Gema Warta Radio Nederland, 26 Juli 2004

Masuk Babak Kedua: Apa Hambatan SBY dan Bagaimana Mega
Bisa Menang?

Intro: Belum jelas apakah bom kecil yang meledak di
kantor KPU berdampak 
pada pengumuman hasil penghitungan suara pemilihan
umum 5 Juli lalu yang 
dijadwalkan hari ini. Yang jelas KPU melanjutkan
rapatnya. Tetapi sudah 
bisa dipastikan bahwa babak kedua pemilihan presiden
20 September 
mendatang akan diikuti oleh pasangan Susilo Bambang
Yudhoyono-Jusuf Kalla 
dengan pasangan Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi.
Masih besarkah kans 
SBY setelah Megawati sibuk membentuk koalisi dengan
Golkar? Berikut 
penjelasan Sukardi Rinakit dari lembaga jajak pendapat
Soegeng Sarjadi 
Syndicated di Jakarta.

Sukardi Rinakit [SR]: Koalisi itu memang membuat
posisi Megawati menjadi 
kuat. Dan sangat yakin saya bahwa Golkar itu akan ke
PDI-P, mendukung 
Megawati. Demikian juga dengan PKB, itu arahnya juga
akan mendukung 
Megawati. PDS otomatis akan mendukung Megawati. 

Nah sementara partai-partai islam seperti PAN atau PKS
ini memang belum 
menentukan sikap. Tetapi ada kecenderungan untuk
mendukung Megawati. 
Karena Megawati itu pada 2009 itu pasti tidak akan
mecalonkan lagi menjadi 
presiden. Artinya kekuatan islam juga akan bisa
mencalonkan tokohnya untuk 
maju nanti. 

Sebaliknya kalau mereka sekarang mendukung SBY dan SBY
menjadi presiden, 
maka kesempatan untuk maju dan menang di 2009 itu
lebih kecil. Karena SBY 
mesti akan maju lagi dan kemungkinan besar ia akan
menang. Kesempatan 
kekuatan islam untuk menang di 2009 itu hanya 10
persen, kalau SBY yang 
tetap jadi presiden. Sebaliknya kalau Mega 2009 sudah
tidak menjadi 
presiden kesempatan untuk kekuatan islam itu kalau dia
punya tokoh yang 
diajukan itu 50% menang dan 50% tidak. 

Radio Nederland [RN]: Sebenarnya kenapa sih Golkar kok
lebih memihak Mega 
dari pada SBY? Kan di situ ada Jusuf Kalla, kadernya
Golkar.

SR: Golkar mengapa tidak memilih Partai Demokrat itu
pertama juga 
perhitungan 2009. SBY kalau didukung oleh Golkar maka
itu, Golkar seperti 
membesarkan harimau. SBY jadi presiden mendapat
dukungan dari Golkar, maka 
SBY akan bisa membangung infrasruktur Partai Demokrat
kuat. Di 2009 itu 
akan menjadi saingannya Golkar. Golkar tidak mau
menambah saingan, sudah 
ada PDI-P yang kuat dan tidak mau tambah dengan Partai
Demokrat yang jadi 
pesaing baru. Itu satu.

Yang ke dua, kalau dia mendukung SBY sama alasannya
2009 SBY akan naik 
lagi menjadi presiden. Karena dia bisa memiliki
kekuatan sehingga kekuatan 
Golkar untuk merebut kursi presiden di 2009 menjadi
tidak terwujud. 
Padahal kalau dia sekarang koalisi dengan PDI-P, Mbak
Mega jadi presiden 
2009 dia selesai, nah Golkar bisa mencalonkan kandidat
presidennya dan 
kemungkinan menang adalah sangat tinggi. Karena kalau
dia tidak mendukung 
Partai Demokrat, maka Partai Demokrat akan tetap
kecil.

RN: Kalau begitu menurut anda apa yang harus dilakukan
SBY supaya bisa 
menang?

SR: Untuk menang tidak ada persoalan. SBY itu pada
tingkat rakyat kecil 
itu masih populer. Nah Mega dengan koalisinya itu
memang menjadi semakin 
kuat. Tetapi selisihnya masih tipis SBY akan menang.
Nah persoalannya 
adalah SBY akan menghadapi parlemen yang kuat.
Sementara pemerintahnya 
adalah lemah. Nah ada empat hal yang bisa dilakukan
SBY agar kuat 
pemerintahannya, paling tidak untuk mendongkrak
kekuatan.

Yang pertama adalah SBY harus membentuk tim lobi yang
tangguh. Tim lobi 
ini harus mendekati ke anggota DPR, ke Parlemen, juga
ke ketua-ketua 
fraksi dan juga ke pimpinan partai. Tim tangguh ini
bisa memperlancar, 
kalau pemerintah itu mengajukan
kebijaksanaan-kebijaksanaan entah APBN, 
pengangkatan pejabat dan lain-lain. Nah tanpa tim lobi
ini DPR pasti akan 
membendung SBY. 

Yang kedua SBY harus meningkatkan silaturohmi ke
pimpinan pimpinan partai 
dan anggota parlemen. Tidak bisa bergaya ningrat gitu,
tidak bisa. Harus 
berbaur dengan mereka, sering berkunjung dan segala
macam.

Yang ke tiga memanfaatkan media. Kalau pemerintah
mengajukan policy dan 
DPR itu selalu menghambat, maka harus muncul di media
secara nasional, dan 
bilang kepada rakyat bahwa pemerintah sudah mengajukan
policy yang 
sebetulnya baik untuk rakyat tapi DPR tidak
menyetujui. Nah silakan rakyat 
sekarang memutuskan apa. Artinya parlemen jalanan yang
harus digalang.

Dan keempat yang harus dibangun juga punya hak veto
presiden. Kalau 
parlemen rewel terus terhadap sebuah policy yang
diajukan pemerintah, 
presiden punya hak veto agar kebijakan itu diterapkan.
Nah hanya empat 
kemungkinan ini yang bisa mendongkrak sedikit kekuatan
SBY menghadapi 
parlemen yang kuat kalau SBY jadi presiden. 

RN: Sekarang saya mau tanya soal akur-akuran
pembentukan koalisi itu. 
Apakah itu akan dituruti oleh massa pemilih? Sementara
kecenderungannya 
kan kelihatan bahwa massa pemilih ini sudah enggak mau
dipengaruhi 
intruksi-instruksian gitu, mereka enggak dipengaruhi
aliran-aliran lagi, 
mereka punya pilihan sendiri. Itu bagaimana menurut
anda?

SR: Iya, ini kan koalisi elit. Koalisi ini paling
penting hanya ketika di 
parlemen. Kalau berkaitan dengan dukungan massa
terhadap calon presiden, 
ini sebenarnya tidak begitu signifikan. Tetapi karena
mesin politik Golkar 
itu sudah lama mengakar, PKB juga lumayan, meskipun
bukti terakhir 
menunjukkan bahwa orang-orang Nahdliyin pun kurang
mengikuti kyai mereka, 
tapi koalisi besar antara PDIP, Golkar, PKB dan PDS
misalnya tentu akan 
memperkuat posisi Megawati menjadi hampir sepertiga,
anggap aja 30%.

Nah sepertiga lagi Golput, Golput pasti meningkat.
Sepertiga lagi itu 
rakyat yang mendukung SBY. Artinya komposisi pemilihan
presiden putaran 
kedua itu sepertiga Golput, sepertiga Megawati dengan
koalisi besar itu 
tadi, dan sepertiga SBY yang sangat populer di mata
rakyat kecil. Nah yang 
menang nanti akan ditentukan, bahasa kasarnya, satu
orang nakal dari 
Golput akan milih siapa. Sampai sekarang
kecenderungannya akan milih SBY. 
Artinya SBY akan menang sebagai presiden.

Nah koalisi-koalisi ini hanya membantu sendiri
sebenarnya. Tidak begitu 
menentukan kemenangan seorang calon. Hanya membantu
sedikit saja.

RN: Kalau begitu menurut anda Golput itu lebih
membahayakan Mega daripada 
membahayakan SBY. 

SR: Ya, Golput ini sampai sekarang ini masih
membahayakan Mega. Karena 
kemungkinan mereka itu akan swingnya itu masih ke SBY.
Tetapi sentimen ke 
depan bisa jadi berubah kalau tim SBY kurang
komunikatif terhadap kelompok 
Golput. Artinya terhadap peneliti, terhadap media,
lsm, segala macem. 
Mereka itu kurang berhubungan baik.

Nah sementara sentimen yang mulai bergerak, lebih baik
Mega karena bisa 
koalisi dengan parlemen lebih baik, pemerintahan lebih
stabil. Itu yang 
harus dijawab tim suksesnya SBY. Tapi sampai hari ini
memang trendnya itu 
SBY masih menang.

RN: Golput itu asumsinya memang bener-bener Golput.
Mereka adalah kalangan 
yang tegas mengatakan ah enggak ada yang bisa saya
pilih, saya Golput aja. 
Atau karena ada masalah administrasinya juga?

SR: Ada tiga Golput kan. Satu Golput yang
administratif itu Golput yang 
punya hak pilih tapi tidak terdaftar, karena mereka
itu mobilitasnya 
tinggi. Misalnya sopir antar kota segala macam itu
akhirnya tidak 
terdaftar. Mereka yang tergusur karena tempat
tinggalnya tidak ada, dan 
mereka yagn kena bencana alam. Karena pemerintah
lambat jadi tidak 
terdaftar.

Sementara Golput yang ini adalah Golput yang riil,
yang betul-betul sadar 
memutuskan saya tidak memilh atau saya memilih. Yang
lalu Golputnya 
sekitar 23 juta yang murni. Nah Golput inilah yang
nanti bertambah, yang 
pemilihan presiden sekarang itu sekitar 30 juta dan
itu akan bertambah 
lagi yang kecewa, karena Amien Rais tidak terpilih.
Orang-orang PAN dan 
orang PKS yang mendukung Amien sebagiannya pasti akan
Golput. Juga Gus 
Dur, waktu Gus Dur memutuskan untuk Golput.

RN: Ya, menurut anda yang jumlahnya lebih besar adalah
Golput yang sadar 
katimbang Golput yang administratif ya?

SR: Benar demikian. Jadi 40 juta itu Golput sadar
sebetulnya. Putaran 
kedua dugaan saya 40 juta itu Golput sadar.

RN: Itu kebanyakan para pendukung capres-capres yang
tidak bisa melajut ke 
babak kedua tadi.

SR: Iya, satu adalah orang-orang yang melihat semuanya
itu tidak ada yang 
baik. Waktu putaran pertama itu kira-kira 23 juta.
Artinya capres-capres 
itu semua sama aja, enggak ada yang istimewa. Akhirnya
mereka enggak 
memilih. Itu 23 jutaan. Ditambah yang sekarang ini,
ketika putaran pertama 
presiden itu menjadi 30 juta. Itu artinya roang-orang
yang terdaftar baru, 
tetapi juga yang melihat enggak ada yang istimewa dari
capres-capres itu.

Nah, di putaran kedua nanti itu bisa 40 juta. Itu
adalah orang yang 
dulunya milih Amien Rais gitu ya, itu orang PAN atau
PKS atau di belakang 
Gus Dur sebagiannya karena Gus Dur Golput. Itulah yang
nanti menambah, 
jadi Golput yang asli.

RN: Kalau gitu menurut anda, Mega harus berbuat apa
untuk bisa merangkul 
golput-golput ini?

SR: Nah, caranya itu para pembuat opini itu, entah
peneliti, LSM segala 
macem dikumpulkan, dan Mega harus dialog dengan mereka
Disampaikan bahwa, 
pemerintahan apabila tidak dapat dukungan parlemen itu
akan hancur. Susah, 
tidak efektif dan tidak kuwat. Anda-anda yang di
Golput itu, para pembuat 
opini segala macem, mau enggak mau, logikanya harus
linier seperti ini. 
Harus sadar bahwa pemerintah kalau tidak mendapatkan
dukungan parlemen, 
tidak akan bisa bekerja. Maka dukunganlah kira-kira
begitu, yang pasti 
akan mendapatkan dukungan parlemen, koalisi besar di
parlemen itu. Artinya 
PDIP dengan Golkar dengan PDS dengan PKB akan lebih
stabil 
pemerintahannya.

RN: Mega menurut anda bisa memainkan isyu sipil
militer?

SR: Ah, kurang efektif. Jadi isyu sipil militer tidak
begitu efektif lagi 
dimainkan. Bisa dimainkan tapi pengaruhnya terlalu
kecil. Sekarang itu 
lebih baik kelas-kelas menengah ini yang jelas Golput
itu diambil saja, 
milsanya para pembuat opini itu, entah itu peneliti
NGO segala macem, juga 
media tentu, nah mereka inilah yang harus menjelaskan
kepada Golput untuk 
memberikan suara.

Nah memberikan suara kepada siapa? Harus dilandasi
dengan pengertian bahwa 
pemerintahan yang stabil intinya itu. Kalau Mega
menggalang isyu sipil 
militer segala macem itu pengaruhnya terlalu kecil.
Tidak begitu 
signifikan. Itu memang ada di kalangan kelas menengah,
tetapi tidak akan 
sebesar 10 juta, 20 juta, atau 40 juta yang
terpengaruh. Yang terpengaruh 
hanya sekitar satu juta saja kalau sipil militer itu. 

Demikian Sukardi Rinakit dari lembaga jajak pendapat
Soegeng Sarjadi 
Syndicated.

http://www.rnw.nl/in/berita/gemawarta.html#4093444


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke