Dari Notes Belajar Seorang Awam:

CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [7].

"Festival Drama"

Ketika bekerja di Indonesia dan bolak-balik berkunjung ke berbagai daerah di tanahair, 
keluhan yang paling sering kudengar adalah ketiadaan dana. Ketiadaan danalah yang 
menghambat pemberdayaan dan pembangunan masyarakat. Buntut dari ketiadaan dana adalah 
keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan.Selanjutnya keterbelakangan, kebodohan 
membuat kita miskin dan kemiskinan membuat menyebabkan ketiadaan dana. Jalan pikiran 
begini,pada hakekatnya menempatkan kita, para penganutnya berada dalam suatu lingkaran 
setan, sehingga kita dengan demikian akan selamanya berada dalam keadaan bodoh, miskin 
dan terbelakang.

Tentu saja aku tidak meremehkan arti dana, Guk. Tapi bagiku di atas segalanya dan 
pertama-tama bukanlah dana tetapi manusia yang mengendali dan mengelola dana. Dana 
sebanyak apapun jika dikelola dan dikendalikan oleh manusia yang tidak becus dan 
mempanglimakan dana, maka dana sebanyak apapun akan ludes dalam beberapa waktu. 
Sedangkan jika kita mempunyai manusia yang sadar akan keadaan diri, artinya tahu di 
mana mereka berada, sadar untuk mencari jalan keluar, artinya menjawab pertanyaan ke 
mana dan  bagaimana mencapai arah ke mana itu, maka dengan adanya manusia demikian, 
masalah dana dicarikan pemecahannya dan mereka pun akan berusaha sebisa mungkin 
mengelola dana itu. Adanya kesadaran begini, membuat manusia pemilik kesadaran 
demikian akan membangkitkan mereka menjadi aktor pemberdayaan diri sendiri dan 
melakukan pembangunan yang akan bergulir terus membesar seperti  bola es. Kunci 
pemberdayaan adalah tumbuhnya keadaran dan kemampuan di dalam masyarakat untuk menjadi 
aktor pemberdayaan diri mereka sendiri yang berporos pada proses penyadaran. 
Penyadaran dan pemecahan masalah-masalah mendesak akan saling bertautan. Pembangunan 
yang tidak berdasarkan pada  pemberdayaan kukira akan gagal. [Masalah pemberdayaan dan 
pembangunan di sini tidak kulanjutkan karena akan terlalu menyimpang dari soal 
festival teater atau festival drama, cerita kecil  yang di sini ingin kututurkan].

Lembaga drama Lekra Yogya seperti halnya dengan Lembaga Musik, melakukan 
latihan-latihan periodik dengan menggunakan Sanggar-sanggar Pelukis Rakyat yang 
terletak di Sentulrejo dan Sanggar Indonesia Muda [SIM] di  dhadapan Alun-alun Lor 
[Utara] atau di rumah teman-teman yang mempunyai pendapa atau ruangan luas. Agar yang 
latihan merasa lebih terdorong, maka dirancangkan sekaligus waktu pementasan. Sebab 
tanpa rencana pementasan, yang latihan akan menjadi kurang bersemangat. Segi lain dari 
penyelenggaraan latihan-latihan, tentu saja agar Lembaga selalu siap memenuhi 
permintaan dari berbagai kalangan baik di kota ataupun di pedesaan. Bagaimana bisa 
memenuhi permintaan ini, jika Lembaga tidak siap? Padahal permintaan dari berbagai 
kalangan tidak pernah berhenti datang ke Lembaga.

Saban rencana pementasan ditetapkan, masalah yang selalu memusingkan memang masalah 
dana. Yuran dan sumbangan anggota yang umumnya terdiri dari mahasiswa dan pelajar, 
tentu tidak memadai. Paling-paling cukup untuk mencetak undangan diskusi dan keperluan 
administratif . Lalu bagaimana membayar sewa gedung, kursi, pembuatan spanduk, poster, 
ongkos latihan ,  dan lain-lain? Pada waktu itu kami sama sekali tidak mengenal yang 
disebut sekarang dengan usulan proyek dan donator baik dalam maupun luarnegeri untuk 
membantu menggerakkan kegiatan. Semua kami bekerja dengan sukarela tanpa iumbalan 
sepeserpun.  Tapi rencana kami tetapkan bukan  untuk menjadi rencana mati dan berhenti 
di atas kertas. Tidak pernah ada rencana pementasan yang kami batalkan. 

Setelah berkali-kali melakukan pementasan semalam dengan satu cerita, maka pada suatu 
ketika kami menetapkan untuk menyelenggarakan festival drama selama seminggu sekalipun 
di kas Lembaga sama sekali tidak ada dana tersedia untuk kegiatan sepanjang itu. Tapi 
rencana kami tetapkan juga dan kami bertekad menyelenggarakan Festival tersebut. 
Grup-grup ditetapkan berdasarkan lakon yang akan diangkat ke pentas. Batas waktu 
latihan minimal ditetapkan dan bisa diundur jika ternyata hasil latihan dinilai kurang 
memenuhi harapan. Ketika grup-grup lakon berlatih dengan giat, penanggungjawab Lembaga 
Drama mulai berunding mencari jalan pembeyaan yang tentu saja tidak kecil dan  jadinya 
tidak sesederhana keinginan. Beaya untuk mencetak karcis festival pun kami tidak punya.

Dalam sebuah rapat khusus membicarakan masalah beaya festival, seorang teman 
mengusulkan agar para penanggungjawab dengan kerelaan menggadaikan barang-barang 
mereka yang kira-kira bisa memenuhi keperluan mendesak dan bersifat kunci yaitu 
karcis. Pengusul kemudian melanjutkan keterangannya bahwa dengan uang penggadaian itu, 
kita cetak karcis dan dengan hasil penjualan harga karcis itu kita tebus kembali 
barang-barang gadaian. Sisanya kita gunakan untuk membeayai festival drama. Peserta 
rapat semua tertawa dengan usul ini karena merasa kasihan pada diri sendiri. Tapi usul 
inilah yang kami terima sebagai keputusan untuk dilaksanakan. Seorang teman segera 
melepaskan cincin emas dari jarinya, meletakkannya di meja. Aku sendiri menyediakan 
sepeda yang kugunakan sehari-hari untuk digadaikan. Dua sepeda dan sebuah cincin emas 
kami bawa ke rumah gadai. 

Aku lupa sudah berapa rupiah yang kami peroleh dari menggadaikan barang-barang 
tersebut, tapi yang jelas, jumlahnya jauh dari mencukupi  keperluan mencetak karcis. 

Ketika meninggalkan rumah gadai, di sepanjang jalan aku tak habis pikir, bagaimana 
cincin emas bisa dinilai tinggi oleh rumah gadai. Keheranan yang naif barangkali. Tapi 
jujur kukatakan sebelum pergi ke rumah gadai, di mataku emas tidak terlalu berharga. 
Karena di kampungku di Sungai Katingan, kalau ibu memerlukan emas untuk perhiasan 
kakak dan adik-adik perempuanku, ibu tinggal turun sungai, mendulang beberapa jam, 
ibupun sudah memperoleh emas yang diperlukan. Emas bagi kami di kampung, terutama di 
mata bocahku, pada waktu itu sama sekali bukan barang mewah. Rumah gadai Yogya lah 
yang membuatku kemudian sadar akan nilai emas dalam masyarakat. Sekalipun demikian, 
emas masih saja belum menarik perhatianku dibandingkan dengan buku. Ketika kembali 
dari perjalanan panjang puluhan tahun, kusaksikan justru emas sudah menghancurkan alam 
kampung kelahiranku.

Masalah karcis sudah terpecahkan. Setelah mengetahuinya, grup-grup lakon berlatih 
makin tekun dan kian bersemangat.

Persoalan berikutnya yang kami hadapi adalah bagaimana mengobah karcis menjadi uang 
sehingga kami bisa menyewa gedung, kursi, membuat spanduk,  poster dan membeayai 
keperluan-keperluan lain pementasan. Kami kembali melakukan rapat dan memutuskan untuk 
melakukan "operasi dari pintu ke pintu". Kota Yogya, kami bagi dalam sektor-sektor: 
Utara, Selatan, Barat dan Timur. Petugas-petugas dan penanggungjawab sektor pun 
ditetapkan. Tugas tim-tim sektor adalah mengetok pintu demi pintu di sektor 
masing-masing dan meminta sumbangan sukarela dengan imbalan karcis festival. Jadwal 
operasi ditetapkan. Sebulan! Saban minggu dilakukan penyimpulan bersama, sedangkan tim 
sektor bebas menetapkan rancangan penyimpulan.

Melalui "operasi dari pintu ke pintu" ini, karcis festival teredar habis mendahului 
jadwal, dengan hasil melebihi anggaran minimal, termasuk untuk menebus barang gadaian: 
dua sepeda dan cincin emas.Aku merasa lega karena dengan tertebusnya kembali sepedaku, 
aku tidak lagi ke mana-mana dengan berjalan kaki. 

Teman-teman pelukis dari berbagai sanggar, segera membuat spanduk dan poster lebih 
besar dari papan tulis sekolah dan dipancangkan di simpang empat di depan kantor pos 
utama. Tak lama kemudian poster dari Teater Muslim asuhan dramawan Diponegoro dan 
Arifin C. Noer serta poster Teater Rendra muncul berdampingan dengan poster Lembaga 
Drama. Barang tentu, waktu pementasan kami tidak bersamaan sehingga masing-masing bisa 
saling menyaksikan pertunjukan. Kukira ini adalah suatu perlombaan sehat dan 
menguntungkan karena, terutama kami, bisa belajar  keunggulan teman-teman dari 
kelompok-kelompok teater lain. Perlombaan sehat ini kian menyemarakkan kehidupan 
berkesenian di kota. Hasil pertunjukan berbagai kelompok ini kemudian dibawa ke dalam 
diskusi-diskusi penyimpulan di sanggar-sanggar. Menyimpulkan pengalaman dan pekerjaan 
merupakan keniscayaan bagi Lembaga-lembaga Lekra. Kegiatan demi kegiatan berkesenian 
serta penyimpulannya merupakan proses belajar bagi semua anggota.    

Pengalaman mengumpulkan dana untuk suatu kegiatan ini pun kemudian ketika aku bekerja 
di Palangka Raya sampai tahun 2001, kuterapkan dalam  mengirimkan tiga tenaga guna 
belajar tentang masalah Kredit Simpan Pinjam [Credit Union]. Tawaran bantuan beaya 
dari luar kutolak, karena kurasakan bantuan demikian tidak mendidik. Ternyata kami pun 
berhasil mengirimkan tiga teman kami untuk belajar selama berbulan-bulan di tempat 
yang cukup jauh.

Apa yang dikatakan oleh praktek di atas? Kukira yang paling pokok, bahwa pertama-tama  
bukanlah dana tetapi adanya manusia yang sadar. Kesimpulan ini juga dikuatkan oleh 
pengalaman kami di Paris ketika membangun Koperasi Restoran Indonesia yang sudah 
berusia lebih dari 21 tahun dan sampai hari ini masih lancar berfungsi di 
tengah-tengah ibukota Perancis. Dalam membangun koperasi Restoran Indonesia, kami sama 
sekali tidak punya pengalaman berusaha, kami juga tidak punya modal. Yang kami punya 
pertama-tama adalah ide dan setelah matang, ide inilah yang kami ujudkan dan dicarikan 
jalan mewujudkannya. Kami tidak mulai dari tersedianya dana. Tapi dari manusia. 
Manusia yang tersedia inilah kemudian yang mencari dana dan mengelola dana.

     
Paris, Juli 2004.
----------------
JJ. Kusni

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke