Dari Notes Belajar Seorang Awam: CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [13].
Ranting Lekra di Pacinan Seperti saban hari, aku mampir menjumpai May Kwie di Pacinan. Dan seperti biasa pula seluruh keluarganya menyambutku dengan hangat. Berbicara sebentar dan kemudian membiarkan kami berdua di ruang tamu.Aku sudah lama dianggap sebagai bagian dari keluarga May Kwie. - "Mas, Sabtu depan di kampung kita akan menyelenggarakan malam kesenian", ujar May Kwie sambil menyuguhkan wedang ronde kesukaanku dan ia bikin sendiri serta dan kue bikinan ibu dan tacie. Panggilan Mas adalah panggilan May Kwie kepadaku. Karena pada umumnya dalam keluarga etnik Tionghoa di Yogya, orang-orang menggunakan bahasa Jawa sebagai pengantar. Apalagi tidak sedikit dari mereka yang memang tidak bisa berbahasa Tionghoa baik Mandarin ataupun bahasa lokal. Bahkan di rumah orangtua angkatku pun kami menggunakan bahasa Jawa sekalipun ayah ibu dan tacie fasih berbahasa Mandarin dan bahasa lokal Fukien. Padahal dari segi fisik, ayah-ibu tak beda dari orang Tionghoa totok. Di rumah penari kami, Tan Siu Lan pun tidak beda dari rumah-rumah keluarga etnik Tionghoa lainnya di Pacinan. Semuanya berbahasa Jawa. + "Dalam rangka apa?" tanyaku sambil memandang May Kwie yang masih sibuk hulu-hilir sambil mengerjakan sesuatu. - "Mas akan gembira mendengarnya". Pernyataan yang membuatku makin ingin tahu. - "Anak-anak muda dan orang kampung sudah sepakat untuk mendirikan ranting Lekra di kampung. Dan Sabtu mendatang adalah peresmiannya. Mas diminta menyampaikan pidato sambutan", ujar May Kwie tersenyum sambil melirik melihat reaksiku. + "Wah!" reaksiku spontan. -"Wah mengapa?" ujar May Kwie masih tersenyum dan mata bersinar menangkap kegembiraanku. + "Ide siapa, khoq sampai mendirikan ranting Lekra segala?". - "Ya ide semua dong". + "Sekretarisnya?" May Kwie yang masih berdiri dan hilir-mudik memandangku dengan senyum. Jarinya menunjuk ke hidung. - "Sebagai sekretaris ranting, malam itupun adik akan memberikan kata sambutan", ujar May Kwie bangga. - "Adik ingin agar Mas memeriksa apa yang sudah adik tulis". -"Mau bukan?" + "Mana?" tanyaku. May Kwie masuk ke kamarnya dan kemudian keluar dengan selembar kertas bertulis tangan. Tulisan tangannya yang begitu kukenal. - "Gimana?" tanya May Kwie. + "Bagus". - "Jangan hanya bagus-bagus, nanti kalau salah Mas juga yang malu". + "Kalau memang bagus, Mas harus bilang apa lagi?", jawabku sambil mengembalikan rancangan pidato. May Kwie mengambilnya dan memukul halus kepalaku dengan keras tersebut lalu masuk kembali untuk menaruh naskah ke meja belajarnya. May Kwie masih di kelas tiga SMA pada waktu itu. Tidak ada seorang pun dari Lekra yang memerintah May Kwie dan orang kampung membangun ranting Lekra di Pacinan. Semuanya lahir atas kesadaran dan prakarsa mereka sendiri. Mereka hanya melaporkannya kepadaku sebagai sekretaris Lekra Kota Yogyakarta. Prakarsa membangun ranting ini muncul dan diujudkan setelah anak-anak muda Pacinan aktif dalam Ansambel Tari-Nyanyi Bhinneka, salah satu ansambel yang bernaung di bawah Lembaga Seni Musik Lekra di bawah Daulat Mangonsong. Melalui kegiatan bertahun-tahun, orang kampung menyaksikan makna Ansambel Bhinneka bagi kehidupan mereka sendiri dan bagi anak-anak mereka yang sedang tumbuh mendewasa. Paling-paling yang dilakukan oleh Lekra Cabang Yogya untuk anak-anak Pacinan ini adalah mengorganisasi kursus Lekra di mana diajarkan filsafat dan politik kebudayaan, sejarah revolusi Indonesia, peranan etnik Tionghoa dalam revolusi Indonesia selama seminggu pada malam hari seusai sekolah. Para pengajar dalam kursus adalah orang-orang Lekra sendiri. Melalui pendidikan singkat ini kesadaran politik mereka lalu meningkat dan menyusul peningkatan kesadaran, kemudian tanpa ada anjuran atau perintah dari siapapun mereka secara berprakarsa membangun sendiri ranting Lekra di Pacinan, kampung mereka yang mengitari jalan Malioboro. Oleh adanya sokongan para orangtua dan penduduk kampung, ranting baru ini menjadi dan dirasakan sebagai lembaga kesenian orang kampung sendiri. Segala kegiatan dirancangkan, ditentukan dan dilaksanakan oleh ranting sendiri tanpa campurtangan dari mana dan dari siapapun. Berbarengan dengan berdirinya ranting ini, aku menyaksikan rasa keindonesiaan di kalangan orang kampung meningkat dengan sendirinya. Rasialisme Tionghoa terhadap yang bukan Tionghoa melenyap. Dengan ini aku pun diam-diam melihat jelas potensi etnik Tionghoa bagi bangsa dan negeri serta indahnya keragaman. Betapa keragaman itu suatu kekayaan jika kita pandai mengelolanya. Betapa keindonesiaan yang lahir secara alami melalui kesadaran akan melahirkan Indonesia yang sesungguhnya. Nampak juga padaku betapa sastra-seni bisa memberikan sumbangan nyata besar bagi keindonesiaan dan hubungan indah antar anak manusia serta sesama anak bangsa. Sastra-seni untuk rakyat jadinya tidak lain sastra-seni yang membuka kemungkinan dan kesadaran bagi rakyat untuk menjadi aktor pemberdayaan diri mereka sendiri, menjadi tuan atas nasib mereka sendiri. Apapun yang melawan hal ini akan tidak digubris dan menjadi tanaman tumbuh di lahan kering. Pada kegiatan-kegiatan berikutnya kepada May Kwie aku hanya menyarankan jika mungkin bagaimana selain mengangkat karya-karya kesenian daerah berbagai pulau, karya-karya kekinian juga ditampilkan hal-hal yang dari etnik Tionghoa sendiri. - "Nanti kita dituduh ekslusif, Mas", ujar May Kwie khawatir. + "Mengapa ekslusif? Tidakkah etnik Tionghoa dan budayanya merupakan bagian dari bangsa dan kebudayaan Indonesia juga? Mengapa ia harus ditenggelamkan atas nama Indonesia? Indonesia adalah semua etnik yang ada di wilayah negeri dan Republik ini". Aku mencoba mencairkan kekhawatiran May. Aku melihat May berpikir serius dan kulihat ia tersenyum di akhir renungannya. - "Benar juga, ya Mas.Mengapa kita mesti takut mengetengahkan dan memelihara ciri lokal dan etnik kalau ciri-ciri itu alami dan ciri dari negeri?". + "Adik kira diri Adik adalah orang Tionghoa dari RRT? Berbahasa Tionghoa pun Adik tidak bisa. Ciri Tionghoa hanya melekat pada fisik Adik", tambahku mencoba lebih memberikannya keyakinan. "Mengapa serimpi boleh dipentaskan sedangkan yang bercorak Tionghoa di sensor? Kau kira Indonesia itu hanya Jawa?"tambahku mempertajam masalah. May Kwie melemparku dengan kue yang ada di genggamannya dan kusambut tangkas. Setelah diskusi begini pada May kulihat ada pemahaman lebih lanjut tentang hubungan antara masalah etnik dan nasion. Pemahaman ini dituangkannya dalam mata acara pertunjukan-pertunjukan yang diselenggarakan oleh ranting secara teratur. Orang kampung yang menonton makin merasa terwakili oleh ranting. Perasaan memiliki pun makin tumbuh di hati orang kampung. Orang kampung inilah yang menjadi sandaran utama ranting dalam melakukan segala kegiatan. Dan semua kegiatan mereka namakan kegiatan Lekra. Ketika aku datang kembali ke Yogya setelah beberapa dasawarsa berlalu, orang-orang kampung menjawab pertanyaanku dengan tetesan airmata sambil berkata: "Yogyamu dulu, bukan lagi Yogya sekarang, nak". "Tapi aku tidak salah dengan rumah-rumah yang kucari.Bagaimana mungkin aku bisa lupa", jawabku lirih seakan berkata pada diri sendiri. Ketika aku memotong rambut di sebuah tukang cukur yang cukup mewah, ketika aku bercerita tentang sebuah gereja di dekat tukang cukur itu, si pemilik pun segera menangkap yang kumaksud. Saat akan kubayar, mereka menolak uangku. Penolakan yang seperti mengatakan bahwa tidak seluruh anak bangsa dan negeri ini adalah orang-orang pelupa dan beringatan pendek. Hanya bagiku, ingatan dan Indonesia hari ini lebih banyak menjadi alur luka dalam yang masih mengalirkan darah duka. Kembaraku yang seakan tak berujung sekarang, tidak lain dari ujud dari darah luka itu sendiri. Indonesia adalah negeri yang sedang luka dan penuh luka. Barangkali angkatan sekarang tidak merasakan luka-luka ini tapi aku sangat khawatir jangan-jangan mereka akan menjadi angkatan yang hilang! Paris, Agustus 2004. ------------------- JJ. Kusni [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

