Jawa Pos Jumat, 23 Juli 2004, Dilema Negara Semikolonial Oleh Aris Sustiyono *
Mulai zaman penjajahan sampai pasca kemerdekaan seperti sekarang, bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh negara-negara asing, meski dalam urusan domistik sekalipun. Jika kita mencermati perjalanan sejarah bangsa Indonesia, dari segi kemajuan maupun keterbelakangan dalam segala bidang, kita selalu dipengaruhi arus luar yang terus menderu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Fenomena tersebut juga sangat tampak dalam pemilihan presiden (pilpres) putaran pertama 5 Juli lalu. Entah didasari semangat nasionalisme (kebangsaan) yang dalam atau karena faktor kekalahan yang melatarbelakangi pernyataan Kwik Kian Gie tentang campur tangan asing dalam pilpres putaran pertama dengan menuduh R. William Lidle dan Jimmy Carter sebagai orang asing yang seolah-olah lebih menguasai proses pilpres sekaligus mendikte bangsa Indonesia, hal itu menjadi hangat untuk dicermati. Pernyataan tersebut lantas menimbulkan beragam argumentasi dari berbagai kalangan, baik yang pro maupun yang kontra. Karena itu, perdebatan tersebut menarik didiskusikan lebih lanjut melalui catatan ini. Ada dua interpretasi pernyataan Kwik yang cukup penting diuraikan. Pertama, bagaimanapun, pernyataan tersebut harus menjadi warning bagi kita. Pernyataan itu sesungguhnya tidak bisa disalahkan. Sebab, keterlibatan asing memang benar adanya. Tetapi, hal tersebut juga tidak sepenuhnya bisa dibenarkan. Jika kita menengok ke belakang, sinyalemen intervensi asing merupakan indikasi nyata bahwa negara Indonesia sebagai negara pascakolonial belum sepenuhnya memiliki kemerdekaan. Dilihat dari segi aparatus kelembagaan negara, baik secara de jure maupun de facto, Indonesia merupakan negara merdeka. Namun, dalam mengambil kebijakan publik, Indonesia belum seutuhnya merdeka. Sebab, banyak tekanan dan kepentingan asing yang juga harus diuntungkan atas kebijakan yang diambil tersebut. Banyak kasus yang bisa dilihat sebagai sebuah intervensi asing, bukan hanya masalah pilpres. Intervensi IMF, World Bank, CGI, dan sebagainya terhadap perekonomian Indonesia merupakan rangkaian sistematis yang tentu telah merusak tatanan berbangsa serta bernegara. Dan, masih banyak hal yang sangat merugikan bangsa Indonesia. Fenomena tersebut menunjukkan, oleh banyak kalangan, posisi Indonesia dinilai sebagai negara semikolonial. Negara yang semestinya berperan sebagai protektor atas seluruh kepentingan rakyatnya, tetapi karena tekanan dan intervensi asing, akhirnya menempatkan negara menjadi predator bagi rakyatnya sendiri. Kasus penggusuran di berbagai kota/daerah serta diabaikannya kesejahteraan petani, buruh, nelayan, kaum miskin kota, dan seterusnya merupakan tindakan negara yang tidak populis serta cenderung mengakomodasi kepentingan kaum modal. Dalam konteks tersebut, ketika orang-orang di lingkaran kekuasaan yang semestinya mengatur roda pemerintahan untuk menerapkan kebijakan yang menyejahterakan justru menyengsarakan, kepada siapa semangat nasionalisme kita pertanyakan? Sehingga, tidak jarang rakyat selalu dibuat frustrasi oleh kebijakan pemerintah yang seperti itu. Semangat nasionalisme akhirnya berangsur-angsur menemukan titik jenuh yang berakibat pada hilangnya rasa kebangsaan kita. Sehingga, hal tersebut juga berpengaruh pada jatuhnya harga diri serta martabat bangsa di mata dunia internasional. Kedua, sebagai pribadi, rasa kebangsaan Kwik harus kita akui dan kita teladani. Karena itu, pernyataan dia merupakan hal yang harus didengarkan secara objektif dan ditanggapi dengan sikap yang rasional. Hanya, dengan posisi Kwik sebagai menteri perencanaan pembangunan nasional/ketua Bappenas dalam Kabinet Gotong Royong yang dipimpin Presiden Megawati sekaligus sebagai fungsionaris PDIP, pernyataan tersebut jadi terkesan tidak netral. Apalagi, hal itu dipengaruhi perolehan suara pilpres, kandidat capres-cawapres dari PDIP (Mega-Hasyim) tidak begitu diuntungkan karena harus puas di posisi kedua di bawah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dari Partai Demokrat. Mengapa lontaran antiasing Kwik tidak sejak dulu muncul? Bukankah keterlibatan asing dalam pemilu sudah ada pada Pemilu 1999, bahkan pemilu legislatif 5 April lalu? Pernyataan tersebut tidak muncul pada momentum yang tepat. Dan, itu jelas sangat menunjukkan kepentingan Kwik sebagai seorang yang Megais, bukan sebagai seorang negarawan yang harus legawa menerima kekalahan PDIP dalam pilpres putaran pertama tersebut. Keterlibatan asing dalam pemilu tidak hanya ada pada pilpres, tetapi juga pada pemilu-pemilu sebelumnya. Sehingga, menurut sebagian kalangan, pernyataan Kwik tersebut merupakan upaya mencari kambing hitam atas kekalahan Megawati dalam pilpres putaran pertama. Kedua interpretasi terhadap pernyataan Kwik itu memang harus kita tempatkan secara proporsional sebagai bagian dari kritik sosial dia terhadap proses berbangsa dan bernegara yang demokratis. Di satu sisi, pernyataan tersebut merupakan peringatan keras kepada kita sebagai bangsa Indonesia yang harus memiliki kemandirian. Sehingga, tidak semua permasalahan bangsa Indonesia harus di intervensi asing. Namun, di sisi lain, jalinan dengan negara-negara asing harus kita tempatkan pada porsi yang seordinat (bukan subordinat). Sehingga, kita masih tetap mempunyai privasi yang tidak bisa dicampuri pihak asing. *. Aris Sustiyono, mahasiswa Universitas Janabadra, Jogjakarta ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

