http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2004/0717/bud2.html

Menuju Kebudayaan Baru itu Meniru Barat
Meneropong Thaha Husein dan Sutan Takdir Alisyahbana
 

Oleh Aguk Irawan Mn 

Di saat gelombang perdebatan Manikebu Vs Lekra bertemu
di puncak yang sangat sengit (1950-1965), Mesir juga
mengalami persengketaan yang meluap dan tak kalah
sengitnya. Permasalahannya juga tak jauh berbeda,
yaitu dalam hal dan cita-cita "mewujudkan kebudayaan
baru" persoalan itu digiring melalui konsepsi "bahasa
dan sastra Arab". Pelaku perdebatan adalah para
eksponen modernisasi dan eksponen tradisionalisasi.
Dalam perdebatan tersebut, ada satu nama yang sangat
penting. Ia bernama Thaha Husein (1889-1973),
sastrawan tunanetra yang pernah menjabat sebagai
menteri pendidikan di Mesir (1950-1952). Husein lahir
pada tanggal 14 Nopember 1889 di kota kecil Maghargha
dari keluarga petani. 
Pendidikannya diawali di Kuttab, lembaga pendidikan
dasar tradisional, dan kemudian melanjutkan di
al-Azhar (1902). Setelah belajar kira-kira sepuluh
tahun, ia meninggalkan al-Azhar karena tidak menyukai
dan tidak disukai.
Husein kecewa dengan sistem pengajaran al-Azhar yang
dogmatis, serta materi pelajarannya yang amat
tradisional dan menjemukan. Husein muda melanjutkan
pendidikannya di Universitas Cairo, dan di Universitas
Sorbonne Prancis. Gelar Doktornya diperoleh di
Universitas Cairo dengan disertasi berjudul "Dhikra
Abu al-`Ala' al-Ma'ari" sedang di Sarbonne berjudul
"Etude Analitique Et Critique De La Philosophie
Sociale Ibnu Khaldun." 
Di Sarbonne, Husein bertemu sederetan ilmuwan ternama,
semisal Profesor Emile Durkheim (1858-1917) dalam
disiplin ilmu sosiologi. Profesor Gustaf Block dalam
disiplin ilmu sejarah (ahli sejarah Romawi), Profesor
Casanova dalam ilmu tafsir dan Profesor Pierre Jenet
dalam Ilmu Psikologi. Perkenalan itulah yang mewarnai
intelektualitas Husein hingga menghasilkan
gagasan-gagasan yang sangat kontroversial pada
zamannya. Puluhan buku ditulisnya, dan setiap buku
mendapat perhatian yang serius di masyarakatnya. Di
antara yang populer adalah Fi al-Syi'ri al-Jahili,
ditulis pada tahun 1926, saat ia dipercaya menjadi
dosen sejarah sastra Arab pada Fakultas Sastra,
al-Ayyam, dan Fi al-Adab al-Jahili (1927), Mustaqbal
al-Saqafah fi Misr, dan The Future of Culture in Egypt
(1938). 

Penyegaran Kembali
Perdebatan diawali saat Thaha Husein mengatakan bahasa
dan sastra Arab harus mengalami modernisasi dan
"penyegaran kembali". Seperti penyair Jerman Friedrich
Ruckert, Husein juga mengatakan bahwa sastra adalah
lidah utama umat manusia. Sebab kehadirannya bisa
menjadi wahana bagi perubahan sosial di zaman modern,
serta menghubungkan manusia dengan peradaban di dunia.
Ia juga menilai ada sesuatu yang "getir" pada sastra
Arab, yang tetap mempertahankan sastra Jahili
(pra-Islam) sejak 14 abad tahun silam. 
Selain itu, menurutnya, sastra arab digunakan sebagai
penyanggah kekuatan dekadensi bahasa yang justru
memperkuat tradisionalisme yang lebih berbau dogma
agama dan menentang pembaruan. Maka kebangkitan
kembali bahasa dan sastra Arab masa pra-Islam, yang
bersifat bebas dan membebaskan adalah sesuatu yang
lazim. Bahkan lebih dari itu Husein mengatakan bahwa
al-Quran adalah karya sastra dan hasil produk
peradaban Arab.
Gagasan Husein saat itu dinilai terlalu "berani" oleh
sejumlah ulama al-Azhar, dan serta- merta ditolak oleh
tokoh kebudayaan, semisal Muhammad al-Khudar Husein,
Musthafa Shidiq ar-Rafi'i, Muhammad Farid Wajdy,
Rasyid Rida, Anwar Jundy dan Maryam Jamelah. Kritik
tersebut setidaknya dapat ditelusuri dalam buku Anwar
Jundy, Thaha Husayn, Hayatuhu wa fikruhu fi Mizan
al-Islam dan Maryam Jamelah, Islam and Modernism atau
pada as-Sira' bayna al-Fikrah al-Islamiyah wa
al-Fikrah al-Gharbiyah Fial-Aqtar al-Islamiyah karya
Abu al-Hasan 'Ali al-Husni an-Nadawi.
Namun, Husein tidak sendiri. Penyair terkenal seperti
Syauqi Dhaif dan Suhair Al-Qalamawi muncul sebagai
pembelanya dan turut menjadi bintang gemerlap dalam
perbincangan mengenai pembaruan bahasa dan sastra
Arab. Sejak masa itu, muncul mazhab baru bahasa Arab,
yang dirasakan sebagai pendorong dinamika dan
perubahan sosial.
Menuju kebudayaan baru di Mesir, menurut Husein, harus
memiliki kemerdekaan intelektual. Untuk
mendapatkannya, tidak ada jalan lain kecuali mengerti
cara memperolehnya. Maka umat Islam harus memandang
bagaimana bangsa-bangsa yang telah maju mencapai
kemerdekaan tersebut. Langkah terakhir adalah
bagaimana ilmu pengetahuan yang merdeka tersebut
ditransfer ke negeri-negeri Islam. Husein memimpikan
bahwa "otak" Mesir harus berubah sembilan puluh
derajat menjadi "otak" Barat, dengan cara memboyong
"warna" kebudayaan Barat ke segala lini kehidupan
masyarakat, sebab Mesir mempunyai pertalian erat
dengan "otak" Yunani. 
Menurutnya, pikiran Mesir tidak mempunyai kaitan yang
kuat dengan Pikiran Timur, dan juga tidak serasi
dengan pikiran Persia atau Iran. Mesir mempunyai
ikatan yang teratur, damai dan saling menguntungkan
hanya dengan Barat dan Yunani. Perkataan lain adalah
bahwa tak ada satu kebodohan yang lebih besar dari
anggapan bahwa Mesir sebagai bagian dari Timur dan
memandang pemikiran Mesir sebagai pemikiran Timur,
semisal India atau Cina. Atas dasar itulah Thaha
Husein mengajak orang-orang Mesir memiliki peradaban
Barat sebagai peradaban mereka, dan bersekutu dengan
Barat dalam semua norma, cara perasaan dan
perundangan.

Polemik Kebudayaan
Di tanah Air hal serupa juga terjadi. Peristiwa itu
disebut Polemik Kebudayaan (1935-1936). Dalam
perdebatan itu, ada anak muda yang resah terhadap
negaranya. Ia adalah nama yang penting bagi sejarah
kebudayaan Indonesia, yaitu Sutan Takdir Alisyahbana
(1908-1994). Ia lahir di Minang 11 Februari 1908,
dikenal sebagai penyair, novelis, filsuf, ahli hukum,
dan futurolog. Pola pikiran Thaha Husain dan Sutan
Takdir memang sejalan. Tak ada yang simpang siur dalam
hal dan cita-cita "mewujudkan kebudayaan baru". 
Latar pendidikan Sutan Takdir adalah sekolah tinggi
kehakiman (Rechtshoge school). Jakarta (1941), gelar
meester in de rechten (Mr) melekat pada namanya, di
samping gelar Profesor dan Doktor. Tahun 1948 ia pergi
ke Amsterdam mengunjungi Kongres Filsafat. Sebelumnya,
ia sudah belajar filsafat ke Jerman, Belanda,
Perancis, AS dan Jepang. Pernah juga menjadi Felllow
pada Center for Advanced Studies in the behavioral
science, Standart (1956-61) dan East-West Center,
Hawaii (1961-62). Tahun 1963-1668 ia menjadi dosen di
Kuala Lumpur. Pada tahun 1972 atas dorongannya Kongres
Filsafat sedunia terselenggara. Sebagai lanjutan dari
Kongres tersebut, bersama budayawan se-Indonesia dan
bangsa lain ia mendirikan Association Fort Art Anda
the Future, disusul Kongres II (1990). Ia juga menjadi
anggota organisasi internasional, antara lain Societe
de Linguistique de Paris dan UNESCO, International
Commision for the Scientific dan Cultural Development
of Mankind and Study of Mankind, USA. Di tahun 1970 ia
menerima bintang Satyalencana Kebudayaan oleh
Pemerintah Jerman Pada 1976, kemudian ia diangkat
sebagai anggota kehormatan dari Koninklijk Instituut
voor Tall, Landa en Volkenkunde, Leiden, Belanda.
Puluhan buku juga berhasil ditulisnya, dan setiap buku
mendapat perhatian yang serius di masyarakatnya. Yang
paling populer adalah roman ide berbentuk novel Layar
Terkembang (1936) yang bercerita tentang emasipasi
wanita. Disusul Grotta Azzura (1979), Kalah dan Menang
(1978) yang berbicara masalah filsafat kebudayaan.

Penyegaran Bahasa dan Sastra
Sebagaimana polemik di Mesir, bagi Sutan Takdir, untuk
menuju masyarakat dan kebudayaan baru, harus dimulai
dari penyegaran bahasa dan sastra. Dalam pidatonya
yang sangat berani Sutan telah mengecam bahwa nyaris
tak ada perkembangan bahasa Indonesia-bahkan
perkembangannya malah menuju "pengeromoan", yang
dipegang kaum tradisionalis dan antipembaruan.
Ironisnya, keadaan itu justru didukung Lembaga Bahasa
Pemerintah saat itu. 
Menurutnya bahasa dan sastra adalah jantung kebudayaan
sebab terlibat dan menyatu dalam dinamika masyarakat.
Maka sebagai reaksi yang nyata, Sutan menampik bentuk
sastra lama, jenis pantun dan syair. "Kita buang dan
lupakan saja sastra lama dan kita bangun sastra yang
baru" begitulah jargon yang selalu melekat di
bibirnya. Berani memang!
Sebagai wujud dari kata-kata itu, ia bergegas
membentuk sastra baru, yaitu sastra soneta (1933), dan
menerbitkan sekaligus memimpin Pujangga Baru, majalah
Indonesia pertama untuk bidang sastra dan budaya. Ia
pun menerbitkan buku Kebangkitan Puisi Baru Indonesia.
Pada waktu terjadi polemik kebudayaan, Sutan baru
berusia 27 tahun. Lewat tulisannya Menuju Masyarakat
dan Kebudayaan Baru, ia membagi sejarah kita menjadi
dua bagian yang sentral, pertama zaman pra-Indonesia
sampai akhir abad ke-19, kedua zaman Indonesia.
Menurutnya, zaman Indonesia tidak boleh dianggap
sebagai sambungan dari zaman pra-Indonesia yang
dikecamnya sebagai zaman jahiliyah Indonesia. Sebab,
di sana ada perbedaan yang terlalu jauh. Pada zaman
Indonesia, terdapat semangat yang belum ada dalam
zaman Jahiliyah Indonesia, yaitu semangat bersatu
untuk menuju kebudayaan baru dan layak di sisi
bangsa-bangsa lain. Sedang zaman pra-Indonesia adalah
zaman yang mirip suku baduwi di Arab yang tak mengenal
peradaban dan kebudayaan, ditandai dengan penolakan
kebudayaan luar.
Maka dari sinilah, Sutan menghendaki bangsa Indonesia
harus lebih dinamis dan maju setapak. Lalu ia
memberikan solusi, menawarkan obat yang mujarab bagi
penyembuhan luka atas dekadensi zaman jahiliyah
Indonesia yang berlangsung lama. Obat pilihan itu
adalah memperkenalkan kebudayaan Barat melalui segala
lini institusi masyarakat dan pendidikan. Mirip yang
terjadi pada Thaha Husein di Mesir, Sutan Takdir juga
berpolemik dipicu dari pembentukan kebudayaan baru,
dengan mengusung nilai-nilai Barat, sebagai lawan dari
kebudayaan Timur yang dianggapnya jumud.
Tapi gagasan ini memang tak diterima semua kalangan.
Bahkan ada yang sangat tersinggung. Mereka mengira
bahwa Sutan telah mengejeknya sedemikian rupa budaya
Timur yang luhur dan santun. Memang Sutan telah
menuding bahwa kaum pesantren yang feodal dan Taman
Siswa yang egoistis dan materialistis tak mampu
membawa napas budaya bangsa yang terpuruk yang hampir
ajal.
Maka polemik meledak di Pujangga Baru, surat kabar
Suara Umum, Pewarta Deli dan lain-lain. Sutan terjun
dengan mata yang menyala dan menyerang tokoh
kebudayaan dan pendidikan saat itu. Seperti Sanusi
Pane, Poerba Tjaraka, Sutomo, Tjindarbumi, Adinegoro,
M. Amir, 
dan Ki Hajar Dewantara. Sejak saat itu polemik pun
terus dimulai, hingga menyeret dialog berbagai tema
penting dalam rangka pembangunan kebudayaan Indonesia
baru- masa depan ke kancah politik praktis. Saat itu
Sutan memang menyerukan untuk membangun integritas
individu pencipta budaya, dengan landasan kebebasan
kreatif yang demokratis, disertai wawasan
internasional. Namun lagi-lagi gagasan itu diadang
kelompok yang dipimpin Sanusi Pane dan Ki Hajar
Dewantara. Sutan dianggap telah bersekongkol dengan
para kolonial Belanda. Sementara itu, tokoh seperti Ki
Hajar Dewantara justru ingin menguburkan sisa-sisa
kebudayaan kolonial. Selain itu yang ditakutkan oleh
Ki Hajar adalah rendahnya tingkat pendidikan rakyat
Indonesia. Barangkali inilah yang tidak diperhatikan
oleh Sutan Takdir Alisyahbana dengan sikap ekstremnya
untuk "menoleh ke Barat" dalam polemik kebudayaan
1930-an. 
Mereka yang menentang Sutan Takdir tidak mengingkari
pencapaian-pencapaian kebudayaan Barat. Mereka pun
hasil dari pendidikan modern Barat. Yang mereka
permasalahkan adalah landasan kebudayaan Indonesia
sendiri yang harus kokoh, sehingga siap berdialog
dengan budaya Barat. Sebab kalau tidak, "melihat ke
Barat" dari Sutan Takdir akan menjadi sebuah
pengabdian.
Tapi kini, kolonial sudah lama hengkang, dan di saat
Mesir sudah mulai merasakan sumbangan Thaha Husein.
Jepun, India, Taiwan, Korea Selatan, Eropa Timur dan
Russia telah melalui proses pencerahan, berkat
kesadaran mereka terhadap kebudayaan Barat yang
ditandai dengan meningkatnya ilmu pengetahuan. Lantas
kebudayan baru dan "progresif" macam apa yang
seharusnya lahir dan berkembang- yang bisa mendorong
lahirnya sebuah masyarakat yang demokratis, egaliter,
sebagai prasyarat dasar dari seluruh proses
penyelesaian setiap krisis, di Indonesia yang
terkapar? Barangkali Impian Sutan memang patut
diperhitungkan dalam kondisi dewasa ini.

Penulis adalah Peneliti Kebudayaan pada LkiS
Yogyakarta, dikenal sebagai sastrawan, penyair dan
esais.
 
  
   
 














[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke