Surat Kembang Kemuning:

MENGHARGAI BAHASA NASIONAL

Mengomentari tanggapan saya terhadap tulisan R.William Liddle tentang masalah 
calon-calon presiden sekarang, seperti SBY dan Megawati, seorang teman dekatku menulis:

"[...],jawaban William Liddle....,menurutku, di luar bisa-tidaknya  diterima alasan yg 
diberi, bahasa dan kata kata yang dipakai baik sekali. Dlm seluruh tulisannya, tidak  
ia pakai sebuah kata asing sekali pun. Seluruhnya  dari awal hingga akhir, Liddle 
sepenuhnya menggunakan kosakata bahasa Indonesia.  Mau tidak mau aku sangat terkesan 
dengan semua ini. Seorang Amerika ( bul� lagi!) menggunakan bahasa  Indonesia dalam 
mengemukakan sesuatu pandangan, sedangkan kita yg mengaku orang Indonesia, dalam 
mengutarakan sesuatu di media selalu menabur kosakata asing,, paling tidak bahasa 
Inggeris. Seakan bahasa  Indonesia itu tidak lengkap untuk mengutarakan  pendapat. 
Nah, apa gejala ini tidak ganjil, dan  tidak perlu diperbincangkan? Dari para elit 
politik, dalang ketoprak(!!) sampai tukang beca di jalanan, dalam bahasa sehari hari  
gemar sekali menggunakan kata- kata Inggeris, aku tidak tahu mengapa. Yang aku tahu, 
kebanyakan penggunaannya salah".

Komentar teman dekat saya di atas, mengangkat dua soal penting yaitu masalah kesadaran 
berbahasa nasional dan kesenangan menggunakan kosakata asing dalam perbincangan 
seharihari atau tulisan.  Oleh kesenangan ini maka lahirlah bahasa gado-gado. Kalau 
diusut-usut hingga ke dasar masalah, barangkali kedua masalah ini terpulang kepada 
masalah mentalitas. Alasan saya: bahasa adalah alat pengungkap pikiran dan perasaan. 
Pola pikiran dan perasaan kemudian mencerminkan diri ke dalam mentalitas, 
tindak-tanduk, termasuk cara berbahasa. Jika di usut lebih jauh lagi, barangkali pola 
pikir dan mentalitas ini akan ditemukan sarangnya pada kondisi sosial di mana pemakai 
bahasa itu dilingkungi dari saat ke saat. 

Kalau R.William Liddle dalam artikelnya berusaha keras menggunakan bahasa Indonesia 
yang baik dan rapi [walaupun jika diperhatikan benar dalam jawabannya kepada saya 
tanpa menyebut nama saya, terdapat kalimat saling bertentangan, artinya bahasa 
Indonesia Liddle pun tidak sempurna benar! Soal ini tidak saya bahasa di sini karena 
di luar konteks] barangkali disebabkan karena Liddle sadar akan posisinya sebagai 
politikolog, seorang Indonesianis dan pengajar di sebuah universitas, yang biasa 
berbicara dan menulis rapi, berhitung dengan semua kalimat serta istilah yang ia 
gunakan. Akademisi, seperti halnya penyair atau sastrawan yang bekerja dengan bahasa, 
paham akan arti penting pilihan kata, arti penting dan bentuk kalimat sampai kepada 
arti titik, koma serta semua tanda baca. Karena bagi mereka bahasa merupakan alat 
pengungkap pikiran dan perasaan. Kerampungan pikiran seseorang tercermin melalui 
pemilihan kosakata serta tatanan kalimat. Kosakata asing hanya digunakan jika sudah 
sulit dan bahkan tidak mendapatkan kosakata padanannya dalam bahasa Indonesia. 
Kesadaran menggunakan bahasa secara demikianlah yang sebut sebagai kesadaran 
berbahasa. 

Bahasa Indonesia sebagai bahasa muda, terbuka terhadap segala kosakata masukan, 
apalagi jika dilihat dari sejarahnya kosakata Indonesia memang banyak mengindonesiakan 
kosakata asing untuk melengkapi dirinya. Keterbukaan ini pun diperlihatkan oleh sudah 
adanya ketetapan tentang bagaimana mengindonesiakan kosakata asing oleh Dewan Bahasa. 
Adanya politik keterbukaan bahasa ini akan membantu usaha menyempurnakan bahasa 
nasional. Bahasa Indonesia merupakan kekayaan politik dan budaya tidak bertara bagi 
bangsa Indonesia.Makin ia sempurna maka akan makin padan bahasa nasional sebagai alat 
pengungkap pikiran dan perasaan pemakainya, juga akan makin tanggap terhadap tuntutan 
pengembangan serta pemerataan ilmu pengetahuan di negeri kita. Sulit dibayangkan 
bagaimana suatu komunikasi yang baik bisa berlangsung jika penguasaan terhadap bahasa 
yang digunakan untuk berkomunikasi sangat lemah. Dalam keadaan begini maka komunikasi 
bisa memawa hasil yang simpang-siur. Lain yang disampaikan, lain pula yang dipahami.   
 

Politik kerbukaan untuk mengembangkan dan menyempurnakan bahasa Indonesia, saya kira, 
bisa dilakukan dengan ketekunan memperkaya dari waktu ke waktu kosakata dalam kamus 
resmi atau patokan bahasa sesuai dengan perkembangan bahasa itu di kehidupan 
sehari-hari. Dalam usaha ini, saya kira, usaha pemerintah Perancis melalui l'Acad�mie 
fran�aise dan berbagai kegiatan sadar melalui acara-acara televisi, barangkali berguna 
dipelajari. Dengan cara demikian maka perbendaharaan kosakata bahasa kita akan makin 
tanggap zaman dan keadaan serta makin meningkatkan tarafnya sebagai alat komunikasi di 
berbagai bidang.

Dari segi ini maka saya melihat jasa besar para pemuda yang mencetuskan Sumpah Pemuda 
pada tahun 1928 dengan memasukkan satu titik ke dalam "Sumpah": "berbahasa satu yaitu 
bahasa Indonesia". Selain dihangati oleh rasa nasionalisme yang bersifat politik,  
para pencetus "Sumpah" agaknya sudah memandang jauh ke depan, memahami arti penting 
bahasa bagi kehidupan berbangsa di berbagai bidang. Karena itu saya melihat kesadaran 
bahasa, dalam hal ini berbahasa Indinesia, tidak bisa dilepaskan dari kesadaran 
politik, kesadaran sejarah dan budaya. Himbauan agar anak bangsa dan negeri supaya 
berbahasa Indonesia yang baik dan benar,  sejalan dengan kesadaran politik, sejarah 
dan budaya para pencetus Sumpah Pemuda.

Terhadap pengabaian himbauan ini, saya hanya bisa bertanya: Apakah kita masih 
memerlukan bahasa Indonesia untuk hidup di Indonesia yang  manusiawi dan terus-menerus 
meningkat? Kalau kita tidak lagi memerlukannya, lalu bahasa apa yang diusulkan sebagai 
pengganti? Bahasa gado-gado? Bahasa Inggris, bahasa Arab? Apa alasan-alasan untuk 
terlalu berat menyambut dan melaksanakan himbauan di atas? Apakah bahasa Indonesia 
dirasakan kurang gagah dan rendah dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di dunia?

Komentar teman saya di atas yang sejalan dengan kesadaran Sumpah Pemuda 1928, 
sebenarnya selain sebagai kritik juga kembali menghimbau agar kita sebagai anak bangsa 
dan negeri menghargai bahasa nasional kita: Bahasa Indonesia. Kehilangan penghargaan 
terhadap bahasa nasional merupakan cerminan dari tipisnya kesadaran politik, sejarah, 
budaya. Di ujung jalan ini kita akan sampai pada kehilangan jati diri sebelum 
Indonesia itu sendiri hilang. Kita tak lagi menghargai diri kita sendiri.

[Bersambung...] 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke