Wartawan 'The Age' Bertahan Soal Berita PM Allawi
 
JAKARTA--MIOL: Paul McGeough, wartawan surat kabar The Age, 
Australia, bertahan soal beritanya menyangkut dugaan aksi penembakan 
mati enam gerilyawan Irak oleh PM Irak Iyad Allawi.

"Di lingkungan seperti Irak adalah sangat sulit memilah-milah apa 
yang dikatakan orang kepada anda dengan apa yang anda dengar," kata 
McGeough dalam wawancara jarak jauh dengan saluran TV Nine Network, 
Senin.

McGeough, yang kini sudah keluar dari Irak dan berada di Amman, 
Jordania, menyiapkan laporan-laporannya mengenai dugaan PM Allawi 
telah membunuh enam gerilyawan Irak di sebuah pusat penahanan di 
Baghdad itu. Laporannya diturunkan sebagai artikel berita oleh The 
Age pada hari Sabtu dan Minggu.

Laporan yang dituliskannya tersebut didasarkan pada hasil wawancara 
dengan dua saksi mata yang melihat kejadian itu. "Dalam dua kasus 
itu, kedua pria ini duduk di hadapan saya. Mereka malasan malasan 
berbicara, mereka bicara hati-hati dan dengan pertimbangan," katanya.

Tanggapan terakhir dari pemerintah sementara Irak, Senin, ialah 
bantahan bahwa PM Allawi pernah melakukan aksi pembunuhan tersebut. 
Bantahan ini perulangan dari bantahan senada yang disampaikan Kantor 
PM Irak hari Minggu.

Meski membantah, Menteri Hak-hak Asasi Manusia Irak, Bakhtiyar Amin 
telah berjanji akan menyelidiki klaim-klaim seperti yang dilaporkan 
The Age tersebut.

Di lain pihak, McGeough terus bertahan mengenai kebenaran dari 
laporan yang disampaikannya. "Mereka (kedua saksi mata)tampaknya bagi 
saya sungguh menceritakan apa yang telah mereka lihat, mereka juga 
bisa dipercaya."

"Saya mempunyai sumber yaitu sekelompok mata dan telinga (penerjemah) 
yang independen, yang mendengarkan dan mengamati wawancara-wawancara 
itu, dan orang-orang itu, pernah bekerja dengan saya beberapa waktu 
dan saya percaya kepada mereka, icerita-cerita itu bisa dipercaya," 
kata McGeough.

McGeough mengatakan ia keluar Irak setelah berkonsultasi dengan rekan-
rekannya mengenai berita yang diturunkan The Age Sabtu lalu. Berita 
itu telah mengundang pernyataan Menteri Pertahanan Robert Hill dan 
Menlu Alexander Downer.

Seperti juga Hill, Downer mengatakan pemerintah baru Irak harus 
dibiarkan menyelidiki klaim-klaim itu dan mengulangi lagi seruannya 
agar McGeough menyerahkan bukti-bukti yang dipegangnya kepada polisi 
Irak.

"Irak sebuah negara berdaulat sekarang -- siapa lagi yang dipandang 
bisa menyelidiki kesalahan di Irak?," kata Downer dalam wawancara 
dengan Radio ABC.

"Ada sangkaan yang telah dibuat dengan dasar apa yang disebut dua 
saksi kepada seorang wartawan Australia, kami tak akan menyatakan 
bersalah orang tersebut (PM Allawi) berdasarkan hal itu," kata Menlu 
Downer.

Downer menambahkan harus ada bukti riil yang disampaikan dan kasusnya 
harus diselidiki secara benar. "Saya terkejut bahwa sangkaan yang 
sangat, sangat serius ini telah dibuat dan begitupun sangat sedikit 
orang yang mengetahuinya," kata Menlu Downer.

Downer menyatakan para pejabat dari kedubes-kedubes Inggris, Amerika 
dan Australia tidak menyadari adanya klaim-klaim (dugaan aksi 
pembunuhan oleh PM Allawi) tersebut.

Sebelumnya, Menteri Hill mengatakan kasus dugaan penembakan mati enam 
gerilyawan Irak oleh PM Iyad Allawi urusan Polisi Irak bukan 
Pemerintah Australia.

"Jika ada orang yang punya dugaan itu, bukti-bukti untuk diajukan, 
mereka harus membawanya ke kepolisian Irak," kata Menteri Hill hari 
Sabtu lalu, sebagaimana dikutip surat kabar The Age terbitan 
Melbourne, hari Senin.

Menyusul dugaan Iyad Allawi telah menembak mati enam tersangka 
gerilyawan di sebuah pos polisi Baghdad, Senator Hill mengatakan 
sistem peradilan pidana Irak sudah cukup lengkap untuk menangani 
klaim-klaim demikian.

"Satu hal baik mengenai proses transisi di Irak ialah tekad pada 
penegakan hukum. Di sana ada Departemen Kehakiman. Badan itu ada dan 
beroperasi. Orang dihukum karena melakukan pelanggaran pidana. Itulah 
langkah semestinya (untuk ditempuh) jika ada seseorang ingin membuat 
sangkaan," kata Hill.

Di Baghdad, PM Allawi menanggapi laporan The Age itu dengan 
menyangkal dirinya telah melakukan apa yang dilaporkan surat kabar 
tersebut yang disusun berdasarkan hasil wawancara wartawannya dengan 
dua saksi mata di Baghdad.

Meski Kantor PM Irak menghimbau agar dua saksi yang tidak 
diidentifikasi itu melaporkannya kepada pihak berwenang setempat, 
namun para pejabat Irak membantah kejadian itu. "Dr Allawi sedang 
mengubah negara ini menjadi suatu bangsa yang dijalankan oleh 
penegakan hukum," kata pernyataan tertulis Kantor PM Irak.

Surat kabar berpengaruh Australia itu dalam dua edisinya terakhir 
sejak Sabtu mengungkapkan Iyad Allawi, PM sementara Irak, telah 
menembak mati enam gerilyawan Irak dengan pistolnya sendiri.

Pengungkapan kasus itu, yang terjadi hanya beberapa hari saja sebelum 
AS menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan sementara Irak di bawah 
Allawi pada akhir Juni lalu.

Tantangan Menhan Hill -- soal bukti yang ada sebaiknya disampaikan ke 
polisi Irak -- ditandaskannya setelah kubu Partai Buruh, yang 
menentang pengiriman pasukan Australia ke Irak, meminta pemerintahan 
PM John Howard memeriksa kebenaran tuduhan itu.

The Age menurunkan laporan-laporan itu dengan mengutip keterangan dua 
orang saksi mata yang menyatakan mereka menyaksikan terjadinya 
peristiwa tersebut di Baghdad.

Dua saksi tersebut dikutip mengatakan mereka melihat sendiri Iyad 
Allawi menarik pelatuk pistolnya dan menembak mati sedikitnya enam 
tersangka gerilyawan Irak. Tempat peristiwa disebutkan di sebuah unit 
kriminal besar di Baghdad dan hanya beberapa hari saja sebelum AS 
menyerahkan kekuasaan kepada Allawi pada 28 Juni.

Kedua saksi mata itu mengatakan para tawanan tersebut -- dengan 
tangan diborgol dan mata ditutup - dibariskan membelakangi tembok di 
halaman blok penjara berpengamanan maksimum, tempat mereka ditahan di 
Pusat Keamanan al-Amriyah, pinggiran baratlaut Baghdad.

Kepada mereka yang menyaksikan peristiwa itu, Dr Allawi mengatakan 
orang-orang yang telah ditembaknya tersebut telah membunuh sejumlah 
50 orang sehingga mereka pantas untuk sesuatu yang lebih dari 
kematian.

Sehari setelah The Age menurunkan laporan itu, Sabtu, Kantor Perdana 
Menteri telah menyangkal keseluruhan cerita para saksi mata tersebut 
dalam pernyataan tertulis yang disampaikan kepada The Age. Dr Allawi 
dikatakan belum pernah mengunjungi pusat penahanan itu dan ia tidak 
membawa senjata.

Namun informan-informan tersebut menyatakan kepada The Age bahwa Dr 
Allawi telah menembak sendiri anak-anak muda itu di bagian kepala, 
dengan belasan polisi Irak serta empat orang Amerika dari tim 
keamanan pribadi PM Allawi melihatnya dengan kebisuan mencekam.

Bukan hanya itu, Menteri Dalam Negeri Irak Falah al-Naqib dikatakan 
termasuk orang yang menyaksikan jalannya aksi penembakan itu dan 
bahkan memberi ucapan selamat kepada Allawi setelah penembakan 
selesai dilakukan.

Sebelum akhirnya dua saksi mata itu menuturkan apa yang mereka lihat 
kepada surat kabar The Age, di Baghdad sudah terdengar desas-desus 
yang menceritakan aksi sadis PM Allawi terhadap pemuda-pemuda Irak 
yang dituduh sebagai gerilyawan tersebut.

Surat kabar The Age menyatakan pihaknya sebagai yang pertama berhasil 
mendapatkan saksi-saksi mata yang bersedia mengungkapkan peristiwa 
itu.

Salah satu saksi mata itu mengklaim sebelum membunuh tawanan tawanan 
tersebut dan dia bisa menyebutkan nama tiga dari enam yang dibunuh 
itu Dr Allawi berkata ia ingin memberi pesan jelas kepada polisi 
bagaimana cara berurusan dengan kaum gerilyawan.

Tawanan-tawanan itu menghadap tembok dan kami berdiri di halaman 
ketika Menteri Dalam Negeri mengatakan ia ingin langsung membunuh 
mereka semua. Allawi mengatakan mereka berhak untuk lebih daripada 
mati dan kemudian ia menarik pistolnya dari sarung di pinggangnya dan 
mulai menembaki mereka, kata satu saksi.

Mengulangi adegan itu lagi, pembunuhan itu, satu saksi yang berdiri 
tiga-empat meter dari tembok dan melebarkan kedua tangannya membentuk 
busur sejajar, kiri ke kanan, menggerakkan pergelangan tangannya 
menirukan guncangan pada tubuh korban begitu setiap kali satu peluru 
ditembakkan.

Kemudian ia mengangkat tangannya ke ke kening, dan berkata: Ia 
(Allawi) sangat dekat. Masing-masing (korban) ditembak pada kepala.

Kedua saksi mata itu mengatakan sebenarnya ada tujuh tawanan yang 
dibawa ke halaman, namun pemuda terakhir yang dibariskan hanya 
terluka pada lehernya, kata satu saksi, dan di dada, menurut saksi 
lainnya.

Kedua saksi yang berani bicara kepada The Age itu tidak memandang 
kesediaan mereka mengungkapkan peristiwa itu sebagai cara cari 
sensasi. Mereka bahkan dengan antusias mendukung aksi Dr. Allawi 
dalam pembunuhan itu, satu malah membenarkannya.

"Penjahat-penjahat itu teroris. Merekalah yang memasang bom. Allawi 
mengatakan mereka berhak lebih dari sekedar mati; mereka tak perlu 
dikirim ke pengadilan," kata salah satu dari mereka, mengulangi apa 
yang dikatakan Allawi sesaat sebelum penembakan.

The Age mengatakan kedua saksi ditemukan wartawannya yang menyiapkan 
laporan itu di Baghdad secara terpisah, tidak satupun dari mereka 
yang datang untuk menjual kesaksian mereka. Mereka juga tidak 
didorong orang lain, atau lewat orang lain, maju ke depan.

Keduanya diwawancarai pada hari-hari terpisah di sebuah rumah tinggal 
di Baghdad, tanpa diberitahu saksi lainnya telah juga bicara.

Syarat yang diajukan masing-masing saksi itu ialah tidak ada 
informasi pribadi yang akan dipublikasikan,. Kedua wawancara 
berlangsung lebih dari 90 menit dan dilakukan lewat penerjemah dengan 
wartawan lainnya berada di ruangan itu untuk salah satu pertemuan. 
Para saksi tersebutpun tidak menerima bayaran apapun.

Sebelum penembakan, perdana menteri berusia 58 tahun itu dikatakan 
telah menyampaikan kepada polisi-polisi Irak yang ada di sana bahwa 
mereka harus berani dalam menjalankan tugas. Allawi mengatakan ia 
akan menutupi kasusnya jika polisi-polisi itu membunuh para tawanan 
saat dalam tugas.

Polisi-polisi Irak itu terguncang dan terkejut (mendengar apa yang 
dikatakan Allawi), kata para saksi tersebut, yang menegaskan Allawi 
secara mendadak memang telah mengunjungi kompleks tawanan tersebut.

Kedua saksi tidak bisa memberikan tanggal pasti ketika kejadian itu 
berlangsung namun dalam hitungan mereka sekitar pekan ketiga bulan 
Juni lalu, atau hanya sepekan menjelang AS menyerahkan kekuasaan 
kepada Allawi, atau tiga minggu setelah ia ditunjuk sebagai PM 
sementara.

Kedua saksi itu mengatakan yang mati terbunuh oleh pistol Allawi itu 
lima warga Irak, dua asal Samarra, kota di utara Baghdad.

The Age sendiri telah mengetahui nama tiga dari tawanan itu, dua nama 
terkait pada suku Arab yang berbasis di Suriah: Ahmad Abdullah 
Ajhsamey dan Amir Lutifi Mohammad Ahmad al-Kutsia. Orang ketiga, 
Walid Mehdi Ahmad al-Samarrai, yang menunjukkan ia asal Samarra.

Ketiga nama itu disampaikan The Age kepada Kementerian Dalam Negeri 
Irak, di mana seorang pejabat seniornya, Sabah Khadum, memeriksa 
status laporan mengenai orang-orang itu untuk The Age. Ia ditanya 
apakah korban-korban itu sungguh tawanan, apakah mereka masih hidup 
atau apakah mereka telah tewas dalam tahanan.

Sabah Khadum memutus wawancara telepon itu dengan meninggalkan 
telepon dan hanya mengatakan: Saya tak punya informasi saya tak ingin 
berkomentar mengenai hal khusus itu.

Salah satu saksi bahkan mengatakan mungkin saja para korban itu 
justru berterima kasih kepada Allawi karena telah menembak mati diri 
mereka --- setelah menjani penyiksaan berjam-jam dalam sehari oleh 
polisi-polisi Irak.

Setelah jenazah-jenazah itu diangkat, perwira jaga dalam kompleks 
itu, Jenderal Raad Abdullah, dikatakan telah memerintakan pertemuan 
para polisi yang ada dan mengatakan kepada mereka supaya tutup mulut 
mengenai apa yang telah terjadi.

Saksi-saksi itu mengatakan saat kejadian di tempat peristiwa ada 
sekitar 30 orang, termasuk para korban. Seorang saksi mengatakan ada 
lima atau enam di antara orang itu berpakaian dinas keamanan AS yang 
mengikuti Allawi dalam konvoi lima atau enam kendaraan roda empat 
hari itu.

Meski Kantor PM Irak menolak mengungkapkan komposisi pengawal tetap 
PM Allawi, namun luas diketahui di Baghdad tim pengaman pribadinya 
diambilkan dari unit-unit pasukan khusus AS
 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke