Salam, Kita lari dari keteldanan? Setidaknya itulah yang menghantui pikiran saya setelah membaca tulisan bang Rahadian P. Paramita ini. Tanpa disadari atau tidak, setiap kita pasti mengidolakan (baca: menjadikan seseorg tersebut sebagai contoh tauladan bagi kita) seseorg, entah itu seorg nabi atau rasul, tokoh intl., tokoh nasional, ayah, ibu atau siapa saja. Meskipun kita tak meneladaninya 100%, tapi paling tidak kita mengindolakannya dalam satu segi kehidupannya.
Islam sendiri telah menawarkan seorg tokoh sempurna yang patut dan layak diteladani oleh umat manusia, ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Sayangnya, kini, umat Islam sendiri sudah banyak yang tak "kenal" lagi dengan siapa Muhammad Rasulullah SAW. Saya berani mengatakan demikian, karena bila seseorg telah mengaku Islam adalah agamanya, maka ia tak akan mengkorupsi uang rakyatnya, karena Muhammad Rasulullah SAW tak pernah mengajarkan tindakan yang macam tu (kata org melayu). Kini, paska Muhammad Rasulullah SAW, kita tak bisa lagi mengharapkan manusia sesempurna beliau. Sebab kesempurnaan Muhammad Rasulullah SAW tersebut sudah diakui oleh Allah SWT. Itulah sebabnya, kita dituntut untuk mengenal Muhammad Rasulullah SAW dalam arti yang sebenarnya, bukan hanya mengenal beliau sebatas mengucapkan kalimat syahadat ketika di khitan dan akad nikah saja. Pertanyaannya adalah, sudah sejauh manakan kita mengenal Islam? Bukan mempelajari Islam. Sebab banyak org yang mempelajari Islam, tapi tak mengenal Islam. Penjelasan selanjutnya bisa ditambahkan oleh al-Akh Huttaqie dan al- Ukht Dwi Irwantie. Ufdhdhilukum bit-taudhih al-'amiqie ya ustadz wal ustadzat...... Wassalam, IzaM - New Delhi, India --- In [EMAIL PROTECTED], "Rahadian P. Paramita" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Tajuk rencana Kompas hari Rabu, tanggal 15 Juli 2004, mengenai moral bangsa yang sudah sedemikian terpuruknya, sehingga mulai membutuhkan keteladanan, agaknya menyiratkan suatu 'keputus-asaan'. > > Penulis sendiri tidak begitu percaya bahwa setelah zaman Nabi-nabi diturunkan ke Bumi, akan ada lagi suatu masa dimana kita perlu meneladani seseorang atau suatu kaum demi perbaikan moral. > > Bicara keteladanan, sama halnya dengan bicara pendidikan, bagaimana mengajarkan kepada orang yang tidak tahu agar menjadi tahu. Tetapi persoalannya, dalam dunia orang dewasa, tidak ada lagi bahasa diajarkan. Orang dewasa adalah orang yang sudah memiliki cukup pengalaman dalam hidupnya, sehingga memiliki cukup banyak redferensi dalam berperilaku atau mengambil keputusan. > > Keteladanan yang ditunjukkan Nabi Muhammad, SAW adalah suatu bentuk 'kekesalan' Tuhan pada bangsa Arab waktu itu yang sungguh tak beradab. Sistem macet, korup, dan tak jelas arahnya mau kemana. Itulah pula mungkin yang menyebabkan zaman itu kemudian disebut-sebut sebagai zaman Zahiliyah. > > Kebuntuan macam apa yang sedang kita hadapi ini? Mampukan seorang Presiden menjadi 'nabi' yang membawa keteladanan bagi seluruh umat? > > Sebagai orang dewasa dan berpendidikan, seharusnya manusia abad 21 ini sudah mampu mengatur diri mereka, baik di dalam kelompok kecil maupun dalam tatanan bernegara, bahkan di tingkat internasional. Tak aneh jika sekuleritas banyak muncul di negara-negara Barat, karena bagi mereka tanpa agama pun hidup mereka sudah sangat teratur. Bukankah agama bermanfaat untuk mengatur kehidupan manusia? Setidaknya itulah gambaran yang penulis tangkap dari pemikiran- pemikiran sekuler. > > Sistem yang mengatur kehidupan manusia-lah yang seharusnya dijadikan patokan. Jika sistem kita sudah korup, crash, dan tidak bisa di manfaatkan lagi, maka jangan ragu-ragu untuk segera membuangnya, dan jangan lupa untuk menggantinya dengan yang baru. > > Membangun sistem yang baru inilah pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Atau mungkin juga sebagian dari kita malas mengerjakannya. Nyaman menempati rumah dinas lengkap beserta fasilitasnya, lupa pada tugas-tugas yang diembannya. > > Kalau kemudian masyarakat berharap Presiden bisa menjadi 'pembawa' jalan terang, membawa alam baru yang lebih terang benderang, penulis kira itu adalah harapan yang terlalu berlebihan. Apa yang bisa dilakukan seorang pemimpin jujur dalam suatu sistem yang korup? Tidak akan banyak waktu untuk meneladani rakyat dengan perilaku-perilaku santun, atau protokoler semata. > > Hanya ada dua pilihan. Pertama, buang sistem yang korup itu, jangan sekali-kali dilirik lagi (karena terkadang menyimpan celah untuk menguntungkan diri sendiri). Simpan rapat-rapat. Siaplah dengan goncangan besar yang akan terjadi, karena sistem yang tiba-tiba dirombak. Jangan pernah takut dengan ketidaksiapan, selama konsekuensinya bisa diprediksi. > > Kedua, larut dalam sistem yang carut marut itu. Meski dengan berjuta pembenaran, yang bagi penulis, hal itu hanya menyiratkan satu hal, ternyata si pemimpin tidak sejujur yang digembar-gemborkannya. > > Keteladanan adalah perilaku usang, rakyat saat ini tidak butuh keteladanan, tetapi butuh keberdayaan. Rakyat yang berdaya tidak akan menggantungkan hidupnya pada seorang Presiden semata. Rakyat yang berdaya akan bersikap dewasa, tidak membanggakan hasil korupsinya di depan umum, dan yang lebih penting tentu saja tidak melakukan korupsi yang merugikan rakyat banyak. > > Rakyat yang berdaya, akan mampu menciptakan sistem yang kuat. istem jangan dipaku dari atas, tetapi harus lahir dari bawah, karena bagian bawahlah yang akan menyangga sistem itu sehingga tetap tegak berdiri. > > > Bdg, Juli 2004 ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

