Salam,

Ibu Listy Yth.

Saat ini, di India telah hadir bebarapa mahasiswa baru yang akan 
meneruskan studi mereka di India ini. Mereka ini pada umumnya 
mengambil program S2. Mereka bak api membara bercerita ttg nasib dan 
suasana pendidikan kita saat ini. Memang teman-teman yang baru datang 
ini, termasuk saya sendiri juga mengakui bahwa bangunan dan gedung-
gedung kampus pendidikan di India memang diluar dugaan kita, artinya, 
tidak seindah yang kita bayangkan. Ini apabila kita membandingkan 
dengan sarana fisik pendidikan kita di Indonesia. 

Mereka, teman-teman yang baru datang ini, memang mengakui bahwa 
pemerintah kita masih separuh hati untuk melirik nasib pendidikan di 
Indonesia. Makanya, tidak heran, bila pejabat kita masih ada yang 
berani untuk menkorupsi dan yang dialokasikan untuk membiayai 
pendidikan itu. Sebab korupsi sendiri bukan perbuatan yang memalukan 
lagi, tapi sudah menjadi perbuatan yang mengasyikkan. Mantap kan? 
hehehe.

Wassalam,

IzaM-
Anak jalanan.


--- In [EMAIL PROTECTED], "Listy" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> sekedari info.. maaf ya bila telah menerima email ini.
> 
> -----Original Message-----
> 
> 
> >
> > Diterima di ITB Malah Kebingungan
> >
> > PEMENANG konser Akademi Fantasi Indosiar (AFI) boleh tersenyum 
lega, sebab setelah konser usai, mereka segera mendapat tawaran 
rekaman atau nyanyi dan dapat uang dari berbagai sumber. Tidak 
demikian halnya dengan pemenang Olimpiade Biologi Internasional. Usai 
mendapat 'penghargaan' dari Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah 
(Dikdasmen), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sebesar Rp5 
juta per orang, mereka tambah miris dengan masa depan mereka 
sendiri.  Sebab, bukan tawaran main sinetron, hiburan ataupun tawaran 
model iklan dari berbagai produk yang berarti bakal dapat duit.
> >
> > Sang juara Olimpiade itu harus berpikir keras bagaimana mencari 
duit untuk kelangsungan sekolah mereka. Seperti yang dialami Mulyono, 
pemenang medali perunggu Olimpiade biologi dari SMAN di daerah Pare, 
Kediri, Jawa Timur (Jatim). Mulyono mengaku dirinya telah diterima 
masuk di Institut Teknologi Bandung(ITB) jurusan mikrobiologi melalui 
ujian saringan masuk yang diterapkan oleh ITB sebelum SPMB berjalan. 
Untuk meringankan siswa yang orang tuanya petani itu, Mulyono 
mendapat dispensasi tidak harus membayar uang masuk yang besarnya 
sekitar Rp45 juta, tetapi untuk biaya kuliah serta biaya hidup selama 
di Bandung masih tetap menjadi pikirannya. "Ya, itulah yang 
mengganggu pikiran saya, dari mana saya harus mendapatkan uang," 
katanya lirih. 
> >
> > Peraih medali perak dalam lomba sains nasional yang 
diselenggarakan di Balikpapan belum lama ini, sedang berusaha mencari 
sponsor agar dirinya bisa memperoleh dana bagi kelangsungan 
sekolahnya kelak. Mulyono sempat bingung menghadapi uang kuliah yang 
besarnya Rp1,7 juta per semester, belum lagi biaya hidup di Bandung 
yang berdasarkan pemantauannya lebih dari Rp400.000 sebulan. "Tanpa 
adanya beasiswa atau sponsor, mustahil saya bisa kuliah di sana," 
kata Mulyono.
> >
> > Kondisi serupa juga dialami Ni Komang Darmiani yang bersama-sama 
dengan Mulyono pergi ke Brisbane, Australia untuk membawa nama bangsa 
dalam Olimpiade Biologi tersebut, masih bingung terhadap masa 
depannya. Darmi mengaku telah diterima di Fakultas Kedokteran, 
Universitas Udayana melalui jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK). 
Namun, sebelum berangkat ke Brisbane untuk membuktikan bahwa bangsa 
Indonesia bukanlah bangsa terbelakang dengan cara ikut olimpiade 
sains, Darmi sempat bingung karena ia diwajibkan membayar uang 
pangkal dari Universitas Udayana sebesar Rp11 juta.
> >
> > Ketika pulang dari Australia dan Dirjen Dikdasmen memberikan 
uang 'penghargaan' sebesar Rp5 juta dirinya sempat bergumam, "Wah, 
masih kurang Rp6 juta lagi." Terbayang di hadapannya, orang tuanya 
yang guru SMA, harus berusaha keras menyediakan kekurangan biaya 
tersebut, belum lagi biaya semester yang harus dibayarnya serta biaya 
hidup di Denpasar kelak bila ia belajar di Universitas Udayana. Letak 
Denpasar sangat jauh dari kediaman orang tuanya di Desa Bila, 
Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Singaraja. Artinya, selama menuntut 
ilmu mau tidak mau ia harus indekos karena tidak ada famili di sana.
> >
> > Anugerah AFI yang hanya diselenggarakan di Indonesia begitu 
besar, tetapi mengapa anugerah Peraih Medali Perunggu olimpiade sains 
Cuma sebesar itu. Kapan masyarakat bumi tercinta ini mulai menghargai 
anak bangsanya yang telah membawa harum di dunia internasional. Jadi, 
kapan bangsa ini mulai menghargai orang cerdas dan pintar?
> >
> > Sumber Media Indonesia Online (22 Juli 2004).




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke