Jawa Pos
Senin, 02 Agt 2004,

Menyapih Biaya Mahal Pendidikan
Oleh Asmuni *

Sudah menjadi rahasia umum setiap ajaran baru -juga tahun ajaran kali ini-, para orang 
tua yang menyekolahkan anaknya selalu mengeluh tentang mahalnya biaya pendidikan yang 
harus dikeluarkan. Kantor pegadaian semakin ramai oleh banyaknya orang tua yang 
membutuhkan dana segar, dengan menggadaikan barang-barang yang dimilikinya. Para 
petani rela menjual tanahnya dan peternak rela menjual hewan ternaknya dalam keadaan 
merugi demi mencari dana untuk biaya pendidikan anaknya. 

Naiknya biaya pendidikan setiap tahun itu menjadi kebiasaan yang dimaklumi. Masyarakat 
pun tidak mempunyai pilihan lain, meskipun berat, mereka menganggap sebagai hal yang 
harus dijalani. Konsekuensinya, angka putus sekolah di Indonesia cukup tinggi. Data di 
Depdiknas menunjukkan, anak putus SD di kelas 1, 2, dan 3 mencapai 200-300 ribu per 
tahun. 

Itu belum lagi jika dilihat dari angka partisipasi kasar peserta didik dari SD hingga 
perguruan tinggi, sebagaimana dilaporkan Mastuhu, yang makin menunjukkan angka drop 
out (DO) dan tidak lulus (TL) semakin meningkat sejalan dengan tingginya jenjang 
pendidikan. 

Tingginya biaya pendidikan yang mesti ditanggung anak didik tidak lepas dari tingginya 
biaya operasionalisasi lembaga pendidikan tersebut. Tetapi, menciptakan pendidikan 
yang bermutu memang harus mahal. Prof Dr Satryo S. Brodjonegoro menyatakan, dana untuk 
satu mahasiswa di perguruan tinggi idealnya Rp 18 juta per tahun. Satryo juga mengakui 
bahwa lembaga pendidikan harus mahal jika ingin bermutu. 

Bahkan, Heru Nugroho, seorang sosiolog dari UGM, meskipun gencar menyuarakan bahwa 
pendidikan mahal harus dilawan, juga mengakui bahwa pendidikan yang bermutu harus 
didukung pembiayaan yang kuat. Hanya, menurut Heru, harus ada konsep yang lain, 
sehingga pendidikan dapat diakses setiap warga negara tanpa diskriminasi. 

Sebaliknya, Mas'ud Mahfoedz, mantan wakil rektor II UGM, mengatakan, mana pun, lembaga 
pendidikan yang mengandalkan income-nya dari peserta didik tidak ada yang maju. 
Kenaikan tuntutan kualitas, menurut dia, selalu lebih cepat dari kenaikan SPP.

***

Ketidakmampuan siswa dalam pembiayaan pendidikan menyebabkan angka partisipasi terus 
menurun. Mastuhu dalam bukunya Menata Ulang Sistem Pendidikan Nasional (2003: 4) 
melaporkan bahwa tabel Kohort (kelompok siswa yang dapat diterima pada jenjang 
pendidikan yang lebih tinggi) menunjukkan angka yang terus menurun. Dari 100 persen 
anak SD, yang lulus hanya 64,4 persen. Dari jumlah itu, yang masuk SLTP 41,3 persen. 
Dari jumlah tersebut, yang berhasil lulus SLTP hanya 30,8 persen, yang berhasil 
diterima di SMU hanya 24,0 persen. Dari jumlah itu, yang diterima di perguruan tinggi 
sebagai mahasiswa tahun akademik 1997/1998-1999/2000 hanya 11,6 persen.

Karena itu, tidak aneh jika laporan studi United Nations Development Program (UNDP) 
dalam Human Development Report 2004 menempatkan Indonesia pada peringkat 111 dari 175 
negara yang dipelajari. Peringkat tersebut memang lebih tinggi sedikit, meskipun tidak 
signifikan, dibandingkan 2003, berada pada peringkat 112.

Masih rendahnya kualitas manusia Indonesia menurut studi UNDP tersebut mencerminkan 
rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia, karena HDI dibangun atas indikator 
kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Indikator pendidikan, di antaranya, menyangkut 
angka melek huruf dewasa (adult literacy rate), angka melek huruf muda, anak-anak yang 
bersekolah hingga kelas lima sekolah dasar, angka partisipasi pendidikan, dan 
sebagainya. Semakin tinggi angka melek huruf dan angka partisipasi pendidikan, semakin 
tinggi tingkat pendidikan dalam suatu negara.

Rendahnya angka partisipasi pendidikan akan mengakibatkan rendahnya kualitas manusia 
Indonesia dibandingkan negara-negara di dunia. Salah satu penyebabnya ialah 
ketidakmampuan masyarakat membayar biaya pendidikan yang semakin tinggi. Hampir 
menjadi rutinitas biaya pendidikan selalu naik setiap tahun.
***
Ada beberapa alternatif yang layak dipikirkan untuk menyapih lembaga pendidikan guna 
mengurangi ketergantungan dana dari anak didik. Pertama, lembaga pendidikan harus 
memiliki unit bisnis, yang tugas utamanya sebagai unit pencari dana (fund raising) 
bagi lembaga pendidikan tersebut. Unit Bisnis itulah kelak diharapkan menjadi penopang 
kemandirian lembaga pendidikan. 

Dari sisi ketersediaan pasar, lembaga pendidikan relatif memiliki pasar permanen. 
Banyak usaha bisa dikembangkan dari lembaga pendidikan, di antaranya cetak-mencetak 
peralatan kantor, supermarket, wartel, jasa konstruksi, asrama, catering, rumah sakit, 
perbengkelan, dan sebagainya. 

Mengacu pada beberapa universitas yang maju, pendapatan dari mahasiswa rata-rata 
kurang dari 20 persen, selebihnya berasal dari pemerintah dan keuntungan badan usaha 
yang didirikan universitas tersebut. Income dari mahasiswa hanya cukup untuk 
operasional belajar-mengajar. 

Misalnya, Kentucky University di Amerika Serikat, biaya operasional pendidikan hanya 
11 persen dari SPP, selebihnya 40 persen dari rumah sakit, 20 persen dari asrama, 
kafetaria, dan lain-lain.

Kedua, optimalisasi harta wakaf. Pemanfaatan harta wakaf secara benar dapat membuahkan 
hasil luar biasa. Beberapa universitas terkemuka menggunakan konsep dana wakaf dalam 
pengelolaannya. Universitas Al-Azhar, Mesir, Universitas Al-Qurawin, Maroko, 
Universitas Al-Nidzamiyah, Universitas Harvard, Amerika, dan Pondok Modern Gontor, 
Ponorogo, menggunakan konsep pembiayaan yang sama dengan wakaf, meskipun menggunakan 
istilah endowment fund. Contoh pembiayaan itu menunjukkan bahwa dana wakaf memiliki 
potensi yang besar dalam pembiayaan pendidikan.

* Drs Asmuni MTh MA, dosen FIAI dan peneliti pada Pusat Studi Islam Universitas Islam 
Indonesia, Jogjakarta




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke