fyi...


 -----Original Message-----


pengalaman seorang ibu .....
==============================================
saya buka kembali buku hidup saya, sebagai bahan perenungan bagi para orang tua


Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami 
yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan 
dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala 
sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak 
berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa 
yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian 
besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. 

Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika "Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya 
menggeleng.

"Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya

"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari 
pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk 
meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test 
IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. 
Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu 
segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 
(Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemapuan pemahaman ruang, abstraksi, 
bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160. 

Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 
(Rata-Rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda 
itulah yang menurut Psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu 
Psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu 
seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test 
kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog 
itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa factor 
penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil 
Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca 
diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."

Dikapun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja" Dengan 
beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi 
kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam 
permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjawalkan kapan waktunya 
menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan 
waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di computer dan sebagainya.

Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu 
menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang 
tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti 
berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika 
yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan 
bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..."

Dikapun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku ingin 
ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu" Melalui beberapa 
pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi 
diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa 
saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya 
bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa 
harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis 
dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru 
sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..." 

Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal saya merasa bahwa 
pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai 
sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. 
Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak 
orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau 
bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .." 

Dikapun menjawab "Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa 
kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak 
benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila 
orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan 
hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan 
yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak 
tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus 
kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat 
salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan 
tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di 
waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ....." 

Dikapun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja". Saya cukup kaget 
karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya 
dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan 
pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya 
penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.

Dengan jawabab Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak 
lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih 
tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....", 

Dikapun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku 
ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. 
Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku". Memang dalam banyak 
hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari 
kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau 
mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang 
diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ........"

Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar " Aku ingin ibuku 
mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku"
Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak 
pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat 
dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. 
Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada 
anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil 
atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari ....."

Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata "tersenyum" 
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi 
mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun 
tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bias menambah simpati dan energi bagi 
anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap 
hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku...." 

Dikapun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus" Saya tersentak 
sekali ! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh 
arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu 
memanggilnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata 
"Lanang" yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari kata "Tole", kependekan dari kata 
"Kontole" yang berarti alat kelamin laki-laki. Waktu itu saya merasa bahwa panggilan 
tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan 
masyarakat Jawa.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku.." 

Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli". Selama ini suami saya memang 
memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa 
Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur 
keliling" kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama 
ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. 
Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai 
dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster 
bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choise" sebuah seruan 
yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan". Tanpa 
saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan 
panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang 
membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada 
banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa 
atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan 
ibunya, tetapi para ayah (orang tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati 
anak-anaknya. Para ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat ALLAH.

Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional Tanggal 23 Juli 2004, saya ingin 
mengingatkan kembali kepada para orang tua supaya selalu berpikir, bersikap dan 
melakukan hal-hal yang dikehendaki ALLAH.

(Ditulis oleh : Lesminingtyas)













------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke