MILITERISME MENGHADANG ATAU MEMBONCENG DEMOKRASI?

Oleh Tangkisan Letug

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahap kedua kian
menunjukkan perebutan pengaruh dua arus besar dalam
masyarakat kita. Dua arus besar yang diwakili sosok
Megawati dan SBY itu menggelitik penulis untuk
bertanya tentang  sejauh mana sebenarnya pengaruh
militerisme dalam masyarakat kita. Penulis diingatkan
akan kekerasan demi kekerasan pra-pemilu yang seperti
pameran kekuatan dan ajang mengejar mengail di air
keruh. Lalu ada pertanyaan yang membutuhkan jawab
panjang muncul di benak penulis sekarang: Militerisme
sedang menghadang atau membonceng demokrasi?

Militerisme

Apa itu militerisme? Militerisme bukanlah melulu
sebuah isme atau paham yang tinggal sebagai paham
saja. Di Indonesia militerisme telah menjadi cara
berpikir yang menempatkan militer sebagai penentu, dan
cara pikir ini telah dianggap sebagai kemestian yang
sudah sulit sekali dicabut dari kehidupan sosial. Jadi
militerisme tidak hanya merupakan paham, tetapi sudah
menjadi sistem berpikir dan sistem yang menentukan
tata kehidupan sosial politik bangsa Indonesia. 

Kalau kita mau melihat akarnya, kiranya kita mesti
meletakkan dalam konflik kepentingan di tahun 1965
ketika beberapa jendral TNI berhasil dibunuh oleh
lawan politik, demi naiknya sebuah rejim baru, yang
kemudian menamakan diri Orde Baru. Soeharto sejak
semula telah berhasil mengkombinasikan antara kekuatan
senjata dan bisnis. Persenyewaan kedua kekuatan ini
telah dianggap wajar selama Orde Baru. Ditambah lagi
dengan doktrin Dwi Fungsi yang semakin mengkokohkan
akar militerisme di Indonesia. Peran militer semakin
menonjol, hingga dianggap sebagai sebuah kemestian
untuk menegakkan NKRI. Orang biasa lalu melihat sosok
TNI sebagai pilar NKRI yang tak tergantikan.
Seakan-akan,  rakyat itu tidak berarti apa-apa tanpa
peran Dwi Fungsi tentara.  Akibatnya, orang terbiasa
berpikir bahwa hal yang demikian itu wajar adanya toh
selama 35 tahun memanglah demikian. Inilah akar
militerisme di Indonesia.

Sebagai paham berpikir militerisme menunjuk pandangan
yang menempatkan segala sesuatu yang berbau militer
sebagai yang baik dan sudah semestinya. Misalnya,
kedisiplinan yang baik adalah kedisiplinan ala milite;
organisasi yang baik adalah organisasi yang seperti
militer. Lalu hal itu akan menjadi sumbang lagi bila
orang biasa sudah membenarkan bahwa orang yang baik
adalah orang yang berjiwa militer. 

Militerisme sebagai paham yang digeneralisir seperti
di atas tidak hanya berbahaya bagi kehidupan sosial
politik bangsa Indonesia, tetapi sedang menjadi virus
abadi yang sulit dicari obat penawarnya. Kita tahu
bahwa militer dididik pertama-tama untuk ahli
berperang. Perang berarti harus berani membunuh lawan.
Jadi pendidikan militer berarti pendidikan keberanian
untuk membunuh lawan (berperang). Seorang yang berjiwa
penakut tentu tidak pantas mengikuti pendidikan
militer. Tetapi bila "pendidikan yang membentuk orang
berani membunuh" dijadikan tolok ukur kebaikan
pendidikan pada umumnya di Indonesia, itu membuktikan
bahwa virus militerisme memang sudah menjangkiti
segala sendi kehidupan manusia Indonesia, baik dari
cara pikir maupun sampai pada tindak tanduknya.

Militerisme sebagai paham itu merupakab ibu segala
kekerasan. Dari paham lahirlah cara pandang. Dari cara
pandang, lahirlah jalan solusi pragmatis "perang".
Inilah yang sedang terjadi di Indonesia. Paham militer
sedang melahirkan rentetan kekerasan yang tanpa
akhirnya. Berbagai solusi persoalan-persoalan penting
selalu berbuntut kekerasan. Partai-partai tidak jemu
membangun milisi perang. Bahkan agama-agama pun tidak
mau ketinggalan dalam membentuk laskar-laskar
perangnya. Seakan-akan semua orang harus siap dengan
solusi kekerasan. Seakan-akan memang tiada lagi jalan
solusi persoalan selain menyiapkan pedang dan parang. 

Tidak ketinggalan dunia pendidikan pun disiapkan untuk
menghadapi perang. Calon-calon pegawai negeri dididik
dengan kekerasan. Tempeleng sana sini, tendang sana
sini atas nama disiplin. Itulah namanya kaderisasi
untuk menjadi pemimpin bangsa ini. Jangan heran
korban-korban kekerasan di dunia pendidikan setiap
kali terjadi. Jangan heran mahasiswa pun jadi
pemberani berkelahi dengan sesama mahasiswa di
perguruan tinggi. Intelektualitas harus ditundukkan
pada keberanian berkelahi. Itulah yang ideal jadi
pemimpin bangsa ini. 

Jangan tanyakan argumentasi dalam militerisme.
Satu-satunya argumentasi dalam militerisme adalah
"otot kawa balung wesi" (otot kawat, tulang besi).
Perjuangan menjadi pemimpin lalu harus melewati tahap
ini. 

Kalau kita tengok lagi sejarah, tentu kita tidak bisa
memnungkiris deretan peristiwa berdarah yang
sepertinya sulit dihentikan hingga hari ini.
Militerisme telah membenarkan negara dibangun dalam
paradigma perang dan bukan perdamaian. Militerisme
telah menempatkan raison d'etre negara selalu dalam
kesiapan menghadapi perang. Lawan selalu ada dan
diciptakan supaya alasan tegaknya republik ini selalu
ditegakkan. 

Militerisme Menghadang Demokrasi

Sulit ditolak kenyataan ini. Kekerasan demi kekerasan
yang sedang mendahului peristiwa-peristiwa penting
seperti pemilu yang akan datang ini tak lepas dari
rentetan pengabadian ibu segala kekerasan, yakni
militerisme. Militerisme subur dalam kancah persemaian
politik busuk dan sektarianisme. Militerisme subur dan
berkembang dalam masyarakat tanpa akal sehat di
kepala. Militerisme bersuka ria di atas
keterpecah-belahan bangsa. Militerisme berjaya dalam
masyarakat bermental ghetto yang terjebak dalam
kemunafikan agama. 

Dalam proses demokratisasi di Indonesia kini, kekuatan
yang abadi menentang keberhasilannya adalah
militerisme ini. Demokrasi yang menempatkan supremasi
sipil atas penyelenggaraan negara selalu berhadapan
dengan kekuatan militerisme entah tersembunyi entah
terang-terangan. Sasaran dari rentetan kekerasan demi
kekerasan yang lahir dari ibu segala kekerasan itu
adalah kegagalan demokrasi. Dan yang akan dituduh
menggagalkan bukanlah militerisme itu sendiri, tetapi
kalangan sipil yang sudah terjebak ke dalam cara pikir
militerisme itu. Lalu, tertawalah orang-orang pemuja
militerisme ketika melihat kepincangan terjadi. Lalu,
bersoraklah segenap anak-anak yang merindukan tegaknya
militerisme lagi.

Akhir Kata

Perlu penulis tegaskan, militerisme tidak sama dengan
anti-militer.  Bagaimana pun sebagai sebuah negara
yang berdaulat kita membutuhkan militer yang kuat.
Dalam arti ini, kita perlu membutuhkan militer yang
profesional. Dan untuk membangun profesional, kita
membutuhkan iklim demokratis yang transparan dalam
aturan konstitusi yang jelas. Untuk itu, segala sumber
keuangan militer perlu dibawah kendali negara, dan
bukan pengusaha. Selama militer masih bersekongkol
dengan dunia bisnis, selama itu pula loyalitas pada
negara rapuh. Begitu ganti rejim, loyalitas militer
pun goyah, apalagi ketika kepentingan bisnisnya
terganggu. Militer yang kuat dan patriotis hanya
mungkin terbangun bila sumber keuangan militer
betul-betul di bawah kendali negara. Sebaliknya,
persenyawaan bisnis dan militer hanya akan memperkuat
militerisme. Menguatnya militerisme hanya akan
memperlemah proses demokrasi. 

Militerisme dan demokrasi itu bagai dua musuh abadi.
Tidak ada kesesuaian sama sekali. Yang satu menidakkan
yang lain. Kalau bangsa ini mau memilih jalan
demokrasi, tidak ada jalan lain kecuali melepaskan
diri dari hegemoni militerisme. Mungkinkah itu?

19 Juli 2004



                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Vote for the stars of Yahoo!'s next ad campaign!
http://advision.webevents.yahoo.com/yahoo/votelifeengine/



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke