Wiranto Pernah Diminta Susilo Kudeta
- Gus Dur Akui Titipkan Agus Wirahadukusumah

Jakarta, Bernas
Mantan Panglima TNI Jenderal Wiranto menyangkal
dirinya membentuk kelompok (grup) dalam tubuh militer.
Namun ia mengakui, saat peralihan kekuasaan dari
Presiden Soeharto ke BJ Habibie, Kaster TNI yang saat
itu dijabat Letjen Susilo Bambang Yudhoyono pernah
menyarankan kudeta. 
Ia juga membantah mutasi besar-besaran di jajaran TNI
kali ini sebagai de-wiranto-isasi atau pembersihan
orang- orangnya. Wiranto juga menyayangkan pencopotan
Letjen TNI Djaja Suparman dari Panglima Komando
Cadangan Strategis TNI-AD (Pangkostrad) yang
digantikan Mayjen TNI Agus Wirahadikusumah (kini
Pangdam VII/Wirabuana) yang dititipkan Gus Dur, karena
dia salah satu jenderal terbaik. 
Bantahan Wiranto itu dikemukakan dalam rapat dengar
pendapat umum dengan Komisi I DPR di gedung DPR/MPR,
Jakarta, Rabu (1/3). Menko Polkam nonaktif ini tampil
penuh percaya diri, tanpa didampingi seorang pun
anggota Tim Advikasi HAM Perwira TNI. 
Secara terpisah, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
dalam jumpa pers di Bina Graha, Jakarta, Rabu kemarin
menyatakan, ia tidak pernah memplot Agus
Wirahadikusumah menjadi Pangkostrad. Hal serupa juga
tidak ia lakukan kepada para perwira tinggi TNI
lainnya. Mengenai Agus, Gus Dur membenarkan pernah
menitipkannya kepada pimpinan TNI. 
"Jangan sampai Agus disia-siakan, karena pemikirannya
baik. Tetapi saya tidak tahu kapasistas Agus, selain
menjadi seorang pemikir. Soal apakah dia cocok menjadi
Pangkostrad, itu bukan urusan saya, dan menjadi
wewenang Panglima TNI dan KSAD," kata Gus Dur. 
Gus Dur juga menyatakan tidak tahu-menahu tentang
mutasi 74 perwira TNI itu. Ia membenarkan, ada
beberapa orang yang tidak setuju untuk diganti atau
dimutasikan. Sebagai contoh, Gus Dur menujuk Komandan
Paspampres, Mayjen TNI Suwandi yang dimutasikan ke
tempat lain. 
Gus Dur membenarkan telah bertemu dengan Suwandi dan
mengatakan agar bersabar. "Ya.. sudahlah sabar saja,"
kata Gus Dur, mengulangi komentarnya kepada Suwandi. 
Gus Dur juga mengakui pernah menitipkan tiga orang
kepada tiga menteri, yakni Pangarjito kepada Menteri
Negara Pekerjaan Umum, Rozi Munir kepada Menteri BUMN
Laksamana Sukardi dan Parmana kepada Menkimbangwil
Erna Witoelar. Gus Dur memberi alasan, ia tahu persis
kapasitas orang-orang tersebut. 
Sementara Djaja Suparman yang dicopot dari Pangkostrad
kepada pers di Jakarta, Rabu (1/3) mengatakan, masalah
penggantian dirinya oleh Agus Wirahadikusumah jangan
dipolemikkan, karena hal itu masalah internal TNI.
"Sudahlah, wong kita biasa-biasa saja kok, lagi pula
kalian kan tidak tahu masalahnya," kilah Djaja. 
Kalau soal mutasi dibesar-besarkan yang rugi rakyat
kebanyakan dan intitusi TNI. Menurut dia, setelah ia
bertemu dengan Paglima TNI Laksamana Widodo AS dan
KSAD Jenderal TNI Tyasno Sudarto, Rabu kemarin,
dirinya sudah mendapat jawaban atas pencopotan dirinya
sebagai Pangkostrad. 
Sehari sebelumnya, Djaja mengatakan belum menerima
surat keputusan pencopotan dirinya dan menyatakan
kurang memahami alasan alasan mutasinya. "Tapi
sekarang saya sudah mendapat jawaban," katanya menolak
merinci apa jawabannya. 
Tak kudeta
Wiranto mengaku, Susilo pernah menawarkan apakah
sebaiknya TNI tidak mengambilalih kekuasaan (kudeta -
red) pada saat peralihan kekuasaan dari Presiden
Soeharto ke BJ Habibie. 
Hal ini dikemukakan Wiranto menjawab anggota Komisi I
DPR yang menanyakan disebutnya Wiranto pernah
mempunyai kesempatan dua kali mengambil alih
kekuasaan. 
"Waktu itu saya memang diberitahukan oleh Pak
Yudhoyono (Susilo Bambang Yudhoyono waktu itu Kaster)
yang mengatakan bahwa situasinya sudah bahaya, dan dia
tanya apakah akan mengambilalih kekuasaan. Waktu itu
saya katakan tidak. Semua harus sesuai dengan prosedur
konstitusi. Kalau tak percaya, silakan tanyakan
beliau," kisah Wiranto. 
Wiranto juga membantah bahwa dirinya dulu yang
membisiki kepada Presiden Habibie bahwa Letjen TNI
Prabowo Subianto (saat itu Pangkostrad) melakukan
pengumpulan pasukan di beberapa tempat strategis, akan
mengambilalih kekuasaan. 
"Soal informasi kepada Presiden Habibie berkait
Prabowo kudeta, saat itu memang ada pengumpulan
pasukan di beberapa tempat strategis. Berarti kondisi
dalam siaga I, ini hal biasa bagi TNI. Tapi bagi pihak
lain, bisa curiga itu bisa mengarah ke tindakan
makar," kilah Wiranto. 
Di depan para anggota Komis I DPR, Wiranto membantah
pula ada de-Wirantoisasi dalam tubuh TNI. Sebab,
katanya, jika itu benar berarti ada Wiranto Grup. Dan,
jika ada Wiranto Grup, berarti dirinya telah berupaya
secara sitematis membina kekuatan di luar dan di dalam
tubuh TNI untuk tujuan tertentu. "Tapi, apakah ada
indikasi saya melakukan itu?" tanya Wiranto. 
Ia membenarkan, isu dirinya memiliki grup di TNI
muncul, karena sebelumnya ia meneken surat perintah
penempatan para perwira. "Padahal sebagai Panglima TNI
sudah sewajarnya saya menandatangani surat penempatan
perwira," katanya. 
Wiranto membantah, bukan berarti perwira yang
bersangkutan adalah orangnya. "Tapi orangnya negeri
ini yang saya ajak membangun negara agar menjadi
baik," tegasnya. 
Para perwira yang ditempatkan pada posisi elit atau
jabatan tinggi dalam tubuh TNI, dipilih berdasarkan
empat kriteria. Yaitu moralitas, kualitas,
akseptabilitas, dan track record. 
Menanggapi pertanyaan anggota DPR mengenai perasaannya
atas pengangkatan Mayjen TNI Agus Wirahadikusumah
sebagai Pangkostrad, Wiranto mengatakan, hal itu
wewenang Panglima TNI. "Saya tidak bisa mewakili
perasaan seseorang," jawab Wiranto yang acap kali
melontarkan canda-canda segar. 
Soal Agus Wirahadikumah sendiri, Wiranto mengibaratkan
seperti seseorang yang tengah memilih burung perkutut
dengan suara kung (bagus - red). "Jadi, tanyakan ke
Panglima TNI, apakah betul perkutut yang ini bagus,"
kelakarnya. 
Soal tuduhan KPPM bahwa dirinya bertanggung jawab atas
pelanggaran HAM di Timtim pasca jajak pendapat,
Wiranto menegaskan, pemerintah dan TNI tidak
merencanakan agenda terselubung selama proses jajak
pendapat. Ia juga memaparkan sejumlah bukti yang
menunjukkan niat baik pemerintah dan TNI berkaitan
dengan jajak pendapat. 
"Pemerintah dan TNI mengundang secara terbuka
penasihat polisi sipil dan penasihat militer, dan hal
itu tidak termasuk dalam perjanjian tripartit (antara
pemerintah RI, Portugal dan Sekjen PBB)," kata
Wiranto. 
Bahkan, kata Wiranto, yang dalam dengan pendapat itu
sempat memutar film dokumenter, pemerintah dan TNI
menerima secara terbuka kedatangan wartawan asing,
pengamat luar negeri dan LSM-LSM asing. 
Menurut Wiranto, waktu itu TNI melakukan antisipasi
secara cermat atas keluarnya dua opsi--otonomi luas
atau merdeka. "Ada risiko kritis yang dihadapi melihat
kondisi riil di lapangan. Kondisi riil itu antara lain
selama 23 tahun lebih masyarakat Timtim terpecah,
antara prointegrasi dan prokemerdekaan. Mereka harus
didamaikan. Kalau tidak, jajak pendapat dipastikan
gagal," paparnya. 
Kondisi riil lainnya, kata Wiranto, adalah masih
rendahnya pendidikan masyarakat, sementara mereka
dipaksa memahami makna konsep otonomi luas Timtim.
Mengenai proses penetapan opsi, Wiranto menegaskan,
TNI tidak ikut ambil bagian pada saat konsep awal
dibuat. TNI, katanya, hanya ikut serta pada proses
akhir, yakni saat sidang kabinet 12 Januari 1999. 
Saat sidang kabinet, kata Wiranto, TNI minta kepastian
apabila opsi otonomi khusus atau otonomi luas Timtim
benar-benar jadi keputusan pemerintah, maka hendaknya
keputusan di masa lalu mengenai integrasi Timtim bukan
keputusan yang salah. "Sebab, kita tidak rela ribuan
putra bangsa yang gugur membela integrasi, dianggap
membela keputusan yang salah. Itu kan konyol,"
katanya. 
Wiranto mengakui, 3.700 tentara gugur di Timtim,
sementara 2.400 lainnya luka dan menderita cacat.
Sejak keluarnya Tap MPR No 6/1978, TNI sudah
diposisikan melawan separatisme. 
Menko Polkam nonaktif ini juga membantah dirinya
membeli waktu tayang suatu acara (blocking time)
televisi dan radio untuk membela diri atas tuduhan
pelanggaran HAM. "Saya tak punya uang," tegas Wiranto.
Pernyataan Wiranto itu disampaikan kepada wartawan
yang menanyakan mengapa dirinya sering tampil di acara
khusus di televisi dan radio belakangan ini. 
Sementara itu, ketika ditanya jawaban yang Panglima
TNI atas pencopotan dirinya, Djaja mengatakan, sebagai
prajurit harus memenuhi perintah atasan secara arif
dan bijaksana. "Sekarang tinggal menjalankan tugas
baru," katanya. 
Serah terima Pangkostrad akan dilaksanakan 29 Maret
2000, menunggu dirinya kembali dari Tanah Suci
menunaikan ibadah haji.Sedangkan KSAD Jenderal TNI
Tyasno Sudarto menjawab pers, di Jakarta, Rabu
mengatakan, pihaknya belum memberitahukan tentang
mutasi di lingkungan TNI kepada para perwira, karena
saat surat tersebut ditandatangani Senin (28/2),
dirinya sedang di Medan. Menurut dia, setiap surat
keputusan memang diberitahukan kepada yang
bersangkutan setelah ditandatangani Panglima TNI. 
"Jadi yang benar, setelah diputuskan oleh Wanjakti
(Dewan Kepangkatan dan Jabatan Perwira Tinggi), dan
ditandatangani Panglima, baru diberitahukan kepada
yang bersangkutan oleh atasan masing-masing," katanya.

Ditanya mengenai Agus Wirahadikusumah yang seharusnya
mendapat punishment, Tyasno mengatakan, hal itu sudah
dibicarakan dalam Wanjakti dan sudah dinilai oleh
seluruh pimpinan teras TNI. "Begitulah hasilnya,"
ujarnya. 
Ia membantah ada intervensi dari Gus Dur dalam mutasi
jajaran TNI. Menurut dia, setiap perwira dibicarakan
di Wanjakti yang beranggotakan Panglima TNI, Wakil
Panglima TNI, dan empat Kastaf. "Jadi pertimbangannya
sangat matang, jangan diinterpretasikan macam-macam
sehingga nanti menjadi polemik dalam masyarakat,"
tegasnya. 
Panggil Wiranto
Di tempat terpisah, Ketua DPR Akbar Tandjung
menegaskan, pemanggilan Wiranto oleh Komisi I bukan
merupakan suatu upaya untuk memperbaiki citra jenderal
berbintang empat itu. 
Menurut Akbar, DPR perlu mendengar hal-hal yang
barangkali belum terungkap yang berkaitan dengan
masalah-masalah yang menjadi tanggung jawab Wiranto
pada masa lalu, dalam kapasitasnya sebagai Panglima
TNI, khususnya kasus Timtim. Informasi Wiranto
nantinya bisa menjadi bahan bagi Dewan dalam menyikapi
permasalahan yang berkaitan dengan pelanggaran HAM. 
"Kehadiran beliau (Wiranto - red) di DPR tidak
mengurangi proses pemeriksaan secara hukum,
sebagaimana yang direkomendasikan Komnas HAM dan
tengah ditindaklanjuti Kejaksaan Agung. Itu sama
sekali tidak mempengaruhi," kata Akbar di gedung
DPR/MPR, Jakarta, Rabu. 
Ketika dikonfirmasi bahwa kehadiran Wiranto di DPR
merupakan desakan dari sejumlah anggota Fraksi Partai
Golkar di Komisi I, Akbar yang juga Ketua Umum DPP
Partai Golkar mengatakan, hal tersebut sudah menjadi
keputusan komisi yang juga terdiri dari berbagai
fraksi di DPR. 
Sementara pengamat politik UII Yogyakarta, Mahfud MD
menanggapi pencopotan Djaja dan mutasi besar- besaran
di militer, menilai sebagai sebuah paradigma baru
militer yang positif dalam rangka perwujudan visi Gus
Dur. Menurutnya, mutasi di tubuh militer dalam rangka
menerjemahan kebijakan Gus Dur yang mungkin saja oleh
pimpinan TNI diartikan secara bebas. 
Ia berpendapat, konsep Gus Dur untuk menciptakan
militer yang profesional, membangun paham TNI di masa
depan, adalah kebijakan yang masih memerlukan
penerjemahan-penerjemahan. "Jadi, pemarkiran beberapa
perwira tinggi TNI itu jelas ada kesengajaan. Proses
mutasi itu saya kira telah melalui prosedur yang
wajar," papar Mahfud kepada Bernas, Rabu (1/2). 
Mahfud menyatakan, pencopotan Djaya tidak langsung
dipengaruhi Gus Dur. Presiden tidak mungkin
memerintahkan secara langsung, tetapi bagaimana pun,
hal itu tetap berkaitan dengan kebijakan pemerintah
secara keseluruhan. (mur/csm/cr6)   

http://www.indomedia.com/bernas/2003/02/UTAMA/02uta2.htm





        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Vote for the stars of Yahoo!'s next ad campaign!
http://advision.webevents.yahoo.com/yahoo/votelifeengine/


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke