Sumber Cybersastra Net, mardi 27 juillet 2004 15:43
CYBERSASTRA - Catatan dari Brussel (39):
Wertheim--Magusig, Tahun Pembunuhan - A. Kohar Ibrahim
Dikemas 27/07/2004 oleh Editor
PERHATIAN Prof. Dr. W.F. Wertheim dan simpatinya terhadap rakyat Indonesia memang
merupakan bukti tipikal seorang cendekiawan yang selalu gelisah terhadap hal-ihwal
yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat manusia, terutama terhadap kaum yang lemah,
sengsara, dan tertindas. Terlebih, penindasan itu dilakukan oleh penguasa yang
tahtanya melambung di atas telaga keringat dan darah rakyat. Tahta yang diawali dan
diiringi serta hendak dilanggengkan dengan penyebaran dusta dan fitnah secara
permanen. Propaganda hitam yang dilancarkan dengan pemberangusan kemerdekaan pers
serta penghegmonian atasnya.
Salah satu simpati W.F. Wertheim terhadap perjuangan rakyat Indonesia dibuktikan
dengan dukungannya terhadap daya upaya kami untuk melakukan kegiatan penerbitan yang
tergolong pers alternatif. Selain menerbitkan majalah berkala, kami juga menerbitkan
brosur dan buku-buku dari para penulis. Salah satu wujud dukungan W.F. Wertheim,
seperti sudah dikemukakan pada bagian terdahulu, berupa kesediaan Pak Wertheim memberi
kata pengantar untuk buku kumpulan sajak Magusig O Bungai, penyair Indonesia asal
etnis Dayak, berjudul Sansana Anak Naga dan Tahun-tahun Pembunuhan, Stichting ISDM
Culemborg Nederland, 1990.
Arti penting penerbitan buku kumpulan sajak Magusig itu tidak hanya terletak pada
kualitas sastranya yang tinggi, tetapi juga pada isi dari pengantar yang diberikan
oleh Prof. W.F. Wertheim yang menekankan perlunya kebenaran sejarah dibela dan
ditegakkan.
Terlebih dulu, ada baiknya diketahui siapa sang penyair asal etnis Dayak tersebut.
Atas dasar perkenalan saya dan bahan-bahan yang dia diberikan sendiri, sebagai editor
saya susun catatan "dari penyaji" yang saya tandatangani dengan pen name: Dipa
Tanaera, dengan judul "Magusig O Bungai, orang Sahawong? Anak Naga !" sebagai berikut:
Berapa banyak orang tahu tentang Magusig O Bungai? Panggilan yang berirama itu adalah
bukti dari sekian banyak nama baginya. Dan tak pula banyak yang tahu bahwa dia
dilahirkan 25 September setengah abad yang lalu di tepi Sungai Katingan, Kalimantan
Tengah.
Biasanya orang dari daerah lain menamakan suku bangsa asal Magusig adalah Dayak. Tapi,
sesungguhnya mereka sendiri menamakan diri Sahawong. Dan dalam puisi, termasuk dalam
salah satu bentuk puisi Dayak Ngaju, yaitu sansana kayau, mereka melambangkan diri
sebagai anak enggang dan anak naga. Sedangkan pahlawan dan nenek-moyang mereka bernama
Bungai. Maka wajarlah seseorang dari sana beroleh panggilan Magusig O Bungai. Itulah
pula sebabnya mengapa kumpulan kreasinya yang mutakhir ini diberi judul Sansana Anak
Naga dan Tahun-tahun Pembunuhan.
Jika kumpulan sajak yang secara kualitas ini membuktikan kreativitas seni sekaligus
kematangan Magusig, hal ini adalah wajar saja kerna ia memang bukan seorang pendatang
baru di arena kesusastraan khususnya, arena budaya umumnya.
Magusig dikenal oleh sahabat-sahabat terdekatnya sebagai salah seorang yang lazim
disebut pekerja kobar sekaligus pekerja tekun. Aktivitas dan kreativitasnya cukup
beragam, jalin berjalin, dan lika-liku. Jejak-langkahnya terbuktikan baik dalam sekala
lokal, nasional, maupun internasional. Untuk itu dia selalu membekali diri.
Di masa muda remaja dia pernah mengikuti pendidikan kejuruan seperti pembukuan,
jurnalisme, dan teater di Indonesia. Di Universitas Gajah Mada belajar sampai tingkat
terakhir pada Fakultas Sosial dan Politik. Sekarang, di Paris ia sedang menulis tesis
Ph.D. pada l'Ecole des Hautes Etudes En Sciences Sociales.
Karya tulisnya tersebar di sejumlah media massa, kumpulan puisi, dan terbitan lainnya
di dalam maupun di luar negeri. Karya tulisnya berupa puisi, drama, esai, karya
terjemahan, dan juga karya akademi. Puisinya antara lain ada dalam Sajak dan Bunga
(bunga rampai puisi penyair-penyair muda Jogja, 1961) dan Indonesian Progressive
Contemporary Poems (Yayasan Pembaruan, Jakarta 1963). Karya dramanya, Api di Pematang
(1963), Tanah Ketaon (1964), dan Bukit Belleville (1968). Karyanya berypa esai
terdapat dalam Di Tengah Pergolakan (Limburg, 1981), Popular Knowledge, Mobilisation &
Development (Geneva, 1987), dan Study Note on the PKI's Line On Literature and Arts
from 1950-1965 (1967). Karya terjemahan yang telah dihasilkan oleh Magusig antara lain
berupa terjemahan atas beberapa karya Pearl S. Buck, Maxim Gorki, dan Lu Sin,
sedangkan karya akademinya adalah Le Mouvement des Actions Unilaterales Pour les
R�formes Agraires des Paysans de Klaten, Java-Centre, Indon�sie, 1963-1965. Son
Commencement, Sa Chute et Ses Le�ons, EHESS, Paris, 1987. Sementara itu, Rural
Contestations in Indon�sie-Party Politics and Religions 1960 till today: The Case of
Java sedang dalam proses penulisan.
Dapat diketahui bahwa selama di Paris, Magusig pernah turut membangun sebuah koperasi
dan yang berjalan terus hingga kini. Juga, untuk menggalang persahabatan dengan rakyat
Perancis dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia, ia mengajar bahasa Indonesia di
beberapa institut di Paris.
Betapapun lika-liku dan banyak suka-dukanya, setengah abad kehidupan Magusig kiranya
cukup membuktikan kesungguhannya sebagai seorang Sahawong, sebagai anak enggang yang
tak takut akan kesunyian dan gigih meneruskan perjalanannya. Juga sebagai anak naga
yang dinamis dan puitis.
Sansana Anak Naga dan Tahun-tahun Pembunuhan adalah bukti mutakhir aktivitas dan
kreativitas Magusig. Bukti semangat dan sikapnya sebagai manusia sekaligus sebagai
penyair yang anti-kebiadaban di satu pihak, di pihak lain mendambakan kebenaran,
kebebasan, keadilan, dan kehidupan manusia yang manusiawi.
"Kumpulan sajak yang bersemangat juang," demikian kesimpulan Prof. Dr. W.F. Wertheim
dalam uraian Kata Pengantar. Demikianlah pula antara lain yang saya tulis sebagai
catatan dari penyaji. Pak Wertheim memulai uraiannya dengan mengutarakan bahwa "Dalam
sajaknya "Hutanpun Bukan Lagi di Mana Rahasia Bisa Berlindung", Magusig O Bungai
menulis:
50 tahun berlalu 50 tahun hutan Katyn menutup rahasia
15000 prajurit polan dimasakre di tengah rimba
50 tahun kemudian waktu memaksa kekuasaan terkuat
membuka suara menutur kebenaran
Selanjutnya W.F. Wertheim menegaskan, "Penting sekali bahwa Magusig mendorong
anak-anak negerinya agar mencari kebenaran. Ahli sejarah Abdurrachman Suromihardjo
dalam Editor 2 Juni 1990 menulis, bahwa "pembukaan dokumen yang semula rahasia itu
sangat membantu rekonstruksi sejarah.." Akan tetapi duduknya perkara masakre di
Indonesia 25 tahun yang lalu agak berlainan dari pembunuhan Katyn yang menimpa 15.000
orang perwira Polandia. Kelainannya ialah oleh karena masakre di Indonesia itu pada
hakikatnya tidak ada rahasianya sama sekali. Pembunuhan massal di Indonesia atas
tanggungjawab Jenderal Suharto bukanlah suatu rahasia. Si penanggungjawab ini justru
terus-menerus bangga akan perbuatannya. Tentang ini terbukti dengan jelas dalam tahun
yang silam."
"Kita perhatikan saja," lanjut Wertheim, "misalnya pendirian Suharto tentang perkara
'Petrus'. Walaupun telah diketahui umum bahwa pembunuhan itu terjadi atas perintah
atasan militer, namun lima tahun yang lalu, demi perintah Suharto, Jenderal Murdani
memungkiri duduk perkaranya yang demikian. Tetapi sejak otobiografi Suharto terbit,
tahulah semua orang tentang pengakuannya sendiri : pembunuhan-pembunuhan itu terjadi
atas perintahnya."
Tudingan Wertheim ke arah Suharto memang jitu! Serangkaian pembunuhan selama rezim
Orde Baru yang dikepalainya memang merupakan bukti dari tindakan yang anti-kemanusiaan
sekaligus sebagai pertanda budaya kekerasan yang dijadikan tradisinya. Dalam salah
sebuah sajaknya yang diberi judul "49", Magusig O Bungai melukis kisah tragis dengan
baris-baris puitisnya sebagai berikut:
Peleton penembak menutup matanya dengan kain putih
detik terakhirpun terlarang menatap tanahair
warna putih di negeri ini berarti kesucian
dan begitulah warna kasih sayang kepadamu, o indonesia
kecintaan terbawa sampai mati
Peleton penembak mengikat kakitangannya di sebuah tiang
mengharap harapan di degup jantungnya tak lagi bergerak
tertembak bersama peluru-peluru menembus dada dan
kepala lelaki itu
tapi angin yang lewat ketika itu tak peduli ancaman
militer
tahun demi tahun kemudian terus menyebarkan harapannya
ke seluruh pulau
harapan itulah yang kini menggugah hutan, gunung dan
kota-kota
Peleton penembak dengan kain putih menutup mulut
lelaki itu
tak ingin detik terakhir tanahair mendengarkan pekik
penyinta
karena memang lebih leluasa bertindak semena apabila
semua diam
tapi harapan yang tak tertembak disebarkan angin
telah menggugah laut, sungai, hutan, gunung,
pelabuhan, jalan-jalan kota negeri kepulauan
ini
menggugah alam memekikkan kata tanahair tak sempat
terucap
Keadilan jadinya tak obah bagai muara ke mana sungai
mengalir
kebenaran dan bukan kejahilan seperti matahari
seketika mungkin tertutup awan
jutaan dan jutaan jantung berdegup adalah titik-titik
air yang mengalir
jutaan dan jutaan hati yang merintih adalah
tangan perkasa penyibak kelam menangkap cahaya
hanya karena si pandir di tampuk kuasa bisa menembak
semena-mena
bukan memadam keberanian bila kukatakan melawan dan
menang perlu pandai-pandai
Sajak Magusig tersebut ditulis tahun 1990. Bersama dengan sajak-sajaknya yang lain
yang juga dari periode serupa dalam Sansana Anak Naga dan Tahun-tahun Pembunuhan,
sajak tersebut merupakan hasil kreasi yang monumental, yang kekuatannya ditunjang pula
oleh Kata Pengantar dari Prof. Dr. W.F. Wertheim. Kuat, karena hal-ihwal yang diungkap
dan diangkatnya memang mendasar dan benar.***
---------------------
* A. Kohar Ibrahim adalah pemerhati sosio-budaya, penulis, pelukis tamatan Akademi
Seni Rupa Kerajaan Belgia. Pernah menjadi anggota dewan redaksi majalah kebudayaan
Zaman Baru bersama Rivai Apin dan S. Ananataguna pada masa rezim Orde Lama; editor
majalah Kreasi dan Arena (1989-1999). Belakangan menyiarkan berkas tulisannya, antara
lain, di Swara, Sijori Pos, Batam Pos, dan Cybersastra.net. Biodatanya antara lain
dapat disimak dalam Who's Who in International Art, International Biographical Art
Dictionnary edisi Loussane, Swiss 1988. E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Hak Cipta � 2000-2002 | Dikelola oleh Yayasan Multimedia Sastra
Perancang Kulit dan Perwajahan: PINUSWEB
[Site Engine by PHP-Nuke]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/