Singkat saja tanggapan untuk ini....
Bahwa binatang KELEDAI, secara nyata
tidak dikenal oleh sebagian besar
masyarakat Indonesia yang waktu itu
memilih calon presiden dan pasangannya
(calon wapres).

Terutama orang-jawa, lebih akrab dengan
tokoh kancil.... Walaupun secara nyata
juga seperti terhadap keledai, tidak
pernah atau belum pernah melihat wujudnya.
Hewan pemalu dan cenderung hewan malam
itu digambarkan aktif dan cerdas....

Nah tinggal pilih, keledai atau kancil?
Dua-duanya hanya jadi tokoh dalam peribahasa.
Kancil cerdas walau kenyatannya pemalu,
keledai bodoh, walau kenyatannya sangat
kuat menanggung beban. Dua-duanya tidak
diakrabi oleh masyarakat Indonesia.

--mbahsoel--

--- In [EMAIL PROTECTED], "abdul hadi jamal" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> 
> Info Untuk yang berkenan aja
> > 
> > Emha Ainun Nadjib : Selamat Para Keledai
> > 
> > 1.Bukan Peristiwa Politik, tapi Peristiwa Budaya dan
> > Ekonomi.
> > 
> > Pemilu  2004  dilakukan  oleh rakyat Indonesia tidak sebagai 
peristiwa
> > politik tidak dengan gagasan dan pertimbangan politik, tidak 
dengan
> > aspirasi  dan  logika  politik,  tidak  dengan  kesadaran  
kasualitas
> > politik,  melainkan  dilakukan >sebagai peristiwa budaya dan 
peristiwa
> > ekonomi.
> > 
> > 
> > 2.  Bukan  berdasar Baik Buruk, Benar Salah, tapi Memenuhi Selera 
atau
> > Tidak.
> > 
> > Konstelasi  perolehan  suara  diantara para capres dan cawapres 
sangat
> > mencerminkan  bahwa  rakyat  kita  tidak  sedang memilih presiden 
yang
> > terbaik   melalui   pertimbangan   kualitas   nilai   dan  dasar-
dasar
> > profesionalisme  politik  dana manajemen kenegaraan modern. 
Kebanyakan
> > rakyat  memilih  capres  dengan  proses penghayatan sebagaimana 
mereka
> > memilih bintang Akademi Fantas (AFI).
> > 
> > 
> > 
> > Capres   dipilih   tidak   berdasar   track-record   
kepemimpinannya,
> > integritas  moralnya,  cerminan kualitas kinerjanya, atau apapun 
yang
> > menggambarkan gagasan orang bernegara secara modern, 
melainkanmemilih
> > berdasar selera sesaat yang dangkal, berdasar 
performancesuperficial,
> > ganteng   tidak  wajahnya,  tutur  kata  yang  halus  lembut  
seperti
> > penampilan  setiap penipu yang bertamu ke rumah anda yang pasti 
tutur
> > katanya halus sopan lembut.
> > 
> > 
> > Dengan  kata  lain, capres dipilih bukan atas pengetahuan tentang 
baik
> > buruknya,  benar  tidaknya,  tepat  tidaknya,  melainkan  disukai 
atau
> > tidak,  itupun  suka tidak sukanya hanya berdasar penampilan 
permukaan
> > yang dangkal.
> > 
> > 
> > 
> > 3. Pemilih Tradisional, Pemilih Modern dan Pemilih
> > Posmo.
> > 
> > Secara  ironis  terpaksa  kita  menemukan kenyataan bahwa yang 
disebut
> > Pemilih  Tradisional  adalah  pemilih  yang  berdasar  kesetiaan 
buta:
> > apapun  yang  terjadi,  pemimpinnya baik atau buruk, pokoknya dia 
yang
> > dipilih.
> > 
> > Pemilih  Modern  adalah  pemilih  yang  tidak  buta,  tapi  suka-
suka.
> > Pokoknya  siapa yang saat ini memenuhi selera, perhatian sesaat, 
tanpa
> > pertimbangan apapun yang substansial.
> > 
> > 
> > Pemilih  Pos-Modern  adalah  sangat  sedikit  penduduk  Indonesia 
yang
> > kebingungan,  karena  mengerti  multi-dilemma  nilai  dan 
kenyataan di
> > antara  para  kandidat presiden dan wakilnya. Di antara mereka 
terbagi
> > dua.
> > 
> > Pertama,menjadi Golput, karena bersikap mendasar dan 
perfeksionistik:
> > pemimpin
> > Indonesia  harus  benar-benar  memenuhi syarat, karena menyangkut 
mati
> > hidup dan martabat anak cucu generasi bangsa.
> > 
> > Kedua,  bersikap  moderat, menerima dengan terpaksa apa yang ada 
untuk
> > sementara  waktu,  memilih  yang  tidak  terlalu  buruk di antara 
yang
> > buruk-buruk. Keduanya sangat bisa dipahami.
> > 
> > 
> > 4. Siap Dikelabuhi, Siap Ditipu, Siap Dijajah.
> > 
> > Bangsa Indonesia tetap nikmat hidup dalam mitologi dan tahayul 
tentang
> > tokoh-tokohnya atau siapapun dan apapun. Bangsa Indonesia masih 
berada
> > di  Era  Dewa-Dewa  sebagaimana  peradaban  sebelum  Masehi. 
Mayoritas
> > Bangsa  Indonesia  sama  sekali  belum  beranjak  dari  stagnasi 
mitis
> > masyarakat  kuno  dan  menjalankan  kehidupan hampir sama sekali 
tanpa
> > memerlukan  pekerjaan  berpikir  -  kecuali  untuk menghitung 
uang dan
> > mengincar  peluang  ekonomi.  Sungguh-sungguh tidak ada gunanya 
segala
> > macam  perjuangan  yang mengandung pembelajaran intelektual : 
Sekolah,
> > Universitas,  Pengajian,  Dakwah, Seminar, Rubrikasi Media Massa, 
atau
> > apapun saja. Bangsa Indonesia masih solid dengan bakat dasarnya, 
yakni
> > siap ditipu, siap dijajah, diap dikelabuhi.
> > 
> > 
> > 5. Ribuan Surat Pernyataan Dukungan.
> > 
> > Yang  tidak kalah menggiurkan adalah tumpukan sangat tebal Surat-
surat
> > Pernyataan  Dukungan,  ribuan  lembar  yang  tiba  di  markas 
sejumlah
> > capres.
> > 
> > 
> > Saya  Kiai  A,  pesantren  anu,  ummat/massa  sekian  ribu, 
menyatakan
> > dukungan  kepada  X,  demi  kemaslahatan  ummat  dan bangsa 
Indonesia.
> > Kemudian   mereka   diberi   waktu   dating  berduyun-duyun,  
mengaji,
> > istighatsah mohon kemenangan, makan bersama dan pulang dengan 
souvenir
> > dan  uang  transport.  Siapa yang menjamin bahwa surat yang sama 
tidak
> > dikirimkan  kepada  capres  yang  lain?  Kalau  anda mendukung 
seorang
> > capres,  apa  perlunya  menulis  surat pernyataan dukungan kepada 
yang
> > bersangkutan, kalau tujuannya bukan supaya dukungan anda itu 
dibeli?
> > 
> > 
> > 
> > 6.  Ujian  Allah  Makin Besar Kepada Bangsa Indonesia, tapi Yang 
Lebih
> > Besar  Lagi  adalah  AdzabNya. Anda tinggal memilih untuk 
meninggalkan
> > seluruh  desperation  map  ini,  ataukah  melakukan  pertarungan 
sejak
> > sekarang menuju minimal 2009.
> > 
> > 
> > 
> > Emha Ainun Nadjib,
> > 9 Juli 2004
> > 
> > 
> > http://www.padhangmbulan.com/modules.php?
name=News&file=article&sid=47
> > 
> > 
> > 
> > ------------------------------------------------------------------
----
> > Muhammadiyah Society Mailing List 
([EMAIL PROTECTED])
> > ------------------------------------------------------------------
----
> > Salurkan ZAKAT, INFAQ/SHADAQAH anda melalui LAZIS Muhammadiyah
> > Bank BNI Syariah : 807.25000.001 (ZAKAT) 807.25000.002 
(INFAQ/SHADAQAH)
> > Bank Syariah Mandiri : 009.0033333 (ZAKAT) 009.006666 
(INFAQ/SHADAQAH)
> > Bank Swansarindo Int'l : 00.11.101.11111 (ZAKAT) 00.11.102.11122
> > (INFAQ/SHADAQAH)
> > Bank BCA 878.0040077 (ZAKAT) 878.0040051 (INFAQ/SHADAQAH)
> > telp. informasi dan konsultasi : 021-3150400, 3903021 ext.102
> > email : [EMAIL PROTECTED]
> > Yahoo! Groups Links
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> >



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke