Media Indonesia
Jum'at, 23 Juli 2004
OPINI
Teologi Revolusioner dan Kritik Sosial
Muwafiqotul Isma, Pemerhati Sosial-Keagamaan, tinggal di Yogyakarta
TULISAN Ilham Mundzir, Membangun Teologi Revolusioner dan Islam Transformatif
(Media Indonesia, 16/07/2004) menarik untuk dikaji dan didiskusikan lebih mendalam.
Meskipun Ilham Mundzir cenderung mensimplifikasi persoalan, tetapi gagasan yang
diusungnya penting untuk dikedepankan di tengah realitas sosial yang semakin menjauh
dari nilai-nilai keagamaan.
Menurut Ilham Mundzir, ada dua alasan mendasar pentingnya mengemukakan gagasan
di atas. Pertama, kecenderungan teosentrisme dimana agama hanya dijadikan tempat
pelarian, sehingga cita-cita agama mengalami keterjarakan (distance) dengan realitas
sosialnya. Kedua, ortodoksi, literalisme penafsiran terhadap kitab suci. Bahkan,
formalisme dan revivalisme menjadi mainstream keberagamaan. Penyebabnya, adalah
--menurut Hasan Hanafi (2003)-- ketidakmampuan, kegagalan pemeluk agama saat ini untuk
melanjutkan kembali pembangunan dasar-dasar teologis "baru" yang revolusioner.
Untuk itulah, membangun teologi revolusioner dan Islam transformatif menjadi
sangat penting sebagaimana yang diulas oleh Ilham Mundzir. Terkait dengan hal
tersebut, bagi Ilham, ada tiga hal yang dianggap penting. Pertama, agama harus berani
melakukan otokritik serta redefinisi terhadap pesan-pesan universalnya. Kedua, agama
harus berani mengajukan satu narasi sosial yang baru. Artinya, agama tidak sekadar
berada pada level the caring society, tetapi harus menjadi prakarsa sosial untuk
memperjuangkan emansipasi dan humanisasi serta lantang menyuarakan ideologi keadilan
sosial. Ketiga, menghadirkan agamawan-agamawan organik yang mampu memerankan dirinya
sebagai human agency (aktor pembaru).
Sebenarnya, pokok pikiran yang dipaparkan Ilham bukanlah hal yang baru, genuin.
Jauh sebelumnya, Farid Esack melalui karyanya, Qur'anic Liberation and Pluralism; An
Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Agains Oppression (1997), juga
Gregory Baum dalam buku Truth Beyond Relativism; Karl Mannheim's Sociology of
Knowledge (1977) dan beberapa tokoh lainnya pernah mengungkapkan hal yang sama.
Gregory Baum menjelaskan bahwa kebenaran agama tidak bisa lepas dari keterkaitannya
dengan komitmen solidaritas dan emansipasi. Komitmen emansipatoris sebagai standar
kebenaran agama harus mampu membebaskan manusia dari belenggu-belenggu zamannya dan
status quo serta mengentaskan manusia dari ketertindasan, kebodohan, keterbelakangan,
eksploitasi struktural maupun kultural.
Sebagai sebuah diskursus, teologi revolusioner masih membutuhkan kerangka
metodologi, landasan, dan operasionalisasi di lapangan. Untuk itulah, ada beberapa hal
yang penting untuk dikemukakan di sini sebagai kontribusi pemikiran guna melanjutkan
gagasan teologi revolusioner. Pertama, saya sepakat dengan Peter L Berger tentang
konsep induksi. Bagi Berger, ada tiga reaksi agama terhadap modernisme. Yaitu;
deduksi, yakni menegaskan kembali otoritas tradisi agama sebagaimana Karl Barth,
reduksi; tradisi religius ditafsirkan dalam kerangka sekuler dengan tujuan agar
bermakna bagi manusia zaman sekarang. Pernyataan religius direduksi sebagai pernyataan
tentang eksistensi manusia semata-mata, induksi; usaha untuk menyingkap pengalaman
manusia dalam tradisi agama.
Kedua, pemurnian gagasan. Di sini diperlukan adanya pembedaan secara tegas
antara agama dan pemikiran agama (al-fikr al-diniyah). Abdul Karim Soroush (2000)
menjelaskan ...benar bahwa kitab suci agama (menurut penilaian pengikutnya) tidak
bercacat, namun sama benarnya juga mengatakan bahwa pemahaman manusia itu bercacat.
Agama itu suci ukhrawi dan konstan, tetapi pemahaman tentang agama adalah manusiawi,
duniawi, dan mengalami perubahan. Agama turun atas kehendak Tuhan, tetapi memahami dan
berupaya merealisasikan agama terserah pada kita.
Pada titik inilah, pemahaman ulama (kaum) klasik atas agama yang kini mengalami
stagnasi dan jumud memerlukan keberanian untuk merombaknya. Gagasan-gagasan dasar
(ushul) dalam agama harus terus kita pertahankan sementara pemikiran dan pemahaman
atas ushul tersebut adalah niscaya perlu diubah. Mazhab pemikiran --seperti Syafi'I,
Hanafi, Maliki, dan sebagainya-- sudah saatnya dirombak sebagai keniscayaan atas
perubahan ruang dan waktu.
Ketiga, memahami lokalitas. Agama sering kali bisu dalam menghadapi
persoalan-persoalan lokal, nasional, dan transnasional. Kemiskinan, pengangguran,
kekerasan, kerusakan alam tidak mendapat perhatian dari agama. Begitu pula dengan
pemeluk agama. Bagi para pemeluk (agamawan), persoalan-persoalan seperti di atas tidak
layak diurus oleh agama, ia memiliki wilayah masing-masing yang berbeda-beda. Kendati
banyak di antara pemeluk ataupun agamawan yang memahami teori dan konsep perubahan,
revolusi (rekayasa) sosial, tetapi ketika berada di masyarakat menjadi tidak berbunyi.
Karena itulah, agamawan-agamawan yang revolusioner --sebagaimana yang disyaratkan oleh
Ilham Mundzir-- tidak boleh tidak harus memahami lokalitas di mana agama itu berada.
Setiap daerah memiliki karakteristik perubahan masing-masing.
Kritik Sosial
Sedari awal, agama membawa pesan-pesan perubahan, transformasi, dan kritik
sosial. Ia tidak serta-merta mengabsahkan realitas sosial-kemasyarakatan. Dalam banyak
hal, agama melakukan perubahan dan kritik yang sangat tajam terhadap sistem sosial.
Tentu saja, ditujukan untuk sistem sosial yang tidak manusiawi, vandalistik, tribal,
dan otoriter. Saat itu, agama menjadi kekuatan yang mahadahsyat. Bukan saja sebagai
benteng spiritual-ilahiyah, tetapi juga menjadi media kritik yang sangat tajam atas
sistem sosial yang tidak sesuai dengan pesan-pesan Tuhan.
Akan tetapi, belakangan ini agama nyaris kehilangan daya sensitivitasnya atas
pelbagai problem yang dihadapi manusia. Agama begitu melangit, sementara manusia
berada di permukaan bumi. Konon, agama begitu dekat dengan manusia, kini ia seakan tak
terjamah lagi kebutuhan manusia. Akan tetapi, ketika agama ditarik ke bumi bukan dalam
rangka mewujudkan cita-citanya, tetapi justu dijadikan alat untuk menghegemoni dan
memolitisasi agama. Inilah, dilema agama saat ini. Pada satu sisi, ia diharapkan
bersinggungan dengan persoalan kemanusiaan, namun pada sisi yang lain agama justru
melanggengkan dehumanisasi dan kekerasan di muka bumi ini.
Kondisi semacam ini perlu segera mendapatkan perhatian yang serius dari banyak
kalangan. Sehingga agama benar-benar mampu berfungsi atas kemanusiaan, bukan wujuduhu
ka 'adamihi (adanya laksana tiada). Diharapkan, bukan hanya bagi kalangan agamawan,
tetapi juga bagi politisi, budayawan, seniman, sastrawan guna menemukan kembali makna
agama yang sesungguhnya (das sein) di era post-modern ini. Tanpa ada upaya dari banyak
pihak, agama akan terus berada dalam belenggu "tidur panjang"-nya bahkan mengamini
adanya dehumanisasi.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/