Salam,

Sambil menelusuri www.ceritanet.com, saya menemukan tulisan 
mengenai "wartawan boongan" yang sepertinya sudah banyak berkeliaran 
di tanah air kita seiring dengan maraknya media baik cetak maupun 
portal saja. 

Ada yang tidak enak didengar oleh telinga sehat kita dimana wartawan 
boongan ini tak segan-segan untuk "meminta amplop" pasca-
mewawancara "mangsa"nya. Memang tujuan wartawan yang semacam ini 
hanya untuk mengais rezeki semata. Akantetapi lebih tak mengenakkan 
lagi, bila wartawan beneran juga nekad untuk "meminta amplop" seperti 
yang dilakukan oleh yang boongan. Bila hal yang semacam ini juga 
terjadi, maka pantesan, media yang seharusnya netral, telah banyak 
yang berubah menjadi alat dan sarana dukung-mendukung, jatuh-
menjatuhkan. 

Oh ya, satu lagi, koq acara TV Indonesia saat ini banyak yang berbau 
misteri. Kemaren saya sempat nonton salah satu acara yang bermisteri 
itu bersama seorang anak berusia 8 tahun di KBRI New Delhi, anehnya, 
ketika ia tidur, badannya gemetaran seperti ada sesuatu yang 
menerkamnya. Barangkali ini adalah efek negatif dari tayangan 
bermisteri yang disuguhkan oleh stasiun TV kita di tanah air. 

Tidak adakah acara yang lebih sehat dan lebih mendidik lagi...??? 
Hanya pakciks dan makciks yang berada dilingkungan perTVan jugalah 
yang tahu, sebab kami ini apalah, cuma pemirsa saja......

Wassalam,

IzaM

---===----

Wartawan Malaikat Pelacur

By A Hermawan

Keringat belum lagi kering, ketika saya tiba di kantor. Ira, orang 
sekretariat langsung nyeletuk, "Ada orang ngaku wartawan kita. Dia 
mau wawancara orang yang nelepon ini," kata Ira. Gagang telepon masih 
menempel di telinganya. "Suruh tahan Ra, nanti gue ke sana," kata 
saya. 

Selintas cuma keisengan saja, untuk menangkap orang-orang yang 
mengaku wartawan dan memeras. Di Indonesia, mungkin ratusan, bahkan 
ribuan, orang yang bekerja dengan mengaku sebagai wartawan, lengkap 
dengan kartu identitas, palsu, aspal maupun asli.

Saya bersama tiga orang teman bergegas ke arah kawasan Pejompongan, 
Jakarta Pusat. Orang yang menelepon memang diminta menahan orang yang 
mengaku wartawan dari harian kami itu. Begitu tiba di lokasi, tampak 
empat orang sedang mengobrol. "Gile! gede-gede juga, berani apa 
kita?" kata seorang rekan. Saya tertawa saja. 

Ternyata hanya seorang di antara empat orang itu yang mengaku 
wartawan. Begitu teman saya turun dari kendaraan dan 
menanyakan, "Yang mana wartawannya?". Tiba-tiba saja salah seorang di 
antaranya langsung melarikan diri. Entah siapa yang memulai tiba-tiba 
saja, seseorang meneriaki orang itu maling. Warga permukiman padat di 
sekitar pekuburan Karet itu langsung saja ramai-ramai menggebuki 
orang itu.

Untung salah seorang teman saya�seorang anak Irian yang berbadan 
besar�mencegah melindungi 'wartawan' itu. Sejumlah warga masih teriak-
teriak, "Bakar-bakar�!!". Kami segera membawa orang itu ke tempat 
aman. Tepatnya sebuah klinik, di mana dia mengaku sebagai wartawan 
harian kami dan ingin mewawancarai pengelola klinik itu.

Kasihan juga. Wajahnya bengap, darah mengalir dari hidungnya. Bajunya 
robek karena ditarik-tarik massa pengeroyok. Gila, ternyata dia 
memang melengkapi dirinya dengan identitas palsu. Sebuah kartu 
identitas nama, lengkap dengan foto dan nama dan logo media kami 
dibawanya. Tidak lupa puluhan kartu namanya lengkap di sakunya.

"Kasihani saya, bang. Jangan dibawa ke polisi," katanya memelas. 
Namun aparat keamanan kampung itu terlanjur menelepon polisi, yang 
tidak lama kemudian datang menjemput. "Saya cuma cari makan..." 
katanya pelan. Dia bercerita bahwa kartu identitas yang dia miliki 
dia pesan dari temannya.

***

Di Jakarta�boleh jadi juga di kota-kota di negeri kami�mereka yang 
mengaku sebagai wartawan bukanlah hal aneh. Mereka tersebar di mana-
mana, dari mulai gedung instansi pemerintah, gedung parlemen, hingga 
hotel-hotel atau di mana ada acara apa saja berlangsung. Apalagi di 
jaman orang bebas terbitkan media massa apa saja seperti sekarang, 
siapa saja bisa mengaku sebagai wartawan. Belum lagi, banyaknya media 
berita internet, para pemalsu itu dengan gampang mengaku sebagai 
wartawan 'dot com.' 

Seperti lazimnya wartawan beneran, mereka juga tergabung dalam 
organisasi-organisasi (atau gerombolan). Modusnya jelas: mencari uang 
dengan mengatasnamakan wartawan. Para 'wartawan'�wartawan yang 
mengaku bersih, biasanya memanggil gerombolan mereka sebagai wartawan 
bodrek. (Mungkin , ini mungkin lho, istilah itu muncul dari iklan 
obat sakit kepala Bodrex awal 70-an. Saat itu digambarkan pil-pil 
Bodrex berbaris bergerombol ke sana-kemari, membasmi sakit kepala, 
flu dan pilek).

Cerita model begini�tentang wartawan boongan itu-- memang bukan 
cerita baru. Dengan berpenampilan seperti wartawan, menenteng kamera, 
rompi dengan tulisan 'PERS' besar di punggung, mereka tampil percaya 
diri. Pernah, suatu saat bahkan, usai wawancara seorang direktur 
perusahaan yang baru saja mengumumkan perusahannya go public dimintai 
uang. Saat sumber itu mengaku tidak memiliki dana cash, mereka dengan 
tenang menggiring orang itu ke sebuah anjungan tunai mandiri (ATM) 
untuk menguras isinya.

Pernah juga seorang sumber�seingat saya-- ini terjadi di kawasan 
Gedung DPR malah seorang pejabat sampai terobek-rombek dompetnya. 
Gara-garanya, dia membagi kartu namanya ke sejumlah wartawan. Eh, 
melihat hal itu puluhan 'wartawan'lainnya segera mengerubuti orang 
itu, dan menarik dompet dan segala isinya! Bukan hanya kartu nama. 
Pejabat itu hanya tersenyum pahit.

Pernah juga terjadi, sejumlah anggota DPR didatangi 
sejumlah 'wartawan' yang membawa semacam list sumbangan duka cita 
karena, katanya, ada seorang wartawan meninggal. Sejumlah anggota DPR 
pun memberikan sejumlah dana, hingga ratusan ribu rupiah�maklum, 
anggota Dewan�kepada mereka. Belakangan diketahui, orang yang 
disebutkan meninggal itu ternyata masih sehat wal afiat alias masih 
hidup. Para peminta sumbangan itu memang hanya penipu-penipu tengik 
yang mengaku wartawan.

Mereka memang hebat untuk bidangnya. Mereka bahkan bisa tahu acara 
apa saja yang terselenggara di hotel atau gedung mana pun. Apalagi, 
jika penyelenggara acara tersebut sebuah perusahaan atau lembaga 
tertentu yang tajir.

Itu baru cerita di Jakarta. Pernah suatu saat, adik saya�seorang guru 
di sebuah kota kecil selatan Bandung� menelepon. Dia menceritakan, 
bagaimana saat pendaftaran murid baru banyak 'wartawan' berdatangan 
ke sekolahnya. Mereka meminta wawancara kepala sekolah karena 
menemukan penyimpangan dalam proses penerimaan mahasiswa baru. "Eh, 
belakangan pulangnya mereka minta ongkos," cerita adik saya di ujung 
telepon. "Pak Kepsek enggak punya uang," katanya. Terus? "Akhirnya 
kami patungan, dan mereka kami bagi masing-masing Rp Rp 5.000 (!) 
untuk ongkos ojek," katanya. 

Rp 5.000 ! Harga semangkuk bakso. Para guru memilih memberi uang itu 
karena malas berurusan dengan para 'wartawan' yang kata adik saya, 
sangar-sangar dan pertanyaannya galak-galak.... 

***

Ah, sepertinya halaman ini terlalu sempit untuk membahas persoalan 
para bandit yang mengaku-ngaku wartawan itu.Menulis ringan semacam 
ini saja, bisa berbuku-buku kita susun dengan isi melulu wartawan 
bodrek, wartawan amplop. Mungkin saatnya, para wartawan beneran pun 
saatnya merenung diri. Mengapa mereka bisa muncul, merajalela dengan 
leluasa?

Tengok diri kita, teman-teman wartawan sekitar kita, apa memang 
isinya wartawan malaikat semua. Wartawan yang anti-amplop (dan 
isinya) tentu? Saya sendiri menjadikan semua itu sebagai bahan 
tertawaan yang pahit. Saya mungkin jujur�(Gila, saya pernah janjian 
dengan seorang teman kalau salah seorang dari kami menerima amplop, 
seorang lainnya berhak membunuhnya!). Tetapi betapa menyedihkannya 
teman-teman di sekitar, yang dengan enteng bisa menerima barang haram 
itu.

Banyak di antara wartawan beneran, jujur saja, menerima apa yang juga 
diterima wartawan bodrek itu. Bahkan, ada kelompok-kelompok wartawan, 
organisasi, club, atau apalah namanya yang bisa mengatur sebuah 
berita bisa turun di berbagai media. Sumber-sumber berita, orang-
orang public relation, setahu saya juga 'memegang' wartawan-wartawan 
tertentu di berbagai media. Mungkin saja, sekarang hampir semua media 
mengumumkan, 'wartawannya dilarang menerima apapun dari sumbernya.' 

Tetapi berapa banyak media atau bahkan organiasi kewartawanan, yang 
mempunyai semacam Dewan Kehormatan Wartawan. Atau mungkin sebuah 
lembaga etik, yang bertugas menelusuri, membuktikan dan memecat 
mereka yang terbukti menerima amplop? Bahkan, ada pula organisasi 
wartawan yang secara terbuka membolehkan wartawan menerima amplop 
atau imbalan. "Sepanjang dia tidak meminta," kata pimpinan organisasi 
pers itu. "Juga tidak mempengaruhi isi beritanya," lanjutnya. Hah! 
Bualan macam apa itu?

Memang ada media yang konsisten memecat wartawan yang menerima 
amplop, apalagi meminta imbalan, atau apa saja dari medianya. Tetapi 
sejauh mana konsistensinya menelusuri setiap laporan yang masuk 
mengenai 'kelakuan' wartawannya itu.

Bagi banyak wartawan penerima amplop alasan gaji yang minim selalu 
menjadi alasan. "Kita enggak boleh menerima amplop. Harus idealis. 
Tetapi kalau media kita juga dijalankan dengan orientasi bisnis, apa 
idealisme masih menjadi bendera perusahaan kita. Bisnis adalah 
mencari untung sebanyak mungkin, dan mencari untung sebanyak mungkin 
itu bukan idealisme...," kata seorang wartawan beneran beralasan.

Tetapi kita juga tahu, banyak dari wartawan yang menghalalkan amplop, 
imbalan atau sejenisnya hidup dengan gelimang kaya. Bahkan, bukan 
rahasia lagi, jika ada media yang memang menawarkan halamannya kepada 
siapa saja dengan imbalan tertentu. Jika begitu, apa bedanya mereka 
dengan pelacur. Pelacur. Semua tahu diharamkan, tetapi selalu saja 
dicari karena diperlukan. 

Sudah ah, jadi ngelantur. Akhirnya, kira-kira, selama wartawan 
beneran juga menerima amplop, fasilitas, atau imbalan apa saja jangan 
harap mereka yang mengaku wartawan, wartawan bodrek, WTS atau apa 
saja bisa lenyap. Lha, kalau di lapangan, saat mereka berbaur dengan 
wartawan beneran pun enggak ada bedanya. 

Susah membedakannya, mana malaikat mana pelacur... ***

Pamulang, 11 September 2003

http://www.ceritanet.com/63bodrex.htm
edisi 63 - Kamis 18 September 2003




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke