Demiliterisme Masyarakat Sipil1)
Oleh: Sutoro Eko2)

Kekerasan adalah dukun beranak bagi 
setiap masyarakat lama yang tengah 
mengandung masyarakat baru.
(Karl Marx).

Risalah pendek ini hendak dibawa sampai pada dua
tujuan. Pertama, mengislustrasikan bekerjanya
militerisasi dan militerisme di Indonesia. Kedua,
menawarkan agenda strategi dan aksi demiliterisme
(menghancurkan militerisme) dalam konteks konsolidasi
demokrasi di Indonesia. Kedua tujuan itu disandarkan
pada asumsi bahwa militerisasi dan militerisme
merupakan dua hal yang berbeda meski keduanya saling
berhubungan. Militerisasi lewat Dwifungsi adalah
"monster" bagi masyarakat politik, yang merusak
kompetisi, partisipasi dan liberalisasi. Militerisme
adalah "kanker" bagi masyarakat sipil yang mengancam
democratic civility. 

Militerisasi dan Militerisme 
Militerisme sudah lama populer dalam wacana publik,
tetapi ia dipahami secara keliru. Militerisme dan
militerisasi selalu dicampuradukkan, yang dipahami
sebagai bentuk interbensi dan dominasi militer dalam
kehidupan sosial-politik melalui Dwifungsi. Tulisan
ini punya pehamanan yang berbeda dengan pemahaman umum
selama ini. Pertama, militerisme sebagai sebuah gejala
ideologis tidak selalu menghadirkan keterlibatan
militer ke ruang masyarakat sipil. Saya memahami
militerisme dalam konteks relasi antara militer,
masyarakat dan perang. Militer dibentuk tentu saja
disiapkan sebagai instrumen perang (menggunakan
sarana-sarana kekerasan) untuk mempertahakan negara.
Tetapi ada masalah besar ketika masyarakat
dimobilisasi dalam arena perang, atau setidak-tidaknya
masyarakat dirancang dalam kondisi darurat untuk
"persiapan perang" (war preparation).
Kedua, militerisasi dan militerisme merupakan dua hal
yang berbeda. Andrew Ross (1987), misalnya, membedakan
secara tegas antara militerisasi dan militerisme,
namun militerisasi merupakan sebuah proses yang
mengarah ke militerisme. Titik temu antara
militerisasi dan militerisme terletak pada aspek
pemujaan perang atau persiapan perang, artinya
berbagai aktivitas sosial dalam masyarakat mengarah
atau dirancang untuk mengarah ke perang. Persiapan
perang itu dirancang sebagai perangkat pertahanan,
pencegahan dan keamanan, entah oleh negara ataupun
oleh kelompok-kelompok sosial. Musuh yang diperangi
itu tidak semata-mata berasal dari luar, tetapi juga
berasal dari dalam. Secara tegas, Martin Shaw (1993),
merumuskan militerisme sebagai pengaruh organisasi,
nilai-nilai, ide-ide dan perilaku militer ke dalam
struktur sosial, sebagai akibat dari militerisasi.
Namun, militerisasi dan militerisme merupakan mata
rantai yang kompleks. Baik militerisasi dan
militerisme mempunyai berbagai bentuk seperti saya
tampilkan dalam tabel 1 di bawah. 

Tabel 1
Tipologi Militerisasi dan Militerisme
Item    Tipe I  Tipe II
Bentuk  Militerisasi build-up   Militerisasi build-in
Indikator       Bertambahnya personil militer, anggaran
militer, teknologi senjata, ekspor-impor senjata.       (1)
Intervensi militer dalam politik; dan (2)
internalisasi nilai, ide, organisasi, perilaku militer
dalam masyarakat (dengan atau tanpa kehadiran militer)
Level   Negara dan elite        Masyarakat dan massa
Bentuk militerisme      Militerisme elite dan struktur
kekuasaan       Militerisme masyarakat (societal militarism)
atau militerisme massa (popular militarism)
Level gejala    Sosiologis      Ideologis
Akar Sosial     Masyarakat kapitalis-industrial; militer
sebagai kekuatan hankam sangat kuat     Masyarakat
semikapitalis, militer sebagai kekuatan hankam sangat
lemah; dan dalam masyarakat majemuk yang berbasis pada
sentimen primordial.
Strategi        Partisipasi militer     Mobilisasi massa
Persiapan perang        Perang terbatas untuk kepentingan
keluar  Perang semesta (total war) untuk kepentingan ke
dalam
Proses  Pembesaran kekuatan militer, ekspansi keluar
Intervensi militer ke politik, indoktrinasi militer,
reproduksi budaya perang atau besenjata pada level
massa.
Tujuan perang   Pertahanan integritas teritorial,
imperialisme ke luar wilayah    Perang melawan HGAT,
kontrol negara pada masyarakat, mempertahankan
kekuasaan.
Dampak  Imperialisme merajalela, perang antarnegara,
tetapi militer lebih profesional dan tidak mengganggu
demokrasi       Perang antarsaudara/antarkelompok dalam
negara, kekerasan merajalela, mematikan pluralisme dan
demokrasi.
Sumber: Diolah dari berbagai sumber: Vagts, 1959;
Andreski, 1968; Marwick, 1977; Mann, 1984; Luckham,
1984; Ross, 1987; Shaw, 1993. 

Secara historis, militerisasi tipe I terjadi di banyak
negara di kawasan Eropa Barat dan Amerika. Kita bisa
melihat industrialisasi militer di negara-negara itu
untuk menopang pendalaman kapitalisme dan imperialisme
di kawasan lain. Tetapi militerisasi dan militerisme
tipe ini hanya terbatas pada elite, yang tidak
melibatkan mobilisasi massa. Mann (1984) menyebutnya
sebagai "spectator sport militarism", artinya
perluasan kekuasaan militer dan perlombaan senjata
antarnegara yang dirancang oleh elite menjadi
"olahraga tontonan" massa. Massa tidak dimobilisasi
dalam arena perang, melainkan hanya menjadi penonton
perang, yang terkadang bangga jika militer berhasil
memenangkan peperangan tetapi terkadang khawatir dan
jengkel ketika kalah perang. Misalnya AS yang kalah
perang melawan Vietnam.
Militerisasi tipe I memang punya dampak buruk keluar,
tetapi punya dampak positif kedalam. Karena militer
punya kesibukan perang keluar, maka mereka menjadi
lebih profesional dan tidak melakukan intervensi ke
dunia politik, sehingga tidak mengganggu demokrasi.
Karya Charles Tilly (1985), misalnya, menunjukkan
bahwa tumbuhnya demokrasi liberal di Barat secara
historis berkaitan dengan industrialisasi peperangan
dan pemeliharaan militer profesional dalam sebuah
negara-bangsa modern.
 
Sebaliknya, militerisasi dan militerisme tipe II
(build-in) jauh lebih kompleks dan berbahaya bagi
demokrasi. Militerisasi dan militerisme tipe II ini
benar-benar mengakar pada masyarakat sehingga disebut
sebagai societal militarism. Prosesnya berlangsung
lewat dua cara. Pertama, intervensi militer dalam
politik yang mesti diikuti dengan indoktrinasi
militer. Kedua, reproduksi nilai-nilai militeristik
oleh elemen-elemen masyarakat sipil tanpa intervensi
militer. Yang paling menonjol dalam militerisasi dan
militerisme build-in tidak didasarkan pada perluasaan
kekuatan militer, melainkan pada kedalaman pengaruh
ideologi militer ke dalam kehidupan masyarakat. Dalam
konteks ini, militer yang memegang kekuasaan akan
cenderung memanipulasi keadaan politik dalam situasi
darurat, mencari justifikasi intervensi mereka dalam
politik dan hak-hak istimewanya, menyingkirkan para
pembangkang, menyerukan disiplin dan loyalitas massa,
serta memobilisasi massa dalam "persiapan perang". 
Militerisme masyarakat ini bisa tumbuh tanpa harus ada
intervensi militer, melainkan bisa tumbuh dengan
sendiri dalam ranah masyarakat sipil, terutama dalam
masyarakat yang terkotak-kotak menurut garis
primordial (agama, etnis, ras, golongan). Dalam
masyarakat yang berbasis primordial cenderung memaknai
daerah (wilayah) sebagai milik etnis atau agama
tertentu, sehingga penghuni wilayah itu selalu
mempunyai senjata khas dan selalu siap berperang
berhadapan dengan pendatang dari etnis atau agama
lain. Karena itu, Robin Luckham (1987), menyebut
militerisme massa identik dengan budaya perang atau
budaya bersenjata (armament culture). Budaya
bersenjata, demikian tutur Luckham, lebih dari sekadar
efek bersenjata terhadap budaya (musik, film, sastra,
literatur, dan lain-lain), tetapi juga masuknya
persenjataan ke dalam reproduksi budaya sehari-hari,
dan sekaligus menjadi produk berbagai aktivitas
budaya.

Pengalaman Indonesia
Pembicaraan militer dengan kerangka militerisasi
build-up sama sekali tidak relevan dalam konteks
Indonesia, sebab peningkatan personil militer beserta
perlengkapan senjata tidak sebesar dan sepenting
eksodus militer ke lembaga-lembaga nonmiliter.
Persoalan militer di Indonesia lebih tepat dipahami
dalam kerangka militerisasi dan militerisme tipe II
(build-in). Militerisasi bisa dilihat dari penarapan
Dwifungsi secara struktural maupun teritorial.
Dwifungsi struktural bisa dilihat dari intervensi
politik sampai dengan masuknya para perwira menduduki
jabatan-jabatan sipil dan keterlibatan mereka dalam
dunia bisnis. Dwifungsi teritorial tersusun secara
sistematis dalam bentuk organisasi militer yang
hirarkhis dari Mabes di Jakarta sampai Babinsa di
desa. 

Militerisasi dalam bentuk intervensi militer ke dunia
sipil berdampak terhadap tumbuhnya militerisme.
Pertama, kepemimpinan militer hampir dipastikan akan
diikuti dengan penerapan nilai-nilai, kebiasaan dan
organisasi militer dalam dunia sipil. Sekali seorang
perwira menduduki jabatan gubernur atau presiden,
pasti dia akan menerapkan cara-cara militer dalam
metode kepemimpinan, cara pengorganisasian dan cara
memperlakukan anak buah. Bahkan di desa yang kami
teliti, Desa Tambakromo (Ponjong Gunungkidul), dalam
jangka panjang terkungkung oleh kerangkeng militerisme
ketika dipimpin oleh mantan polisi. Sang kepala desa
konon selalu mengutamakan disiplin, loyalitas, budaya
ketakutan dan bahkan sewenang-wenang kepada anak
buahnya maupun warga masyarakat. 

Kedua, indoktrinasi atau penyebaran doktrin tentara
untuk mempengaruhi cara berpikir dan bertindak warga
masyarakat. Militer Indonesia yang mengklaim dirinya
punya tugas suci sebagai pengawal Pancasila dan
pembangunan selalu menekankan bahwa keberhasilan
pembangunan harus ditopang dengan stabilitas nasional
yang kokoh. Sebagai bentuk persiapan perang semesta,
militer menerapkan doktrin Hankamrata, yang melibatkan
seluruh elemen rakyat untuk keperluan pertahanan dan
keamanan. Oleh karena itu, Hankamrata bisa berhasil
apabila ditopang oleh "kemanunggalan" ABRI dengan
rakyat. Militer selalu menekankan pada rakyat bahwa
Indonesia selalu berada dalam situasi darurat,
misalnya dengan munculnya seruan Hambatan, Gangguan,
Ancaman dan Tantangan (HGAT). Oleh karena itu, kata
militer, rakyat Indonesia harus selalu waspada,
disiplin, loyal dan patriotik. 

Indoktrinasi memainkan peranan penting untuk
memobilisasi massa dalam persiapan perang dan
sekaligus sebagai senjata militer untuk mempertahankan
dominasinya dalam kehidupan politik. Proyek
indoktrinasi dilakukan secara kolosal dan serentak di
sekolah-sekolah, tempat kerja, kantor birokrasi,
ormas-ormas, dan lain-lain. Pendidikan Bela Negara,
PPKN, P4, Pendidikan Kewiraan, dan sebagainya
merupakan bentuk konkret indoktrinasi militer.
Semuanya diarahkan untuk mendidik rakyat agar punya
semangat patriot, nasionalisme, rela berkorban untuk
negara, bangsa dan Pancasila. Dalam praktiknya
bentuk-bentuk pendidikan itu memasukan wacana-wacana
militer seperti Wawasan Nusantara, Ketahanan Nasional,
Hankamrata, Ipoleksosbudhankamnas, dll. 

Ketiga, pembentukan organisasi-organisasi yang serupa
dengan militer sampai menerapkan kebiasaan militer
pada aktivitas komunitas sipil. Resimen Mahasiswa
(Menwa) adalah organisasi di sektor pendidikan yang
kental dengan militerisme. Menwa dibentuk oleh
militer, yang sekaligus mengadopsi nilai-nilai, etika,
perilaku, organisasi dan wacana militer. Demikian juga
dengan Pramuka. Awalnya Pramuka adalah gerakan
kepanduan nonmiliteristik yang punya misi sosial.
Tetapi ketika diintervensi militer, Pramuka menjadi
sangat militeristik dari segi nilai yang dikembangkan
sampai dengan organisasinya. Di tempat lain, berbagai
tradisi militer dikembangkan di n bentuk organisasi
militer, melainkan juga punya "otoritas" menggunakan
sarana kekerasan. Mereka mesti memperoleh pendidikan
dan latihan fisik seperti halnya militer. Perguruan
Pagar Nusa di Jember misalnya, merupakan tempat
penggemblengan fisik bagi para anggota Banser NU.

Dalam komunitas masyarakat, kita mengenal "ronda
kampung" atau siskamling. Menurut Nasikun (2000),
ronda kampung by definition bukan militerisme, karena
ia merupakan sistem keamanan mandiri masyarakat lokal
dan punya fungsi sosial yang penting. Tetapi by
design, ronda kampung bisa dikategorikan sebagai
militerisme, sebab ia memobilisasi massa untuk
persiapan perang. Bahkan dengan sistem Hankamrata,
militer melakukan intervensi terhadap ronda kampung
dengan mengganti nama menjadi "siskamling". Parat
Koramil dan Polsek sering memberi bekal pelatihan pada
seski keamanan kampung, agar mereka punya kepiawaian
menjaga keamanan kampung. Dalam praktiknya, massa yang
terlibat dalam ronda kampung punya otoritas
menggunakan sarana kekerasan untuk melawan orang-orang
yang mengganggu kampung, seperti pencuri sampai tamu
pria yang bermalam di rumah perempuan. Tidak jarang
para petugas ronda kampung membunuh pencuri secara
massal maupun "menangkap" tamu pria yang tidak izin ke
Ketua RT setempat. Berdasarkan penelitian kami,
kampung Terban (Kota Yogyakarta) termasuk yang paling
ganas dalam hal ronda kampung. Di kampung ini,
beberapa kali terjadi pembunuhan massal secara kejam
terhadap pencuri, dan apabila Anda ngapel ke asrama
puteri akan segera diingatkan oleh petugas keamanan
bila jam 21.00 WIB tidak segera pergi. Berdasarkan
penelitian kami, warga di lima desa penelitian umumnya
menerima praktik-praktik militerisme sebagai sebuah
kewajaran. Soal Satgas dan Banser misalnya, diterima
dan dipahami sebagai perwujudan ksatria yang gagah
berani serta membantu masyarakat dalam berbagai bidang
kegiatan sosial. Tampaknya, masyarakat di Terban,
Janten (Kolonprogo), Wukirsari (Bantul), Tambakromo
(GK), dan Sumberagung (Sleman), memang betul prinsip
"desa mawa cara, negara mawa tata" serta menempatkan
ronda kampung sebagai perangkat untuk menjawa "wibawa
desa" di hadapan desa lainnya. Tetapi masyarakat belum
mempunyai kesadaran kritis akan budaya kekerasan yang
melekat dalam tradisi militerisme, entah dalam Satgas,
Banser sampai ronda kampung yang tidak segan-segan
membunuh pencuri secara sadis. 

Agenda Demiliterisme
Demiliterisasi bisa disebut sebagai upaya mengakhiri
intervensi politik militer hingga meminggirkan militer
ke baraknya. Di Indonesia, agenda penting
demiliterisasi adalah pencubatan Dwifungsi, untuk
mengakhiri intervensi militer ke dunia
sosial-ekonomi-politik serta membubarkan struktur
teritorial tentara. Namun pencabutan Dwifungsi belum
memadai untuk kepentingan demiliterisme. Demiliterisme
tentu saja jauh lebih kompleks ketimbang
demiliterisasi (pencabutan Dwifungsi), karena harus
mengikis nilai-nilai, perilaku, serta organisasi yang
tumbuh dalam masyarakat sipil. 

Dalam konteks ini, banyak agenda penting demiliterisme
yang bisa dilakukan, terutama pendidikan politik
antimiliterisme atau pendidikan demokrasi sebagai
tandingan atas militerisme. Pendidikan politik antara
lain bisa diawali dengan diseminasi isu militerisme.
Diseminasi pengetahuan militerisme bukan bermaksud
memperkuat praktik-praktik ala tentara, tetapi
bertujuan menunjukkan bahaya dan akibat buruk praktik
militerisme. Harapannya, pengenalan isu militerisme
melalui segi-segi negatifnya terhadap proses
demokratisasi akan memberi dua manfaat. Pertama,
memperluas dan memperkuat perhatian, pengetahuan dan
pemahaman publik tentang militerisme. Kedua, menggelar
wacana tandingan terhadap pelaku-pelaku yang masih
saja memanfaatkan militerisme dan kekerasan untuk
memperjuangkan kepentingan atau menyelesaikan konflik
sosial. Tepatnya, diseminasi pengetahuan tentang
militerisme menampilkan dirinya dalam wujud kampanye
antimiliterisme. Kampanye antimiliterisme bisa
dilakukan dengan banyak cara. Mulai dari bentuk yang
formal seperti pelatihan, workshop, tulisan ilmiah,
sampai selebaran, atau lomba melukis antimiliterisme.
Kampanye bisa menggunakan media sekolah, pesantren,
organisasi sosial, arisan kampung, media massa dan
lain-lain.

Bogor, 1-2 Agustus 2000.
Catatan:
1.      Makalah dibawakan dalam Konferensi Nasional
LSM/Organisasi Non Pemerintah, PACT-INPI�CSSP, Hotel
Salak, Bogor, 1-4 Agustus 2000. 
2.      Staf Institute for Research and Empowerment (IRE)
Yogyakarta, editor dan angggota tim penulis buku
Masyarakat Pasca-Militer: Tantangan dan Peluang
Demiliterisme di Indonesia (Yogyakarta: IRE dan Pact
Indonesia, 2000).

http://members.fortunecity.com/edicahy/selectedworks/demiliterisme.htm


        
                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Vote for the stars of Yahoo!'s next ad campaign!
http://advision.webevents.yahoo.com/yahoo/votelifeengine/


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke