Cerpen:

BIOGRAFI PATUNG
 
Oleh Maria Magdalena Bhoernomo


�SIAPA berani melawan tentara?� 
�Tentara mana?�
�Apa bedanya?!�
�Dor! Dor! Dor!�
�Bum! Bum! Bum!�
Anak-anak kecil di halaman rumah itu bermain
perang-perangan. Mereka memegang pistol-pistolan
plastik. Saling menembak. Yang merasa tertembak
langsung menjatuhkan diri dan terkapar di tanah. 
�Siapa berani melawan Rambo?� 
�Aku berani! Akulah Osama Bin Laden!� 
�Eh, kamu teroris, ya?�
�Bukan! Aku tentara jihad!�
�Dor!�
�Bum!�
�Eh, jangan buru-buru ngebom, dong! Banyak warga
sipil!�
�Salahnya sendiri, nggak ngungsi! Bum! Bum!�
�Eh, kok malah ngebom terus?! Kamu bisa diseret ke
mahkamah internasional sebagai tersangka penjahat
perang, tahu?!�
�Kata siapa?�
�Kata Bu Guru! Katanya, perang itu ada aturannya.
Dilarang menyerang warga sipil dengan senjata apa pun,
apalagi dengan bom!� �Perang kok ada aturannya.
Memangnya main domino? Pokoknya yang punya senjata
paling hebat akan menang. Bum! Bum!�
Anak-anak kecil itu terus bermain perang-perangan,
untuk mengisi liburan panjangnya, sebelum kemudian
memasuki tahun ajaran baru. Hari semakin siang.
Matahari tepat di atas ubun-ubun. Sementara itu,
ibu-ibu mereka masih sibuk menyiapkan makan siang di
dapur masing-masing. 
�Kamu GAM? Dor! Dor!�
�Bukan! Saya rakyat sipil!�
�Jangan bicara dong. Kamu kan sudah tertembak.
Seharusnya kamu langsung menjatuhkan diri, terkapar.�
�Aku tidak mau mati konyol. Tembakanmu tadi meleset,
hanya menyerempet sedikit daun telingaku!�
�Kalau begitu, dor! Dor! Dor!�
�Eh, warga sipil jangan ditembak, dong!�
�Sudah terlanjur! Ayo cepat mati!�
�Nggak mau! Tembakanmu hanya menyerempet lenganku!�
�Oh, begitu, ya? Duer!�
�Kok duer? Bunyi apa tadi?�
�Bunyi granat, tolol!�
�Aduh! Payah, dong! Masak warga sipil kok digranat
juga! Yang benar saja, dong!�
�Ini perang! Jangan banyak bicara! Dor! Dor! Dor!�
Tiba-tiba terdengar suara adzan dari pengeras suara di
surau. Lantas anak-anak itu segera pulang ke rumah
masing-masing untuk mengambil peci dan sarung, sebelum
kemudian berlarian pergi ke surau untuk mengikuti
shalat dhuhur berjamaah. Dan sehabis shalat di surau,
mereka segera pulang ke rumah masing-masing. 
�Ayo makan siang!� teriak seorang ibu.
�Lauknya apa, Bu?�
�Tempe goreng!�
�Ah, tempe goreng terus!�
�Lha, maklumlah. Ayahmu tak pernah beruntung! Pasang
togel terus, angkanya selalu meleset!� 
�Ayah sialan!�
�Hus! Nanti kalau beruntung, ayahmu pasti membelikan
sate kambing kesukaanmu!�
Di rumah lain, seorang ibu juga menyuruh anaknya untuk
makan siang. 
�Lauknya apa, Bu?�
�Kerupuk!�
�Ah, malas. Setiap hari kok selalu kerupuk!�
�Sabarlah. Ayahmu jarang kerja.�
�Hari ini Ayah ke mana, Bu?�
�Ke rumah mbah dukun! Minta nomor! Katanya, di kampung
dekat gunung sana ada dukun sakti yang mampu menebak
nomor togel dengan tepat!�
�Kata Pak Kyai, togel itu haram!�
�Betul.�
�Kalau begitu Ayah berdosa, dong!�
�Betul!�
�Kalau togel itu haram, kenapa tidak dilarang oleh
pemerintah, Bu?�
�Pemerintah itu siapa? Polisi? Tentara? Lha semuanya
juga suka togel!�
Di rumah lainnya lagi, seorang ibu juga menyuruh
anaknya untuk makan siang. �Sehabis makan siang, tidur
saja. Jangan main perang-perangan lagi.� 
�Saya nggak bisa tidur, Bu.� 
�Kalau tidak bisa tidur, nonton teve saja.� 
�Ah, malas, Bu.� 
�Eh, nanti jam satu ada Inul.�
�Bosan, Bu. Goyangnya bikin pusing.�
�Jangan berkata begitu. Kamu masih kecil.�
�Benar, Bu. Saya pusing kalau nonton Inul! Dan lebih
pusing lagi, kalau nonton hantu, atau polisi yang
menembak mati copet! Ihh, rasanya ngeri, Bu. Masak,
cuma copet harus didor, seperti babi hutan saja!�
�Jangan menyalahkan polisi! Kalau polisi tegas, negara
aman! Tidak ada copet!�
�Saya, kalau sudah besar, mau jadi tentara saja, Bu!�
�Yang benar saja?!�
�Betul, Bu! Cita-cita saya kan ingin menjadi jenderal
besar berbintang lima!�
�Kamu sok tahu saja! Mana ada jenderal berbintang
lima?�
�Lho, Ibu lupa, ya?� 
Ibu itu kemudian tergelak. 
Di rumah yang lainnya lagi, seorang ibu juga menyuruh
anaknya makan siang.
�Lauknya apa, Bu?�
�Ayam goreng!�
�Wah, asyik!�
�Semalam, ayahmu beruntung lagi. Nomornya keluar! Tiga
angka! Lumayan! Makanya, hari ini Ibu memasak ayam
goreng!�
Anaknya tiba-tiba murung. 
�Kenapa kamu? Sakit! Makanya jangan main
perang-perangan terus! Tadi kamu jatuh, ya! Ada otot
yang keseleo, mungkin?�
�Saya nggak mau makan!� tegas anaknya, sebelum
kemudian masuk kamar tidur.
Ibunya mengejarnya ke kamar tidur. �Ayo makan dulu!�
�Saya tidak mau makan barang haram!� 
Ibunya terpana. �Apa maksudmu?�
�Ayah harus berhenti beli togel! Togel itu haram, Bu!�
�Itu kata Pak Kiai, bukan?�
Di rumah yang lainnya lagi, seorang ibu mengajak
bicara anaknya yang baru saja habis makan siang dengan
lauk tahu bacem. 
�Nanti sore, kamu ikut membeli buku, tidak?�
�Ikut, dong!�
�Tapi jangan minta macam-macam, ya? Gaji ayahmu masih
kecil.�
Begitulah. Dan ketika sore tiba, mereka pun pergi ke
toko buku di pusat kota. 
�Patung apa itu, Bu?� tanya anaknya sambil menunjuk
sesosok patung tentara.
�Itu patung tentara. Dia dulu pahlawan. Makanya,
patung itu ditempatkan di tengah perempatan, biar
semua orang tidak melupakan jasa-jasa dan
pengorbanannya.�
�Namanya siapa, Bu?�
�Waduh, Ibu lupa namanya. Kalau nggak salah, namanya,
Kopral Joni!�
�Kopral kok bisa menjadi pahlawan!� gerutu anaknya.
Ibunya segera menukas. �Eh, kopral atau jenderal, sama
saja! Bedanya cuma pangkatnya. Kalau dalam perang, si
kopral bisa berjasa besar karena berhasil menumpas
musuh! Sebaliknya, sang jenderal bisa dianggap
pengecut, karena tidak berani muncul di medan
perang!� 
�Besok saya mau jadi kopral saja, Bu.�
�Eh, memangnya kamu bercita-cita menjadi tentara?
Kemarin katamu ingin menjadi dokter saja?� 
�Saya ingin jadi kopral saja, biar kelak bisa
dijadikan patung dan ditempatkan di tengah perempatan
desa!�
Begitulah. Setengah abad kemudian, anak itu
benar-benar menjadi patung yang berdiri di tengah
perempatan desanya. 
�Patung tentara itu dulunya hidup, ya, Bu?� tanya
seorang anak kepada ibunya, sepulang dari taman
kanak-kanak. Ditatapnya patung tentara di tengah
perempatan jalan itu dengan heran. �Pangkatnya
jenderal, Bu?�
Ibunya kemudian menceritakan kisah hidup sesosok
pemuda berseragam tentara berpangkat jenderal
berbintang lima yang menjadi patung batu berwarna
hitam itu. Konon, menurut cerita dari mulut ke mulut,
pemuda itu dulu gagal menjadi tentara, padahal
orangtuanya sudah menjual empat ekor sapi untuk
membiayainya. 
Pada suatu masa, untuk menjadi tentara memang harus
dengan menyediakan biaya besar. Konon, biaya besar itu
sebagai uang pelicin, agar lulus ujian dan langsung
pulang dengan memakai seragam tentara. Setelah gagal
menjadi tentara, pemuda itu menderita tekanan mental,
sebelum kemudian suka memakai seragam tentara dengan
pangkat jenderal berbintang lima. 
Sehari-hari, pemuda sinting itu suka berdiri di tengah
perempatan jalan itu. Mirip seperti seonggok patung
batu. Jika ada kendaraan lewat, dia akan tetap berdiri
di tengah perempatan jalan itu. Orang-orang dibuatnya
kesal, apalagi para sopir angkutan desa dan kusir
dokar. Gara-gara dia tetap saja berdiri seperti patung
di tengah perempatan jalan itu, semua mobil dan dokar
yang lewat harus menepi. 
�Jenderal berbintang lima sialan!� umpat para kusir
dokar dan dan sopir angkutan desa. 
Tentu saja pemuda itu tidak menggubris umpatan mereka.
Seolah-olah, telinganya sudah tuli. Dan yang
mengherankan banyak orang, pemuda itu betah lapar dan
haus. Sepanjang hari, sejak pagi sampai malam, dia pun
betah berdiri seperti patung di tengah perempatan
jalan itu. Kedua orangtuanya, karena merasa sedih dan
malu, konon kemudian minggat dari desa itu, setelah
menjual rumahnya. Melihatnya hidup sebatang kara dalam
keadaan tidak waras seperti itu, warga di sekitarnya
merasa iba dan sering memberinya makanan dan minuman
sisa. Itulah sebabnya, dia tetap bertahan hidup, meski
orangtuanya sudah pergi entah ke mana. Suatu sore,
beberapa warga pecandu togel mendekatinya, ketika dia
sedang berdiri seperti patung di tengah perempatan
jalan itu. Mereka memberinya sebuah pena dan selembar
kertas. Mereka membujuknya dengan diselingi tawa
berderai-derai. 
�Ayo tulislah nomor-nomor sesuka hatimu! Nanti malam
kalau nomor-nomor yang kamu tulis ternyata keluar,
kamu akan kuberi hadiah istimewa. Kamu mau tidur
dengan perempuan cantik, bisa. Akan kucarikan di
hotel. Percayalah, banyak perempuan cantik di hotel
yang siap tidur dengan kamu! Atau kamu ingin memakai
celana dan baju baru? Akan kubelikan!� Dia kemudian
menulis empat nomor dengan pena pada selembar kertas
itu.
Begitulah. Esoknya, mereka kembali datang di tengah
perempatan jalan itu, dengan wajah cerah. Mereka ingin
kembali meminta pemuda sinting berseragam tentara
berpangkat jenderal berbintang lima itu untuk kembali
menulis nomor-nomor jitu lagi. Konon, semalam, mereka
beruntung, karena nomor-nomor yang kemarin ditulis
oleh pemuda sinting itu ternyata keluar.
Mereka sangat kecewa, karena pemuda sinting itu tidak
berada di tengah perempatan jalan itu seperti
biasanya. Bahkan, pada hari-hari berikutnya, pemuda
sinting itu tidak pernah muncul lagi. Entah pergi ke
mana. Tak ada yang tahu.
Mereka kemudian bersepakat untuk membuat patung
tentara berpangkat jenderal berbintang lima di tengah
perempatan jalan itu, sebagai monumen untuk mengenang
keberuntungan yang telah mereka peroleh melalui
nomor-nomor yang pernah ditulis oleh pemuda sinting
iu. 
Begitulah ceritanya�.***

Kudus, 2003-2004

(Sumber: Sinar Harapan, 17 Juli 2004)


        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Vote for the stars of Yahoo!'s next ad campaign!
http://advision.webevents.yahoo.com/yahoo/votelifeengine/


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke