Dari Notes Belajar Seorang Awam: CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [8].
"BAKUL SEORANG IBU PENJUAL KUE PASAR KRANGGAN" Tahun-tahun 60an, Perang Vietnam sedang marak berkecamuk. Presiden Soekarno yang dibesarkan oleh perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme serta salah satu tokoh penting Gerakan Asia-Afrika dan Amerika Latin yang dimulai dengan Konfrensi Asia-Afrika di Bandung, tanpa keraguan sedikitpun menyokong perjuangan rakyat Vietnam melawan agresi imperialis Amerika Serikat untuk menyatukan negeri. Ketika kemudian berada di Vi�t Nam, aku menyaksikan dan mendengarkan sendiri bagaimana rakyat Vi�t Nam hingga jauh di pedesaan luas menuturkan dengan penuh kecintaan dan penghargaan kepada Indonesia yang mereka namakan Nam Dung [baca: Nam Zung, negeri/kepulauan selatan], di bawah pemerintah Presiden Soekarno atas setiakawan ini. "Sekalipun Indonesia Soekarno sedang menghadapi berbagai kesulitan, tapi dengan tulus Indonesia mengirimkan beras dan obat-obatan kepada kami. Soekarno bahkan menawarkan sukarelawan Indonesia untuk membantu kali", tutur orang-orang desa dari utara ke selatan negeri yang berbentuk huruf S itu dengan penuh keharuan. Ya! Benar, Guk. Daerah pedesaan yang luas bukan perkotaan. Karena selama berada di negeri ini, boleh dikatakan hampir seluruh waktu, aku berada di daerah pegunungan dan pedesaan. Hanoi, Haiphong, Da Nang, Hue, Saigon, tak terlalu kukenal dibandingkan daerah pegunungan dan pedesaan. Sambil bercerita terkadang mereka menyanyikan lagu-lagi berbagai daerah negeri kita seperti "Butet", "Ayo Mama", "A Sing Sing So", "Rayuan Pulau Kelapa", dan lain-lain.. dalam bahasa Vi�t Nam. Waktu masih mahasiswa Gadjah Mada, organisasi-organisasi mahasiswa di lingkungan universitas juga sering menerima kunjungan dan mendengar ceramah dari perwakilan-perwakilann Vi�t Nam, terutama dari Front Pembebasan Vi�t Nam Selatan. Ho Chi Minh yang di Vi�t Nam dipanggil Bac Ho [Paman Ho] pun pernah berkunjung ke Indonesia atas undangan Presiden Soekarno. Beberapa di antara anggota rombongan Bac Ho, ketika berada di Vi�t Nam sempat kutemui kembali dan dari mereka inilah kudengar berbagai kesan serta rasa satunya mereka dengan Nam Dung kita. Kalau kau, pada suatu ketika berkesempatan ke negeri ini, hendaknya kau jangan lupa ke Da Nang, bekas pangkalan militer terbesar Amerika Serikat. Di kota ini, Museum Champa jangan sampai tidak kau kunjungi. Dari museum ini barangkali kau akan bisa melihat betapa dekatnya hubungan Indonesia dan Vi�t Nam dalam perjalanan sejarah Asia Tenggara. Hubungan taut-menaut antar negeri-negeri Asia Tenggara dan Tiongkok inilah kemudian yang menjadi perhatian penting suami-istri Indonesianis terkemuka Perancis: alm. Denys Lombard dan Claudine Salmon. Sebagai ilustrasi bisa kukatakan bahwa guna menjajah Vi�t Nam, kolonialis Perancis pernah meminta pengalaman kolonialis Belanda dalam menghadapi Perang Aceh. Jadi antar kaum kolonialis dan imperialis pun ada setiakawan: setiakawan kaum penjajah, penindas dan penghisap. [Barangkali istilah-istilah ini terasa asing sekarang bagi angkatanmu. Terdengar asing dan bombastis bahkan mungkin kau katakan sebagai demagogi. Aku memahamimu jika pun kau dan yang lain-lain berkata dan merasa demikian, apalagi kau tumbuh di alur sejarah yang dibelokkan secara sengaja. Sejarah yang terkadang tanpa segan bahkan dipalsukan secara sadar!]. Ketika berada di Indonesia, melalui percakapan dengan berbagai kalangan, terutama dari angkatan muda, diam-diam aku merasa khawatir tentang apa yang akan terjadi jika sebuah angkatan tumbuh dan memimpin negeri tapi hampa kesadaran sejarah. Sering juga kudapatkan bagaimana kesadaran sejarah ditempatkan pada kedudukan sangat rendah dibandingkan dengan uang dan ketenaran nama diri. Ketenaran diri dan uang ditempatkan demikian tinggi dewasa ini walaupun ketenaran itu hampa, tanpa disertai oleh isi yang padan. Di tengah-tengah keadaan dan gaung gema suara-suara begini, aku hanya bisa menghibur diri dengan harapan bahwa aku sedang melakukan kekeliruan penilaian atas keadaan serta salah dengar. Kurang pandai membaca keadaan dan kurang pandai mendengar. Dilihat dari sejarah, barangkali bisa dipandang bahwa setiakawan pemerintah Soekarno kepada perjuangan rakyat Vi�t Nam, sebagai kelanjutan dari perkembangan sejarah yang lama di antara kedua negeri dan rakyat. Dengan latarbelakang sejarah nasional dan internasional seperti di ataslah, aku telah melewatkan masa remaja Yogyaku. Semangat anti imperialis membakar jiwa angkatanku. Apalagi dari segi garis keluarga, aku memang dilahirkan dalam keluarga yang telah mempertaruhkan nyawa mereka guna menghalau militerisme Jepang dan kolonialisme Belanda. Masa kanakku menyaksikan bagaimana kakek dan nenek disiksa dan dipenjara oleh serdadu Belanda, ditambah lagi dengan dongeng kakek pada subuh hari yang berjalan mondar-mandir di sekitar tempat tidurku. Sedangkan ibuku, kusaksikan sendiri, bagaimana ia dengan parang dan tombak di tangan tanpa bergeming sedikitpun menghadapi musuh. Yang kusebut musuh, bukanlah orang-orang yang mengkritik, tapi perampok kampunghalaman dan pembunuh orang kampung secara nyata. Jadi bukan musuh-musuhan atau khayali. Musuh adalah kata yang mengandung pengertian filosofi dan menunjukkan tingkat kontradiksi dalam masyarakat yang sudah bersifat antagonistis.Tingkat kontradiksi, jika aku katakan musuh, berarti sudah mencapai taraf kontradiksi pokok. Tahu siapa kawan dan lawan atau musuh,memang merupakan kunci dalam pertarungan pembebasan untuk memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat. Dengan ini aku hanya ingin menggarisbawahi bahwa dalam bicara dan menulis serta menggunakan kata, barangkali kita perlu cermat dan secermat mungkin. Lebih-lebih bagi orang yang bekerja menggunakan bahasa seperti sastrawan. Awur-awuran menggunakan kata dan bahasa hanya memperlihatkan tingkat kerampungan pikiran secara konsepsional pemakainya. Pada suatu hari, kepada para mahasiswa Gadjah Mada [Gama] disampaikan bahwa "besok" Universitas akan menerima Delegasi Front Pembebasan Vi�t Nam Selatan [FPNVNS]. Delegasi akan menyampaikan ceramah di aula Sitinggil, ruang kuliah utama bagi Fakultas-fakultas Sosial-Politik, Hukum dan Ekonomi.Untuk menyatakan setiakawan kepada perjuangan rakyat Vi�t Nam yang diwakili oleh FPVNS, sejumlah organisasi mahasiswa memutuskan untuk melakukan gerakan corat-coret anti imperialis Amerika Serikat [AS]. Teks corat-coret pun sudah ditetapkan. Jadi tidak asal-asalan. Baru kemudian kuketahui bahwa slogan dan corat-coret pun sesungguhnya memerlukan kecermatan berbahasa dan menggunakan kata karena slogan dan corat-coret mengandung suatu konsep atau wawasan.Pemahaman begini lebih dipertegaskan lagi belakangan ketika aku mempelajari buku kumpulan corat-coret tembok semasa Revolusi Mei 1968 di Perancis. Dalam gerakan corat-coret ini, aku tergabung dalam grup yang beroperasi di Jetis, Yogya utara, terutama di sekitar Jalan Diponegoro, di mana waktu itu terdapat Jefferson Library -- salah satu gedung termegah di zaman remajaku, berhadap-hadapan dengan Pasar Kranggan, tidak jauh dari asrama Palangka Raya di jalan Pakuningratan di mana aku tinggal. Di pasar ini, saban malam, ada seorang ibu yang berjualan kue, sedangkan siang, ia menjual makanan untuk para pelajar SMP & SMA. Ibu pemilik warung ini sangat memperhatikan aku dan teman-temanku. Juga sangat menyayangi murid-murid SMP dan SMA di mana aku mengajar dan sering makan bersama sebagai teman.Selamanya aku memperlakukan murid-muridku sebagai teman yang sederajad. Setelah berulangkali makan di warungnya, kemudian sang ibu mengundangku ke rumahnya yang terletak di belakang gedung Jeferson Library, milik USIS [United States Information Service]. Hubungan kami makin akrab. Di bawah kau akan tahu, Guk, mengapa aku mesti bercerita tentang ibu ini. Jam 01:00 pagi grupku yang terdiri dari tiga orang mulai beraksi. Seorang membawa kaleng cat, seorang lagi memegang kuas untuk menuliskan corat-coret, seorang lagi mengamati jalan alias bertanggungjawab atas keamanan grup. Sedikitpun tak ada ketakutan menyelinap di hati kami. Yang ada di kepala tidak lain bagaimana menuliskan sebanyak mungkin slogan di tembok-tembok kota dan gedunjg-gedung yang disasar dalam waktu sesingkat mungkin. Dan kami tahu benar untuk apa kami melakukannya. Dalam melakukan operasi corat-coret ini,kami pun siap tertangkap karena kelengahan atau kurang teliti misalnya. Kami pun siap "dihajar" oleh polisi dan CPM yang biasa menggebuk dulu, baru ditanya. Mungkin karena naluri atau terlatih, pihak kepolisian dan CPM [Corps Polisi Militer] yang bertopi baja putih dengan band putih bertuliskan CPM di lengan seragam mereka, berjip putih, menduga atau sudah tahu bahwa menjelang kedatangan Delegasi FPVNS akan dilakukan kegiatan tertentu di kota. Frekwensi patroli jip CPM berlipatganda dibandingkan dengan malam-malam biasa. Temanku mencelup kuas besar ke dalam kaleng cat berwarna putih yang kupegang untuk menuliskan di tembok-tembok Jefferson Library slogan:"Yankee, Out of Vi�t Nam!", "Long Live FNPNS!","Ganyang Imperalis AS!". Baru selesai menuliskan kata "Ganyang", teman yang mengamati jalan berteriak "CPM!". Temanku yang menulis masih bersemangat untuk menyelesaikan kalimat slogan. "CPM!Cepat sembunyi!", teriak teman kami yang menjaga jalan sambil berlari. Temanku menulis segera berlari memasuki gang-gang kampung, sedangkan aku mengambil jurusan lain, menyeberangi jalan, memasuki Pasar Kranggan. Dengan lari memencar, CPM perlu memilih siapa yang akan dikejar sehingga tidak bisa menangkap semua anggota grup. Sebelum menghentikan jip putihnya di depan gedung Jefferson Library, salah seorang dari anggota CPM menembakkan pistolnya ke atas. Mendengar suara pistol dan melihat aku berlari sekencang bisa, ibu penjual kue yang kukenal baik bertanya: "Ada apa, nak?" Aku meliriknya sejenak dan ingin mencari tempat sembunyi yang aman. "CPM!" jawabku singkat sambil memegang kaleng cat putih yang sudah kututup rapat. Sang ibu penjual kue berdiri dari dingklik dan mengambil bakul besar di sampingnya. "Duduk!" Perintah sang ibu dengan tegas, yang segera kupatuhi. Ibu menutupku dengan bakul besar yang ia gunakan untuk membawa jualannya, lalu duduk di atasnya sambil melanjutkan jualannya dengan tenang. Tak lama kemudian tiga orang anggota CPM datang, bertanya: "Tadi ada orang lari ke jurusan ini?" "Benar", kata ibu. "Ia lari ke arah utara dengan kaleng cat di tangan", lanjut sang ibu menunjuk utara dan melanjutkan gorengan ketelanya seperti tidak terjadi apa-apa. "Kita cegat di Kranggan lalu Pakuningratan", kudengar salah seorang di antara mereka berkata. "Ia tak akan bisa pergi jauh", lanjutnya lagi kemudian melangkah meninggalkan warung sang ibu menuju jip putih. Tak lama kemudian deru mesin dan suara jip yang melaju. Selang lima menit kemudian, ibu warung mengangkat bakul besarnya sambil tertawa: "Sudah,nak! Mereka sudah pergi!" "Panas, bu. Kalau tambah 15 menit lagi, aku akan pingsan!". Ibu dan para langganannya yang terdiri dari abang-abang becak yang ketika CPM lewat berlagak tidak tahu apa-apa, tertawa terbahak-bahak. "Untung saja ibu tidak kentut", tambahku sambil mengusap rambut.Para abang becak kembali ngakak dan ibu warung hanya senyam-senyum kecil. Pengalaman bagaimana dilindungi oleh rakyat kecil lapisan bawah ini, kembali terulang aku dikejar-kejar polisi pada masa Gerakan Aksi Sepihak di Klaten. Pengalaman-pengalaman kecil ini mengajarku bahwa sesungguhnya rakyat kecil tahu benar apa yang adil dan tidak, dan mereka sanggup mempertaruhkan nyawa mereka demi keadilan. Mereka tidak akan mengkhianati keadilan. Mereka adalah benteng keadilan itu sendiri. Setelah mencium kening ibu warung yang telah melindungiku, aku kembali mencari dua teman yang ternyata sudah menunggu di depan gedung Jefferson Library. Kami melanjutkan operasi kecil kami sampai jam lima pagi di daerah yang sudah ditetapkan. Paris, Juli 2004. ---------------- JJ. Kusni [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

