Dari Notes Belajar Seorang Awam:

CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [12].

"Merah Kesumba"-- Grup Mobil & Serba Bisa

"Merah Kesumba" adalah sebuah sanjak Njoto yang dipersembahkan oleh penulisnya untuk 
menghormati Patrice Lumumba -- pimpinan nasionalis Kongo yang dibunuh dalam usahanya 
memerdekakan negerinya dari penjajahan Belgia. Sayang di sini, aku tidak mempunyai 
teks lengkap puisi tersebut. Puisi ini oleh Amir Pasaribu telah dibikinkan lagu dan 
sering kami nyanyikan pada berbagai kesempatan.Evi Tjoa, penyanyi sopran Lekra, pernah 
membawa lagu ini di berbagai forum internasional ketika rombongan Lekra melawat ke 
berbagai negeri. Oleh ingatan yang menua dan terus menua, teks lengkap lirik lagu ini 
tidak lagi sepenuhnya melekat di ruang ingatan, kecuali beberapa baris berikut:

"Merah kesumba darah Lumumba
Laparmu lapar kami 
Laparmu lapar kita
Merah kesumba darah Lumumba"


Lebih lanjut lagu ini kami gunakan untuk menamai sebuah grup kecil terdiri dari enam 
orang yang di Yogya dan sekitarnya dikenal sebagai Grup "Merah Kesumba".  

Anggota Merah Kesumba yang terdiri dari enam orang ini dipilih dari  300an lebih 
anggota-anggota Ansambel Tari-Nyanyi yang bernaung di bawah Lembaga Seni Musik 
Yogyakarta dengan syarat-syarat: memenuhi syarat-syarat mobilitas, artinya mempunyai 
syarat-syarat ketangguhan fisik tertentu, mempunyai taraf tekhnik terbaik dari semua 
yang lain, mencerminkan berbagai etnik di tanahair, kemudian serba bisa. Bisa 
menyanyi, bisa menari, bisa bermain drama, bisa  memainkan berbagai instrumen musik 
seperti gitar, kulintang, akordeon dan alat-alat musik lainnya. Tuntutan terakhir ini 
diterapkan agar grup kecil Merah Kesumba, seperti halnya dengan grup kecil Shin Sheiza 
Kuza, bisa menyajikan pertunjukan lengkap dan beragam. Merah Kesumba dituntut bisa 
melakukan pertunjukan di mana saja, dan dalam syarat apa saja. Dalam keadaan terdesak, 
arang pun pernah digunakan sebagai alat rias. Bila perlu dan sering dilakukan dalam 
satu malam, Merah Kesumba memberikan pertunjukan di dua tiga tempat berbeda, berpindah 
dari panggung kampung satu ke kampung lain, dari barak satu ke barak lain. 

Merah Kesumba juga dituntut untuk berangkat sewaktu-waktu apabila Ansambel Tari-Nyanyi 
yang besar tidak bisa berangkat melakukan pertunjukan yang diharapkan dari Lekra. 

Tuntutan agar anggota-anggota semaksimal mungkin mencerminkan etnik-etnik di 
Indonesia, dimaksudkan untuk kembali mengingatkan penonton akan ciri Indonesia yang 
bhinneka. Komposisi anggota-anggota ini sering secara sengaja kami perkenalkan sebelum 
pertunjukan dimulai. Agaknya pesan ini ditangkap jelas oleh para penonton yang selalu 
menyambut perkenalan awal dengan tepuktangan gemuruh. Tepuk tangan ini disambut dengan 
penggalan paduan suara "Merah Kesumba" oleh semua anggota grup kecil mobil dan serba 
bisa ini, diakhiri dengan lengkingan tunggal suara tenor seakan menggarisbawahi 
baris-baris:

"Laparmu lapar kami 
Laparmu lapar kita
Merah kesumba darah Lumumba"


Ciri lain dari Merah Kesumba, terletak pada seragam mereka yang berwarna hitam-hitam 
dan ikat leher merah. Ketika pada tahun 2000 aku berkunjung ke Korea Selatan,  di 
Seoul tiba-tiba di atas truk pertunjukan, aku menyaksikan adanya grup kecil yang 
mengenakan seragam persis sama dengan seragam grup Merah Kesumba. Grup Seoul ini 
memberikan berbagai pertunjukan, terutama nyanyian dari atas truk pertunjukan yang  
bergerak menyertai unjuk rasa. Para  pastur yang menemaniku menjelaskan bahwa grup 
kecil ini dilahirkan oleh keperluan dan mereka selalu menyertai saban unjuk rasa di 
ibukota Korea di samping melakukan pertunjukan di pabrik-pabrik, pelabuhan dan 
berbagai lapisan masyarakat, terutama lapisan bawah. Teringat akan Merah Kesumba, 
akupun diam-diam tersenyum sendiri karena Merah Kesumba kamipun dilahirkan oleh 
tuntutan keperluan situasi pada masa remaja kami. Keperluan situasi melahirkan ide 
pembentukan Merah Kesumba kepada kami. Sedangkan syarat terbaik dijadikan salah satu 
syarat untuk menjadi anggota grup, ditetapkan sesuai dengan prinsip Lekra "meluas dan 
meninggi" serta "dua tinggi" yaitu tinggi mutu ideologi dan mutu artistik. Memberikan 
yang terbaik kepada masyarakat yang bisa kami berikan. Kami yakin bahwa masyarakat 
lapisan bawah bukanlah  kelompok-kelompok manusia bodoh tapi memiliki kecerdasan 
tinggi dan kepekaan serta bisa menikmati karya yang bermutu.

Barangkali kau akan bertanya, Guk, apakah Merah Kesumba mendapat imbalan dari 
petunjukan-pertunjukannya? Sepeser pun tidak. Bahkan untuk menuju ke tempat 
pertunjukan kami sering bepergian dengan truk terbuka yang disediakan. Paling-paling 
yang kami terima adalah makanan berupa nasi bungkus dan air putih. Terkadang teh panas 
manis yang hangat sesuai kemampuan pengundang. Dan tentu saja sambutan hangat dari 
ribuan penonton yang sudah mengenal Merah Kesumba lebih menghangatkan hati remaja 
kami. Instrumen yang selalu memukau penonton adalah kulintang Minahasa. Untuk menambah 
pemahaman penonton akan tanahair, kami pun menjelaskan asal muasal kulintang, 
dijelaskan sendiri oleh anak Kawanua yang menjadi anggota grup. Sejalan dengan 
semangat penyadaran akan keindonesiaan, grup juga sering menampilkan duet anggota grup 
asal etnik Arab dan etnik Tionghoa. Masih kuingat jelas,  bagaimana para penonton 
merasa digelitik kebanggaan mereka menjadi Indonesia saban menyaksikan pasangan duet 
ini.Yang satu berkulit kuning bermata sipit, yang lain agak kehitam-hitaman bermata 
lebar. Dan keduanya berdiri  berdampingan menyanyikan satu lagu yang sama.

Adakah yang memerintah kami untuk membentuk Merah Kesumba? Barangkali kau akan 
bertanya lebih lanjut. Ada memang!Ada! Perintah itu datang dari keperluan situasi. 
Situasi kongkretlah yang memberikan kami ide. Tidak ada siapapun yang lain. Barangkali 
di seluruh Indonesia, kecuali di Yogya, tidak ada grup sejenis Merah Kesumba. Kau 
percaya atau tidak dengan ceritaku, aku tidak perduli, karena percaya dan tidak 
percaya adalah urusanmu. Aku sekedar menuturkan sesuatu seadanya. Jika kau katakan aku 
memalsukan sejarah dan membaik-baiki serta memupur wajah diri, wasangka demikian pun 
adalah hakmu. Tapi aku yakin kau tidak akan mengatakan aku memalsukan sejarah yang 
sama sekali tidak mempunyai arti apapun bagiku.Masalah pemalsuan sejarah memang 
terjadi di negeri kita. Tapi pada kenyataannya siapakah yang memalsukan sejarah? 
Apakah anggota-anggota Lekra yang untuk bicara pun selama sekian dasawarsa dilarang, 
bahkan dibunuh, dipenjara dan dikejar-kejar? Mengapa ketika mereka bicara lalu 
dituding memalsukan sejarah dan memamerkan penderitaan? Sekalipun demikian aku ingin 
data-data bagaimana Lekra memalsukan sejarah itu. Beberkan, biar kita bicarakan 
bersama tapi ketika bicara jangan usah malu pada diri sendiri untuk mengaku salah jika 
kemudian ternyata salah. Bicara tanpa data sama dengan fitnah. Tapi fitnah dan gunjing 
nampaknya sudah dianggap biasa di negeri yang dikuasai oleh militerisme selama 
beberapa dasawarsa. Dianggap tidak apa-apa. Bicara asal bicarapun dipandang biasa. 
Kata kehilangan makna.Darah jutaan nyawa yang membasahi tanahair turut mengotori jiwa 
kita.Jiwa kita jadi amis.Amis darah dan kita nampak biasa dengan bau amis itu. Kelak 
aku akan secara khusus bicara tentang sejarah ini. Khususnya terhadap tudingan bahwa 
Lekra memalsukan sejarah untuk itu keluarkan data-data pemalsuan sejarah oleh Lekra. 
Beberkan secara terbuka! Beberkan juga data-data tuduhan bahwa Lekra tukang bakar 
buku. Kapan, di mana, buku siapa? Sedangkan aku bisa menunjukkan bagaimana buku-buku 
anggota Lekra dibakar dan masih terlarang sampai sekarang. Apakah pelarangan buku-buku 
anggota Lekra dan pembakarannya ini pemalsuan sejarah?   

Kembali ke masalah Merah Kesumba. Ide pembentukan grup begini, sebenarnya berasal dari 
bacaan kami tentang pengalaman seniman-seniman Tiongkok yang bergerak di padang luas 
Mongolia. Untuk melayani masyarakat peternak seniman-seniman Tiongkok membentuk grup 
yang dinamakan Ulan Uchi. Jumlah grup tidak besar, tapi mobil dan serba bisa. Bentuk 
Ulan Uchi inilah yang mengilhami kami untuk kemudian membentuk Merah Kesumba. Karena 
ia tanggap situasi dan keperluan maka Merah Kesumba mendapat sambutan di mana-mana. 
Untuk meringankan beban Merah Kesumba dan melayani keperluan masyarakat yang terus 
meningkat akan kesenian, kami berencana untuk membentuk grup sejenis lainnya. Rencana 
ini tidak sempat kami ujudkan ketika Lekra dinyatakan oleh Orde Baru sebagai terlarang 
menyusul meletusnya Tragedi Nasional September 1965. 

Bacaan kalian, bacaan dari Republik Rakyat Tiongkok yang komunis, bukankah? Mungkin 
dalam hatimu diam-diam kau berkata. Kami memang membaca penerbitan-penerbitan 
Tiongkok, dari Uni Soviet, tapi kami juga membaca majalah dan buku-buku dari Amerika 
Serikat dan Eropa Barat dalam bahasa yang kami pahami. Tidak sedikit dari kami yang 
berlangganan USIS. Kami tidak secupet inti pertanyaan demikian, Guk, sekalipun usia 
kami masih sekitar 20an tahun.Itu  kalau benar ada yang bertanya demikian. Kami benar 
anti imperialisme  Amerika Serikat tapi kamipun menyambut hangat musikus-musikus 
Amerika Serikat yang diundang oleh Lekra Pusat. Kami jelas membedakan adanya dua 
Amerika yaitu Amerika Serikat imperialis dan Amerika Rakyat. Belanda pun demikian: Ada 
Belanda penjajah, ada Belanda tipe Pitoyo dan Haji Princen. Lagi pula kalau Ulan Uchi 
berasal dari praktek Tiongkok, apa gerangan salahnya belajar dari pengalaman orang 
lain jika pengalaman itu berguna untuk kepentingan kita? Kalau benar ada 
pertanyaan-pertanyaan seperti di atas, kukira pertanyaan-pertanyaan demikian bersifat 
mengadili dan berbau hetze anti komunis dan marxis, tanda dari ketiadaan toleransi, 
ketidaksanggupan hidup berbhinneka yang ditumbuhkembangkan oleh Orde Baru. 
Pertanyaan-pertanyaan demikian bukan lagi diajukan untuk belajar dari sejarah tapi 
lebih bersifat menghujat. Aku tidak meminta orang mempercayai kata-kata dan ceritaku, 
yang minimal kuharap kita bisa hidup bersama sebagai Indonesia. Ide ini jugalah antara 
lain yang dibawa oleh Merah Kesumba melalui pementasan-pementasannya. 


Paris, Juli 2004.
----------------
JJ. Kusni

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke