Dari Notes Belajar Seorang Awam:

CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [1].

Menyebut namamu,Guk, aku selalu membayangkan seorang joki muda penuh elan sedang  
berada di atas seekor kuda putih perkasa memacunya menjelajah padang-padang luas tak 
bertepi melomba matahari. Aku juga teringat akan kata-kata Alphone de Lamartine, 
penyair Perancis dalam sanjak "Danau"nya tentang "fajar yang merobek malam" atau 
baris-baris Chairil Anwar dalam sanjaknya "Kepada Kawan": 

"Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam"


Elan ini kukira perlu dimiliki oleh warga Republik Berdaulat Sastra-seni dan kau 
mencoba mengalirkannya jadi satu dengan darah dagingmu, mengentalkannya jadi penguat 
tulang-belulang pencarian, menggenggamnya sebagai "penyang pambelum kalunen" [sangu 
menarung kehidupan manusia], jika menggunakan ungkapan orang Dayak Kalimantan Tengah. 

Kekalahan, kegagalan, kepahitan, kemanisan dan  juga sementara hasil sempat diraih, 
tapi  selalu kita pandang tak seberapa, kita lihat dan hadapi sebagaimana adanya dan 
bukan sebagai puncak tempat berhenti [karena si joki tidak mengenal puncak sejati], 
tidak lebih dari penambah ramuan penyang pambelum itu.

Aku memang sudah tua sekarang, Guk. Bongkok, ubanan dan ompong. Berjalanpun 
tertatih-tatih. Tapi aku menolak berhenti sebagai "joki", tidak mau turun dari pelana. 
Tentu dan tentu kau ingin bergegas  maka pergilah lebih dahulu ke arah yang kau tuju. 
Sebelum kau menggerakkan tali kendali menepuk punggung kudamu memberi isyarat 
kepadanya guna berlari mengarungi padang, sebagai tanda sayang yang menyimpan harapan, 
ingin kututurkan kisah-kisah kecil yang barangkali bisa kau kenang kala sejenak kau 
istirah.  Ketika itu aku bayangkan kau tersenyum sendiri, menyenyumi kenangan dan 
bayangan, menyadari betapa kecil pun kasihsayang dan setiakawan, ia benar menjadi 
sesuatu sangat berarti bagi kita, kendati dan justru disebabkan karena pada kenyataan, 
mereka pun sangat langka dibandingkan dengan kemunafikan seperti yang pernah diucapkan 
oleh seorang penulis Perancis bahwa "manusia cenderung menyukai kejahatan dan 
kegelapan, maka Tuhan dan malaikat mereka ciptakan".

Yogyakarta, lagi-lagi aku bercerita tentang Yogya, kota pengasuh masa remajaku. Kota 
yang membekas dan memberi tanda pada hidupku. Ibu kedua yang selalu memanggilku 
datang. Kau ingat tentu bahwa aku pernah cerita tentang "Republik Beringharjo" yang 
berwargakan para seniman segala cabang dan aliran pandangan, berwilayahkan seluas 
wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta? Republik sastra-seni tanpa sultan tanpa presiden, 
tapi kuasa mengembangkan kemajemukan dan nilai-nilai republiken serta kemanusiaan.

Waktu itu usiaku jauh lebih muda dari kau sekarang. Baru lewat 20 tahun. Dengan 
latarbelakang sendiri, aku sudah meninggalkan Grup Teater Mahasiswa yang dipimpin oleh 
Rendra, guruku dalam artian harafiah,   dan bergabung dengan Lekra  [Lembaga 
Kebudayaan Rakyat]. Pada usia 22 tahun aku yang sampai sekarang sering diberi topi 
"liberal" , dipilih dan dipercayai memimpin Lekra kota Yogyakarta. Waktu itu 
Yogyakarta terdiri dari 14 kemantren [kecamatan]. Kepercayaan ini barangkali karena 
para anggota tahu semacam "kenekatanku" yang pada usia 19 tahun berani diskusi di 
depan forum nasional menghadapi Menteri Pendidikan & Kebudyaan Sarino dan tokoh-tokoh 
seperti Anas Ma'aruf dari Badan Musyarawarah Kebudayaan Nasional [BMKN] serta 
sastrawan-budayawan bernama lainnya. Mengapa mesti takut, Guk? Berpendapat adalah hak 
dan kebetulan aku dilahirkan sebagai sebagai anak Dayak. Sebagai Dayak, lingkungan 
mendidikku sesuai dengan konsep "nyanak jata rengan tingang" [putera-pueri naga, anak 
enggang], kalau berani hidup harus berani menang dengan semangat Isen mulang! [Tidak 
pulang jika tak menang!]. Mengapa lalu aku mesti gemetar menghadapi menteri dan 
seorang Anas Ma'ruf? Kecuali itu, aku juga memang anak alam yang diasuh sungai, hutan 
dan gunung, tak biasa terkungkung. Sebagai anak sungai, kalau melihat ada gelombang, 
kami berlomba menerjuninya untuk ditimang, kalau ada badai kami biasa malas pulang ke 
rumah. Kedahsyatan topan dan gelombang memberikan keindahan dan mengagumkan kehidupan 
masa kanak kami. Topan yang mengaduk rimba dan gelombang yang menggelorakan sungai, 
rahasia apa gerangan yang mereka simpan? Kami ingin menantangnya, menguji siapa yang 
lebih hebat sesuai dengan semangat olahraga "pintik", tanding fisik perorangan dengan 
bergantian menendang kaki yang bertanding, yang sering kami lakukan.   Belum lagi 
cerita-cerita kakek tentang naga dan tokoh-tokoh yang sanggup memangkas gunung dan 
mengeringkan tasik lumbah [laut luas]. Barangkali kemudian kau katakan bahwa aku 
sebagai anak alam tidak lain dari anak liar sulit diatur dan suka memberontak. Adalah 
hakmu berkata dan katakanlah. Tapi kukatakan, tidakkah dengan ini, adanya rupa-rupa 
budaya itu memperlihatkan kayanya Indonesia? Betapa indahnya kemajemukan, betapa 
Indonesia, konsep masih sedang menjadi?  

Aku datang ke Yogya masih sebagai anak alam setelah meninggalkan Jakarta yang 
kurasakan bentuk lain dari rimba-belantara. Manusia dan hewan campur-baur. Terkadang 
kulihat setelah berkunjung ke Tapanuli, babi di Tapanuli, lebih beradab dari sementara 
orang yang disebut manusia di Jakarta. "Babi beradab" adalah istilah Pramoedya A.Toer 
untuk melukiskan keadaan babi dalam artian harafiah di daerah ini, ketika kami 
bersama-sama mengunjungi daerah ini pada tahun 1960an. Sekarang mungkin Pram sendiri 
sudah lupa pada penilaiannya ini!].

Kemudian muncullah suatu hari pada tahun 1963, saya membaca Manifes Kebudayaan 
[selanjutnya saya singkat dengan "Manifes"] yang oleh Pram disingkat secara ironis 
dengan Manikebu. Warga "Republik Beringharjo", juga teman-teman dari Solo  sibuk 
berkonsultasi. Apa yang harus dilakukan, bagaimana bersikap terhadap Manifes, apalagi 
situasi politik nasional makin memanas dan sebagai warga "Republik Beringharjo" kami 
dituntut untuk bersikap. Bastari Asnin alm., salah seorang di antara warga "Republik", 
diam-diam ternyata sudah ikut menjadi penandatangan pertama Manifes. Dalam suatu 
pertemuan di tempat pelukis Arby Samah di belakang Museum Perjuangan untuk 
mendiskusikan masalah ini, ketika ditanyai kukatakan bahwa "aku sendiri tidak tahu 
latarbelakang Manifes ini.Barangkali dibaliknya ada suatu permainan politik terutama 
dari Seksi 1 Angkatan Darat, biasa disebut Skesi 1 [Dinas Intelijen Angkatan Darat]. 
Tapi aku tidak bisa membuktikannya. Karena itu, kukira yang terbaik, kita bebas 
bertindak sesuai dengan insting atau naluri masing-masing untuk menolak atau menerima. 
Kita tidak perlu takut melakukan kesalahan karena kesalahan bisa kita koreksi". 
Pendapat ini kuajukan karena para seniman dari angkatan lebih dahulu, demikian juga 
sebagai "konvensi" dari "Republik Beringharjo", kebebasan bersikap adalah suatu 
ketentuan yang menyatukan dan diterima bersama. Akhirnya diskusi memutuskan untuk 
membebaskan masing-masing yang hadir dalam bersikap sehingga kemudian sikap pun 
bermacam-macam. Ada yang menyokong, ada yang menolak. Sapto Hudoyo dan beberapa 
anggota Lekra lainnya termasuk menyokong Manifes. Ketika masalah menjadi makin jelas, 
mereka mengetawai diri mereka sendiri. 

Setelah satu dasawarsa lebih, ketika bertemu di Paris alm.Sanento Yuliman yang pada 
waktu itu bergabung dengan Sanggar Bambu pimpinan Mas Soenarto Pr dan yang menyokong 
Manifes, berkata dengan penuh penyesalan dan berang: "Kalau kutahu militer ada di 
belakangnya, mana pula akan kusokong". Pernyataan yang kujawab dalam pertemuan kembali 
kami yang pertama di Caf� Mabillon, Paris: "Kau kira aku tahu. Aku hanya bertindak 
sesuai naluri atau insting dan sedikit pengalaman di bidang pers dengan orang-orang 
yang bekerjasama atau digunakan oleh tentara. Tapi coba kau lihat kembali.Apakah di 
antara kita, baik yang menyokong atau menentang, telah melakukan kesalahan? Kukira 
tidak dan ya. Ya karena salah nilai. Dan kesalahan begini adalah wajar karena kita 
tidak cukup bahan pertimbangan untuk menilai. Terbatasnya analisa dan pengetahuan 
politik kita.Setelah  bahan sudah memadai,  seperti halnya dengan Rendra, ia menolak 
hadir di Konfrensi Karyawan Pengarang Seluruh Indonesia [waktu itu disingkat dengan 
KKPSI] di Jakarta. Yang menolak, barangkali bukan karena mereka benar dalam pengertian 
sadar, tapi karena naluri dan perbedaan pengalaman. Pernahkah kita saling mengutuk 
karena berbeda sikap?". Sanento memandangku lurus di mata. "Tidak bukan?". Sanento 
mengangguk tapi masih tidak bisa melenyapkan penyesalan dan kemarahannya karena merasa 
diperbidakkan. "Aku rasa saling menghormati dan memberikan kebebasan bersikap adalah 
salah satu kebesaran prinsip Republik Beringharjo. Kalau tidak mengapa kau mencariku 
dan aku menyambutmu hangat seperti dahulu?". Aku sendiri ketika di Yogyakarta 
mengucapkan pidato ulangtahun ke-13 Lekra memang menolak Manifes setelah membaca 
artikel Pram di Harian Bintang Timur. Ketika secara kebetulan di Malioboro,bertemu 
dengan Basuki Resobowo, Pak Bas [sebutan sehari-hari beliau] tidak memberikan jawaban 
yang jelas tentang soal Manifes.  Padahal Pak Bas adalah salah seorang pimpinan pusat 
Lekra. Terkesan padaku bahwa Pak Bas sendiri masih bingung, sehingga tidak memberiku 
penjelasan yang mantap. 

Keesokan harinya, Danarto mencariku di lapangan ketika aku mengikuti unjuk rasa anti 
agresi Amerika Serikat di Vietnam.Danarto menanyakan alasan penolakanku [Mudah-mudahan 
Darnarto masih ingat]. Kukatakan bahwa sikap demikian lebih berdasarkan naluri. Soal 
sesungguhnya masih gelap, ujarku kepada Danarto. "Tidakkah dengan pengutukan semalam, 
Mas mengutuk teman-teman sendir?" ujar Danarto.

"Sama sekali tidak karena yang kutolak adalah prinsip.Pandangan bukan teman", jawabku. 
Barangkali penyair dan budayawan A.Ajib Hamzah masih segar ingatannya akan hal ini. 
Kukira untuk mendapat pejelasan lebih jauh sebagai bahan bandingan dan memahami 
masalah sebagaimana adanya, barangkali kau bisa bertanya pada Ajib, pada Mas Goen 
[Goenawan Mohamad], pada Arief Budiman, Boen Oemariyati, Taufik Ismail,dan 
lain-lain... Sayang beberapa nara sumber langsung seperti Wiratmo Soekito, H.B. 
Jassin, Bastari Asnin, Sanento Yuliman , dan lain-lain sudah tak ada. Bertanya pada 
kedua pihak yang berdebat, kukira jauh lebih berguna sehingga bahan-bahan yang 
terkumpul bisa seimbang. Melihat masalah debat ini kukira masih mempunyai kegunaan 
untuk hari ini dan masa mendatang, karena dengan belajar sejarah sebagai mana adanya 
membantu kita menarik pelajaran dari pengalaman. 

Apa lalu yang bisa kutarik dari pengalaman ini, Guk? 

Yang terpenting bagiku, bahwa berbuat kesalahan termasuk sebagai hak  seperti halnya 
juga adalah hak untuk memperbaiki kesalahan. Kemudian aku pun melihat bahwa prinsip 
"Republik Beringharjo" tentang kemampuan untuk hidup majemuk masih berlaku. Oleh 
prinsip inilah kami dari berbagai angkatan bisa tidak terpecah dan tetap saling 
menghargai. Sekarangpun aku tidak mencerca jika ada orang yang melihatku dengan 
curiga, sebelah mata, dan takut pada diri sendiri serta bayangan diri. Bagiku menjadi 
anggota Lekra tidaklah nista dan kejahatan pertama-tama bukan karena menjadi anggota, 
tapi terutama karena sesungguhnya  Lekra membela dan menjunjung nilai-nilai suatu 
prinsip sastra-seni. walaupun karena menjadi anggota Lekra aku didera dan terbuang. 
Sampai sekarang aku belum mendapatkan dasar dasar rasional mengapa  karena menjadi 
anggota Lekra, tidak sedikit nmereka kehilangan hak menjadi warga Republik Indonesia 
dan dipinggirkan? Kemanusiaan dan nilai Republiken model apakah gerangan ini jika 
demikian? aku teringat pemberitahuanmu bahwa ada yang masih enggan menerbitkan 
tulisan-tulisanku karena aku pernah jadi anggota Lekra. Mendengarnya aku melihat 
rusaknya pola pikir dan mentalitas kita sebagai manusia dan anak bangsa. Nampak juga 
padaku betapa kerusakan kita di bidang ini oleh pilihan politik Orde Baru. Nalar 
digantikan prasangka, mata pikirpun rabun sehingga tidak bisa lagi melihat apakah 
Indonesia dan keindonesiaan itu.  Inilah yang kumaksudkan bahwa kita takut pada diri 
sendiri, takut pada bayangan sendiri, terganggu usaha kita menjadi manusia, menjadi 
anak bangsa dan negeri. Ketika memegang sedikit kekuasaan saja, kita makin rabun. 
Membaca sejarah dan belajar dari sejarah barangkali sesuatu yang mendesak bagi kita 
sekarang jika kita masih menginginkan Indonesia dan menjadi Indonesia ataukah 
Indonesia dan keindonesiaan sekarang hanyalah salah satu anak tangga untuk 
melikwidasinya? Dan tidakkah sesungguhnya sastra dan seni banyak menggeluti soal pola 
pikir dan mentalitas manusia?  

Paris, Juli 2004.
----------------
JJ. Kusni

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke