Dari Z. Afif kepada Sdr. St. Sabri:

ANTARA YANG TELAH DAN SEDANG TERJADI
DENGAN YANG AKAN DIAPLIKASIKAN 

Terima kasih atas pendapat Anda atas artikel saya.
Saya akan lebih senang lagi kalau Anda dapat memberikan
data-data baru, sehingga saya tidak "agak tertinggal info."

Saya rasa penguasa Indonesia banyak kepandaiannya 
dalam kerajinan tangan membuat Penpres, Keppres, atau
Undang-undang yang sering mendapat kritik karena
terdapat kecacatan yang tidak memihak rakyat. Tetapi
pasal-pasal UU yang baik tinggal  nongkrong di atas kertas 
karena tidak menguntungkan kekuasaannya di pusat. 

Anda mengatakan "... periode ke depan
(5 tahun} pem prop akan mengaplikasikan Pemilihan Langsung 
untuk Gubernur dan Bupati."  Jadi belum terjadi, bukan? 
Lantas ke depan bagaimana pelaksanaannya? Yang akan 
diaplikasikan itu apakah dapat dijamin bersih pelaksanaannya?
Itu baru hanya satu contoh yang Anda tanggapi dari  banyak 
contoh yang saya kemukakan. Yang saya bicarakan kenyataan 
yang telah terjadi dan sedang terjadi. Yang sedang terjadi misalnya, 
Rencana UU TNI. Ini sudah banyak dikritik, tapi DPR dan Presiden 
Megawati bertekad menyelesaikan UU itu. Sikap pusat terhadap 
Gubernur NAD Abdullah Putih yang tidak tegas, walaupun pendapat
umum di Aceh dia harus dibebaskan dari jabatannya dan dihadapkan 
ke pengadilan sebagai koruptor.   Sakitnya sebagai orang daerah
luar Jawa, tidak akan terasakan bagi yang sudah mapan hidup
di Jawa. (Silakan baca dari awal artikel saya itu sehingga Anda 
akan menemukakan banyak contoh bukti).

Memang soal infrastruktur, bagi yang pernah baca sejarah penjajahan
tentu tahu bahwa Gubernur Jenderal Daendels telah berjasa membuat 
jalan raya Anyer-Panarukan yang mengambil korban ribuan jiwa orang 
Jawa. Lalu sejarawan dengan seenaknya menyimpulkan bahwa 
"Indonesia dijajah 350 tahun." Padahal Indonesia baru ada sebagai 
sebuah negara pada 17 Agustus 1945. Yang berada dalam penjajahan 
selama itu hanya Pulau Jawa atau kerajaan-kerajaan di Jawa. Boleh jadi 
karena "pembangunan infrastruktur sudah terjadi sejak jaman kerajaan 
majapahit dan mataram, dan memang lebih baik dibanding sumatra, 
kalimantan, sulawesi dan  papua," maka Belanda diberi kemudahan untuk 
lebih awal membangun VOC dan menjajah Jawa daripada luar Jawa.
 Kemudian pasukan Mataram dipakai Belanda dalam memerangi
wilayah Nusantara lainnya di luar Jawa, antara lain Aceh, bukan? 
{Silakan baca Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer)-

Kesimpulan "Indonesia dijajah 350 tahun" merupakan suatu penyakit 
generalisasi, yang juga diderita penguasa Jakarta. Entah kalau yang
dimaksud dengan "Indonesia" itu adalah Pulau Jawa. Sering pendapat 
segolongan orang yang menyokong kebijakan penguasa pusat, 
dikatakan "Kehendak rakyat", seperti pemecahan Papua dengan
pembentukan propinsi baru. Padahal rakyat setempat menentangnya.

Salam baik, 
Z. Afif

  ----- Original Message ----- 
  From: st sabri 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Cc: Rondang Erlina Marpaung 
  Sent: Monday, July 05, 2004 7:10 AM
  Subject: Re: [wanita-muslimah] Z.Afif: TIGA KEMUNGKINAN DI NUSANTARA ( selesai )


  Penulis artikel ini agak tertinggal info, periode ke depan [5 tahun] pem prop akan 
mengaplikasikan Pemilihan Langsung untuk Gubernur dan Bupati. Saya tidak baca artikel 
nomer 2, tapi kalau kita tetap melestarikan dikotomi JAWA-LUAR JAWA, maka ini hanya 
menambah kekeruhan dan sama sekali tidak ada manfaatnya.

  Jawa berpenduduk lebih padat dengan luas wilayah lebih sedikit, sudah terjadi sejak 
jaman behuela ; pembangunan infrastruktur juga sudah terjadi sejak jaman kerajaan 
majapahit dan mataram, dan memang lebih baik dibanding sumatra, kalimantan, sulawesi 
dan papua.

  Jangan jadi agigator dech...

  st sabri
  [etnik jawa, tinggal di kalimantan, beristri etnik sumatra...]


    ----- Original Message ----- 
    From: Rondang Erlina Marpaung 
    To: [EMAIL PROTECTED] 
    Sent: 05 July, 2004 05:37
    Subject: [wanita-muslimah] Z.Afif: TIGA KEMUNGKINAN DI NUSANTARA ( selesai )




    TIGA  KEMUNGKINAN  DI  NUSANTARA


    ( Oleh : Z. AFIF )


    3. Sentralisasi Politik dan Sistem Komando Militer Atas Sipil



    SISTEM sentralisme yang dijalankan penguasa NKRI, jelas berpangkal 
    pada politik. Sejak dari awal kemerdekaan, kepala daerah tingkat pro-
    vinsi diangkat oleh pemerintah pusat di Jakarta. Dengan demikian, gu-
    bernur layaknya adalah duta atau wakil pemerintah pusat untuk 
    "memimpin" daerah atau provinsi. Yang namanya kedaulatan rakyat se-
    bagai salah satu isi Pancasila, dalam masalah tersebut hanya aksara bi-
    su dalam buku. Begitu pula halnya dengan bupati, bukan hasil pilihan 
    rakyat, melainkan diangkat oleh Menteri Dalam Negeri dengan perse-
    tujuan Presiden.

    Selama masa berkuasa Rezim Militer Suharto, hingga masa Presiden 
    Megawati, jabatan Menteri Dalam Negeri tidak terlepas dari cengke-
    raman militer. Maka tidak perlulah heran, kalau sistem sentralisme ke-
    kuasaan dalam NKRI telah mengkristal bersama sistem komando mili-
    terisme Angkatan Darat yang diberi baju Dwifungsi ABRI (kini TNI).

    Karena ada DPRD hasil "Pemilu", maka digelarkan sandiwara pemili-
    han gubernur atau bupati di atas panggung pleno DPRD. Namun siapa 
    yang tak tahu, itu hanya perjudian politik semata, yang bandarnya nong-
    krong di Jakarta. Pusat sudah punya orangnya sendiri. Peristiwa pemba-
    talan gubernur terpilih Riau kala berkuasaa Suharto, yang merupakan se-
    orang putera daerah, lalu diangkat seorang jenderal berasal dari Jawa 
    yang pernah bertugas di wilayah Melayu itu, sebuah contoh. Pengang-
    katan Abdullah Puteh, aktivis Golkar, bekas Ketua KNPI sebagai gu-
    bernur Aceh, di samping atas kehendak Jakarta sebagai wakilnya, juga 
    diiringi  penuh dengan permainan uang (bahkan menurut informasi dari 
    Aceh, tokoh ASNLF - Malik Mahmud pun kebagian rezeki, demi pe-
    ngamanan melajunya Puteh). Padahal Aceh sudah resmi sebagai "Da-
    erah Istimewa" yang ditetapkan oleh pemerintah Sukarno.  Pemeka-
    ran Provinsi Riau dengan diresmikannya berdiri Provinsi Kepulauan 
    Riau, dimulai juga dengan rekayasa oleh pihak-pihak yang mengincar 
    kekayaan yang dimiliki kawasan itu, terutama bahan tambang, terma-
    suk minyak bumi di kepulauan dekat teluk Siam dan hasil lautnya.

    Yang sangat menarik, tingkah pemerintah pusat NKRI yang sama se-
    kali tidak peduli utk berorientasi kepada pendapat rakyat di luar fo-
    rum resmi DPRD. Ini semacam sikap otoriter dan feodalistis. Me-
    nganggap DPRD sebagai hasil "Pemilu" secara hakiki. Karena itu, 
    yang duduk di DPRD dipastikannya sebagai wakil rakyat. Padahal 
    yang mengajukan nama-nama mereka untuk diangkat sebagai anggota 
    DPRD oleh pemerintah pusat adalah Partai politik yang bersangkutan. 
    Jadi, anggota DPRD sama saja dengan anggota DPR dan MPR adalah 
    wakil partai politik, bukan wakil rakyat. Dan partai-partai yang ambil 
    bagian dalam pemilu, tidak punya program yang menyangkut kepen-
    tingan dan tuntutan daerah. Bahkan cabang-cabang partai itu di daerah 
    pun hanya menginggih-inggih ndoro saja kepada pusat demi kedudukan-
    nya, mereka tidak menyediakan program dan memperjuangkan  kepen-
    tingan rakyat di cabangnya. Contoh paling menonjol adalah perlakuan 
    terhadap Aceh. Dihidupkan kembali Kodam Iskandar Muda, tanpa 
    diminta persetujuan rakyat Aceh, melainkan diatasnamakan saja "ke-
    inginan rakyat Aceh". Ditetapkan Darurat Militer juga begitu. Utusan-
    utusan rakyat Aceh yang datang ke Jakarta  untuk menghadap Presiden 
    Megawati dan Menteri Polkam Susilo Bambang Yudhoyono dalam u-
    saha meminta agar tidak diterapkan Darurat Militer di Aceh, malah me-
    reka ditolak menemui pejabat tinggi NKRI itu. Pengalaman Maluku pun 
    mempertontonkan tidak merakyatnya penguasa Jakarta. Ini dapat dilihat 
    ketika tahun ini muncul lagi kerusuhan di Ambon, utusan pusat yang di-
    pimpin Mendagri Jenderal Sabarno, dengan gemetar hanya mengadakan 
    pertemuan di lapangan udara dengan pejabat di Ambon, tak berani turun 
    ke lapangan bertemu dengan rakyat.



    GEJALA lain yang sangat menonjol sebagai akibat sentralisme dalam 
    politik pengembangan atau pemekaran wilayah adalah dalam derajat 
    tertentu meniupkan politik pecah belah etnis. Hal ini sangat jelas dalam 
    pemekaran wilayah Papua Barat,  tidak diminta pendapat rakyat dan 
    dibiarkan bentrokan di kalangan etnis di sana ketika dilaksanakan pe-
    mekaran itu. Setelah ditunda,  kemudian tetap dilaksanakan juga akhir-
    nya dan diangkat seorang Jenderal Marinir sebagai gubernurnya yang 
    merupakan duta pemerintah pusat. Ini menunjukkan politik dwifungsi 
    TNI masih dikukuhkan.

    Pemekaran wilayah-wilayah tidak lepas dari kepentingan militer dan 
    militerisme. Dengan didirikannya provinsi baru berarti komando wi-
    layah militer  juga  bertambah.Dengan diadakannya  provinsi baru 
    berarti ada syarat menambah lagi Kodam atau paling tidak satu ko-
    mando resimen tambahan di sana.Dengan pemekaran wilayah kabu-
    paten berarti bertambah pula komando distrik militer (Kodim). Pe-
    mekaran kecamatan berakibat bertambah komando rayon militer 
    (Koramil). Pemekaran desa akan menambah Babinsa. Jadi yang je-
    las diuntungkan oleh politik pemekaran wilayah adalah militer. Tin-
    dakan pemekaran biasanya diawali dengan tuntutan oleh sekelompok 
    elit tertentu di daerah yang bersangkutan yang dikendalikan oleh elit 
    pusat.Gerakan pemekaran itu merupakan rekayasa mliter demi kepen-
    tingan militer, khususnya Angkatan Darat. Keputusan pelaksanaan pe-
    mekaran tampak selalu tergesa-gesa. Sangat menonjol sekarang ini, 
    di bawah Rezim Megawati. Sebagai contoh pembentukan Provinsi 
    Papua Barat, gubernur yang diangkat merupakan pejabat sementara. 
    Begitu pula jabatan untuk Kapolda (Kepala Polisi Daerah) belum 
    disiapkan orangnya. Kebijakan penguasa NKRI penuh dengan gaya 
    formalisme yang bersifat otoriter dan feodalistis.

    Sistem komando militer itu merupakan warisan dari sistem Jawa Ho-
    kokai Jepang, yang dibentuk setelah dibubarkannya Putera (Pusat 
    Tenaga Rakyat) yang dipimpin oleh Sukarno dan Hatta. Jepang tidak 
    suka kepada Putera  karena badan itu berkegiatan bagi kepentingan 
    rakyat se-Nusantara, dan Jepang sedang mengalami kekalahan terus-
    menerus di medan perang Pasifik. Jawa Hokokai merupakan organi-
    sasi yang dikendalikan militer Jepang hingga ke tingkat rukun warga 
    untuk mengontrol rakyat dalam menghadapi  kemungkinan serangan 
    Sekutu. (Bob Hering, SOEKARNO Bapak Indonesia Merdeka, 
    Hasta Mitra, 2003). Kodim, Koramil dan Babinsa merupakan hasil 
    cetakan dari Hokokai. Jejajaran komando TNI-AD itu dibentuk se-
    jak masa pelaksanaan SOB (Keadaan Darurat Perang). Tujuannya 
    juga sama dengan Hokokai, untuk mengontrol rakyat. Dengan badan-
    badan komando itu, dipaksa pemerintahan sipil mengikutsertakan mi-
    liter dalam setiap rapat pemerintahan setingkatnya untuk turut menen-
    tukan pengambilan sesuatu keputusan pemerintahan sipil dalam wilayah 
    komandonya.  Dan forum itu sudah bersifat suatu badan hukum peme-
    rintahan yang bernama Muspida.  Padahal tentara adalah aparat negara 
    untuk tugas pertahanan menghadapi musuh dari luar, sedangkan pe-
    ngamanan dalam negeri merupakan tugas polisi. Tetapi dalam praktek, 
    tugas polisi dibayangi atau diambilalihkan oleh militer.Ini merupakan sa-
    lah satu ciri kerancuan sistem negara NKRI. Kerancuan itu berpangkal 
    dari perebutan rezeki.


    SITUASI  yang rancu dalam bidang kekuasaan NKRI inilah yang me-
    nyebabkan perkembangannya tidak stabil bahkan amburadul. Dan ke-
    amburadulan ini sudah merupakan penyakit kronis. Kekuasaan Orde 
    Baru Militer yang otoriter , antidemokrasi dan feodalis, pengaruh buruk-
    nya masih kuat hingga sekarang.

    Hal-hal tersebutlah yang menyebabkan NKRI dalam waktu lama ke 
    depan tidak mampu melahirkan seorang pemimpin yang mengayomi 
    rakyat .Yang berkembang adalah tumbuhnya birokrat elit yang me-
    ngejar kekuasaan bagi dirinya atau kelompoknya. Maka praktek po-
    litik busuk tak ada yang membasminya. Ketidakadilan yang menimpa 
    rakyat juga tidak ada pembelanya. Hukum menjadi alat pelindung 
    penguasa. Maka ketidakpuasan massa, pergolakan etnis baik secara 
    sporadis, maupun permanen dan pemberontakan tak terhindarkan.
    Munculnya yang disebut separatis adalah bersumber dari sistem sen-
    tralisme yang dipelihara oleh Rezim Pusat di Jakarta.

    Dengan keadaan tersebut, rakyat di Nusantara akan menghadapi pers-
    pektif  dalam tiga kemungkinan yang akan muncul.

    Pertama, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang  yang pada per-
    mukaannya tampak di tangan kekuasaan sipil, tetapi secara hakikat 
    dikendalikan di belakang layar oleh TNI-Angkatan Darat; atau kem-
    bali berkuasa rezim model Orde Baru seri kedua,  yang lebih "lunak". 
    Perkembangannya terus dalam pergolakan. Suasana inilah yang di-
    harapkan militer, khususnya Angkatan Darat. Bahkan mereka dapat 
    menciptakan pergolakan dengan pelbagai rekayasa, sehingga badan 
    komando yang sudah meluas dapat berdominasi atas sipil.

    Kedua, timbul hasrat (terutama dari luar Jawa) dari kalangan kelas 
    menengah, kalangan  bangsawan dan intelektual yang mandiri untuk 
    mengubah NKRI menjadi negara federalis. Kondisi Nusantara yang 
    secara geografis terdiri dari negeri kepulauan, pelbagai etnis dengan 
    budaya dan adat-istiadat yang berbeda, serta mewarisi sejarah per-
    kembangannya yang juga berbeda, memiliki kekayaan alamnya sen-
    diri, merupakan dasar ideologi untuk pembinaan negara federalis.

    Ketiga, ditindas oleh politik sentralisme, ketidakadilan sosial , ketidak-
    adilan hukum, diskriminasi etnis baik melalui pelaksanaan transmigrasi 
    atau cara lain, pemerasan hasil-hasil daerah, ketimpangan pelaksanaan 
    politik pembangunan, pembiaran keterbelakangan daerah  menjadi 
    sumber dan pupuk penumbuh yang dicap "separatisme". Keadaan itu 
    dapat membangkitkan pergolakan-pergolakan yang akan menuju ke 
    terpulihkannya  kembali negara-negara Nusantara seperti sebelum di 
    bawah Hindia Belanda. Melahirkan wajah Nusantara warisan sejarah 
    dalam bentuk baru.  Berdirinya negara-negara baru yang berdaulat. 
    Kemungkinan-kemukinan ini,  jika dilihat dari hukum-hukum kontra-
    diksi dan perkembangan masyarakat bukan sesuatu yang mustahil 
    dan aneh. Apalagi  bila kesadaran menyatukan visi dan misi antar 
    etnis tumbuh dan berkembang, yang sekarang memang sudah ber-
    benih.



    MELIHAT GELAGAT, isi kampanye Capres/Cawapres mengam-
    bang, program hanya dalam hura-hura lamis bibir dan tidak ada yang 
    hakiki menurut kepentingan dan tuntutan rakyat yang didendangkan 
    mereka. Tak satu pun dari mereka dapat diharapkan sebagai negara-
    wan, kecuali sebagai penjudi dalam perebutan kekuasaan politik. 
    Pasangan-pasangan terjadi sebagai wujud oportunisme demi kekua-
    saan. Tak satu pun memantulkan bayangan seorang pemimpin tingkat
    se-Nusantara, kecuali untuk kelompok,wilayah atau golongan tertentu 
    saja. Karena itu, jalan rakyat bagi kesejahteraan hidupnya masih pan-
    jang dan itu tergantung pada kekuatannya sendiri untuk menciptakannya.


    ____________
    4 Juli 2004.

    (Selesai).


    ( Maaf  ralat :  judul kecil  no.3  "Sentralisme Investasi "  dalam 
     "Tiga Kemungkinan Di Nusantara"   yang lalu seharusnya masuk 
    dalam judul no 2  " Sentralisme Pembangunan di Jawa". Terima kasih. )


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke