bongkaran tulisan lama ini mudah-mudahan
bermanfaat....

TEGEL
oleh: mBah Soeloyo
26 Februari 2001

----------------------------------------------
Tegel ini bukan ubin lho. Uduk bahan gae jogan.
Tapi tegel ini yang dimaksud adalah TEGA.
Tega yang dalam persepsi Jawa digambarkan
sebagai sifat dan tingkahlaku buta (bukan wuta).
Buta yang dimaksud adalah makhluk biadab
yang digambarkan bertaring tajam, tidak rapi
sama sekali dan CARNIVORE. Makhluk berbentuk
manusia yang digambarkan punya sikap BUTENG,
tega gawe pepati.

Tapi tegel tak hanya yang jelek-jelek saja. Tegel
yang positif juga ada. Yang di Indonesiakan menjadi
TEGAS. Artinya tak sayang-sayang lagi entah
siapa yang dihadapi, kalau salah dan pantas menerima
sangsi, yaaaa kenalah sangsi. Tetapi sikap tegel ini
ada lawannya, yaitu IBA. Iba atau mesakake. Kalau
sikap ini diterapkan untuk orang lain, biasanya berdasar
emphatic-thingking. Seandainya penderitaan orang lain
menimpa diri sendiri. Seandainya kesenangan orang lain
menimpa diri sendiri dll. Tetapi rasa IBA ini pun tak
selamanya positif.

Kata ajaran beberapa agama tua dari Timur, IBA yang
jelek adalah IBA DIRI. Mesakake awake dhewe. Seandainya
menjadi sengsara dan menderita. Menderitanya bukan
hanya karena sakit atau miskin. Termasuk pula menderita
karena mendapat "nama jelek" dan kembali lagi ke rasa
MALU. Bayangan mendapat rasa malu inilah yang
kadang menimbulkan sikap TEGEL terhadap orang lain.

Membayangkan rasa malu karena tidak dianggap berjasa,
kemudian dengan teganya bermanuver agar mendapat
nama. Bila perlu melanggar aturan-aturan, bahkan aturan
yang disepakatinya sendiri atau yang dibikinnya sendiri.
Nah, IBA DIRI model begini biasanya lahir dari sikap
RUMANGSA GEDHE. Dan ini menimpa di hampir semua
elite (dulu ada yang protes dengan sebutan elite ini)
bangsa ini.

Merasa besar, bikin partai. Ternyata mak plecuuus... partai
nya ndak laku. Lha harusnya kalau tidak punya sikap
IBA DIRI bercampur TEGEL, mestinya langsung legawa
menyadari kelemahan dan sisi negatif diri sendiri. Sayang
sikap BUTA (DENAWA) yang melekat tebal menggelapkan
mata hati. Dan ini tampak jelas mengemuka.

Maka saya sekarang menyebutkan sedang tinggal
di Kampung Surodenawan, Jalan Cakilan, Gang mBilungan.
Kampungku penuh kekejaman dan sikap tega dari
para tua kampung. Tetangga-2 se jalanku berwatak
CAKIL, yang criwis penthalitan, dan sayang sekali
tetangga satu gang saya mBilung semua. Termasuk
diriku....

nuwun,

mBah Soeloyo
-------------


--- In [EMAIL PROTECTED], "Zamhasari Jamil" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> Salam,
> 
> Pakciks dan makciks Yth.
> 
> Setelah selesai pencoblosan surat suara pada 5 Juli lalu, saya 
sama 
> sekali sudah ketinggalan berita mengenai pemilu itu sendiri. 
> Bagaimana tidak, setelah saya mencoblos surat suara beberapa pekan 
> silam, tapi keputusan final ttg hasil akhir pemilu itu baru 
diketahui 
> beberapa pekan setelahnya, tepatnya hari ini. Itupun gedung KPU 
juga 
> sudah "dihujani" oleh bom buatan manusia juga. Tapi ada yang aneh 
> mengapa bom tersebut diletakkan di WC wanita. Mengapa tak 
diletakkan 
> di ruang rapat penghitungan suara saja.....?????
> 
> Karenanya meskipun banyak orang yang mengatakan bahwa ini adalah 
> pemilu yang demokrasi, dan kalau saya juga boleh tahu, apanya yang 
> demokrasi dalam pemilu ini? Saya melihat tak ada yang demokrasi.
> 
> Melek atau tidak meleknya masyarakat Indonesia memang tergantung 
dr 
> atasan (presiden) kita juga. Namun, sebagai pendukung AR, saya 
sempat 
> demam juga karena dia juga terjungkal dalam pilpres I dan mau tak 
mau 
> saya kembali harus mencoblos dalam pilpres putaran II pd September 
> mendatang. Ttg siapa yang bakalan dipilih nantinya, saya masih 
> bersikap sama, yaitu akan memilih pasangan yang memiliki dampak 
> negatif yang lebih ringan bagi agama dan masyarakatku Indonesia.
> 
> Siapapun yang menjadi presiden dan wapres Indonesia, saya sebagai 
> masyarakat akar rumput hanya ini bergumam, perhatikan masa depan 
> pendidikan anak Indonesia. Itu saja. Ah, kini saya akan meneruskan 
> bacaan saya ttg Filsafat Cina Kuno: Konfusius. Ada yang bersedia 
> berbagi cerita ttg Konfusius? saya terima dengan senang hati.....  
> 
> 
> Wassalam,
> 
> IzaM -
> New Delhi, India.
> 
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED], benny nasution <[EMAIL PROTECTED]> 
> wrote:
> > Wa'alaikum salam Wr. Wb.
> > 
> > Mas Agus and temans,
> > 
> > Sebelumnya kenalkan saya Benny dari Medan.
> > Saat ini sedang sekolah di Frankston, Australia.
> > 
> > Saya punya pendapat yang sama dengan pengutaraan Mas
> > Agus. Namun ada sedikit kenyataan yang harus kita
> > pertimbangkan.
> > 
> > Sekitar 60% masyarakat dewasa Indonesia cuma lulusan
> > SD atau tidak lulus SD.
> > Dari jumlah itu, masih banyak yang kehidupannya dan
> > penghasilannya sangat jauh dari cukup buat makan
> > sehari-hari.
> > 
> > Kondisi pendidikan dan perekonomian yang kurang
> > tersebut sangat mempengaruhi kemampuan dan kemauan
> > manuasia dalam menalar dan berkonsentrasi pada satu
> > hal.
> > 
> > Dari itu gagasan yang diutarakan menurut saya lebih
> > effektif kalau diarahkan ke golongan yg lebih "atas".
> > Cara yang paling tepat untuk mewujudkannya adalah
> > melalui berbagai media.
> > 
> > Jadi menurut saya sebaiknya para golongan terdidik
> > berlomba-lomba untuk "bersuara" melalui semua media,
> > tidak menggunakan ungkapan "diam adalah emas". Tapi
> > perlu dicatat di sini bahwa "bersuara" juga harus
> > menjunjung kebenaran, bukan kebathilan.
> > 
> > Wallahu a'lam,
> > Benny 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > --- agus sumarna <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > Assalammualaikum,
> > > 
> > > Menurut pendapat salah seorang teman, sampai
> > > kapanpun
> > > Sistem Pemilu lah yang menyebabkan AR dan
> > > orang-orang
> > > terbaik (Hidayat Nurwahid)lainnya tersingkir..
> > > 
> > > Sudah menjadi ketentuan bahwa didalam masyarakat
> > > selalu lebih banyak golongan awamnya ketimbang
> > > golongan alim, oleh karena pemilu mensyaratkan satu
> > > orang satu suara (siapa pun dia baik ustad maupun
> > > penjahat sama-sama satu suaranya) maka yang muncul
> > > adalah pemimpin2 yang dicintai golongan awam
> > > ini..(ahli bidah,ahli maksiat,dsb)
> > > 
> > > Kecuali bila terjadi pemeratan ilmu sialim kepada
> > > siawam, oleh karena itu mari menjadi bagian didalam
> > > proses pemurnian aqidah dan pembinaan akhlak serta
> > > IPTEK... mulai saat ini sampaikanlah walau satu
> > > ayat..demi masa depan kita dunia akherat...
> > > 
> > > Jika ini terjadi maka sistem apapun (baik pemilu
> > > atau
> > > bukan) maka akan selalu muncul pemimpin yang
> > > mencintai
> > > rakyat serta takut kepada Allah swt.
> > > 
> > > Wallahu A'lam bishoab..
> > > 
> > > Wassalam
> > > Agus
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > =====
> > > 
> > > Wassalam



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke