Suara Merdeka Senin, 02 Agustus 2004WACANA Pendidikan dan Persoalan Pengangguran Oleh: Ahmad Zaenal Fanani
SETIAP menjelang tahun ajaran baru, dapat kita saksikan suasana orang tua bersama anaknya berebut untuk mendapatkan sekolah favorit. Fenomena ini jelas menunjukkan betapa masyarakat berusaha keras agar anaknya bisa sekolah. Pertanyaannya kini, mengapa masyarakat mempuyai harapan begitu besar terhadap sekolah? Selama ini hampir semua orang berpendapat, sekolah diharapkan mampu mengubah manusia, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak berbudaya menjadi berbudaya. Dengan kata lain, melalui sekolah, setiap siswa nantinya diharapkan menjadi manusia yang siap, cakap, mumpuni, dan sukses dalam mengahadapi masa depan. Harapan yang begitu besar, bahwa sekolah mampu mengubah manusia dari "biasa" menjadi "luar biasa", sudah menjadi kepercayaan masyarakat. Bahkan, ada pendapat, makin tinggi seorang menggali ilmu di sekolah bermutu, seolah-olah ada jaminan, hidupnya kelak akan sukses dan mendapatkan pekerjaan yang layak dengan gaji tinggi. Ekspektasi terhadap dunia pendidikan di atas tentu bertolak belakang dengan realita pengangguran yang ada di negara kita. Saat ini, sebagaimana data Bappenas, jumlah pengangguran terbuka mencapai 9,13 juta (9,06 persen). Dari jumlah total pengangguran tadi, sejumlah 5,5 persen adalah kaum intelektual yang pernah mengenyam pendidikan di universitas, diploma atau akademi. Artinya, terdapat jutaan intelektual dan kaum terdidik yang menjadi pengangguran terbuka. Fenomena ini tentu jauh dari harapan para orang tua. Tidak hanya itu, Bappenas memperkirakan dalam lima tahun ke depan jumlah pengangguran akan mengalami lonjakan tinggi karena tidak tersedianya lapangan kerja. Tahun 2005 angkatan kerja akan mencapai 107,08 juta orang, sedangkan jumlah orang yang bekerja 95,89 juta orang dan 11,19 juta orang (10,45 persen dari angkatan kerja) akan menjadi pengangguran terbuka, dan seiring dengan itu jumlah pengangguran intelektual juga merangkak naik. Kisaran ini tentunya jika pertumbuhan ekonomi mencapai 5,03 persen. Peningkatan angka pengangguran terbuka ini diperkirakan masih akan berlanjut pada tahun 2006. Data-data tersebut menunjukkan keberadaan hubungan positif (searah), yang tentunya tidak diinginkan, antara tingkat pengangguran dan tingkat pendidikan. Seolah-olah semakin tinggi pendidikan seseorang, maka akan semakin besar kemungkinan untuk menganggur di negeri ini. Padahal, menganggur adalah salah satu indikator masa depan yang tidak sukses. Kesadaran Baru Adalah naif untuk menyatakan bahwasanya kegagalan sistem pendidikan formal (formal education system) tersebut merupakan satu-satunya penyebab atas semua permasalahan di atas. Namun, kita juga harus mengakui bahwa sebagian besar pernyataan terdahulu yang begitu menonjolkan pentingnya perluasan kesempatan bersekolah formal -demi memacu pertumbuhan ekonomi; meningkatkan taraf hidup, terutama kalangan penduduk miskin; menciptakan lapangan kerja yang luas dan memberi kesempatan yang sama bagi semua orang untuk memperoleh kemajuan; dan mendorong terciptanya sikap-sikap positif yang serba "modern"- terlampau berlebihan, sehingga gagal memperhitungkan segala kelemahan dan dampak negatifnya. Pernyataan ini juga yang membubungkan harapan orangtua untuk menyekolahkan anak. Bertolak dari itulah, lebih-lebih dalam tahun ajaran baru seperti sekarang ini, perlu ditanamkan kesadaran di tengah-tengah masyarakat bahwa pengembangan sistem pendidikan formal belum tentu menjamin akan meningkatnya kapasitas ilmiah dan pengetahuan penduduk; bahwa ijazah dan gelar yang serba hebat itu tidaklah identik dengan keandalan dan kecakapan untuk melakukan fungsi-fungsi produktif; bahwa sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada lapangan kerja di sektor perkotaan modern justru dapat "mengacaukan" kualitas pendidikan dan aspirasi anak didik; dan bahwa investasi yang berlebihan dalam sistem pendidikan formal, terutama di tingkat sekolah menengah dan yang lebih tinggi, hanya akan mengalihkan sumber daya yang langka dari berbagai aktivitas lainnya yang secara sosial lebih produktif dan karenanya bukan merupakan pendorong, melainkan justru menjadi penghambat pembangunan nasional. Sekali lagi, kenyataan di atas patut diajukan untuk mengkritisi dunia pendidikan kita saat ini. Pendidikan belum mampu meminimalisir jumlah pengangguran, tetapi ikut menyesakkan jumlah pengangguran, atau dalam bahasa lain, pendidikan kita masih menjadi mesin pencipta pengangguran dan pemiskinan. Di sini, tentunya kualitas pendidikan kita dipertanyakan dan harus ditata ulang. Alternatif Pemecahan Untuk itu, ada empat formulasi kebijakan yang bisa dijadikan alternatif pemecahan persoalan di atas, sehingga menciptakan hubungan yang positif antara pendidikan dan pembangunan, bukannya antara pendidikan dan pengangguran. Pertama, laju pertambahan biaya pendidikan dalam anggaran belanja nasional perlu ditekan agar lebih sedikit lambat bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan pada masa lalu. Dengan cara ini, pemerintah akan dapat menyisihkan lebih banyak dana anggaran untuk membiayai program-program penciptaan kesempatan kerja secara langsung, baik di daerah pedesaan maupun perkotaan. Lebih lanjut, alokasi sebagian besar anggaran pendidikan yang tersedia hendaknya dipusatkan untuk pembangunan pendidikan dasar, bukannya untuk pendidikan lanjutan dan tinggi. Kedua, penyediaan subsidi untuk pendidikan di tingkat yang lebih tinggi (menengah dan universitas) seharusnya dikurangi sebagai usaha untuk mengatasi distorsi permintaan agregat (individu) terhadap pendidikan. Kebijakan subsidi sedapat mungkin harus diarahkan agar individu (bukan keluarganya atau masyarakat secara keseluruhan) yang akan menanggung sebagian besar biaya pendidikannya, jika ia memang berniat meneruskannya ke jenjang-jenjang yang lebih tinggi. Hal ini dapat dilakukan baik secara langsung (misalnya, melalui pemberian dana pinjaman pendidikan yang harus dibayar kembali bila si pelajar telah bekerja), maupun secara tidak langsung (misalnya, lewat program wajib kerja sama di daerah-daerah terpencil guna menunjang kepentingan pembangunan di pedesaan). Pada saat yang sama, pada golongan yang berpendapatan rendah perlu diberi bantuan subsidi yang cukup agar mereka dapat mengatasi besarnya biaya-biaya (pribadi) pendidikan. Ketiga, penyesuaian kurikulum sekolah dasar dengan kebutuhan-kebutuhan pembangunan pedesaan. Kurikulum perlu diorientasikan kepada pekerjaan khas pedesaan, baik itu pertanian skala kecil, pertukangan serta usaha-usaha wiraswasta, maupun jasa-jasa pelayanan komersial guna memenuhi kebutuhan penduduk desa. Akan tetapi, orientasi ini tidak akan mendapat dukungan yang positif dan efektif dari masyarakat tanpa terciptanya peluang-peluang ekonomi yang nyata di pedesaan, baik itu bagi petani kecil, para tukang, dan wiraswasta lain. Jika tidak tercipta, maka selama itu pula para pelajar akan terus mengejar lembaran-lembaran ijazah formal untuk dijadikan bekal dalam mencari peruntungan di daerah perkotaan. Dan keempat, guna mengimbangi dampak negatif berupa memburuknya ketimpangan sosial seperti yang telah ditimbulkan oleh sistem pendidikan formal, pemerintah perlu menetapkan kuota atau jatah yang dapat menjamin agar anak-anak didik yang berasal dari keluarga miskin bisa duduk di bangku pendidikan lanjutan dan tinggi. Empat formulasi ini diharapkan mampu meniadakan atau meminimalisir hubungan kausalitas pendidikan dan pengangguran, dan menciptakan hubungan yang positif antara pendidikan dan pembangunan, sehingga lonceng kematian pendidikan pun semakin jauh. Semoga! (29) -Ahmad Zaenal Fanani, staf Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LKPSM) NU DIY ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

