
tidak mampu membuktikan keberpihakannya pada rakyat. Meskipun tidak 
sepenuhnya berpaling, tetapi PDIP harus siap mengoreksi diri, apakah 
selama ini sudah menjawab kepercayaan yang diberikan rakyat kepadanya.

Kekalahan Wiranto pada perolehan suara sementara ini, menunjukkan 
bahwa ia tidak sepenuhnya merepresentasikan aspirasi simpatisan 
Golkar. Partai Golkar tidak sama dengan Wiranto. Kesetiaan pada 
Golkar adalah kesetiaan pada masa lalu, dan Wiranto tampaknya tidak 
termasuk pada frame masa lalu itu. Di masa lalu Wiranto adalah TNI, 
dan meskipun TNI punya kedekatan dengan Golkar, menurut rakyat 
tampaknya Wiranto tidak berkaitan langsung dengan Golkar.

Fluktuasi dukungan terhadap SBY berdasarkan hasil survey, yang nota 
bene dilakukan sebagian besar di perkotaan, menunjukkan bahwa 
sebenarnya rakyat Indonesia membutuhkan tokoh baru yang berpihak pada 
mereka, memiliki cara pandang baru, dan yang agaknya penting adalah 
orang yang `senasib dan sepenanggungan' dengan mereka. 
Fenomena `tertindas' yang melekat pada tokoh-tokoh dukungan rakyat 
bisa menjelaskan hal ini. Meskipun, pada kasus Partai Keadilan 
Sejahtera (PKS), hal ini tidak berlaku.

Ketika kemudian dukungan kepada SBY kecenderungannya semakin menurun 
dalam survey, menurut penulis ini adalah bentuk keraguan rakyat 
setelah melihat secara langsung penampilan SBY. Keraguan ini muncul 
dimungkinkan karena kepopuleran SBY tidak berbanding lurus dengan 
kenyataan di lapangan. Rakyat semakin pintar mencermati pilihannya, 
meskipun tidak sedikit yang semakin bingung. Perolehan suara SBY saat 
ini, yang diduga beberapa pengamat mencerminkan kepopulerannya, pada 
putaran kedua nanti akan semakin berat, karena Mega dengan posisinya 
sekarang sebagai presiden bisa lebih mudah mendongkrak kepopulerannya.

Yang agak mengejutkan adalah, kenapa Liddle masih 'terkejut' dengan 
kondisi menurunnya dukungan rakyat terhadap SBY? Selama SBY tidak 
menunjukkan keberpihakannya pada rakyat secara nyata, maka 
kepopulerannya selama ini akan memberinya harapan semu. Rakyat 
semakin cerdas, tidak bisa dibohongi lagi dengan iklan-iklan, atau 
janji-janji semata.

Bdg, juli 2004




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke