Cegah Otoritarianisme, Partai Golkar Gulirkan Koalisi Barnas * Abdurrahman Wahid Temui Jenderal (Purn) Wiranto (Kompas, 22 Juli 2004)
Jakarta, Kompas - Partai politik merupakan salah satu pilar demokrasi. Undang-Undang Dasar 1945 pun secara eksplisit menekankan arti penting partai politik. Menangkap kecenderungan ada calon presiden tidak lagi menganggap penting peranan partai politik- dalam rangka mencegah munculnya otoritarianisme baru-sejumlah politikus di Partai Golkar mulai menggulirkan gagasan Koalisi Barisan Nasional. Koalisi Barisan Nasional (Barnas) yang akan digagas tersebut merupakan kerja sama partai politik yang memiliki kursi di DPR dan bersifat permanen selama lima tahun. Tujuannya adalah menciptakan pemerintahan yang kuat, efektif, dan demokratis dengan dukungan suara mayoritas di parlemen. "Penjajakan koalisi sudah berjalan di DPR dengan PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa. Sekarang ini tinggal menunggu akad nikah saja," papar Ade Komaruddin, Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR, Rabu (21/7). Siapakah calon presiden (capres) yang tak menganggap penting partai politik tersebut, Ade tidak menyebutkan secara eksplisit. Menurut Ade, gerakan ini bukan ditujukan untuk salah satu capres. Tetapi, justru mendorong kedua capres yang akan maju ke putaran kedua untuk berlomba membangun koalisi yang kuat di parlemen. Ketika ditanya lebih lanjut siapa di antara Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono yang paling maju dalam menggalang koalisi partai-partai, Ade juga enggan menjawab, "Sudah gaharu, cendana pula," ucapnya tertawa. Sebagai pribadi, dia hanya mengatakan mengimpikan terulangnya sukses Gloria Macapagal-Arroyo, Presiden Filipina. Dia juga merasa heran apabila ada capres yang alergi partai politik. Menurut Ade, siapa pun calon presiden terpilih, wajib mendapat dukungan dari parlemen. Tanpa dukungan parlemen, pemerintahan yang nanti terbentuk tidak akan memenuhi harapan rakyat. Gus Dur-Wiranto Sementara itu, mendekati penghitungan akhir hasil pemilu presiden putaran pertama, pertemuan sejumlah elite papan atas juga semakin intensif. Sebelumnya Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung bertemu dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Kemarin petang Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa Abdurrahman Wahid menemui Wiranto, capres dari Partai Golkar. Sehari sebelumnya, Abdurrahman Wahid juga menemui Megawati Soekarnoputri. Abdurrahman Wahid menemui Wiranto di kediamannya di Jalan Palem Kartika 21, Bambu Apus, Jakarta Timur, Rabu petang. Mereka berbincang-bincang sekitar satu jam. Namun, tidak diketahui pasti apa yang mereka bicarakan karena seusai perbincangan, sekitar pukul 18.45, keduanya tidak bersedia memberikan komentar. Begitu pintu gerbang di buka, Abdurrahman langsung meninggalkan wartawan yang berusaha mewawancarainya dari jendela mobil. Di tempat terpisah, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo mengatakan ada beberapa kriteria yang harus di penuhi terhadap capres, di antaranya, yang paling meyakinkan saya tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kriteria lainnya mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia di forum internasional. "Saya tidak ingin memilih presiden yang menjadi antek bangsa lain atau menjadikan negara ini orbitnya negara lain," ujar calon wakil presiden dari capres Amien Rais itu. Berdasarkan dua calon capres yang maju ke putaran kedua ada catatan-catatan tersendiri. "Pada masa pemerintahan Megawati ada catatan baiknya, yaitu makro-ekonomi yang terus membaik. Tetapi mikro-ekonomi yang sangat buruk, yaitu pengangguran dan korupsi yang merajalela, penyelundupan yang luar biasa," ujarnya, seperti dikutip Antara. "Dengan Yudhoyono, saya mempunyai catatan, selama menjadi Menko Polkam belum ada kemajuan yang signifikan dalam penyelesaian masalah di Aceh, Papua, Poso, dan Ambon," katanya. Yudhoyono, menurut Siswono, mengundurkan diri ketika pemerintahan mempunyai kerja besar seperti pemilu, juga adalah orang yang dipanggil Menlu AS Collin Powel dan mantan Presiden AS Jimmy Carter ketika berkunjung ke Indonesia, serta penggiringan opini oleh lembaga survey yang dibiayai oleh Amerika Serikat. (sut) http://www.kompas.com/kompas-cetak/0407/22/Politikhukum/1163766.htm __________________________________ Do you Yahoo!? Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish. http://promotions.yahoo.com/new_mail ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

