Tajuk rencana Kompas hari Rabu, tanggal 15 Juli 2004, mengenai moral bangsa yang sudah 
sedemikian terpuruknya, sehingga mulai membutuhkan keteladanan, agaknya menyiratkan 
suatu 'keputus-asaan'. 

Penulis sendiri tidak begitu percaya bahwa setelah zaman Nabi-nabi diturunkan ke Bumi, 
akan ada lagi suatu masa dimana kita perlu meneladani seseorang atau suatu kaum demi 
perbaikan moral.

Bicara keteladanan, sama halnya dengan bicara pendidikan, bagaimana mengajarkan kepada 
orang yang tidak tahu agar menjadi tahu. Tetapi persoalannya, dalam dunia orang 
dewasa, tidak ada lagi bahasa diajarkan. Orang dewasa adalah orang yang sudah memiliki 
cukup pengalaman dalam hidupnya, sehingga memiliki cukup banyak redferensi dalam 
berperilaku atau mengambil keputusan.

Keteladanan yang ditunjukkan Nabi Muhammad, SAW adalah suatu bentuk 'kekesalan' Tuhan 
pada bangsa Arab waktu itu yang sungguh tak beradab. Sistem macet, korup, dan tak 
jelas arahnya mau kemana. Itulah pula mungkin yang menyebabkan zaman itu kemudian 
disebut-sebut sebagai zaman Zahiliyah.

Kebuntuan macam apa yang sedang kita hadapi ini? Mampukan seorang Presiden menjadi 
'nabi' yang membawa keteladanan bagi seluruh umat?

Sebagai orang dewasa dan berpendidikan, seharusnya manusia abad 21 ini sudah mampu 
mengatur diri mereka, baik di dalam kelompok kecil maupun dalam tatanan bernegara, 
bahkan di tingkat internasional. Tak aneh jika sekuleritas banyak muncul di 
negara-negara Barat, karena bagi mereka tanpa agama pun hidup mereka sudah sangat 
teratur. Bukankah agama bermanfaat untuk mengatur kehidupan manusia? Setidaknya itulah 
gambaran yang penulis tangkap dari pemikiran-pemikiran sekuler.

Sistem yang mengatur kehidupan manusia-lah yang seharusnya dijadikan patokan. Jika 
sistem kita sudah korup, crash, dan tidak bisa di manfaatkan lagi, maka jangan 
ragu-ragu untuk segera membuangnya, dan jangan lupa untuk menggantinya dengan yang 
baru.

Membangun sistem yang baru inilah pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Atau 
mungkin juga sebagian dari kita malas mengerjakannya. Nyaman menempati rumah dinas 
lengkap beserta fasilitasnya, lupa pada tugas-tugas yang diembannya.

Kalau kemudian masyarakat berharap Presiden bisa menjadi 'pembawa' jalan terang, 
membawa alam baru yang lebih terang benderang, penulis kira itu adalah harapan yang 
terlalu berlebihan. Apa yang bisa dilakukan seorang pemimpin jujur dalam suatu sistem 
yang korup? Tidak akan banyak waktu untuk meneladani rakyat dengan perilaku-perilaku 
santun, atau protokoler semata.

Hanya ada dua pilihan. Pertama, buang sistem yang korup itu, jangan sekali-kali 
dilirik lagi (karena terkadang menyimpan celah untuk menguntungkan diri sendiri). 
Simpan rapat-rapat. Siaplah dengan goncangan besar yang akan terjadi, karena sistem 
yang tiba-tiba dirombak. Jangan pernah takut dengan ketidaksiapan, selama 
konsekuensinya bisa diprediksi.

Kedua, larut dalam sistem yang carut marut itu. Meski dengan berjuta pembenaran, yang 
bagi penulis, hal itu hanya menyiratkan satu hal, ternyata si pemimpin tidak sejujur 
yang digembar-gemborkannya.

Keteladanan adalah perilaku usang, rakyat saat ini tidak butuh keteladanan, tetapi 
butuh keberdayaan. Rakyat yang berdaya tidak akan menggantungkan hidupnya pada seorang 
Presiden semata. Rakyat yang berdaya akan bersikap dewasa, tidak membanggakan hasil 
korupsinya di depan umum, dan yang lebih penting tentu saja tidak melakukan korupsi 
yang merugikan rakyat banyak.

Rakyat yang berdaya, akan mampu menciptakan sistem yang kuat. istem jangan dipaku dari 
atas, tetapi harus lahir dari bawah, karena bagian bawahlah yang akan menyangga sistem 
itu sehingga tetap tegak berdiri.


Bdg, Juli 2004 



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke