Dari Notes Belajar Seorang Awam:

CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [10].

Musyawarah Nasional Teater Seluruh Indonesia [MNTSI] --1.


Ingatanku yang menua telah menghapuskan catatan tahun dan tanggal tepat berlangsungnya 
 MBTSI dari halaman ingatanku. Yang jelas sebelum Gerakan Aksi Sepihak untuk 
melaksanakan UUPBA [Undang-undang Perobahan Agraria]dan UUPBH [Undang-undang 
Perjanjian Bagi Hasil] yang bermula di Kabupaten Klaten pada tahun 1963. Pada masa 
Gerakan Aksi Sepihak, aku sudah setengah pindah ke pedesaan Klaten dan jarang sekali 
pulang ke Yogya, kecuali untuk mengikuti beberapa kuliah. Karena itu oleh seorang 
dosen aku dihukum untuk menulis tujuh kertas kerja dalam seminggu.Artinya MNTSI itu 
berlangsung di sekitar tahun 1961 atau 1962. 

Ketika itu, aku sudah dipercayai untuk menjadi orang pertama Lekra Kota Yogyakarta dan 
mulai bertanggungjawab atas Lembaga Sastra [Lesra]  di tingkat Jawa Tengah. Dengan 
tanggungjawab begini, aku merasa segala kegiatan sastra-seni yang terjadi di Kota 
Yogya dan di Jawa Tengah menjadi perhatian dan urusanku. Aku tidak mungkin 
menghadapinya dengan ketidakacuhan dan tidak mungkin menjawab pertanyaan siapa dari 
mana pun datangnya dengan "Tidak tahu!"."Mbuh!". Dengan segala cara, aku harus 
mengikutinya langsung dan mengetahuinya. Untuk keperluan ini, akupun mendekati satu 
kemantren demi satu kemantren dari 14 kemantren [setingkat dengan kecamatan] di kota 
Yogyakarta dan kabupaten demi kabupaten di seluruh Jawa Tengah. Perjalanan lagi-lagi 
kulakukan dengan bantuan sopir-sopir truk dan kendaraan yang tergabung dalam Serikat 
Buruh Kendaraan Bermotor [SBKM] yang kutemui di standplat bus di belakang Pasar 
Beringharjo, di belakang Benteng Vredenburg. Dengan cara begini maka aku tahu persis 
keadaan Lesra Jawa Tengah dan keadaan kongkret Lekra di 14 kemantren yang 
pengurusannya diserahkan kepadaku bersama teman-teman lain setelah angkatan pendahulu 
pergi meninggalkan Yogya untuk memikul pekerjaan lain di tingkat nasional dan atau 
internasional. Kecuali itu aku pun segera secara organisasi merapikan Lembaga-lembaga 
paling pontensial di kota, seperti Lembaga Seni Rupa [Lesrupa], Lembaga Drama 
[Lesdra], Lembaga Seni Musik [Lesmi],dan Lembaga Seni Tari [Lestari] sehingga 
lembaga-lembaga kejuruan tersebut benar-benar bisa melakukan kegiatan secara kongkret 
dan terencana. Dalam merapikan organisasi lembaga-lembaga kejuruan ini, aku sangat 
memperhatikan komposisi anggota yang ada, kekhususan masing-masing sehingga seluruh 
angkatan usia bisa dipersatukan dan dimaksimalkan peranan mereka [Tentang 
menggabungkan kekuatan seluruh angkatan ini, kelak akan kuceritakan secara terpisah].

Bertolak dari sikap di atas  pulalah maka ketika ada pertemuan nasional Badan 
Musyarawah Kebudayaan Nasional [BMKN] di Semarang, aku bergegas ke kota tersebut dan 
hadir sekalipun tanpa diundang. Beruntung ketua panityanya adalah Charles Kiting, yang 
tidak lain guru bahasa Indonesiaku ketika masih di SMK Sampit. Setelah berpisah 
beberapa tahun, Charles dan aku , sang murid bertemu kembali.  Dengan kebanggaan guru 
pada seorang murid, Charles segera memasukkan namaku sebagai peserta penuh. Kebanggaan 
sang guru kepada murid ini berkali-kali kualami dan dialami oleh mereka yang menjadi 
murid-muridku ketika ujian lisan. 

Pada ujian akhir SMA beberapa muridku diuji secara lisan oleh seorang penguji 
perempuan. Sang penguji menanyakan kepada Ie Tiong Gai, murid dan kawanku di Ansambel 
Tari-Nyanyi Bhinneka, apakah ia mengenal nama seorang sastrawan Indonesia kekinian. 
Tanpa ragu Tiong Gai menyebut namaku [yang membuatku selalu malu sendiri karena oleh 
murid-murid dan kawan-kawanku, bahkan oleh guru-guruku, aku digolongkan ke tingkat 
sastrawan kekinian padahal aku merasa tarafku sendiri sama sekali sangat jauh dari 
taraf sastrawan. Yang kucapai hanya sebatas tingkat pencinta sastra-seni].

"Apa kau kenal Kusni?", tanya penguji.

"Tentu saja", jawab Tiong Gai pasti. Karena memang lama tak pernah ketemu, maka sang 
ibu guru menghabiskan jam ujian lisan dengan menanyai tentang mantan muridnya di SMA 
Santo Thomas dulu.Tiong Gai dan teman-teman dinyatakan lulus. Di rumah orangtua 
angkatku, di mana kami sering berkumpul, mereka menceritakan  suasana  ujian lisan 
mereka kepadaku sambil ngakak geli. Ibu dan tacie mendengar cerita sambil mesam-mesem. 
Aku sendiri memang selalu merasakan hormat dan terimakasih kepada guru-guruku. 
Nama-nama Rosni, Simatupang, Charles Kiting, guru-guru bahasa Indonesiaku di SMA dan 
SMP adalah nama-nama yang selalu kukenang dengan perasaan kasihsayang serta 
terimakasih. Juga tidak bisa kulupakan, Soewondo guru sejarahku melalui pelajaran 
sejarah menyalakan rasa cinta tanahair dan kemanusiaan melalui mata pelajaran yang 
pegang. Sejarah di tangan Pak Soewondo menjadi mata pelajaran yang paling mengasikan. 

Dalam hubungan guru-murid seperti juga halnya hubunganku dengan Rendra, masalah 
perbedaan pandangan tidak menjadi urusan dan sama sekali tidak merusak perasaan sayang 
di antara kami. Rendra yang tidak lain dari sahabat, abang dan guruku sekaligus, 
selalu berkata: "Jangan lupa menulis, Kus. Kau harus menulis terus dan terus menulis. 
Aku tidak perduli pandangan politikmu. Itu adalah urusanmu". Kata-kata ini selalu ia 
ulangi tanpa bosan saban bertemu di manapun. Yang pertama ia tanyakan adalah karyaku. 
"Tanpa karya kau tak lagi berhak disebut sastrawan, Kus", demikian Rendra mengingatkan 
aku sebagai guru, sahabat dan abang. 

Di atas adalah ilustrasi yang ingin kutambahkan sebelum bercerita tentang MNTSI, Guk.

Suatu hari, ketika berjalan kaki menelusuri trotoar Malioboro di panas terik menjelang 
jam 12.00 siang, secara kebetulan aku bertemu dengan A.Ajib Hamzah dan teman-teman 
lain. Ajib mengingatkan aku bahwa nanti malam di Pendapa ASDRAFI Ngasem akan dimulai 
MNTSI dihadiri oleh tokoh-tokoh teater seluruh Indonesia. 

"Ya, jam berapa?" tanyaku.
Ajib mengatakan waktunya dan kutegaskan bahwa aku pasti datang.

"Pakai undangan nggak Jib?" tanyaku lagi. Padahal diundang atau tidak aku sungguh tak 
perduli.

"Sejak kapan pula kau hirau pada undangan. Kegiatan kebudayaan memberikan undangan 
khusus kepada kita!", balas Ajib dan kusambut dengan tertawa.  Kamipun berpisah sambil 
saling halus meninju bahu masing-masing. 

"Jangan lupa, ya", seru Ajib dari kejauhan sambil membalik badan sejenak. Aku 
melambaikan tangan menjawab seruan Ajib.

Setelah sampai ke asrama Palangka Raya di jalan Pakuningratan, aku segera mengambil 
sepeda untuk menghubungi teman-teman. Pertama-tama yang kucari adalah Z.Afif, si anak 
bangsawan Aceh bergelar Teuku yang biasa kami panggil "Si Keling" karena memang tak 
jauh dari Jalan Pakuningratan. Hanya terletak beberapa ratus meter dari asramaku. Afif 
kuminta menghubungi Putu Oka S. sedangkan aku menghubungi penyair Timbul Darminto di 
desa Tegal Rejo. Oleh orang-orang yang kenal, kami berempat biasa disebut "empat 
sekawan" karena selalu bersama menghadiri berbagai kegiatan kebudayaan di kota bahkan 
ke berbagai tempat yang jauh. Dalam kehidupan sehari-hari pun kami sering bersama-sama 
dan saling kunjung.

Jalan menuju Tegal Rejo pada waktu itu masih merupakan hamparan sawah luas di bawah 
bayang-bayang Gunung Merapi. Saban tidur di rumah Timbul, di sawah-sawah menghampar 
inilah,  aku sering menyaksikan senja tenggelam di antara oleh "uro-uro" Timbul. Tegal 
Rejo kurasakan memberiku suasana senja jatuh di hulu sungai Katingan, sungai 
kelahiranku di pedalaman Kalimantan Tengah. Senja yang tenggelam, kunang-kunang dan 
suara jengkrik malam memberiku keakraban kampung kanakku. Sekelebatpun tidak pernah 
kurasakan perbedaan suku dan budaya menjadi halangan persaudaraanku dengan Timbul dan 
teman-teman dari etnik lain. Tidak juga menghalangku akrab dengan keluarga Timbul. 
Bahkan sampai sekarang dengan Z.Afif misalnya kami masih  sering saling berkabar 
dengan perasaan bersaudara seperti dahulu. 

"Kebudayaan itu majemuk, kemanusiaan itu tunggal". Barangkali kata-kata Paul Ricoeur, 
filosof Perancis ini merupakan salah satu kesimpulan dari hubungan persaudaraan kami 
yang jauh lebih tinggi dari pertemanan biasa, inti yang menjelujuri kedekatan hubungan 
guru-murid serta hubungan para warga "Republik Sastra-seni Beringharjo". Aku sendiri 
kemudian melihat bahwa etnik dan bangsa tidak lain dari perbatasan semu bagi 
kemanusiaan. Perbatasan semu yang dilahirkan oleh syarat sejarah tertentu dan bersifat 
dinamis, yang menagih penghormatan dan tidak bisa diabaikan.

Pada jam yang sudah disepakati bersama, Z.Afif, Timbul Darminto, Putu Oka S dan aku 
bertemu di pendopo Akademi Seni Drama & Film Indonesia [ASDRAFI], Ngasem Yogya. 
Pendopo penuh sesak dengan peserta dari berbagai daerah. Kami berempat duduk 
mengelompok di satu deretan. Ketika kami datang, acara sudah dimulai. Perhatian kami 
segera terpusat pada pidato demi pidato pembukaan. Tak seorang pun di antara kami yang 
tahu bagaimana dan siapa yang mengorganisasi pertemuan besar seperti ini. Dari 
pidato-pidato dan yang hadir kami tahu bahwa musyarawah ini merupakan sebuah pertemuan 
penting dan mempunyai jangkauan jauh melebihi lingkup kebudayaan.  

   
Paris, Juli 2004.
----------------
JJ. Kusni

[Bersambung....]

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke