Memahami Peran Budaya Pesantren 
Oleh Abdurrahman Wahid

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0407/31/opini/1164795.htm
ORANG sering melihat pondok pesantren sebagai lembaga
pendidikan. Ada juga yang memperlakukannya sebagai
entitas politik karena para kiai yang memimpin pondok
pesantren sering sekali memiliki pengaruh sangat kuat
di masyarakat.

Sangat menarik melihat peranan politik yang sekarang
dijalankan secara bertentangan di antara para kiai
dari pondok pesantren yang berbeda-beda. Peranan ini
akan menunjukkan "model" yang akan diikuti para
pemilih. Memang ada perbedaan "aspirasi" politik di
antara mereka. Ada yang sekadar menggunakan pengaruh
yang mereka miliki untuk kepentingan "mendekat" kepada
para pejabat tertentu. Namun, ada pula yang lebih
mementingkan kemaslahatan umat dan memelihara
kepentingan masyarakat lebih luas.

Jarang sekali orang melihat pondok pesantren sebagai
medium budaya dalam kehidupan masyarakat. Dilihat dari
peranan ini, itulah sebenarnya salah satu fungsi
pondok pesantren yang untuk sementara "diredupkan"
peranan politiknya. Dari hal itu timbul pertanyaan,
dapatkah pondok pesantren, setelah melalui
pertentangan dahsyat sebagai akibat pelaksanaan
peranan politik itu, akan utuh kembali (minimal
sebagai lembaga yang membawakan peranan budaya) di
masa-masa akan datang? Dapatkah pondok pesantren
mempertahankan "kemurnian" yang dimilikinya?

Penulis berpendapat, kalau memang pondok pesantren
mengalami proses politisasi sedemikian jauh sehingga
kehilangan fungsi-fungsi lainnya kecuali fungsi
politik, "hak hidup" yang dimiliki akan hilang dengan
sendirinya karena ia akan mementingkan "hubungan baik"
dengan sistem kekuasaan yang ada.

PENULIS teringat akan peranan kiai-kiai pondok
pesantren yang diuraikan oleh Hiroko Horikoshi dalam
disertasinya yang di dalamnya membahas peran mendiang
Ajengan/Kiai Yusuf Tojiri, yang mendirikan dan
memimpin Pondok pesantren Cipari (Wanaraja, Garut).
Dalam disertasinya yang sudah diterjemahkan dan
diterbitkan dalam bahasa Indonesia itu, Horikoshi
berbicara mengenai "peranan budaya" besan (alm) Kiai
Anwar Musaddad itu. Dalam tulisan tersebut, Horikoshi
menunjukkan "kebalikan" teori "makelar budaya"
(cultural broker) Clifford Geertz dalam proses
pembangunan. Kesimpulan ini didapatkan Horikoshi
melalui kajian empiris yang mempunyai nilai tersendiri
setelah sekian lama tinggal di pondok pesantren
tersebut.

Menurut Clifford Geertz, peranan "makelar budaya" itu
menunjukkan bahwa para kiai berperan bagaikan sebuah
dam (bendungan) yang "menampung" begitu banyak
manifestasi (kehadiran) budaya baru, dan melepas
sebagian dari begitu banyak manifestasi budaya baru
tersebut. Cara yang digunakan melalui proses memilih
mana yang dilepas masyarakat dan mana yang tidak.
Geertz melihat, dengan "banjirnya" modernitas budaya,
bendungan tinggi itu akan dikalahkan oleh proses
tersebut. Karena demikian banyak hal di luar kendali
pondok pesantren, akhirnya budaya itu langsung
"ditelan" masyarakat. Kebuntuan melakukan peran
"makelar budaya" tersebut pada akhirnya akan
"mematikan" pemeran budaya itu juga.

Namun, Horikoshi justru menunjukkan bahwa kiai
bukanlah bendungan tinggi yang memiliki peranan pasif,
melainkan justru menjadi "agen pembaharuan" dengan
memilih sendiri mana yang ingin mereka sampaikan
kepada masyarakat dan mana yang tidak.

Mudahnya untuk melihat peranan budaya itu, antara
lain, dalam "perencanaan arsitektural" pondok-pondok
pesantren pada masa lampau. Umpamanya saja, apa yang
terlihat di Pondok pesantren Mambaul Ma�arif di
Denanyar, Jombang. Pondok pesantren, yang dahulu
didirikan pada awal abad ke-20 oleh almarhum KH M
Bisri Syansuri, tersebut dimulai dengan pintu masuk
melalui sebuah jalan tidak beraspal dari arah timur
menuju ke barat, berdiri sebuah masjid yang berada di
tengah tanah kosong (plaza). Di sebelah selatan,
berdiri kamar-kamar para santri. Mulanya, di sebelah
utara plaza itu, terdapat rumah tempat tinggal sang
kiai, di kemudian hari pondok pesantren putri dan
gedung-gedung sekolah juga didirikan di sebelah utara
(di kanan kiri dan di belakang tempat tinggal kiai).

Jadi, jelaslah bahwa pendiri pondok pesantren itu
"secara aktif" mengambil perencanaan arsitekturnya
dari simbol budaya Jawa yang berlandaskan pada
pagelaran wayang. Para santri adalah salikun (aspiran)
yang berada di perjalanan menuju ke arah "kesempurnaan
pandangan". Kata salikun dalam bahasa Arab menunjukkan
fungsi mereka yang mencari "kesempurnaan pandangan".

Karena, proses belajar dan mengajar di lingkungan
pondok pesantren bukanlah sekadar "menguasai"
ilmu-ilmu keagamaan, melainkan juga proses pembentukan
pandangan hidup dan perilaku para santri itu nantinya
setelah "kembali" dari pondok pesantren ke dalam
kehidupan masyarakat. Sebaliknya, para kiai adalah
mereka yang telah memiliki "kesempurnaan pandangan"
(washilun). Dalam pengertian tasawuf, masjid pesantren
yang terletak di tengah-tengah antara keduanya
merupakan tempat "pertempuran moral" berlangsung di
antara para salikun, yang akan diubah perilakunya oleh
washilun.

Filosofi cerita dalam legenda pewayangan Pandawa dan
Kurawa, mereka adalah orang yang mencari kebenaran dan
orang yang telah sampai kepada kebenaran itu sendiri.
Tema "pencarian kebenaran" oleh kedua belah pihak,
yaitu Pandawa dan Kurawa, dalam hal ini santri dan
kiai, merupakan dua belah sisi yang bagaimanapun juga
"berwajah budaya".

DENGAN mengetahui peranan budaya yang dilakukan pondok
pesantren, kita sebagai anggota masyarakat mendapatkan
kekayaan pengetahuan tentang fungsi pondok pesantren.
Jika peranan utama ini "hilang" dari kehidupan
masyarakat, kita juga yang akan mengalami kerugian.

Peranan yang semula berdimensi budaya tidak dapat
digantikan dengan peranan terakhir yang materialistis.
Perkecualiannya adalah jika ada penggantian fungsi
budaya oleh "peranan-peranan baru" yang tentu saja
tidak dapat "ditukar" oleh sekadar keakraban dengan
para pejabat dan penguasa.

Dengan "mengenal" peranan pondok pesantren seperti di
sebut di atas, kita sampai pada sebuah kesimpulan yang
sangat penting. Akan kita biarkan sajakah
"penggantian" peranan budaya pondok pesantren seperti
diuraikan di atas oleh peranan materialistis dari
sebuah pendekatan politis? Tentu saja jawabnya tidak.
Karenanya, kita justru harus memperkuat peranan budaya
tersebut dengan memperkenalkan bentuk-bentuk "budaya"
baru yang hingga saat ini belum dikenal oleh warga
pondok pesantren sendiri.

Contoh proses itu adalah munculnya formalisasi
penggunaan kata-kata bahasa Arab untuk nama pondok
pesantren . Jika dahulu pondok pesantren dikenal
berdasarkan nama daerahnya, seperti Pondok pesantren
Tebu Ireng (Jombang) dan Krapyak (Yogyakarta),
sekarang menjadi Pondok pesantren Salafiyah dan
Al-Munawwir. Penggunaan bahasa Arab ini tidak
mengganggu proses budaya yang seharusnya berlangsung.
Memang mudah mengatakan perubahan, tetapi yang lebih
susah adalah melaksanakannya, bukan?

Abdurrahman Wahid Mustasyar PBNU


=====
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers!
http://promotions.yahoo.com/new_mail


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke