Cukup menarik, untuk mengikuti perkembangan penilaian dari paham Militerisme yang
berkaitan erat dengan sektor preman ataw yang sudah disebut premanisme. Karena juga
sudah menjadi sebuah pengakuan sebagai bagian dari system kehidupan budaya
sosial-politik/-ekonomi bangsa Indonesia sampai sa�t ini.
Untuk menghadapi tantangan baru, yaitu adanya kemungkinan SBY, yang tidak punya partai
pendukungnya, akan menang dan menduduki porsi kepresidenannya, sudah sewajarnya untuk
sebagai pemerhati bisa mencoba untuk mengerti secara teliti dan jernih. Karena kita
sedang dihadapi tantangan paham Militerisme-Premanisme yang lahir di era Soeharto dan
berkembang di era paska-Soeharto. Dan tentu ini akan bergulir terus untuk mengisi pada
proses pematangan dari suatu pemahaman yang sudah dianutnya, yaitu gabungan sebuah
ISME dari ide konsep sektor Militer dan Preman, yang berbasiskan pada tindakan
penganut kekerasan guna merealisasi atas kepentingannya.
Memang Militersme sudah berimbas ataupun berintegrasi secara menyatu di sektor preman.
Bahkan sudah merupakan suatu asimilasi monster baru ataw sudah menjadi
resep-improvisasi hidangan makanan yang paling nikmat bagi para penganut paham
Militerisme-Premanisme. Apakah resep-improvisasi hidangan tersebut akan juga memberi
kenikmatan kesehatan, kesejahteraan dan kenyamanan hidup bagi warga penduduk lainnya?
Proses dinamika dan perkembangan interaksi sosial politik/-ekonomi antar sektor
militer dan preman sudah sewajarnya dianggap sebagai suatu penyatuan paham baru
karena di legitimasikan sebagai sebuah manifestasi kekerasan yang sampai kini
berlangsung di indonesia. Dimana sektor ini tercermin dalam proses komplot atas
pemahaman yang disebut Militer-Preman-isme ataw Militerisme Premanisme. Tentu
pemahaman ini tidak langsung jatuh dari langit tapi melalui catatan sejarah rotasi
kehidupan manusia didalam suatu masyarakat. Seperti catatan dalam sejarah perkembangan
pergerakan politik dari jaman kolonial Belandapun juga sudah musti menghadapi kekuatan
para DJAGO di Jawa yang nakal itu. Para pelaku kolonial berhasil meningkatkan
perangkat bangunan institusi kelembagaannya beserta perangkat alat pendukungnya, guna
mengadakan pengembangan proses, melalui negosiasi dengan cara berkompromi terhadap
para Radja lokal didaratan nusantara ini. Dimana tujuan utamanya adalah demi keamanan
dan
kenyamanan dalam merampok kekayaan alam yang Indonesia miliki itu. Sang Radja di
setiap tempatpun, dibuatnya secara sukarela melalui deal-deal pembagian jatah hidup,
untuk menindas sampai pada memeras rakyatnya sendiri. Keabsahan untuk bersedia
melakukan kekerasannya demi keamanan kesejahteraan hidupnya dinilai sebagai suatu
kenyataan kehidupan ketika itu. Dengan begitu konsep etika "heerst en verdeeld
politiek" dijadikan ujung tombak konsep pengembangan kepentingannya demi adanya
pengubahan kebijakan-kebijakan di sektor sosial-politik/-ekonomi dalam masyarakat
jajahan. Sehingga berhasillah penyatuan antar para kekuatan lokal yang diwakili club's
Radja Lokal yang berasimilasi dengan kekuatan para Djago itu. Ini tentu berguna untuk
melemahkan pergerakan politik para kaum penentang pergerakan politiknya. Jadi
kekuasaan VOC sampai pada kekuasaan pemerintahan Belandapun berhasil bercokol di
daratan Nusantara sampai 350 tahun lamanya tanpa mendapat kan tuntutan catatan HUKUM
pelaku
kejahatan.
La Lutapun setuju dengan penambahan pembahasan Bapak Logiwo, yang dimana imbas dari
komplot sektor kekuatan Militer dan Preman, persenyawaan antar ISME tersebut, telah
melahirkan model kehidupan masyarakat baru di Jerman (Hitler), Italia (Musolini) dll.
Di Afrika Selatanpun telah dianggap yang terakhir mentas dari ikatan dan jeratan
kekerasan paham Militerisme dan Premanisme, dimana ketika itu dengan bangganya kaum
pendukung Apartheid mengibarkan bendera kekuatan lejitimasinya bernama rejim Rasist
ataw Rejim Apartheid. Keberhasilan perjuangan anti Apartheid rejim tersebut bukan
berarti, tugas para pengikutnya atau para simpatisan pergerakan politik/ekonomi anti
Apartheid, dianggap sudah selesai tapi justru mesti lebih keras untuk bekerja guna
membersihkan sisa-sisa- elemen jangkitan virus dari penyakit paham Rasisme, yang
ratusan tahunan pernah mendominasinya, dalam tatanan kehidupan masyarakat di Afrika
selatan...
Kalau kita menengok kebelakang, untuk melihat hasil tatanan kehidupan masyarakat di
Indonesia sampai sa�t ini, memang sangat menyedihkan. Tatanan penciptaan ruang, luang
dan waktu dari hasil semangat juang para penganut Kemerdekaan Republik secara cepat
mengalami kevakuman. Proses pembangunan tradisi Demokrasi yang dianggap masih bayi
karena baru lahir dari Rahim sang Bunda Revolusi Kemerdekaan itu, mengalami kehancuran
secara sistimatis. Para penganut "tangan besi dan Parang", yang diwakili Nasution cs,
pada akhirnya telah berhasil menguasai sektor Ekonomi-Industri di periode
"Nasionalisasi perusahaan Asing" sejak tahun 1957. Ini berarti telah melahirkan embrio
kekerasan di sektor pabrik, perkebunan dan lahan tani, dimana para baju hijau yang di
�percaya� oleh Soekarno telah berhasil mengambil posisi pemegang kartu kekuatan
ekonomi-industri Nasional. Sejak sa�t itu, dalam perkembangannya, Alam Demokrasi yang
baru lahir itu, di isi oleh bermacam ketegangan antar pro dan kontra, yang
pada akhirnya menghasilkan proses saling berselingkuhan ataupun bercumbu manis. Dan
akhirnya pencapaian sukses besar di tahun 1965 untuk mengambil alih kekuasaan
politik-militer disambut hangat oleh para pendukungnya serta ikut berpesta pora diatas
darah rakyat yang dianggap bersalah ataupun tidak terbukti kesalahannya. Para kaum
Premanpun ikut bersorak ria dan menawarkan dirinya untuk tetap siap setia dan loyal
terhadap sang para Bapak-bapak yang menang! Perlu di ingat bahwa karakter penjiwaan
kehidupan sang Preman adalah "Asal bapak senang...kalau ada uang, ada sayang toh?"
Disinilah ukuran loyalitas sang preman sejati.
Sistim perangkat Sosial Politik-Ekonomi dibangun kembali, dengan wadah warna moral dan
etika paham baru, yang dijadikan tatanan kehidupan baru bangsa Indonesia sebagai
lejitimasi baru, dengan sebutan ORDE BARU yang mengandalkan proses produksi kekerasan
dari ilmu sulap al� mbah Dukun di jaman Soeharto sampai pada periode paska Soeharto.
Inilah lembaran awal dari kehidupan masyarakat bangsa Indonesia sampai sa�t ini.
Orde Baru tidak saja dinilai oleh dalam Negrinya sebagai simbol keberhasilan membangun
perangkat fondasi sosial-politik/ekonomi pembangunannya tapi juga di luar negri
dinilai sebagai pengakuan "Herois" warga dunia yang dibanggakan oleh penghuni warga
bangsa dunia yang mendukungnya, serta juga dijadikan simbol kemenangan dari sebuah
paham baru di jaman "perang dingin", yaitu pertikaian antar kepentingan
politik/ekonminya masing-masing, adalah pemerintahan Militer untuk pembangunan
sosial-ekonomi dalam negrinya. Sejak sa�t itu para bangsa bekas jajahan Kolonial
lainnyapun berganti jubah menjadi bangsa penganut Legalisasi Kekerasan Militer. Misal
di Latin Amerika, seperti Chilipun di tahun 1973 akhirnya dipaksa untuk menyusul
nasibnya sang Indonesia yang dianggap berhasil dalam mencapai membangun Rejim Militer
dan kekuasaan ISMEnya.
Kalau kita hidup di Indonesia dari tahun 1965 sampai dengan 1973 pun, sangat terasa
dalam pengalaman dari perbedaan proses kehidupannya, yang dilaluinya sampai pada
ke-reseh-annya, dalam menghadapi persoalan birokrasi-Militer bagan struktur
pemerintahannya dari tingkat RT, RW dst disepanjang mata rantai nusantara. Kitapun
menyadarinya, bahwa disamping itu, kekuatan produksi Oilpun di timur tengah masih
sempat menunjukan sikapnya terhadap adikuasa dunia dalam pertikaian menentukan
kebijakan harga dan produksi Oilnya. Sehingga para penduduk di daratan Eropapun musti
beresiko untuk berjalan kaki, hidup tanpa listrik dan pemanas dirumahnya serta para
industrialispun sempat memberhentikan produksinya. Sampai kini, munculah pertanyaan
baru : siapakah yang berhak menikmati kejayaan bendera "Anti Terorisme"?
Yang menjadi persoalannya adalah, bagaimana para pergerakan politik/ekonomi pendukung
demokratisasi di Indonesia dapat mampu merespons imbas dari pengaruh asimilasi paham
ISME tersebut demi menyelamatkan negaranya dari keterpurukannya? Di mendatang
Indonesia akan mendapatkan piagam penghargaan baru sebagai simbol lejitimasi model
�sistim pemerintahan demokrasi yang paling demokratis� di alam sejarah perkembangan
wacana dunia kini. Lantaran figur bekas Militer yang berhasil naik panggung kekuasaan
tanpa dukungan "gawe" dari partainya, karena juga diapun tidak punya ataw tidak butuh
partai pendukungnya toh? Jadi konsekuensi sistim pemerintahannyapun akan dibawa kemana
olehnya? Ini, biarpun Indonesia dinilai sebagai salah satu warga Islam terbesar di
dunia dan dianggap "Paham" untuk hidup bersahaja dialam "Demokrasi"... Wallahualam
La Luta Continua!
--- In [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] wrote:
<[EMAIL PROTECTED]> writes:
> Tulisan Kang Gigih justru membenarkan dugaan la_luta bahwa
> militerisme sudah menjadi bagian system berpikir banyak orang di
> negeri ini. Tulisan Gigih masih mau membedakan militerisme dan
> premanisme yang sebetulnya dekat sekali. Dua2nya tidak mau supremasi
> hukum. Dua2nya mengandalkan "otot" dan kekerasan sebagai tiang
> utamanya.
Bisa diingat kembali bagaimana Nazi punya premannya yang mereka sebut Sturm Abteilung
(SA). Atau Korps Baju Coklat. Fasis Italia punya premannya, Si Kaos Biru. Di Amerika
Latin preman bersenjata dinamakan Death Squad yang diorganisir, dilatih,
dipersenjatai, dibiayai, diberi dukungan logistik, dukungan media, dsb oleh rejim
militer. ABRI mengorganisir preman bersenjata di TimTim diberi nama laskar ini-itu.
Untuk menggertak mahasiswa Wiranto pakai Pam Swakarsa. Wiranto belajar dari gurunya.
Waktu melakukan Pembunuhan Massal Suharto memakai preman-preman yang dia latih 2-3
minggu, dipersenjatai, diberi dukungan logistik, dsb.
Premanisme yang diorganisir pemerintah kolonial di Hindia belanda bisa dibaca dalam
Jejak Langkah dan Rumah Kaca. PID mengorganisir preman untuk menakut-nakuti dan
menyerbu markas para aktifis. Preman juga dipakai untuk mendapat sumber dana
‘non-budgeter’ dari memeras rumah judi, rumah pelacuran, dsb. Kelompok preman
dibutuhkan untuk menjalankan operasi militer yang berada diluar kode etik, sumpah
prajurit, hukum negara, dsb. Premanisme dan militerisme itu memang saudara dekat yang
ideologinya sama: terorisme.
Tentang Brownshirt nya Nazi: http://en.wikipedia.org/wiki/Sturmabteilung
The Sturmabteilung (SA, German for "Assault Division" and sometimes translated
stormtroopers) functioned as a paramilitary organisation of the NSDAP – the German
Nazi party. It played a key role in Adolf Hitler's rise to power in the 1930s. SA men
were often known as brownshirts from the colour of their uniform and to distinguish
them from the SS who were known as blackshirts.
Tentang Black Shirt kaum Facist Italia: http://en.wikipedia.org/wiki/Black_Shirts
The Blackshirts were paramilitary groups of fascists in Italy during the period
between World War I and World War II. They were organized by Benito Mussolini after
his disgust with the corruption and apathy of the liberal Italian government.
Originally envisioned as reformers, their methods became harsher as Mussolini's power
grew, and they used violence, intimidation, and murder against Mussolini's opponents.
One of their distinctive techniques was force-feeding castor oil. The uniform and
ethos were later copied by others who shared Mussolini's political ideas, including
Adolf Hitler in Germany and Oswald Mosley in the UK. See also: Sturmabteilung, the
brownshirts of Nazi Germany.
Tentang Deatrh Squad di Amerika Latin: http://en.wikipedia.org/wiki/Death_squad
--- End forwarded message ---
---------------------------------
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/