----- Original Message ----- 
From: Ki Segoro Alas 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, July 23, 2004 12:51 AM
Subject: [temu_eropa] [Arsip-ESSEN] - Wilson : ADA BAHAYA MILITERISME DAN IMPERIALISME 
DIDEPAN MATA



Draft-PRAXIS-Wls
Ringkasan ICPT, April-Juni 2003
Embargo hingga minggu 2 Juli




ADA BAHAYA MILITERISME DAN IMPERIALISME DIDEPAN MATA



Dalam tiga bulan terakhir  kita melihat suatu keterkaitan langsung antara 
militerisme dan  imperialisme baik dalam level global,  nasional dan lokal. 
Semua militerisme yang bertingkat-tingkat itu mestilah punya suatu benang 
merah ideologis dan saling  terkait. Militerisme global yang dikomandoi AS 
melegitimasi aliansi  strategis dengan rejim-rejim anti demokrasi (macam 
megawati) atau kekuatan militer di level nasional  macam TNI. Militerisme 
ditingkat nasional lalu menerapkannya  dalam bentuk operasi militer 
ditingkat lokal, seperti di Aceh sekarang ini.
  Benang merah tersebut adalah sedang diterapkannya suatu 
"model   disiplin  tertib sipil" dimana cara-cara militeristik yang 
memegang komando. Jadi bukan suatu yang kasuistik, nasionalistik dan 
lokalistik atau khas Indonesia, tapi memang suatu yang sistematis sedang 
diuji cobakan dari level internasional, nasional hingga lokal. Dan militer 
Indonesia kembali mendapat kehormatan untuk menjadi 'pilot proyek anti 
demokrasi", persis dengan 'pilot proyek  AS"  tahun 1965-66 di Indonesia.
Tentu saja militerisme digunakan karena rejim kediktatoran modal sudah 
kehilangan kepercayaan dengan sistem demokrasi yang mereka buat sendiri. 
Sebab demokrasi bagi mereka dianggap telah menghasilkan  atau memberi 
kesempatatan/ruang bagi munculnya terorisme; pembangkangan sipil; gerakan 
global anti neo-liberalisme;  atau fundamentalisme agama. Intinya sistem 
kapitalisme global ternyata menghasilkan dua kutub ideologi dalam 
meresponnya, yaitu ideologi kiri-populis yang menentang neo-libealisme dan 
ideologi 'fundamentalisme islam'  sebagai ekspresi ' yang lebih 'anti AS, 
anti barat dan dalam derajat tertentu diseret ke anti Kristen dan anti jahudi.
Apa yang terjadi di Afganistan dan Irak  bukanlah sekedar  'melindungi 
kepentingan nasional AS",  tapi akan dijadikan suatu 'model atau plot" yang 
digunakan diberbagai negeri/pemerintah nasional untuk mengatasi suatu 
krisis stabilitas atau politis. Karena itu apa yang terjadi dengan operasi 
militer di Aceh adalah fotocopy dari gaya AS dalam skala local, dimana 
"melindungi kepentingan nasional" atau "melindungi NKRI" hanya bisa melalui 
satu jalan; yaitu kekuatan militer. Persetan dengan supremasi sipil, ornop, 
ham dan  kebebasan sipil.
Dalam kasus  Indonesia, nampak jelas pihak militer  melakukan berbagi 
konsolidasi politik  untuk memperkuat 'intenal militer" selama 
pemerintahan  Megawati. Hasil konsolidasi itu diuji cobakan  oleh militer 
dalam kasus operasi militer di Aceh. Dimana ketiga angkatan (darat, laut 
dan udara) dan kepolisian   terbukti dapat digerakan dalam satu  komando, 
dibawah komando Pangab dan angkatan darat.
Uji coba konsolidasi internal militer ini juga  meningkatkan tahap 
konsolidasi militer ke aspek yang lain, yaitu konsolidasi logistik. 
Logistik adalah sesuatu yang  sangat penting untuk melakukan 'perang 
politik' dengan alat-aalt politik kaum sipil yang sedang 
membusuk  menjelang pemilu tahun 2004, dimana suhu politik semakin memanas. 
Konsolidasi logistik klasik militer melalui  yayasan militer, "palakan pada 
pengusaha" dan menyerahkan 'bisnis hitam' kepada Tomy Winata melalui PT 
Artha Graha, tampaknya tidak cukup banyak  mengumpulkan pundi-pundi untuk 
manuver politik.
Lalu disasarlah trilyunan dana nganggur dalam bentuk "cadangan dana umum" 
yang dikelola oleh pemerintah via dirjen anggaran atau dana yang indekos di 
Bulog, departemen atau BUMN. Tiba-tiba saja dirjen anggaran mengatakan 
tersedia dana taktis sekitar Rp. 8 trilyun  untuk bantuan teknis dan 
ketertiban di tiga wilayah konflik, Aceh, Maluku dan Papua. Bukan kebetulan 
ketiganya adalah wilayah yang diplot tentara berpotensi  mengganggu 
keutuhan NKRI dengan bahaya GAM,  RMS dan OPM.
  Dana segar ini jelas tidak akan dihanguskan oleh militer, sebab kalau 
tidak akan dicuri oleh para politisi menjelang  pemilu 2004 nanti. Proyek 
'instabiltias' melalui  perang atas gerakan sparatis untuk mengawal NKRI 
akan terus  dibuat agar sisa dana dikucurkan. Untuk Aceh saja 
sudah  dialokasikan sekitar 1,7 trilyun untuk  TNI dan Polri. Sisanya tentu 
akan dihabiskan dengan cara memperpanjang  operasi militer di Aceh dan 
menciptakan 'operasi militer baru". Bumi  Papua sangat potensial  untuk the 
next project, karena disana terkait langsung dengan kepentingan TNC 
besar  macam PT Freeport, yang kebetulan adalah dari  Amerika.  Jadi 
sekalian memalak PT Freeport untuk menaikan dana subsidi ilegalnya untuk TNI.
Bukan kebetulan bahwa  kebangkitan militerisme ini juga berhubungan dengan 
proses integrasi sepenuh-penuhnya Indonesia dibawah kendali kediktatoran 
pasar bebas diakhir tahun 2003 ini. Pemutusan hubungan dengan IMF  dalam 
skenario pasar bebas adalah melakukan bypass  untuk penetrasi kapital 
mereka, tanpa perlu perantara macam IMF, Bank Dunia, IBRD atau CGI yang 
masih 'bernego dengan pemerintah" .  Sekarang dengan tidak adanya lembaga 
macam IMF dan sekutunya, maka pasar bebas akan terjun bebas dalam melakukan 
penetrasi, semau gue, seenak perutnya sendiri, tidak akan ada yang dapat 
merintangi lagi.
Fase lepas landas dari IMF  itu tentu saja masa yang riskan, karena 
'stabillitas politik "  yang rawan menjelang pemilu 2004. Kekuatan pasar 
bebas dengan percaya diri  mau melakukan penetrasi karena secara 
definitif  sudah menemukan 'alat stabiltias' yang akan menjaminnya.. Alat 
itu bukanlah 'rejim supremasi sipil", tapi  militer atau TNI. Kekuatan 
pasar bebas sudah lelah dengan instabiltias di Indonesia, padahal kawasan 
ini sangat vital bagi pasar, buruh murah dan eksploitasi sumberdaya 
alam.   Operasi militer di Aceh adalah suatu 'show room politik" kepada 
pasar bebas atau pemilik modal  untuk menunjukan bahwa militer siap 
mengunakan cara yang ekstrim sekalipun bila 'disiplin kapital' memang 
membutuhkan "stabiltias", kalau perlu lupakan supremasi sipil, Ham, hukum 
humaniter, parlemen dll yang bersangkut dengan hak-hak sipil dan supremasi 
sipil.
Lantas kenapa tentara kelihatan atau seolah-olah  kok nunut 
dengan  mengikuti proses politik  supremasi sipil melalui momentum pemilu, 
kok tidak kudeta  saja langsung, seperti  plot klasik perang dingin 
dulu  yang juga diciptakan oleh AS.  Inilah hebatnya 'perang politik' gaya 
baru yang diakukan oleh tentara.
Secara organisasi dan de facto tentara sadar sudah tidak ada lagi kekuatan 
yang bisa menghalangi manuver mereka. Tapi tentara butuh legitimasi dan 
faktor de jure untuk dominasinya. Kudeta justru akan kontra produktif  bagi 
tentara. Jadi, untuk mendapat legitimasi, militer membiarkan saja 
pembusukan demokrasi terus berlangsung dengan 'pemilu' sebagai hidangan 
penutupnya.
Bisa jadi pemilu akan menghasilkan suatu konflik horizontal yang makin 
meluas; pemerintahan sipil yang sangat lemah; instabilitas yang makin 
meluas (pemogokan buruh, konflik horizontal/SARA); korupsi sipil yang 
telanjang; dan krisis ekonomi . Rakyat yang sudah apatis dan tidak punya 
'alat dan ideologi politik alternatif' sebagai pegangan untuk keluar dari 
krisis", dengan pragmatis akan cenderung  menyimpulkan 'demokrasi' adalah 
kekacauan, persetan dengan demokasi kalau jadi bangkrut kayak gini. "Kita 
butuh stabilitas, jadi tidak soal kalau stabilitas itu harus dengan 
melibatkan kembali TNI". Legitimasi-pun didapat oleh TNI 
sebagai  STABILISATOR.

Lalu bagaimana dengan legitimasi de jure nya?  Gampang saja  dukung 'rejim 
sipil boneka' yang selalu 'oke-oke saja' dengan TNI' dan secara ideologis 
memang cocok. Rejim Megawati  yang konstitusional terbukti selama dua tahun 
terakhir adalah 'boneka ideal' militer,  sebelum ada boneka baru yagn lebih 
efektif. Karena itu simbiosis ini kemungkinan akan dipertahankan pada 
pemilu 2004 nanti. Jadi jangan heran bila TNI menjadi anak emasnya 
Megawati, apa saja maunya menjelang pemilu ini diberikan. TNi mau operasi 
militer keluar Inpres no 28  th 2003; TNI mau mainan pesawat dibeli 
4  Shukhoi dari Rusia; mau lolos pengadilan Ham, Brigjen Adam Damiri 
dituntut bebas dalam kasus pengadilan ham Timor-Timur.
  Dibawah rejim megawati terbukti tentara juga lebih gampang 'melegalisir' 
manuver mereka dengan mangajukan RUU  yang jelas mendukung peran 
stabilisator miltier yang semakin  meluas seperti  kasus UU Anti Terorisme; 
draft RUU TNI; dan  draft RUU Inteljen. Bagi  Megawati,  soal demokrasi 
tidak penting, yang penting bagi dia dan partainya adalah untuk menang 
pemilu dan pemilihan presiden, pokoknya terus berkuasa, besekutu dengan 
militer sekalipun.

Apa Yang  Harus Kita Lakukan?

Lalu what is to be done dengan gerakan demokrasi dan ornop di indonesia 
sekarang ini?
Kondisi subyektif gerakan demokrasi dan ornop terpolarisasi dan 
terfragmentasi dalam  berbagai  pengelompokan, sector, program, taktik dan 
strategi dan soal-soal subyektif diantara mereka sendiri.  Jadi tidak 
mungkin dalam waktu dekat ini "dapat menjadi kekuatan politik alternatif 
bagi rakyat" menandingi konsolidasi militer. Gerakan ornop yang 
terfragmentasi ini juga mempunyai kelemahan ekstrim untuk  berpolitik yaitu 
basis social atau basis pengorganisiran yang lemah.  Sebab terbukti sudah 
'perang politik' bukan sekedar adu opini atau ide yang bagus, tapi juga adu 
kekuatan dan dukungan secara riil.
  Membusukan parpol, legislative, eksekutif dan semua institusi demokrasi 
lainnya, tanpa menggebug tentara atau mengorganisir kekuatan politik 
alternatif dan program alternatif, sama saja dengan masuk secara tak 
langsung dalam 'plot pembusukan sipil' dari militer.  Militer akan bilang, 
"demokrasi dan supremasi sipil itu jadi busuk karena kaum sipil sendiri 
yang tidak siap dan sibuk gontok-gontokan melulu, seperti yang dikatakan 
ornop itu."
Lalu  langkah taktis apa yang dapat dilakukan melihat kekuatan anti 
demokrasi sudah begitu terkonsolidasi dan kondisi subyektif gerakan  ornop 
yang lemah tersebut?
Pertama; Memanfatkan operasi militer di Aceh sebagai pukulan balik bagi 
militer secara keseluruhan, persis seperti di Timtim dulu, apalagi sekarang 
ini deret hitung pelanggaran ham militer makin banyak terkuak dan akan 
menjadi sasaran pelanggaran ham kelas berat spt: pemerkosaan, pembunuhan 
warga asing, pembunuhan warga sipil, pembangunan kamp kosentrasi pulau 
nasi, pengunaan senjata dari barat, penangkapan aktivis ham, teror atas 
ornop kritis pada militerisme, pengusiran wartawan jepang, reuter dan 
penangkapan wartawan Amerika William Nessen (akan disidang). Dari operasi 
militer di Aceh, militer menyediakan amunisi bagi gerakan sipil dan 
demokrasi untuk membidik diri mereka sendiri.
Kedua; Menghubungkan momentum pemilu dengan isu militerisme. Kebanyakan 
Ornop tampaknya akan terkosentrasi dengan memanfatkan momentum pemilu. 
Untuk itu perlu juga dimanfaatkan momentum ini untuk menyasar kebangkitan 
militerisme. Mungkin perlu dibuat semacam track record dari calon presiden 
dan parpol dalam hubungannya dengan militerisme seperti; 1). Sikap parpol 
atau caleg atas operasi militer di Aceh, 2) sikap caleg/parpol atas 
persidangan/pelanggaran ham kelas berat para jendral, 3) para 
jendral  pelanggar ham yang menjadi pendukung parpol,  4) jangan memilih 
caleg dari pensiuanan militer atau militer yang 'cuti sementara" di DPR dan 
DPD dan parlemen lokal, 5) Tolak pemilu di Aceh sebelum operasi militer di 
hentikan, dll. Kita dapat membuat semacam tool kit pemilu dan militerisme 
untuk disebarluaskan.
            Ketiga; Menghadapi militerisme di Indonesia tampaknya akan 
sulit dalam waktu dekat, jadi taktiknya harus dibantu dulu dari tekanan 
ornop internasional, agar jadi payung bagi ruang gerak ornop disini, 
agar  militer sedikit mengendorkan represinya, dan mengurangi korban sipil. 
Mungkin bisa dibuat konfrensi internasional tentang  aceh di luar negeri 
macam pembentukan APCET dulu.  "Geng kiri di Asia-Pacific" sudah menjadikan 
aceh sebagai isu utama. Mereka sudah melakukan aksi  diberbagai tempat 
dibawah koordinasi ASAP. Tinggal 'geng ornop' yang  belum nampak 
mengoptimalkan jaringannya yang juga sangat luas.
Keempat; Jangan mendukung sikap pmerintah dalam kasus pemutusan hubungan 
dengan  IMF. Tentang IMF/mperialisme, apa  yang terjadi adalah pemurnian 
neoliberalisme, artinya pasar bebas yang akan mengatur, sebagai 
kediktatoran modal , tidak perlu lagi perantara macam IMF, WB, Paris Club 
atau BKKPN, dll.  Jadi jangan dilihat secara positif, tapi memang bagian 
dari skenario neo-liberal.  Mungkin juga perlu di buat tool kit yang 
menghubungkan antara imperialisme dan militerisme/politik. Sehingga ada 
pondasi politik/ideologis dalam perjuangan anti neoliberalisme 
dan  'kesatuan isu atau musuh bersama'  yang menyediakan syrat-syarat untuk 
menyatukan gerakan darimanapun titik berangkatnya dan apapun bentuk 
wadahnya. Ada dua sasaran sttrategis yang bisa menjadi prioritas yaitu; 
Pertama, tentang penindasan kapital/imperialisme yang anti keadilan social. 
Kedua, tentang bahaya militerime yang anti demokrasi dan ham.

What is the alternative?

What is the alternative? Pemerintah atau sistem demokrasi  alternatif macam 
apa yang akan kita bangun kedepan? Bentuk perekonomian seperti apa yang 
akan kita terapkan? Bagaimana dengan peran rakyat pekerja, kaum tani, 
perempuan, kaum miskin, hak minoritas, pemuda, masyarakat adat, perusahaan 
swasta  dll ?
Strategi macam apa secara organisasional yang harus  disiapkan untuk 
mencapai itu semua ?

Silakan saja kita berdiskusi untuk itu semua.


Salemba,  9 Juli 2003

  Salam ngebor





Wilson

Staf Litbang PRAXIS





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke