Dari Notes Belajar Seorang Awam:

CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [6].

"Kita Harus Sampai Yogya!"

Pada suatu hari, adikku Ong Oen Kiong, salah seorang penanggungjawab dari Ansambel 
Tari  & Nyanyi Binneka  memperlihatkan sepucuk surat dari Baperki Cabang Muntilan, 
yang meminta Ansambel kami untuk memeriahkan rapat besar mereka. Nama Ansambel ini 
memang sudah mulai menanjak di Yogya dan sekitarnya sejak ia mengadakan pementasan 
tiga malam berturut-turut di Gedung Shin Shen She, Pacinan Yogyakarta. Pertunjukkan 
tiga malam itu menghidangkan berbagai macam acara, berbeda dari 
pertunjukan-pertunjukan biasa yang dipentaskan oleh organisasi-organisasi kesenian 
etnik Tionghoa selama ini. Yang tampil pun bukan hanya para seniman dari etnik 
Tionghoa tapi ada Buce dan Martin, dari Minahasa, ada Mangusong dan Hutajulu dari 
Tapanuli, Surono sang pelukis dan pemain akordeon. Selain lagu-lagu revolusioner 
seperti "Gerilya Kalimantan Utara", "Resopim","Nasakom Bersatu" karya-karya Subronto 
K.Atmojo, karya-karya C. Simanjuntak, juga ditampilkan lagu-lagu rakyat dari berbagai 
pulau mulai ujung utara Sumatera sampai ke Papua [Irian Barat]. Secara finansil, 
pertunjukan ini menghasilkan beberapa juta rupiah, hasil yang berada di luar 
dugaan.Laisomnena, lagu nelayan Dayak diangkat dalam bentuk balet bersamaan dengan 
Tanduk Majeng dari Madura. 

Hasil pertunjukan ini kemudian sebagian kami sumbangkan untuk membangun Taman 
Kanak-kanak Bhinneka,sebagian untuk kepentingan Ansambel. Secara psikhologis 
pertunjukan telah meningkatkan kegairahan dan kesatuan anggota grup, sedangkan pihak 
orangtua dan keluarga para anggota makin percaya kepada kami. Kepercayaan ini perlu 
kugarisbawahi karena mempunyai arti praktis bagi kelancaran kegiatan berkesenian 
kami.Apalagi pihak orangtua juga melihat bahwa sekalipun kegiatan putera-puteri mereka 
meningkat, tapi dari segi pelajaran di sekolah, mereka tidak menunjukkan kemunduran 
sedikitpun. Kepercayaan dan dukungan kuat juga datang dari pihak pengurus sekolah. 
Melalui kegiatan-kegiatan kongkret begini, para anggota Ansambel menunjukkan kepada 
seluruh masyarakat di mana saja kami datang, bahwa etnik Tionghoa adalah bagian tak 
terpisahkan dari bangsa dan negeri. "Kamipun Indonesia, Indonesia pun adalah negeri 
kami. Indonesia bukan monopoli". Pikiran ini sangat diresapi oleh seluruh anggota 
Ansambel. "Bahwa mata kami sipit, justru kesipitan mata ini memperlihatkan indahnya 
keragaman bangsa dan negeri". Rasialisme di kalangan etnik Tionghoa dan non Tionghoa 
kami lawan melalui kegiatan-kegiatan patriotik dan kemanusiaan. Perasaan bangga 
menjadi Indonesia dan rasa keindonesiaan kami tumbuh dengan sendirinya secara alami. 
Pikiran-pikiran, sikap dan perasaan begini kemudian menjalar ke kalangan angkatan tua 
yang bangga melihat kegiatan-kegiatan putera-puteri mereka. Inilah isi kepercayaan 
yang kami dapatkan. Agama? Mana pula kami pernah membicarakan soal agama dan perbedaan 
agama di kalangan kami. Sekalipun kami tak pernah membicarakan soal agama dan 
perbedaan agama.

Dari pengalaman kecil di lingkungan kecil ini, aku yakin benar bahwa Indonesia memang 
suatu konsepsi besar indah yang mungkin terujud. Konsep Indonesia dan keindonesiaan 
bukanlah konsep khayali tanpa dasar.

"Gimana, Kak?" tanya Oen Kiong yang dalam keluarga biasa disebut Wen Kung. "Dipenuhi  
nggak undangan ini?".

"Mengapa mesti ditolak?", jawabku.

"Kalau begitu kita harus mendatangi keluarga-keluarga minta izin", ujar adikku itu.

"Kapan?" tanyaku.

"Sekarang!". Berdua kami segera pergi ke daerah Pacinan untuk minta izin kepada 
orangtua-orangtua. Lebih tepatnya: Memberi tahu. Karena biasanya tidak seorang pun 
dari orangtua anggota yang keberatan terutama melepaskan anak gadis mereka ikut 
bepergian.

Pada jam yang sudah disepakati, bus  Baperki Muntilan datang menjemput kami. Dengan 
membawa perlengkapan-perlengkapan pertunjukan, kami menaiki bus secara teratur. 
Sepanjang perjalanan tentu saja, nyanyi demi nyanyi serta sendagurau tak putus-putus 
menggema. Perjalanan kami manfaatkan sekaligus sebagai kesempatan berlatih. Wen Kung 
dengan akordeonnya memimpin latihan di bus. Gelora jiwa muda menghangati udara yang 
mendingin menyusup ke ruangan bus. Elan jiwa remaja menghalau kelelahan seharian di 
sekolah. Di bus ini aku seperti melihat wajah Indonesia masa datang, Guk.Indonesia 
kita!Indonesia dengan elan seekor naga bangkit dari dasar lubuk sambil 
menghempas-hempaskan ekor perkasanya ke segala tantangan. Anak-anak muda ini kulihat 
sebagai naga-naga muda yang sedang bebas dan sehat bertumbuhan. Naga-naga harapan 
tanahair dan bangsa.  

Di Muntilan kami disambut dengan hangat oleh pengurus Baperki.Wen Kung turun pertama, 
dan mengawasi para anggota rombongan turun satu per satu dengan tertib dan penuh 
disiplin. Timbul rasa bangga di hatiku melihat para anggota rombongan kami yang 
berjumlah 30 orang itu bersikap tidak ugal-ugalan, tahu menempatkan diri sesuai 
keadaan walaupun usia mereka tidak melampaui 20 tahun. Mereka sangat tertib dan nampak 
saling mendahulukan satu dan yang lain. Sikap sopan, tertib, penuh disiplin yang 
memberikan kesan baik kepada para pengurus Baperki setempat yang bergiliran kami 
salami. Aku tahu mereka banyak belajar dari rombongan Shin Sheisha Kuza yang mereka 
pun turut menyambutnya. Shin Sheisha Kuza yang para anggotanya juga muda-muda nampak 
sangat mempengaruhi mereka.

Pertunjukan kami buka dengan paduan suara "Rayuan Pulau Kelapa" yang melatarbelakangi 
solis utama, soprano kami : May-Swan dipimpin oleh akordeon Wen Kung. Kami sengaja 
membuka saban pertunjukan dengan lagu karya Ismail Marzuki ini untuk menyampaikan 
pesan utama kami. Pertunjukan  bagi kami adalah alat penyampai pesan berbarengan 
dengan menghibur para penonton. Setelah itu acara tradisional kami lanjutkan dengan 
pembacaan puisi penyair S.W. Kuntjahjo, alm.: "Aku Anak Tionghoa" oleh seorang anggota 
kami berusia 12 tahun. Pembacaan sanjak ini berlangsung hampir 20 menit karena sering 
terpenggal oleh tepuktangan gemuruh para penonon yang merasa tergelitik oleh sanjak 
Kuntjahjo tersebut. Di akhir pembacaan sanjak, paduan suara dan soprano  menyanyikan 
kembali secara lirih "Rayuan Pulau Kelapa" disertai oleh turunnya layar pelan-pelan 
disusul oleh acara solis tenor Mas Harri dari ASMI [Akademi Seni Musik Indonesia] di 
depan layar yang turun itu. 

Ketua Baperki mengantar rombongangan kami ke bus yang tadi kami gunakan. Sopir 
menyatakan pujiannya kepada seluruh rombongan sambil melarikan bus menuju Yogya. Malam 
makin larut dan dingin. Setelah beberapa kilometer dari Muntilan, tiba-tiba sopir 
menghentikan kendaraan dan turun. Kami saling berpandangan, saling bertanya apa yang 
sedang terjadi. Dari pintu bus, sopir mengumumkan bahwa dua bannya kempes dan ia tidak 
mempunyai ban cadangan."Maaf", ujar sopir. "Saya tidak bisa mengantarkan adik-adik 
sampai Yogya".   Wen Kung segera berdiri dan berkata:

"Tenang. Jangan panik".
"Sekarang kita turun semua dan tinggalkan dulu barang-barang di bus", tambahku. Para 
anggota turun dengan tertib. Kami duduk melingkar di jalan aspal di bawah udara yang 
kian mendingin. Rapat menetapkan apa yang harus dilakukan. 

"Malam ini juga kita harus sampai Yogya " ujar Wen Kung tenang pasti.
"Bagaimana cara mencapai Yogya, terserah pada akal masing-masing. Tapi yang utama 
adalah mencegat truk-truk yang lewat untuk ditumpangi. Rombongan kita bagi atas 
grup-grup 3-4 orang dengan penangungjawab grup masing-masing. Dalam mencegat truk atau 
kendaraan lain dan ketika di perjalanan harap jaga disiplin dan saling bantu. Besok 
jam 10:00 pagi ketua grup melapor kepada saya", ujar Wen Kung lagi. 

"Malam ini juga kita harus sampai Yogya, karena besok akan ada ulangan di sekolah. Ada 
yang keberatan dengan usul jalan keluar ini?". Seperti koor, semuanya menyatakan 
setuju dan grup-grup serta penanggungjawabnya ditentukan. 

Sopir bus kami mendengar keputusan kami dan sekali lagi meminta maaf. Pada waktu itu 
kami tidak mengenal telpon genggam, juga tidak ada tersedia kabin telpon untuk 
menghubungi pengurus Baperki di Muntilan atau memberitahu orangtua-orangtua anggota di 
Yogya. Grup demi grup berangkat dengan jalan kaki menuju Yogya dan mencari jalan 
mencapai Yogya.Aku dan Wen Kung berangkat paling akhir dengan membawa beban yang 
paling berat. 

Aku melihat Adikku yang menjawabku dengan tertawa. Setelah berjalan beberapa 
kilometer, langit timur sudah memperlihatkan cahaya merah tanda fajar menghakhiri 
subuh. Sebuah truk meluncur laju dari arah Muntilan dan aku berdiri di tengah jalan 
melambaikan tangan.Atas pengertian sopirnya, dengan truk inilah aku dan adikku 
meluncur menuju Yogya. Setelah mendengar cerita kami, ibu dan Tacik [kakak perempuan] 
tanpa banyak bicara segera menyiapkan makanan dan minuman hangat bagi kami berdua. 
Kasihsayang kedua perempuan ini tak pernah pupus dari ingatanku dan selalu memberiku 
kehangatan serta semangat. Dalam Tragedi September 1965, kudengar mereka terpaksa 
meninggalkan rumah kami di Jalan Ki Haji Akhmad Dahlan. Ketika berada di Yogya 
beberapa tahun lalu, aku mencoba mencari mereka tapi tak pernah berhasil. Melalui Hong 
Kong, ayah pernah mengirimku sarung dan mesin ketik. Kudengar dari Wen Kung bahwa ayah 
bahkan pernah mencariku di Beijing tapi ketika itu aku sudah meninggalkan Tiongkok. 

Tragedi September 1965 telah menghancurkan banyak harapan dan keluarga. Meremukkan 
sekian kasihsayang. Menjadikan Indonesia sebagai hamparan kuburan dan tumpukan puing. 
Dengan kadar dukaku sendiri, dari hamparan kuburan, tumpukan puing dan gundukan abu 
itu, aku  berdiri tanpa kucuran airmata. Hanya di kaca kulihat parit-parit dalam duka 
menandai dahi. Parit-parit duka lebih dalam lagi kusaksikan pada jutaan dan jutaan 
anak bangsa dan negeri ini. Kalau Yogya adalah lambang harapan dan tujuan berbangsa 
dan bernegeri, masihkah sekarang kita bisa berkata:"Kita Harus Sampai Yogya!"? 

Sambil beristirahat, satu demi satu penanggungjawab grup berdatangan ke rumah 
melaporkan bahwa semua anggota grup sudah sampai ke rumah masing-masing dengan selamat 
tanpa masalah apapun. Semua grup sampai ke Yogya. Kemudian kusaksikan pengalaman pahit 
ini hanya menambah semangat para anggota Ansambel dan kepercayaan para orangtua.

Kalau Yogya adalah lambang harapan dan tujuan berbangsa dan bernegeri, masihkah 
sekarang kita bisa berkata:"Kita Harus Sampai Yogya!"? 

Angkatanmulah Guk, yang sekarang layak menjawabnya. Aku hanyalah senja waktu yang 
masih mencoba mengibas awan memberi ruang pada cahaya: harapan dan mimpiku.     


Paris, Juli 2004.
----------------
JJ. Kusni


 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke