Senjata Pun "Diselipkan" dalam Bantuan ke Sudan http://www.kompas.com/kompas-cetak/0408/04/utama/1189202.htm
Khartoum, Kompas - Di balik penyaluran bantuan kemanusiaan kepada jutaan pengungsi di Darfur, Sudan, diduga kuat diselipkan juga paket-paket berupa senjata. Paket-paket berisi senjata itu ditujukan kepada pemberontak Sudan dalam melawan pemerintah setempat. Demikian sisi lain dari berita krisis kemanusiaan di Sudan, sebagaimana dilaporkan wartawan Kompas Rakaryan S dari Khartoum, Sudan, Selasa (3/8). Resolusi Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) mengenai krisis kemanusiaan yang terjadi di Darfur mendapat antipati rakyat Sudan. Negara yang menghadapi konflik bersenjata melawan kelompok pemberontak di wilayah Darfur itu kini harus bersiap-siap pula menghadapi ancaman "sanksi" dari negara- negara Barat. Namun, suasana di Khartoum sendiri tampak tenang-tenang saja. Bagi mereka, ancaman sanksi itu bukan sesuatu yang baru. Media-media massa di ibu kota Sudan itu hampir seluruhnya memuat tulisan yang terkait dengan resolusi DK PBB terhadap Sudan serta situasi yang ada di Darfur, wilayah bagian barat Sudan yang berbatasan dengan Chad dan Libya. Rombongan DPR Selasa kemarin delegasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dipimpin Wakil Ketua DPR AM Fatwa tiba di Khartoum, di tengah badai debu ringan yang membuat pemandangan di ibu kota Sudan ini sangat terbatas. Delegasi DPR disambut di Bandar Udara Khartoum oleh Wakil Ketua Parlemen Sudan Angelo Beda dan Duta Besar Indonesia untuk Sudan Syamsuddin Yahya. Menurut Syamsuddin, Pemerintah Sudan sendiri secara resmi belum menyampaikan sikapnya atas resolusi DK PBB itu. Namun, waktu 30 hari-untuk menyelesaikan konflik- yang ditetapkan DK PBB diyakini sebagai masa yang tidak memadai mengingat medan yang sulit ditempuh, berupa padang pasir dan bukit-bukit batu. Selain itu, kata Syamsuddin, sebenarnya bukan hanya milisi Janjaweed yang memegang senjata, tetapi juga kelompok pemberontak Gerakan Keadilan dan Kesetaraan (JEM) dan Tentara Pembebasan Sudan (SLA/SLM). "Kalau sanksi nanti direalisasikan, seperti larangan untuk aktivitas penerbangan, saya tidak bisa pulang. Perkiraan saya, dalam 30 hari itu Pemerintah Sudan akan memberikan laporan perkembangan. Tetapi dalam waktu dekat ini Pemerintah Sudan akan memberikan satu surat kepada DK PBB, kira-kira ingin mengajukan keringanan. Yang penting, dalam 30 hari mereka harus bekerja keras meskipun saya kira tidak mungkin dia mengatasi konflik di Darfur dalam 30 hari," papar Syamsuddin. Soal "sanksi" ekonomi-jika Pemerintah Sudan dianggap gagal memenuhi tuntutan resolusi DK PBB itu-jelas akan semakin menyulitkan Sudan. "Dari sisi pangan, mereka mungkin tidak akan kesulitan karena banyak tumbuhan biji- bijian di sini. Akan tetapi, untuk orang luar seperti saya, jelas kami tidak bisa memakan itu terus-menerus," kata Syamsuddin lagi. Ia menambahkan, penerapan sanksi ekonomi akan membuat Sudan kesulitan mendapatkan makanan olahan, barang-barang elektronik, serta kebutuhan kendaraan bermotor dengan berbagai suku cadangnya. Laporan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) Barat tentang Darfur, lanjut Syamsuddin, banyak yang dilandasi motif tertentu. Disinyalir, dalam pemberian bantuan internasional terjadi juga pengiriman senjata kepada kelompok pemberontak. Janji-janji LSM Barat untuk memberikan bantuan banyak yang tidak terealisasi. "Saya kira bukan Pemerintah Sudan yang mempersulit akses untuk penyaluran bantuan kemanusiaan itu. Kondisi medannya memang sulit dan di sana kelompok-kelompok (pemberontak) itu merampok siapa saja yang lewat," ungkap Syamsuddin. Melawan resolusi Di Khartoum, pemberitaan seputar reaksi terhadap resolusi DK PBB itu sangat gencar. Di harian berbahasa Inggris Sudan Vision, misalnya, hampir semua halamannya (dari 16 halaman) dipenuhi berita seputar reaksi terhadap resolusi DK PBB dan perkembangan di Darfur. Perkumpulan pelajar sekolah negeri di kota ini mengumumkan sudah melakukan mobilisasi anggotanya untuk melawan aksi intervensi asing. Sebanyak 540 dari 750 pelajar yang diharapkan sudah terkumpul dan sekarang tengah mendapatkan pelatihan di pusat pelatihan militer. Ketua perkumpulan ini, Al Shafie Mohammed Ali, bahkan menyerukan agar seluruh pelajar negeri di Khartoum bersedia menjadi sukarelawan untuk membantu para pengungsi yang kembali ke kampung asal mereka di Darfur. Ketua Perkumpulan Pelajar Negeri Darfur Utara Haider Abdel Nabi juga menolak informasi yang dikampanyekan media asing. Dia mengancam bahwa Darfur akan menjadi kuburan bagi orang asing yang ingin campur tangan. Penolakan juga disampaikan Partai Buruh Nasional Sudan yang dipimpin Sayed James Andrea. Pimpinan politik di Darfur, Al Tijani Siraj, pun menegaskan menolak intervensi asing dalam bentuk pengiriman pasukan asing. Dari berbagai pemberitaan media massa di Khartoum, tampak sekali adanya kekhawatiran sekaligus perlawanan terhadap resolusi DK PBB itu. Presiden Sudan Omar al-Bashir dalam wawancara dengan United Press International (UPI) menegaskan, tekanan internasional dan intervensi militer tak akan menyelesaikan masalah di wilayah Darfur. Dibutuhkan waktu yang cukup untuk melaksanakan rencana bersama dengan PBB untuk menciptakan keamanan dan stabilitas di wilayah yang tengah bergolak itu. Hal tersebut karena konflik di wilayah Darfur bukanlah konflik baru, tetapi sudah ada sejak Pemerintah Sudan sekarang memulai tugasnya. Masalah di sana pun sangat rumit karena latar belakang sejarah hubungan antaretnis di Darfur sangat panjang. Pemerintah Sudan, melalui Menteri Luar Negeri Mustafa Osman Ismail, menegaskan bahwa Sudan hanya akan memegang janji yang sudah disampaikan kepada Sekretaris Jenderal PBB yang meminta waktu 90 hari, dan tidak terikat pada resolusi DK PBB yang memberi waktu hanya 30 hari. "Kami berharap bisa membawa DK PBB pada kenyataan sesungguhnya, memberi pengertian kepada mereka bahwa sanksi tidak akan memecahkan konflik di sana," katanya. * Khairurrazi Aligarh Muslim University Uttar Pradesh, India -- India.com free e-mail - www.india.com. Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail storage, POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes! Powered by Outblaze ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

