Terima Kasih kembali ,
Kalau berdebat panas-panas dikit boleh dong asal
jangan mengerahkan massa/preman. :)
================
Bung Sandy dan Bung Zamhasari ybk.,
terimakasih atas tanggapan Bung berdua. Fenomen
"mencari gelar" yang
telah saya tuliskan pertama-tama adalah sebuah
ungkapan keprihatinan
terhadap dunia pendidikan kita yang telah lama
ditundukkan pada
kekuasaan politik.
Memang dalam alam bebas demokrasi yang sedang kita
rintis ini,
sekolah-sekolah pun menikmati kebebasan itu, yang
disebut
sebagai "otonomi kampus". Namun demikian,
gejala-gejala aneh yang
tidak "wajar" (jangan-jangan apa yang wajar itu sudah
dianggap tidak
wajar, dan sebaliknya ya) seperti pencarian gelar di
kalangan pejabat
pemerintah itu kurang banyak dikritisi. Kebanyakan
para pejabat
pemerintah "mencari gelar" sekedar untuk bisa naik
pangkatnya. Oleh
karena itu, segala macam cara pun ditempuh, termasuk
bila harus
dengan jalan pintas. Lalu, hal demikian dimaklumi oleh
karene
kesibukannya sebagai pejabat pemerintah.
Yang sulit bisa dibayangkan adalah seorang pejabat
pemerintah
setingkat menteri kok masih sempat-sempatnya sekolah
(bila benar-
benar mengikuti prosedur yang biasa). Dari perhitungan
alokasi waktu
saja hampir sulit dipenuhi, kalau bukan seorang
"ajaib". Seorang
pejabat setingkat camat saja setengah mati untuk bisa
mengikuti
kuliah tambahan kok ini ada pejabat setingkat menteri,
yang kemudian
calon presiden bisa mulus ber-kuliah. Apa ini tidak
hebat bin ajaib?
Kalau masalahnya ingin menunjukkan kepandaiannya
kepada publik,
bukankah pameran "ujian komprehensif" di masa
pencalonannya itu
justru semakin memperkuat kecurigaan publik? Lebih
parah lagi, kalau
memang begitulah cara seorang calon presiden memandang
dunia
pendidikan kita. Kepandaian dan pengetahuan yang luas
memanglah
dibutuhkan bagi seorang pemimpin. Tetapi menunjukkan
kepada publik
seakan-akan "seorang terdidik" demi pencalonan dirinya
sebagai
pemimpin bangsa? Benarkah memang itu caranya?
Salam saya untuk Bung berdua,
Tangkisan Letug
--- In [EMAIL PROTECTED], "Zamhasari Jamil"
<[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> Salam,
>
> Bang Letug dan bang Sandy Yth.
>
> Saya juga cukup tercengang kagum ketika mendengar
salah seorang
> diplomat kalau ia baru saja menyaksikan berita ttg
adanya salah
> seorang capres yang menerima gelar doktor dari IPB.
Dalam bayangan
> saya, rasanya tak semudah itu mendapatkan gelar
doktor wabil khusus
> bila kita melihat sistem pendidikan yang berlaku di
Indonesia. Ini
> dapat juga kita lihat dari minimnya pemberitaan
mengenai seseorang
> yang kemudian dianugerahi gelar doktor dari
univ-univ di Indonesia.
>
> Saya melihat bahwa dibalik diterimanya gelar doktor
oleh capres
yang
> bersangkutan, disana menurut saya juga ada kampenye
terselubung,
> sehingga dengan dalih 'memilih pemimpin yang
berpendidikan', maka
> alamat bahtera Indonesia akan selamat dari segala
macama mara
bahaya.
> Padahal bila yang muncul benaran itu adalah
su-uzhzhan saya saat
ini,
> maka itu akan lebih berbahaya lagi. Tapi saya tetap
berusaha untuk
> berhusnuzhzhan semoga penganugerahan gelar doktor
tersebut murni
> karena jerih payah dan usaha yang dilakukan oleh pak
capres yang
> terkait. Bukan karena dibeli, atau apalagi rekayasa
semata.
>
> Bila IPB nekad untuk berpura dan merekayasa dengan
menjual gelar
> doktornya kepada capres tertentu guna meraih
kepentingan sesaat,
maka
> ini benar-benar bencana besar dalam sistem
pendidikan kita. []
>
> Wassalam,
>
> IzaM -
> Pelajar awam di New Delhi,
> India.
>
>
> --- In [EMAIL PROTECTED], Sandy Dwiyono
<[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> > Manakah yang lebih baik dari calon pemimpin yang
> > mempersiapkan diri dengan menimba ilmu agar
> > kepemimpinannya dapat membawa kesejahteraan bagi
> > rakyatnya, dibandingkan dengan yang mengatakan,
"Saya
> > memang bodoh tapi saya bisa memilih orang-orang
pintar
> > sebagai menteri saya?".
> >
> > Wah gimana nggak dikibuli Tuan presiden kalau
begini
> > caranya? Bagaimana aset-aset negara tidak di
> > jual-jualin sama anak buahnya karena ketidaktahuan
> > Tuan presiden. Salah seorang anak buahnya ketika
lagi
> > ramai-ramai jual-jualan BPPN pernah berkata
> > (kira-kira),
> > "Saya jual sebagian saham PT. (anu) kepada
investor
> > asing supaya KESANNYA modal asing sudah masuk ke
> > Indonesia".
> >
> > Gimana nggak bangkrut negara ini kalau cara
> > berfikirnya seperti itu. Masa aset-aset negara
diobral
> > murah sama SATU negara, negara yang selama ini
> > senantiasa memberikan SUAKA POLITIK kepada
> > koruptor-koruptor kita. Bisa-bisa negara kita
> > dikuasai/dikendalikan Sang Pemberi Suaka Politik.
> >
> > Lain dengan Bapak Presiden SBY, beliau sudah
jauh-jauh
> > hari mempersiapkan diri untuk memimpin negeri ini
> > dengan menimba ilmu sebanyak-banyaknya, supaya
> > kepemimpinannya bisa
> > Sejahterakan Bangsa Yang besar ini. Supaya beliau
> > tidak dikendalikan anak buahnya. Akan repot suatu
> > bangsa kalau presidennya dikendalikan anak
buahnya.
> >
> > Sejahteralah Bangsa Yang besar ini.
> >
> >
> >
> >
> > --- Tangkisan Letug <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > CALON PRESIDEN DAN KEAJAIBAN PENDIDIKAN KITA
> > >
> > > Oleh Tangkisan Letug
> > >
> > > Fenomen seorang calon presiden yang mengikuti
ujian
> > > komprehensif sebuah sekolah tinggi menghenyakkan
> > > kesadaran penulis. Sejak kapan di negeri ini
seorang
> > > pejabat dapat mengikuti pelajaran di sebuah
sekolah
> > > tinggi? Memangnya para pejabat negara kita itu
> > > orang-orang pengangguran yang tidak punya
pekerjaan?
> > > Begitu mudahkah seorang pejabat mencari gelar?
> > >
> > > Kalau benar seorang capres yang mengikuti ujian
> > > komprehensif itu telah mulai kuliahnya sejak
tahun
> > > 2002 ketika ia masih menjadi pejabat publik.
Kalau
> > > penulis sendiri mempunyai jabatan publik,
apalagi
> > > jabatan menteri di negara besar Indonesia ini,
sulit
> > > dibayangkan bisa mengikuti kuliah atau bahkan
> > > mengikuti ujian. Tetapi memang dasar negeri
ajaib,
> > > eh
> > > atau seorang yang ajaib?- ujian komprehensif pun
> > > seakan menjadi pentas gratis pembentukan citra
diri.
> > >
> > > Kesadaran penulis terhenyak bukan karena sosok
calon
> > > presidennya, tetapi karena kenyataan bahwa
sekolah
> > > kita tidak lebih daripada tempat pameran
pencarian
> > > nama. Fakta seorang calon presiden ikut ujian
> > > komprehensif bagi penulis tampak mempertegas
> > > kenyataan
> > > begitu rendahnya sistem pendidikan kita sehingga
> > > seorang pejabat yang super sibuk pun masih
> > > diperbolehkan ikut ujian. Tentu pembelaan bisa
> > > dikatakan demikin: Toh tidak ada hukum yang
melarang
> > > seorang pejabat sekolah!
> > >
> > > Penulis sendiri mengenal sendiri beberapa
pejabat
> > > yang
> > > berhasil mengambil gelar Master dan doktoral
ketika
> > > mereka masih menjabat. Dan pada umumnya memang
> > > mereka
> > > cerdas dan cerdik dalam mengejar gelar-gelar
itu.
> > > Cukup untuk sekedar menaikkan pangkat, meraup
> > > kenaikan
> > > gaji. Tetapi jangan lupa, selain itu, juga untuk
> > > menambah menterengnya nama di meja kantornya:
Doktor
> > > ini, Master ini, menjadi tambahan namanya. Kalau
> > > ditanya cara bisa menyelesaikan sekolahnya?
Jawaban
> > > klasiknya: Kami mengikuti prosedur resmi kok.
Tetapi
> > > ada banyak hal yang tidak dikatakan untuk bisa
> > > meraih
> > > gelar master dan doktor.
> > >
> > > Jadi, seorang pejabat yang bisa mengejar gelar
> > > memang
> > > tergolong manusia ajaib di negeri ini. Karena
begitu
> > > banyaknya, maka, yang ajaib tidak hanya pejabat
yang
> > > bersangkutan, tetapi juga sekolah-sekolah yang
> > > menerima para pejabat sebagai
> > > mahasiswa-mahasiswinya.
> > > Begitulah, pendidikan kita lalu tidak lebih
daripada
> > > pendidikan orang-orang ajaib.
> > >
> > > Tetapi keajaiban tukang sulap adalah sebuah
> > > penipuan.
> > > Lalu, keajaiban para pejabat kita jangan-jangan
tak
> > > lebih daripada keajaiban tukang sulap juga.
> > >
> > > Pendidikan yang hanya menghasilkan tukang sulap
> > > hanya
> > > akan melahirkan para pemimpin penipu rakyat.
Lalu,
> > > dengan gampang rakyat disandera untuk meraih
kuasa.
> > >
> > > Oh, pendidikan Indoensia, kemana kami sedang kau
> > > bawa!?
> > >
> > > 27 Juli 2004
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat
Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in
Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA
(kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg
akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email:
[EMAIL PROTECTED]
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/