SURAT KEMBANG KEMUNING: "BELAJAR SAMPAI KE NEGERI CINA" [2]. [Menyambut Rencana Pengajaran Bahasa Mandarin di SLTA Indonesia]
Sejarah hubungan antara kedua negeri dan rakyat Tiongkok-Indonesia memang seperti gelombang yang naik turun , mengenal pasang dan surat. Hubungan tersebut pernah berada pada saat-saat paling gelap dan suram, terutama di saat-saat menyusul terjadinya Tragedi Nasional September 1965, di mana RRT dan Partai Komunis Tiongkok oleh Orde Baru dituduh tanpa bukti telah terlibat. Di saat-saat gelap dan suram ini, sesaatpun Republik Rakyat Tiongkok [RRT] tidak pernah mengabaikan studi Indonesia dan bahasa Indonesia. Di Institut Bahasa-Bahasa Asing di Kanton dan di Beijing, bahasa Indonesia tetap diajarkan dan dipelajari karena pemegang kekuasaan politik di Beijing yakin, masa suram bukanlah periode abadi, tapi kesementaraan belaka. "Dalam saat-saat paling gelap jangan katakan matahari telah luruh. Pada saat-saat begini, secercah cahaya memberi makna", dipegang teguh oleh para pemegang kekuasaan politik RRT, karena itu mereka tidak menghentikan studi dan program pendidikan bahasa Indonesia. Barangkali mereka juga memandang bahwa hubungan antara Indonesia dan Tiongkok adalah hubungan yang tidak bisa dipenggal dan diputuskan selamanya oleh siapapun. Sejalan dengan pilihan politik ini maka Di Tiongkok Selatan bahkan diadakan sebuah kampung di mana para Hoa Kiau Indonesia mempunyai kampung tersendiri. Di kampung ini para Hoa Kiau asal Indonesia hidup dengan kebiasaan dan budaya mereka sewaktu di Indonesia. Dan di "kampung Indonesia" inilah pada masa-masa gelap hubungan kedua negeri, para mahasiswa yang mempelajari masalah dan bahasa Indonesia mempraktekkan bahasa Indonesia yang mereka pelajari di perguruan tinggi. Sedangkan Indonesia? Bagaimana sikap Indonesia pada masa Orde Baru [Orba]? Di negeri ini, di Indonesia, etnik Tionghoa yang sesungguhnya dan senyata-nyatanya tidak lain dari warganegara Republik Indonesia [RI] disebut sebagai "warga keturunan", penyebutan dan perlakuan yang memperlihatkan ketidaksamaan di depan hukum. Mengapa perlu diembel-embeli dengan istilah "warga keturunan" sementara semuanya adalah warganegara RI dan jika mau jujur semua warganegarat RI sesungguhnya juga tidak lain dari warga keturunan juga adanya. Ada semacam tekanan, kalau bukan tekanan yang sejati-jatinya, lebih-lebih ketika Orba Soeharto menguasai negeri, untuk merobah nama dengan dalih "indonesianisasi" dan "asimilasi", sedangkan menjadi Indonesia dan keindonesiaan itu adalah suatu proses sadar dan sejarah. Ke Indonesiaan dan menjadi Indonesia adalah suatu proses integrasi sadar dan alami. Bukan administratif! Sekalipun administrasi patut melakukan peran pengaturan tanpa melanggar hak asasi dan inti keragaman. Padahal Indonesia itu adalah suatu negeri dan bangsa majemuk. Indonesia adalah sebuah negeri, sebuah republik, sebuah bangsa baru yang terdiri dari berbagai asal turunan dan asal bangsa. Tidakkah keragaman ini membesarkan hati dan membanggakan? Dan tidakkah kemajemukan ini akan tercermin nyata melalui nama etnik yang dipakai dan tadinya telah dipilih? Karena alasan ini maka saya merasakan keindahan Indonesia saban membaca dan mendengar nama Kwik Kian Gien, Lim Swie King, Tan Giok Nio, Ong Oen Kiong, I Tiong Gie, Tan Sioe Lan, Hung Hsia, Hoo May Kwie, Ferry Soneville, Tony Pogacnick, Gonzalez, Takege, Manurung, Salundik Gohong, Tuah Pahu, Nyahu, Aguk Irawan, Fauzi Abdulah, Mohamad Romli, Teuku Zainal Afifudin, Teuku Iskandar, Putu Oka, Ktut Tantri, Kraeng Kalesong, dan lain-lain... Pada zaman Orba pula pemakaian bahasa Tionghoa dan pengungkapan budaya etnik Tionghoa telah dilarang, sekolah-sekolah Tionghoa ditutup berangkat dari kecurigaan Orba bahwa melalui penggunaan bahasa Tionghoa akan menyediakan pintu tak terkunci dan terbuka bagi "subversi komunis", kolone ke-V RRT yang komunis". Padahal pelarangan administratif terhadap ide Marxisme di Indonesia pun sesungguhnya bukti dari sikap cupet dan tertutup yang berlawanan dengan kemajemukan negeri dan bangsa. Pada zaman Orba, dengan mata kepala sendiri, saya menyaksikan petugas-petugas imigrasi, bertindak sesuai dengan larangan penggunaan bahasa Mandarin ini, telah menyita majalah dan buku-buku berbahasa dan bertuliskan huruf Tionghoa dari para penumpang yang baru turun pesawat, tanpa paham apa isi majalah dan buku-buku itu. "Sweeping" membabibuta ini juga terjadi ketika beberapa tahun lalu terjadi terhadap yang disebut "buku-buku kiri". Padahal, menurut pandangan saya, Indonesia adalah milik semua etnik, asal turunan dan rupa-rupa aliran, pandangan dan keyakinan. Indonesia jadinya adalah suatu tuntutan untuk bisa hidup secara majemuk dan menuntut kemampuan mengelola kemajemukan itu. Mana ada negeri dan kenyataan bermasyarakat manusiawi di dunia ini yang monolit dan tidak majemuk? Pemaksaan melalui tindakan-tindakan administratif untuk membangun Indonesia dan membentuk bangsa Indonesia, tak ada nama lain dari pada anti kemajemukan, mengkhianati ide Republik, mengkhianati Indonesia dan keindonesiaan itu sendiri sehingga mengancam eksistensi bangsa, negeri dan RI. Kalau kita memang mau menjadi Indonesia, maka tuntutan-tuntutan yang dilahirkan dan dimunculkan oleh nama Indonesia itu selayaknya diujudkan dalam pilihan politik sesuai dengan kemajemukan itu dan tertuang juga pada pilihan bentuk negara yang tanggap aspirasi dan kenyataan. Penguasa Republik patut jelas apa arti Indonesia dan RI. Karena itu saya masih pada pendapat bahwa salahsatu sumber ancaman utama eksistensi Indonesia dan RI tidak berasal dari daerah dan pulau, atau rupa-rupa etnik, tapi dari Jakarta sendiri. Barangkali dalam usaha menjawab tuntutan untuk bisa hidup secara majemuk dan kemampuan mengelola kemajemukan ini, akan berguna untuk sejenak melihat politik etnik RRT, sebuah negeri dan bangsa besar dan luas yang juga sangat majemuk. [Bersambung....] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

