TENTANG MANIFES KEBUDAYAAN

[Kepada Aguk Irawan Mn]


Sekalipun pernyataan saya ini bukan suatu argumen, tapi saya merasa perlu 
menggarisbawahinya bahwa berdasarkan pengalaman selama beberapa dasawarsa, telah 
membuat saya pribadi banyak menaruh dan mempunyai harapan serta gembira berkenalan 
dengan Bung. Tapi perlu juga Bung ketahui bahwa sikap dan perasaan ini tidak pernah 
menjadi pagar yang menghalang saya mengajukan pendapat. Barangkali saya akan dituding 
terlalu "Yogyakarta-sentris" kalau mengatakan bahwa "demikianlah tradisi Republik 
Beringharjo" di mana sebagai anak muda (waktu itu saya berusia sekitar 20-an tahun, 
lebih muda dari Bung sekarang)  mengikuti diskusi-diskusi terbuka dan bebas sesama 
seniman kota yang mengasuh saya dan tak terlupakan seumur hidup. Justru karena saya 
menaruh harapan besar kepada Bung dan kelompok Bung maka sesuai dengan tradisi 
"Republik Beringharjo" [yang sekarang mungkin telah pupus, mudah-mudahan tidak!] 
baris-baris ini saya tuliskan. 

Bagi saya tradisi "Republik Beringharjo" adalah suatu tradisi warga "republik 
berdaulat sastra-seni" dan juga tradisi menghormati serta menjunjung keragaman dan 
setiakawan manusiawi. Saya mengenangnya dengan kebanggaan dan kerinduan bahwa semua 
yang pernah hadir dari berbagai angkatan kemudian menunjukkan kesetiaan pada ide dan 
dan tradisi ini tak perduli dari alur pikiran apa yang mereka telusuri. Hal ini saya 
rasa perlu sampaikan, karena sering saya dapatkan tidak sedikit orang yang tumbuh pada 
masa Orde Baru menganggap kritik atau penyampaian pendapat berbeda atau sanggahan 
dipandang sebagai "meludahi muka seseorang". Tapi tentu saja saya percaya Aguk Irawan 
Mn bukan tipe manusia  seperti itu. Saya percaya Aguk memamahami benar bahwa  justru 
kritik, pengajuan sanggahan sebagai ujud dari kasihsayang , solidaritas dan perkawanan 
tulus dan meyakini bahwa perbedaan pendapat itu wajar. Sedangkan perkawanan menetapkan 
cara pengajuan pendapat dan sanggahan sesuai dengan sifat kontradiksi , jika mau 
berbicara secara filosofi.

Kalau memasuki masalah, maka Aguk benar bahwa "manifes kebudayaan" bisa "berwayuh 
arti" jika menggunakan istilah sosiolog Gadjah Mada, Djojodiguno almarhum. Oleh adanya 
wayuhan arti ini, maka Aguk benar dengan menggunakan istilah tersebut ia memasukkan 
empat manifes yang disebutkannya [lihat: lampiran]. Hanya saja penjelasan ini baru 
muncul belakangan, dan tidak diberikan isyarat dalam artikel Aguk yang diturunkan oleh 
Harian Sinar Harapan, Jakarta. Barangkali Aguk kurang waspada atau sengaja, hanya Aguk 
yang tahu, bahwa di negeri ini, kalau saya tidak salah, jika orang menyebut Manifes 
Kebudayaan maka serta-merta pembaca atau pendengar akan digiring kepada Manifes 
Kebudayaan yang oleh Pramoedya A. Toer secara sinis disingkat Manikebu. Jika Aguk 
memaksudkan dengan istilah "manifes kebudayaan" di luar persetujuan konvensional itu, 
barangkali penggunaan demikian perlu penjelasan sedikit jika tidak mau dikategorikan 
pada jargon.     

Kalau Aguk menulis:"Pembuktian ini dilakukan dengan menganalisa dan membandingkan 
manifes-manifes kebudayaan itu. (studi kepustakaan ini yang dikategorikan sebagai 
sumber primer soal MANIKEBU-Pendahuluan Kratz), maka saya ingin memberi komentar bahwa 
yang disebut sumber kepustakaan apalagi dari Kratz yang masih muda dari segi usia dan 
orang asing, bukanlah jaminan kebenaran. Denys Lombard, guru dan sahabat saya dalam 
sebuah kuliahnya di l'Ecole des Hautes Etudes En Sciences Sociales" [l'EHESS], Paris, 
pernah mengatakan secara tandas, agar "janganlah para Indonesianis merasa diri bahwa 
pengetahuan mereka tentang Indonesia melebihi orang Indonesia mengetahui soal 
Indonesia". Saya termasuk orang yang tidak menganggap bahwa ucapan dan pendapat para 
Indonesianis Barat sebnagai kebenaran tak tergugat. Saya juga tidak mendewakan mereka. 
Mereka tidak luput dari kesalahan baik dalam istilah maupun dalam analisa. Hal ini 
bisa kita beberkan dengan mengusut sejarah. Dalam sastra misalnya, kapan mereka mau 
mengakui bahwa sastra Indonesia tidak dimulai oleh Balai Pustaka kalau tidak dilawan? 
Pendapat ini dengan keras ditentang oleh Lekra [lihat: Bakri Siregar, "Sejarah Sastra 
Indonesia, I", Yayasan Pembaharuan, Jakarta, 1964; HR Minggu, Jakarta, Zaman Baru, 
Jakarta, dokumen-dokumen Lekra]  dan baru pada masa terakhir ini diakui sebagai 
sastrawan Indonesia nama-nama seperti Mas Marco, Semaun dan lain-lain, dan inipun 
belum tentu diterima oleh para kritikus serta sarjana sastra Indonesia.Artinya para 
Indonesianis Barat sadar atau tidak sadar, sesuai dengan kepentingan politik negeri 
mereka, ingin mendiktekan pendapat dan konsep mereka tentang sejarah kita. 

Dalam ilmu politik, para Indonesianis Barat mengatakan bahwa yang bisa menjadi 
presiden Indonesia jika mereka memenuhi tiga syarat: Jawa, Islam dan militer. Ketika 
Habibie, Gus  Dur, Megawati menjadi presiden apakah ada koreksi terbuka atas teori 
mereka? Contoh lain, yang ingin saya angkat adalah istilah "aksi polisionil" dan "aksi 
militer". Ketika menterjemahkan karya Pramoedya A.Toer, seorang Indonesianis Perancis 
berkonsultasi dengan seorang teman saya dari Koperasi Restoran Indonesia, Paris. 
Indonesianis Perancis itu ingin menggunakan istilah "aksi polisionil" guna melukiskan 
agresi kolonnialis Belanda terhadap Republik Indonesia yang waktu itu beribukotakan 
Yogyakarta. Mendengar ide itu, saya yang sedang ngepel lantai, berhenti karena tidak 
bisa menahan diri oleh sikap dan pandangan Indonesianis Perancis itu. Saya katakan: 
"Anda boleh menterjemahkan agresi kolonialis dengan "aksi polisionil". Tapi saya 
ingatkan bahwa secara wawasan "agresi militer" dan "aksi polisionil" itu sangat 
berbeda dan mempunyai konsekwensi berbeda. Perlu diketahui bahwa Pramoedya bukan budak 
Belanda. 

Belum lagi kalau kita ingat betapa para Indonesianis Barat yang memandang bahwa orang 
Melayu itu pemalas dan orang Jawa itu tidak punya tradisi berlawan, pendapat-pendapat 
yang senantiasa saya tentang. Perumusan-perumusan dangkal dan jauh dari kenyataan 
serta menghina. Dan masih banyak contoh lagi yang menunjukkan betapa pendapat para 
Indonesianis Barat patut didengar dan dibaca secara awas.  

Dengan ini, saya ingin mengatakan bahwa pendapat para Indonesianis Barat tidaklah sama 
dengan kebenaran. Sebagai orang yang bisa berpikir, selayaknya kita bersikap kritis 
termasuk terhadap pendapat Kratz. Mereka, para Indonesianis Barat itu tidak lebih 
hebat dari orang Indonesia dalam pengetahuan mengenai negeri kita sendiri. Saya 
khawatir jika kita membuta pada pendapat para Indonesianis Barat, kita digiring ke 
arah yang mereka inginkan atas nama ilmu sosial. Dengan kata lain kita dijajah atau 
terjajah atau sukarela jadi budakbelian mereka. Dampaknya, kita akan secara sukarela 
menyerahkan diri dan buntutnya, Indonesia pun jadi negeri jajahan model baru. 
Berpikiran bebas bagi saya tidak lain dari sikap kritis, termasuk pada pendapat para 
Indonesianis Barat. 

Saya pernah bertatapan muka dengan Kratz di Paris dan saya tidak menggaguminya 
walaupun saya menghargai usahanya sebagai dokumentalis yang orang Indonesia sendiri 
pun bisa lakukan, misalnya seperti yang dilakukan oleh H.B.Jassin. Yang dilakukan oleh 
H.B.Jassin tidak kalah penting dari yang dilakukan oleh Kratz. Secara pemikiran dan 
pengenalan lapangan justru saya lebih menghargai Aguk daripada Kratz. Dalam syarat 
minimum sekali Aguk yang lebih mengenal Indonesia daripada Kratz bagi saya jauh lebih 
bermakna daripada Kratz yang bekerja dengan syarat berkecukupan. Aguk bekerja untuk 
Indonesia dengan syarat-syarat minimal dan demi Indonesia yang diimpikannya, Kratz 
bekerja untuk karir dirinya atas nama ilmu sosial dan oleh keterbatasan pengenalannya 
bisa [mungkin tidak sadar] memutarbalikkan, mengacaukan kenyataan, melalui 
tafsiran-tasirannya bisa menjerumuskan. Pendapat Kratz dan para Indonesianis lain, 
sebaiknya tidak lebih kita jadikan bahan acuan dan tidak usah ditelan mentah-mentah. 
Mereka tidak lebih hebat dari orang Indonesia tentang Indonesia [Saya masih membatasi 
uraian dan bukti-bukti saya untuk tidak terlalu ngelantur].Kratz masih sangat saya 
ragukan jika bisa dijadikan "sumber primer" tentang masalah Manikebu-Lekra. Kratz 
adalah pendatang baru di dunia dokumentasi sastra Indonesia. Sudahkah Kratz 
mewawancarai berbagai nara sumber yang langsung terlibat? Aguk masih punya peluang 
lebih besar dari pada Kratz untuk mendapatkan sumber-sumber yang tidak didapatkan 
Kratz. Mengapa tidak?


Dengan alasan-alasan dan pengenalan di atas, maka saya kira keterangan Aguk dalam 
jawabannya kepada saya terasa tidak kuat, dan dengan rasa kasihsayang serta harapan 
terbaik, saya ingin [kalau boleh] selanjutnya Aguk perlu lebih cermat dalam 
menggunakan istilah. Apalagi dalam karya tulis. 


Komentar ini sekali lagi berangkat dari harapan dan kesayangan kepada Aguk yang penuh 
harapan. Maaf jika dirasakan terlalu berterus-terang, langsung dan kasar. Agar kita 
menjadi diri kita sebagai anak manusia yang punya harkat dan martabat. Saya bangga 
menjadi Indonesia dan bertarung mewujudkan kebanggaan ini.Saya pun bangga mempunyai 
kulit Dayak yang kuning tanda keragaman dan indahnya bumi!   


Paris, Juli 2004.
----------------
JJ.KUSNI


ACUAN:
---- Original Message ----- 
From: Aguk Irawan 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, July 23, 2004 6:52 PM
Subject: Re: [kmnu2000] DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: SATU SEGI DEBAT BUDAYA ANTARA 
MAKIEBU DAN LEKRA


Catatan:

Yang saya maksud Manifes Kebudayaan(1950-1965): adalah empat manifes kebudayaan yang 
lahir pada periode 1950-1965, yaitu: Surat Kepercayaan Gelanggang, Mukadimah Lekra 
1950, Mukadimah Lekra 1959 dan Manifes Kebudayaan 1963. Pembuktian ini dilakukan 
dengan menganalisa dan membandingkan manifes-manifes kebudayaan itu. (studi 
kepustakaan ini yang dikategorikan sebagai sumber primer soal MANIKEBU-Pendahuluan 
Kratz).  




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke