Republika
Sabtu, 31 Juli 2004

Masa Depan Departemen Kelautan 

Didin S Damanhuri 

Guru Besar Ekonomi FPIK-IPB

Pada tahun 1996 ketika diwawancara satu halaman penuh di harian ini, saya pertama kali 
yang mengusulkan dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan. Waktu itu intinya 
dikemukakan bahwa mengingat peran setingkat Dirjen (Dirjen Perikanan pada masa itu) 
sangat tidak cukup untuk berfungsi sepenting dan sekompleks masalah yang terkandung 
dalam dunia perikanan dan kelautan di sebuah negara kepulauan terbesar di dunia ini. 
Pasca pemerintahan Soeharto, pada kabinet pemerintahan Gus Dur, dibentuk Departemen 
Eksplorasi Laut. Meskipun namanya belum memadai dibandingkan kebutuhannya, ya 
lumayanlah. Baru pada pemerintahan Kabinet Gotong Royong terdapat Departemen Kelautan 
dan Perikanan (DKP). Tentu dengan rentang waktu sekitar enam tahun sejak 
dilontarkannya usul DKP, saya termasuk amat menyambut kehadiran DKP.

Dengan langkah-langkah Menteri Rokhmin Dahuri yang cukup signifikan hingga kini, 
amatlah disesalkan kemudian dengan rencana UU kementerian yang akan disahkan DPR 
kemudian departemen itu diganti menjadi Kementerian Kelautan dan Maritim (KKM). Ada 
keterangan bahwa di samping masalah perikanan akan diurus KKM, masalah perikanan 
rakyat juga ada di bawah Departemen Pertanian dan Ketahanan Pangan. Dengan demikian 
akan memunculkan masalah dalam koordinasi. Secara substansial berarti kabinet yang 
akan datang akan semakin sulit memobilisasi sumberdaya perikanan. Padahal itu 
diperlukan untuk menjadikan sumberdaya perikanan sebagai kekuatan raksasa dalam 
memecahkan persoalan ekonomi dan sosial. Perlu dicatat bahwa masyarakat perikanan dan 
dunia pesisir berjumlah sekitar 63 juta jiwa. Di bawah ini akan diungkapkan kembali 
selintas masalah dan prospek pembangunan perikanan yang seyogyanya tetap diurus oleh 
Departemen/Kementerian Kelautan dan Perikanan pada kabinet yang akan datang.

Prospek dan problem perikanan
Ketika bangsa Indonesia mengalami puncak krisis ekonomi dan moneter sepanjang tahun 
1997-1998 -- yang ditandai dengan jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, serta 
terpuruknya sektor-sektor ekonomi yang berbasis bahan baku impor -- justru pertanian 
termasuk perikanan tampil menjadi "sektor penyelamat" yang menjadi satu-satunya sektor 
yang tumbuh positif. Dapat digambarkan, antara lain, bahwa sepanjang tahun tersebut, 
perikanan mencatat perkembangan nilai ekspor sekitar 2,5 miliar dolar AS atau sekitar 
Rp 25 triliun. Kemampuan ini memperlihatkan bahwa komoditas ini memiliki dasar yang 
kuat sebagai salah satu pilar perekonomian nasional.

Sementara itu, dorongan permintaan terhadap komoditas perikanan di dalam dan luar 
negeri mengalami peningkatan yang pesat sejalan dengan peningkatan kualitas hidup dan 
pertambahan jumlah penduduk. Perubahan tersebut ikut menggeser pola konsumsi 
masyarakat akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan kesadaran mereka, bahwa komoditi 
perikanan memiliki kandungan nilai gizi atau potensi yang tinggi dan sehat untuk 
dikonsumsi. Sehingga kebutuhan-kebutuhan itu dipenuhi melalui sumber pangan yang 
relatif murah dan mudah didapat, karena komoditi ini dapat dikonsumsi oleh berbagai 
jenjang usia, stratifikasi sosial, latar belakang budaya maupun agama.

Konsumsi ikan per kapita Indonesia pada awal Orde Baru sebesar 9,96 kg/kapita/tahun. 
Angka tersebut terus mengalami peningkatan pada tahun 1998 mencapai angka 19,25 
kg/kapita/tahun. Pada tahun 2003 konsumsi penduduk Indonesia terhadap komoditi 
perikanan dapat mencapai hampir 22 kg/kapita/tahun. Kekuatan ekonomi perikanan yang 
"raksasa" dan masih "tertidur" itu, ternyata belum mampu dikelola dengan baik untuk 
memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional, serta peningkatan taraf hidup dan 
kesejahteraan rakyat, utamanya para nelayan dan pembudidaya ikan yang mendiami 
desa-desa pantai. Hingga saat ini, aktivitas ekonomi perikanan yang sangat didominasi 
oleh nelayan kecil dan tradisional. Mereka memiliki tingkat pendidikan yang rendah 
sehingga tingkat teknologi, inovasi, dan penyerapan informasi menjadi rendah. Ujungnya 
adalah produktivitasnya kemudian menjadi rendah pula.

Produktivitas yang masih tergolong sangat rendah tersebut, lebih tampak lagi 
dibandingkan dengan beberapa negara pantai seperti Rusia, Jepang, dan Amerika. Lebih 
kontras lagi, bila dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki potensi perikanan 
lebih kecil daripada Indonesia, seperti Thailand dan Taiwan. Dengan kenyataan ini 
dapat dipahami jika di wilayah pantai ini sangat tampak kemiskinan dan keterbelakangan.

Kemiskinan dan keterbelakangan tersebut merupakan konsekuensi logis dari proses 
pembangunan yang mengesampingkan keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan. Ini 
dampak dari proses pembangunan yang top-down, sentralistis, teknokratis, dan bersifat 
penyeragaman. Sehingga prakarsa lokal tidak dapat berkembang dan memasung nelayan dari 
persentuhan dengan modernisasi dan industrialisasi. Komoditas perikanan yang 
diperdagangkan oleh kalangan nelayan dan petani ikan tradisional hanya mampu 
diperdagangkan secara lokal dalam bentuk komoditi primer tanpa dapat berkembang 
menjadi jenis-jenis komoditi industri, seperti produk olahan maupun produk-produk 
modern lainnya. Sementara itu, kegiatan perdagangan antar-daerah, nasional, dan ekspor 
umumnya dikuasai oleh para kapitalis menengah dan besar, serta secara makro bersifat 
oligopolis.

Dengan demikian, dorongan industrialisasi di sektor perikanan tidak secara signifikan 
terjadi. Juga perkembangan jenis-jenis aktivitas ekonomi di luarnya (off-farm) kurag 
berkembang. Misalnya, perbengkelan kapal, jasa transportasi, perdagangan komoditi 
perikanan hasil industri, ataupun teknologi alat-alat penangkapan, yang semestinya 
mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di desa-desa pantai. Nelayan, baik secara 
ekonomi maupun lokasi cenderung terkucil dalam aktivitas ekonomi modern. Proses 
tersebut telah memarjinalkan taraf hidup dan kesejahteraan ekonomi dan sosial mereka.

Pertanyaannya, atas alasan apakah peningkatan produksi perikanan yang fantastis itu 
tak diikuti dengan peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan mereka secara signifikan? 
Agaknya, pertanyaan itu akan terjawab bila kita secara arif mau mengakui bahwa 
pertumbuhan volume dan nilai produksi tidak serta merta secara pasti akan dinikmati 
oleh pelaku kecil dalam sistem ekonomi modern. Keadaan tersebut disebabkan oleh 
ketidakmampuan kalangan nelayan dan petani ikan memiliki akses langsung baik secara 
ekonomi dan politik terhadap berbagai kebijakan, dan informasi, lembaga keuangan dan 
pasar modal, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan serta faktor-faktor lain yang 
dapat memacu peningkatan produktivitas mereka. 

Problematika yang telah diuraikan itu, bagi para nelayan, mengakibatkan mereka tidak 
dapat menikmati harga komoditi perikanan pada harga yang sewajarnya mereka nikmati. 
Hal itu karena sebagian besar margin keuntungan tak jatuh ke tangan nelayan dan petani 
ikan, tapi kepada pihak lain. Yakni para tengkulak tingkat desa, pedagang tingkat 
lokal, regional, dan nasional, serta internasional. Semuanya memperoleh margin 
keuntungan berbanding lurus dengan kekuatan modal, informasi, teknologi, manajemen, 
SDM andal, akses kepada penguasa serta kekuatan struktural yang dimiliki lainnya.

Menurut berbagai penelitian margin yang jatuh ke tangan nelayan dan petani ikan hanya 
berkisar 5 persen hingga 10 persen. Selebihnya jatuh ke tangan non-nelayan dan 
non-petani ikan. Dengan begitu, jumlah nelayan dan petani ikan beserta keluarganya 
sekitar 50 juta (23 persen penduduk) menjadi penyumbang produk perikanan lebih dari 90 
persen. Akan tetapi keuntungan yang seharusnya mereka peroleh, yakni sekitar 90 persen 
margin keuntungan, jatuh ke pihak lain karena problem struktural dan kultural yang 
menghimpitnya.

Industrialisasi berbasis pedesaan
Dengan demikian, dibutuhkan suatu dorongan yang kuat untuk memecahkan problem 
kemiskinan dan keterbelakangan sektor perikanan. Yaitu suatu strategi besar dalam 
rangka menggerakkan kembali roda perekonomian melalui proses pembangunan ekonomi dan 
industrialisasi yang berbasiskan sumberdaya alam. Sektor perikanan adalah raksasa 
tidur. Maka, dorongan kuat tersebut haruslah bersumber dari kemampuan untuk menggeser 
proses industrialisasi yang berbasiskan perkotaan ke wilayah pedesaan termasuk 
pedesaan pantai. Strategi industrialisasi seyogyanya menempatkan prakarsa lokal dan 
sumberdaya alam menjadi pangkal untuk menggerakkan kawasan tersebut sebagai program 
industrialisasi.

Dengan begitu, keunggulan kawasan pertumbuhan lebih didorong oleh dinamika kawasan 
pedesaan, termasuk pedesaan pantai sebagai pusat industrialisasi yang memiliki 
kandungan bahan baku domestik yang tinggi. Dengan begitu pula, kandungan bahan baku, 
bahan penolong, SDM, kelembagaan, dan sistem manajemen yang relevan, serta pelbagai 
sumberdaya lainnya sebagian besar dapat dimobilisasi dari dalam negeri, sekaligus 
mengurangi secara drastis pelbagai kandungan impor dan utang luar negeri. Sementara 
itu, keahlian dan teknologi tepat guna dan modal, serta beberapa komponen yang tak 
tersedia di dalam negeri, tetap dapat didatangkan dari luar negeri secara selektif. 
Dengan strategi ini, diharapkan tekanan terhadap neraca pembayaran, gejolak kurs, 
utang luar negeri, dan inflasi impor dapat sejauh mungkin dikurangi.

Melalui industrialisasi di desa-desa inilah, para nelayan dan petani ikan di desa-desa 
pantai mampu membenahi dirinya untuk meningkatkan pendapatan mereka. Selanjutnya, 
diharapkan produktivitas mereka akan terus meningkat dan terjadi persentuhan langsung 
dengan teknik-teknik berproduksi modern. Tuntutan modernisasi sebagai konsekuensi 
logis program industrialisasi di desa-desa nelayan ini akan mendorong nelayan untuk 
meningkatkan kualitas atau skill dan kapasitas teknologi tepat guna. Tuntunan ini 
hanya dapat dicapai bila pemerintah pusat dan daerah-daerah memberikan prioritas yang 
tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan.

Penerapan teknologi maju dan pengetahuan baru di sektor perikanan akan mendorong pada 
peningkatan produktivitas yang lebih tinggi dengan hasil produksi yang beraneka ragam, 
dari produk primer hingga produk hasil olahan yang berkualitas tinggi dan memenuhi 
standar pasar internasional. Rentetan-rentetan perkembangan industrialisasi dan 
modernisasi tersebut akan mendorong perkembangan sektor-sektor lain, seperti jasa, 
perbengkelan, pembuatan alat-alat dan teknologi budidaya, serta penangkapan perikanan 
hingga pengembangan transformasi. Keterkungkungan nelayan dan aktivitas ekonominya di 
desa-desa pesisir -- akibat strategi pembangunan semacam Orde Baru itu -- diharapkan 
secara gradual dapat terpecahkan melalui perencanaan industrialisasi dan modernisasi 
di desa-desa pantai.

Demikianlah sekilas pemikiran tentang urgensi agar Departemen Kelautan dan Perikanan 
tetap dipertahan.




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke