From: "mBah Soeloyo" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed Jul 28, 2004 6:28 am
Subject: Sandyakalaning Widya Wiyata--->Re: CALON
PRESIDEN DAN KEAJAIBAN PENDIDIKAN KITA
Sebenarnya ada tulisan beberapa orang sekolahnya
SBY sekarang untuk memberi keterangan pada Kang
Letung tentang SBY yang dikabarkan berbagai media
menjalani ujian komprehensif. Tetapi tak enak....
biar tetep gayeng, hehehe. Satu istilah ujian
komprehensif itu kelihatannya kok tidak dikenal
di program doktorat PT-2 di negeri ini. Tapi
entah kalau memang telah berubah aturan dan rambu
Pendidikan Tinggi yang tercantum pada PP 60/1999
yang sampai sekarang (sudah setahun lho UU No.20
yang agamais itu berlangsung) belum ada revisi
atau pengubahan.
Ujian komprehensif sendiripun sudah jarang dila-
kukan untuk mahasiswa-2 S1. Banyak atau mungkin
hampir semua PT (PTN, PTBHMN, PTS) meluluskan
sarjananya setelah mengalami ujian "skripsi".
Ini pun juga disebut secara salah oleh media
berkaitan dengan SBY, yaitu dengan istilah
UJIAN SIDANG. Banyak mahasiswa saya juga begitu,
minta waktu dapatkah saya menguji ujian sidang
mereka.
Yang jelas memang SBY melakukan ujian di suatu
PT-BHMN untuk kelas khusus strata-3 nya di program
studi Ekonomi Pertanian. Yang dilakukan hanyalah
ujian biasa, yang diikuti oleh 16 mahasiswa kelas
khusus dan 9 mahasiswa kelas reguler. Kalau sean-
dainya nanti SBY jadi presiden terus lulus, jadi
gara-gara presiden lulus, saya menyatakan memang
semuanya GOMBAL. Ya SBY-nya yang gombal juga
sekolahnya GOMBAL.
Jadi saya tetap setuju dengan pendapat Kang Letug:
"Pendidikan yang hanya menghasilkan tukang sulap hanya
akan melahirkan para pemimpin penipu rakyat. Lalu,
dengan gampang rakyat disandera untuk meraih kuasa.
(dengan mengingati, Wiranto lulus SH dari UT...:p,
Hamzah Has dapat doktor dari Somewhere University.)
Dan hampir 1.5 tahun lalu aku menulis artikel
demikian:
SANDYAKALANING WIDYA WIYATA
oleh: Ki Denggleng Pagelaran
Prakata:
Kita mungkin sudah akrab dengan istilah Sandyakala,
misalnya pada buku novel Sandyakalaning Majapahit oleh
(siapa ya? M. Yamin kah?), yang mengisaratkan pada
sesuatu
yang menjelang redup. Senja!
Tetapi di samping Sandyakala, ada juga istilah
Candhikala.
Sebenarnya sih sama saja, menunjukkan waktu menjelang
malam.
Namun Candhikala menunjuk pada suasana terang
kemerahan
menjelang malam hari akibat awan yang cukup tebal.
Cahaya
kemerahan juga terjadi di daerah Asia Timur ketika
musim
panas tiba, akibat tebaran debu gurun Gobi. Yang jelas
meskipun kadang-kadang Candhikala mengesankan
keagungan
dan kecerahan yang merah jingga, sejatinya waktu itu
sedang menuju gelap. Gulita malam hari, akibat semakin
tebalnya awan menghitam.
Candhikala Pendidikan Tinggi.
Akhir-akhir ini berita tentang Pendidikan Tinggi
terutama
didominasi oleh pembicaraan tentang biaya pendidikan
yang
mahal dan berbagai jenis program pendidikan sarjana
(S1).
Dalam suatu kesempatan 'bertandang' ke salah satu PTN
di
Jawa Tengah awal bulan Mei yang lalu, penulis banyak
mendapat informasi miring tentang penyelenggaraan
pendidikan tinggi dan biayanya dewasa ini.
Satu diantaranya adalah program khusus fakultas
kedokteran yang perlu biaya puluhan bahkan ratusan
juta rupiah. Juga aneh, karena program khusus itu
memungkinkan lulusan SMU IPS menjadi mahasiswa
fakultas
kedokteran. Ada lagi informasi - juga dari fakultas
kedokteran - penyelenggaraan program khusus yang
menawarkan sekitar 20 kursi mahasiswa berharga
puluhan juta rupiah yang langsung terambil habis
tidak lebih dari seminggu semenjak penawaran
diumumkan. Siapakah yang mampu mengambil jatah
itu? Tidak lain adalah putra-putri dokter sukses
alumni PT yang bersangkutan.
Kemudian terkait dengan cara recruitment mahasiswa,
penulis mendapatkan informasi otentik dari seorang
calon lulusan SMU berupa edaran di sekolahnya. Isi
edarannya adalah besarnya sumbangan pengembangan
akademik yang ada 4 alternatif, berkisar antara
Rp 2 juta sampai > Rp 51 juta, bergantung fakultas.
Ada lagi contoh nyata terjadi di Semarang, menyangkut
penyelenggaraan ujian masuk mahasiswa baru sebelum
UAN SMU. Salah satu PTS terkenal di Semarang menye-
lenggarakan ujian masuk gratis sebelum UAN. Peserta
yang dinyatakan lulus dan bersedia menjadi mahasiswa
baru dikenakan biaya pendaftaran Rp 100,000. Apabila
tidak jadi masuk, maka uang dikembalikan dengan
potongan 5 persen.
Tentang mahalnya biaya pendidikan tinggi yang sudah
menjadi kenyataan, memancing kenangan ketika penulis
menempuh studi program doktor di Jepang. Waktu itu
untuk pertama kalinya penulis diajak Profesor
Pembimbing
menjadi asisten mata kuliah 'Pertumbuhan Buah dan
Pengelolaannya' dengan 100 mahasiswa. Ketika baru
berlangsung sekitar 30 menit terlihat sekitar 20%
mahasiswa terkantuk-kantuk dan tertidur. Pada akhirnya
ketika kuliah sudah berlangsung sekitar 90 menit,
yang tertidur semakin banyak, mencapai 30% lebih.
Setelah kuliah selesai Profesor Pembimbing menanyakan
tanggapan penulis terhadap pelaksanaan kuliah itu.
Spontan penulis menjawab, bahwa bahan perkuliahan
sangat bagus, karena buku pegangannya adalah tulisan
Profesor sendiri, ditambah dengan ilustrasi dan
contoh-
contoh kongkrit dari hasil-hasil penelitian di
laboratorium yang dipimpinnya. Hanya - demikian
komentar penulis - sayang menjelang kuliah berakhir
30% lebih mahasiswa tidur; Profesor tetap menyampaikan
perkuliahannya, sedang mahasiswa tetap
terkantuk-kantuk
dan tidur. Penulis menyatakan bahwa hal yang demikian
itu tidak lazim terjadi di PT tempat penulis bekerja.
Jawaban Profesor sangat menyentuh hati. Profesor itu
menyatakan hal itu tidak mengapa, asal di ujian
mahasiswa
dapat menunjukkan kemampuannya. Alasannya, kasihan
para
mahasiswa itu telah membayar tuition fee sangat mahal
yaitu 450,000 yen/semester. Beberapa mahasiswa yang
tertidur tadi kemungkinan karena terlalu capai kerja
part-timer setelah kerja di laboratorium, untuk
memenuhi
kebutuhan sehari-hari dan/atau membayar SPP sendiri.
Penulis merasa heran, karena nilai SPP mahasiswa PTN
di Indonesia secara relatif juga sebesar itu. Bahkan
bila diperhitungkan dengan harga-harga kebutuhan
sehari-
hari secara relatif malah lebih mahal di Indonesia
dibandingkan dengan di Jepang. Sebagai gambaran
penulis
menceritakan bahwa dengan beasiswa 175.000 yen, masih
cukup leluasa untuk hidup � bahkan berlebih � karena
harga relatif kebutuhan sehari-hari cukup kecil.
Misalnya, di Jepang beras bermutu prima hanya 500 yen
per kilogram, sedang di Indonesia sudah mencapai
Rp 3,000 lebih per kilogram. Maka, dengan terbahak-
bahak Sang Profesor berseloroh, "Jadi seandainya di
kelasmu nanti yang tertidur hampir 100% pun kamu
tidak boleh marah!"
Ilustrasi di atas menyiratkan bahwa memperbandingkan
biaya pendidikan antar negara sungguh sangat sulit
untuk menilai mahal murahnya biaya pendidikan tinggi.
Artinya, memang bila SPP di Jepang diterjemahkan
dengan
rupiah, akan bernilai sangat mahal. Juga, bila diter-
jemahkan dengan nilai barang kebutuhan sehari-hari
di Jepang, nilai SPP itu menjadi sangat mahal di mata
orang Jepang. SPP itu sama dengan harga 3 unit sepeda
motor Honda Jet Matic. Nilai yang sangat jauh terpaut
bila dibandingkan dengan SPP mahasiswa PTN di
Indonesia
yang saat itu bernilai Rp 450,000.
Yang jelas, terutama untuk fakultas pertanian di
tempat
penulis kuliah di Jepang, jumlah mahasiswanya sedikit.
Satu fakultas, satu angkatan mahasiswanya tidak lebih
dari 100 mahasiswa yang mengambil ilmu-ilmu tanaman.
Bukan karena popularitas fakultas pertanian yang
kurang,
melainkan memang hanya sebegitulah daya tampung
fakultas
dengan pelayanan akademik optimal. Buktinya bahwa pada
proses seleksi mahasiswa baru, jauh lebih banyak yang
ditolak. Kebetulan universitas tempat penulis belajar
tergolong terbaik fakultas pertaniannya di wilayah
Jepang Barat.
Sedikitnya jumlah mahasiswa dari universitas berbasis
riset itu menyiratkan bahwa output universitas yang
dipentingkan bukan semata-mata lulusan, melainkan
juga scientific products. Scientific products sangat
diperhatikan, yang meliputi publikasi ilmiah, keikut-
sertaan mahasiswa (didampingi profesor pembimbing)
dalam seminar-seminar ilmiah domestik, juga
pembaharuan
bahan perkuliahan yang dilakukan terus-menerus oleh
profesor pengampu mata kuliah, baik berdasarkan hasil
riset di laboratoriumnya, maupun hasil observasi para
pengampu mata kuliah itu ketika melakukan perlawatan-
perlawatan ke luar negeri atau ke universitas-
universitas lain.
***
Sekarang, bila diperhatikan gejala yang muncul tentang
penyelenggaraan program pendidikan sarjana di
Indonesia,
maka jumlah lulusanlah yang terlihat menjadi tujuan
utama. Akibatnya, muncul berbagai jenis program dan
model recruitment mahasiswa. Bisa diperhitungkan bila
perkiraan biaya pendidikan seorang mahasiswa S1 di
Indonesia adalah Rp 11 juta/tahun, maka satu fakultas
yang memiliki mahasiswa hingga 3,000 orang, misalnya,
maka akan memerlukan biaya pendidikan sebesar
Rp 33 M/tahun. Satu universitas dengan jumlah
mahasiswa
hingga 20.000 orang, akan memerlukan biaya sebesar
Rp 110 milyar/tahun. Seandainya dari sekian ribu
mahasiswa itu dapat dihasilkan sekian ribu pula produk
ilmiah yang bermutu, mungkin saja masih menolong
citra pendidikan tinggi. Biaya pendidikan mahal masih
dapat diimbangi dengan kemajuan IPTEKS produk
perguruan
tinggi. Akan tetapi, bila yang dihasilkan melulu
lulusan
dan kemudian di dunia nyata sulit mendapatkan
pekerjaan
yang sesuai maka akan menjadi sangat mahal biaya
pendidikan
tinggi di mata sebagian besar penduduk negeri ini.
Apalagi dewasa ini nyata-nyata ada berbagai program
yang
bernilai puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Haruskah
nanti � misalnya � dokter perlu mencantumkan 'program
kuliah' yang diambil pada papan nama di tempat
praktek?
Atau, jangan heran seandainya nanti ada seorang pasien
sebelum diperiksa, dengan kritis ia bertanya: "Maaf,
Dok. Boleh tahu Dokter ini lulusan mana, dan dulu
mengambil program apa?" Dan ketika sambil tersipu-
sipu dokter itu menjawab: "Ah, saya hanya lulusan
reguler dari PT Anu, kok" justru Si Pasien segera
mempersilakan memeriksa, karena yakin akan
intelektualitas dokter dan mungkin biayanya
murah.
Mudah-mudahan itu semua bukan lambang Candhikalaning
Pendidikan Tinggi Indonesia. (24 Mei 2003)
_______________________________
Do you Yahoo!?
Express yourself with Y! Messenger! Free. Download now.
http://messenger.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/