Dear sahabat,

Jika Gusdur menginginkan pesantren itu kembali ke "wajah aslinya", 
maka Gusdur juga harus mengaca diri. Terjunya Gusdur ke panggung 
perpolitkan, juga secaratak langsung telah "mengajari dan mengajak" 
kiyai-kiyai lain untuk berbuat serupa.

Kita lihat, sebelum nama-nama kandidat presiden dan wapres RI 
ditetapkan, Gusdur adalah salah satu kiyai yang paling sibuk untuk 
mengunjungi pesantren guna meraih dukungan. Eh tahu-tahunya, sebelum 
pilpres babak awal dimulai, Gusdur telah tersingkirkan secara mantap. 
Dan karena kecewa, Gusdurpun akhirnya "berteriak" golput. 

Setelah itu, Gusdurpun sibuk untuk melobi ke pesantren-pesantren lagi 
untuk menggolkan adiknya Solahuddin Wahid. Meskipun suskes menjadi 
kandidat wapres RI, eh ternyata nggak lulus pula ke putaran kedua. 
Allah maha tahu tentang isi hati hamba-Nya. Dan ingatlah Gus, Allah 
itu sangat murka kepada orang yang mengatakan sesuatu (untuk 
dikerjakan), tapi ia sendiri tak pernah melakukan apa yang ia suruh 
kepada orang tersebut. "Kaburo maqtan 'indallahi limaa taquulu maa 
laa taf'aluun."

Memang setiap kali pemilu mau diadakan, pesantren selalu berlinang 
air mata. Pesantren hanya dikunjungi menjelang pemilu, abis itu, ia 
pun dilupakan orang. Aduuuh, lukanya hatiku sebagai seoarang santri 
pesantren.

Demikian,

BK

--- In [EMAIL PROTECTED], Mario Gagho <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Memahami Peran Budaya Pesantren 
> Oleh Abdurrahman Wahid
> 
> http://www.kompas.com/kompas-cetak/0407/31/opini/1164795.htm
>
> ORANG sering melihat pondok pesantren sebagai lembaga
> pendidikan. Ada juga yang memperlakukannya sebagai
> entitas politik karena para kiai yang memimpin pondok
> pesantren sering sekali memiliki pengaruh sangat kuat
> di masyarakat.
> 
> Sangat menarik melihat peranan politik yang sekarang
> dijalankan secara bertentangan di antara para kiai
> dari pondok pesantren yang berbeda-beda. Peranan ini
> akan menunjukkan "model" yang akan diikuti para
> pemilih. Memang ada perbedaan "aspirasi" politik di
> antara mereka. Ada yang sekadar menggunakan pengaruh
> yang mereka miliki untuk kepentingan "mendekat" kepada
> para pejabat tertentu. Namun, ada pula yang lebih
> mementingkan kemaslahatan umat dan memelihara
> kepentingan masyarakat lebih luas.
> 
> Jarang sekali orang melihat pondok pesantren sebagai
> medium budaya dalam kehidupan masyarakat. Dilihat dari
> peranan ini, itulah sebenarnya salah satu fungsi
> pondok pesantren yang untuk sementara "diredupkan"
> peranan politiknya. Dari hal itu timbul pertanyaan,
> dapatkah pondok pesantren, setelah melalui
> pertentangan dahsyat sebagai akibat pelaksanaan
> peranan politik itu, akan utuh kembali (minimal
> sebagai lembaga yang membawakan peranan budaya) di
> masa-masa akan datang? Dapatkah pondok pesantren
> mempertahankan "kemurnian" yang dimilikinya?
> 
> Penulis berpendapat, kalau memang pondok pesantren
> mengalami proses politisasi sedemikian jauh sehingga
> kehilangan fungsi-fungsi lainnya kecuali fungsi
> politik, "hak hidup" yang dimiliki akan hilang dengan
> sendirinya karena ia akan mementingkan "hubungan baik"
> dengan sistem kekuasaan yang ada.
> 
> PENULIS teringat akan peranan kiai-kiai pondok
> pesantren yang diuraikan oleh Hiroko Horikoshi dalam
> disertasinya yang di dalamnya membahas peran mendiang
> Ajengan/Kiai Yusuf Tojiri, yang mendirikan dan
> memimpin Pondok pesantren Cipari (Wanaraja, Garut).
> Dalam disertasinya yang sudah diterjemahkan dan
> diterbitkan dalam bahasa Indonesia itu, Horikoshi
> berbicara mengenai "peranan budaya" besan (alm) Kiai
> Anwar Musaddad itu. Dalam tulisan tersebut, Horikoshi
> menunjukkan "kebalikan" teori "makelar budaya"
> (cultural broker) Clifford Geertz dalam proses
> pembangunan. Kesimpulan ini didapatkan Horikoshi
> melalui kajian empiris yang mempunyai nilai tersendiri
> setelah sekian lama tinggal di pondok pesantren
> tersebut.
> 
> Menurut Clifford Geertz, peranan "makelar budaya" itu
> menunjukkan bahwa para kiai berperan bagaikan sebuah
> dam (bendungan) yang "menampung" begitu banyak
> manifestasi (kehadiran) budaya baru, dan melepas
> sebagian dari begitu banyak manifestasi budaya baru
> tersebut. Cara yang digunakan melalui proses memilih
> mana yang dilepas masyarakat dan mana yang tidak.
> Geertz melihat, dengan "banjirnya" modernitas budaya,
> bendungan tinggi itu akan dikalahkan oleh proses
> tersebut. Karena demikian banyak hal di luar kendali
> pondok pesantren, akhirnya budaya itu langsung
> "ditelan" masyarakat. Kebuntuan melakukan peran
> "makelar budaya" tersebut pada akhirnya akan
> "mematikan" pemeran budaya itu juga.
> 
> Namun, Horikoshi justru menunjukkan bahwa kiai
> bukanlah bendungan tinggi yang memiliki peranan pasif,
> melainkan justru menjadi "agen pembaharuan" dengan
> memilih sendiri mana yang ingin mereka sampaikan
> kepada masyarakat dan mana yang tidak.
> 
> Mudahnya untuk melihat peranan budaya itu, antara
> lain, dalam "perencanaan arsitektural" pondok-pondok
> pesantren pada masa lampau. Umpamanya saja, apa yang
> terlihat di Pondok pesantren Mambaul Ma'arif di
> Denanyar, Jombang. Pondok pesantren, yang dahulu
> didirikan pada awal abad ke-20 oleh almarhum KH M
> Bisri Syansuri, tersebut dimulai dengan pintu masuk
> melalui sebuah jalan tidak beraspal dari arah timur
> menuju ke barat, berdiri sebuah masjid yang berada di
> tengah tanah kosong (plaza). Di sebelah selatan,
> berdiri kamar-kamar para santri. Mulanya, di sebelah
> utara plaza itu, terdapat rumah tempat tinggal sang
> kiai, di kemudian hari pondok pesantren putri dan
> gedung-gedung sekolah juga didirikan di sebelah utara
> (di kanan kiri dan di belakang tempat tinggal kiai).
> 
> Jadi, jelaslah bahwa pendiri pondok pesantren itu
> "secara aktif" mengambil perencanaan arsitekturnya
> dari simbol budaya Jawa yang berlandaskan pada
> pagelaran wayang. Para santri adalah salikun (aspiran)
> yang berada di perjalanan menuju ke arah "kesempurnaan
> pandangan". Kata salikun dalam bahasa Arab menunjukkan
> fungsi mereka yang mencari "kesempurnaan pandangan".
> 
> Karena, proses belajar dan mengajar di lingkungan
> pondok pesantren bukanlah sekadar "menguasai"
> ilmu-ilmu keagamaan, melainkan juga proses pembentukan
> pandangan hidup dan perilaku para santri itu nantinya
> setelah "kembali" dari pondok pesantren ke dalam
> kehidupan masyarakat. Sebaliknya, para kiai adalah
> mereka yang telah memiliki "kesempurnaan pandangan"
> (washilun). Dalam pengertian tasawuf, masjid pesantren
> yang terletak di tengah-tengah antara keduanya
> merupakan tempat "pertempuran moral" berlangsung di
> antara para salikun, yang akan diubah perilakunya oleh
> washilun.
> 
> Filosofi cerita dalam legenda pewayangan Pandawa dan
> Kurawa, mereka adalah orang yang mencari kebenaran dan
> orang yang telah sampai kepada kebenaran itu sendiri.
> Tema "pencarian kebenaran" oleh kedua belah pihak,
> yaitu Pandawa dan Kurawa, dalam hal ini santri dan
> kiai, merupakan dua belah sisi yang bagaimanapun juga
> "berwajah budaya".
> 
> DENGAN mengetahui peranan budaya yang dilakukan pondok
> pesantren, kita sebagai anggota masyarakat mendapatkan
> kekayaan pengetahuan tentang fungsi pondok pesantren.
> Jika peranan utama ini "hilang" dari kehidupan
> masyarakat, kita juga yang akan mengalami kerugian.
> 
> Peranan yang semula berdimensi budaya tidak dapat
> digantikan dengan peranan terakhir yang materialistis.
> Perkecualiannya adalah jika ada penggantian fungsi
> budaya oleh "peranan-peranan baru" yang tentu saja
> tidak dapat "ditukar" oleh sekadar keakraban dengan
> para pejabat dan penguasa.
> 
> Dengan "mengenal" peranan pondok pesantren seperti di
> sebut di atas, kita sampai pada sebuah kesimpulan yang
> sangat penting. Akan kita biarkan sajakah
> "penggantian" peranan budaya pondok pesantren seperti
> diuraikan di atas oleh peranan materialistis dari
> sebuah pendekatan politis? Tentu saja jawabnya tidak.
> Karenanya, kita justru harus memperkuat peranan budaya
> tersebut dengan memperkenalkan bentuk-bentuk "budaya"
> baru yang hingga saat ini belum dikenal oleh warga
> pondok pesantren sendiri.
> 
> Contoh proses itu adalah munculnya formalisasi
> penggunaan kata-kata bahasa Arab untuk nama pondok
> pesantren . Jika dahulu pondok pesantren dikenal
> berdasarkan nama daerahnya, seperti Pondok pesantren
> Tebu Ireng (Jombang) dan Krapyak (Yogyakarta),
> sekarang menjadi Pondok pesantren Salafiyah dan
> Al-Munawwir. Penggunaan bahasa Arab ini tidak
> mengganggu proses budaya yang seharusnya berlangsung.
> Memang mudah mengatakan perubahan, tetapi yang lebih
> susah adalah melaksanakannya, bukan?
> 
> Abdurrahman Wahid Mustasyar PBNU
> 
> 
> =====
> Mario Gagho
> Political Science,
> Agra University, India




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke